Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Mengelabui


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


Sri melangkah menuju kamarnya, apa perduli ku, memang siapa yang akan tinggal di rumah mertuanya? Raya tidak akan aku izinkan tinggal di rumah mertuanya!


...🌄🌄🌄...


Pagi pagi sekali, Safinta sudah menyiapkan sarapan untuk orang rumah, dengan di bantu mbok Jum.


"Apa gak sebaiknya bibi aja, Non yang menyiapkan sarapan. Nona tampak sakit gitu!" celetuk mbok Jum, yang melihat Safinta tampak lemas.


"Aku gak apa apa ko, mbok. Lagi pula ini sedikit lagi juga selesai ko." ujar Safinta.


Setelah selesai membuat sarapan, Safinta kembali ke kamarnya, bersiap untuk berangkat ke kantor.


Sepasang mata indahnya tertuju pada laci yang selalu terkunci, ia membuka laci itu dan mengeluarkan isinya.


"Hanya dengan cara seperti ini, aku bisa mengelabui mu, mah!" Safinta menyimpan sebutir obat itu ke dalam tasnya, selama itu pula ia tidak pernah meminumnya.


Flashback


Beberapa hari setelah Safinta dan Maulana kembali dari puncak. Sri memberikan pil kontrasepsi pada Safinta tanpa sepengetahuan siapa pun.


Sri celingukan, menatap was pada dengan sekitarnya. Setelah aman dan yakin tidak akan ada yang melihatnya, baru lah Sri membuka pintu kamar putra dan menantunya.


Ceklek.


Sri memasuki kamar Safinta dan Maulana, di saat Maulana sedang bersama dengan Malik di ruang kerjanya.


Safinta mengerutkan keningnya, melihat mama mertuanya memasuki kamarnya, ia berfikir jika Sri mencari Maulana.


"Mama? Apa mama mencari ka Lana? Ka Lana tidak bersama ku, mah!" ujar Safinta.


"Siapa bilang mama mencari Lana, mama mencari mu, mama ada perlu dengan mu!" Sri merogoh saku celana yang ia kenakan, lalu memberikannya pada Safinta.


Safinta membola, terkejut dengan benda yang kini ada di tangannya, ini kan pil kontrasepsi, untuk apa mama memberikan ini pada ku?

__ADS_1


"Apa ini mah?" tanya Safinta, ia pura pura tidak mengetahui apa ke gunaan dari obat itu.


Sri menyeringai, bagus lah jika anak sialannn ini tidak tahu ini obat apa, lebih baik aku katakan saja jika ini adalah obat untuk penyubur kandungan, dengan begitu Safinta pasti akan berfikir jika aku sudah menerimanya, tidak akan ada penolakan untuknya pula kan untuk meminumnya.


"Emmm i- ini, a- anu. Ini adalah obat untuk penyubur kandungan, mama ingin kalian segera memberikan mama seorang cucu. Jadi mama minta ini dari teman arisan mama. Kamu mau kan meminum ini untuk mama? Teman mama itu memiliki cucu yang cantik dan tampan setelah memberikan ini pada menantunya." ucap Sri, berusaha meyakinkan Safinta.


Safinta mengerutkan keningnya, menatap Sri dengan pandangan yang sulit di artikan, astagaaa mama mertua ku sangat tidak menginginkan ke hadiran ku, teganya kamu mah! Membohongi ku, ini bisa mencegah ke hamilan ku, mah! Kenapa mama sejahat ini pada ku?!


Sri mengguncang tubuh Safinta dengan memegang bahunya, "Kamu dengar mama ngomong kan? Kamu akan meminunnya kan setiap hari? Jika obatnya sudah habis, kamu katakan pada mama, mama pasti akan memberikannya pada mu!" ucap Sri dengan lemah lembut, tatapannya berubah hangat pada Safinta.


"A- aku harus meminumnya setiap hari, mah? Jika habis... aku harus memintanya pada mama? Apa aku tidak bisa membelinya di apotek mah?" tanya Safinta dengan menyelidik.


Aku semakin yakin, mama mertua ku sedang mengelabui ku. Tapi untuk apa?


Sri menatap jengkel Safinta, tenang Sri... kau harus bersikap tenang, jangan sampai ia curiga pada mu!


"Ini obat mahal sayang, tidak akan ada di apotek mana pun, obat ini tidak di jual bebas. Hanya orang tertentu saja yang dapat membeli obat ini!" ucap Sri lagi.


"Baik lah, aku akan minumnya... apa ada lagi selain ini, mah?" tanya Safinta.


Sri menyeringai, "Mama minta, kamu sembunyikan ini dari Maulana, Maulana tidak perlu mengetahuinya."


"Aku akan melakukannya, mah. Apa pun yang mama katakan." ucap Safinta dengan tulus.


"Anak pintar, mama yakin... kamu tidak akan mengecewakan mama, maafkan atas sikap mama selama ini pada mu ya!" ucapan Sri tidak sama dengan hatinya, aku harap waktu berjalan dengan cepat, aku menantikan hari di mana wanita sialannn ini angkat kaki dari rumah ini.


Flashback and.


Alangkah terkejutnya Safinta, saat suara Sri menggema di belakangnya.


"Mau ke mana kamu? Ini masih terlalu pagi kan!" tanya Sri dengan tatapan menyelidik.


"Eh i- ini mah, a- aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Ja- jadi aku harus datang lebih awal mah!" ujar Safinta bohong.


"Jangan coba coba membohongi mama ya! Bilang saja terus terang jika kamu ingin meninggalkan pekerjaan rumah mu! Ingat kamu bisa meninggalkan rumah ini, jika kamu sudah selesai dengan urusan pakaian kotor! Jadi sekarang juga, cepat cuci semua pakaian kotor yang ada di rumah ini!" titah Sri dengan mata melotot, tidak ingin di bantah Safinta.

__ADS_1


Safinta membuang nafasnya dengan kasar, "Baik mah, akan aku lakukan apa yang mama perintahkan pada ku! Apa mama senang sekarang?"


"Biasa saja!" Sri membalikkan badannya, memunggungi Safinta namun sedetik kemudian ia kembali lagi menatap Safinta dengan tajam.


Safinta menatap Sri dengan heran, apa lagi sekarang?


"Aku tidak ingin sampai putra ku mengetahuinya! Jika sampai putra ku mengetahuinya, tidak akan sulit bagi ku untuk membuang mu ke jalan!" ancam Sri dengan mengacungkan jari telunjuk kanannya pada wajah Safinta.


"Ka Maulana tidak akan mengetahuinya, mah! Lebih baik aku cepat mencuci pakaian, jika tidak aku bisa saja terlambat ke kantor kan mah!" cicit Safinta yang kini berlalu meninggalkan Sri.


Sri mengepalkan tangannya, dasar menantu kurang ajarrr, beraninya dia melawan ku!


Safinta mencuci di paviliun belakang, tempat khusus mencuci pakaian.


Setelah beberapa saat, Safinta sudah selesai dengan mencucinya, kini tengah menjemur semua pakaian yang sudah ia cuci.


Safinta menyemangati dirinya sendiri meski dalam hati, setelah ini aku bisa berangkat ke kantor, ayo semangat Safinta. Kamu pasti bisa, kamu tangguh Safinta!


Sri berseru dengan suaranya yang menggelegar, "Safinta!"


"Ada apa mah? Tidak usah berteriak mah, telinga ku masih waras!" celetuk Safinta.


Srek.


Sri mencekal lengan Safinta, hingga tubuh itu kini saling tatap, dan saling berhadapan


"Akkhhhh, sakit mah!" pekik Safinta dengan meringisss.


Sri berkata dengan penuh penekanan, "Apa kamu yakin, selama ini sudah meminum obat yang sudah mama berikan pada mu?"


Bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.

__ADS_1


Favoritin kalo suka 😊😊


Abaikan jika gak suka 😉


__ADS_2