
...💔💔💔🌹...
Si mbok yang melihatnya mengurut dadanya, menatap sebal pada majikannya, dasar mertua laknattt. Bukannya menyambut ke pulangan menantunya, malah menyambut wanita ular. Yang jelas jelas bukan menantunya.
Lama Safinta menuggu Maulana, yang di tunggu tidak kunjung tiba.
"Ka, kaka di mana? Aku sudah menunggu kaka dari tadi. Apa kaka lupa untuk menjemput ku?" cecar Safinta saat Maulana menjawab panggilan teleponnya.
[ "Aku sibuk, aku tidak bisa menjemput mu. Biar aku suruh pak supir untuk menjemput mu!" ] cicit Maulana dengan nada ketus.
Safinta menelan salivanya dengan sulit, mendengar ucapan Maulana yang berubah sikapnya.
Safinta menahan sedihnya, berkata dengan riang. Membuktikan pada Maulana, bahwa ia tidak terpengaruh dengan perkataan suaminya itu.
"Tidak perlu ka, akan memakan waktu untuk aku menunggu pak supir, biar aku naik taksi aja ka. Maaf, aku sudah mengganggu kaka yang sibuk."
Safinta mengakhiri sambungan telponnya, tanpa sadar bulir bening menerobos sudut matanya.
Safinta menyapu bulir bening dengan kasar menggunakan jemarinya, aku tidak apa apa, aku bisa menghadapi ini semua. Mungkin ka Lana lagi banyak pekerjaan. Aku tidak boleh membebani ka Lana.
Sore itu Safinta baru meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan taksi online. Tanpa Safinta sadari, ada sepasang mata tajam dengan berbalut kaca mata hitam, terus mengawasi apa yang Safinta lakukan. Ia bahkan membuntuti Safinta sampai ke depan rumah.
"Halo Tuan, Nona sudah sampai di rumah dengan selamat, mengguna kan taksi. Sepertinya orang yang Nona tunggu tidak kunjung menjemputnya, Tuan."
[ "Terus awasi Safinta di rumah, jika perlu kau atur seseorang untuk bisa memasuki rumah itu, tanpa ada yang curiga... jika kau hanya orang suruhan ku!" ]
"Baik Tuan, besok akan langsung saya kerjakan apa yang Tuan tugaskan pada saya."
Setelah melaporkannya pada Tuan nya. Ia langsung meninggalkan rumah yang di tinggali Safinta.
Safinta mengerutkan keningnya, saat kakinya melangkah memasuki rumah besar yang selama menikah ia tinggali.
"Apa mama menyiapkan ini semua untuk menyambut ke pulangan ku?" gumam Safinta saat melihat rumah yang tampak indah dengan hiasan dinding.
"Assalamualaikum mah!" ucap Safinta pada saat melihat Sri yang hendak melangkah menuju kamar nya.
Safinta mencium punggung tangan kanan ibu mertuanya.
"Sudah pulang kamu?" tanya Sri dengan tatapan sinis pada Safinta.
"Iya mah, dok----"
"Cepat ke dapur, bantu si mbok menyiapkan makan malam. Hari ini mama ke hadiran tamu penting. Awas kamu ya! Jangan mengacaukan acara mama!" gerutu Sri yang langsung melenggang masuk ke dalam kamar.
"I- iya mah! Tamu penting mama, siapa ya? Apa mungkin saudara mama? Sudah lah, nanti aku juga tahu sendiri." gumam Safinta yang tidak mungkin lagi di dengar Sri.
__ADS_1
Safinta langsung berjalan ke arah dapur.
Grap.
"Aku kangen sama si mbok! Mbok apa kabarnya? Pasti baik kan?" Safinta memeluk tubuh si mbok yang sedang menata meja makan.
"Non udah pulang? Astaga Non, badan si mbok bau masakan... kenapa malah di peluk gini?" ujar si mbok, yang terkejut mendapati pelukan hangat dari majikannya.
Safinta melerai pelukannya, "Badan ku juga bau, mbok... bau matahari sore. Papa dan Raya ke mana ya mbok? Aku belum melihat ke duanya." ujar Safinta yang kini membantu si mbok menata meja makan.
"Tuan besar lagi ke luar kota, ada pekerjaan dari kantor. Kalo Nona Raya sedang mengikuti kegiatan sekolah, kemungkinan besok baru pulang." ujar si mbok.
"Mama bilang ada tamu, mbok. Kalo aku boleh tau, tamunya mama siapa ya mbok?" tajya Safinta dengan memainkan alisnya naik turun.
Si mbok tampak berfikir untuk memberi tahukan pada Safinta, siapa tamu yang akan datang malam ini.
Si mbok menatap nanar wajah Safinta, bagai mana ini, apa aku harus memberi tahu Nona Safinta, tapi kasihan juga kalo Nona Safinta sampai tidak tahu... jika nyonya sedang merencanakan pertunangan tuan Maulana dan ular keket.
Safinta menggenggammm tangan si mbok, "Ada apa mbok? Katakan saja pada ku! Apa tamu mama ini wanita? Atau laki laki?" aku rasa ada yang tidak beres. Tapi apa ya?
Dengan ragu si mbok mulai berkata dengan terbata bata, namun belum sempat si mbok mengatakannya pada Safinta, Maulana sudah lebih dulu membawanya ke kamar.
"A- anu Nona, i- itu... ta- tamu Nyonya, Nyonya ingin mengadakan pertunangan un----"
Si mbok membuang nafasnya dengan kesal, "Ah hampir saja aku mengatakannya pada Nona. Apa Tuan Maulana akan setuju dengan rencana Nyonya, apa tuan Maulana akan bersedia menikahi uler keket itu ya? Andai saja Tuan besar ada di rumah ini, pasti Tuan besar tidak akan membiarkan hal ini terjadi."
"Semua sudah siap kan mbok?" tanya Sri dengan tatapan tajam pada art nya.
Sri sudah mengganti pakaian yang ia gunakan. Wanita paruh baya yang tampak masih awet muda di usianya itu, mengenakan dress sebatas betis dengan lengan pendek, dengan rambut yang di sanggul.
"Apa ka Lana mau langsung mandi? Biar aku siapakan dulu air hangatnya." cicit Safinta, begitu ke duanya sudah berada di dalam kamar.
"Tidak perlu, aku bisa menyiapkan nya sendiri. Kamu istirahat saja. Apa kamu sudah meminum obat mu sore ini?" tanya Maulana. sebelum ia memasuki kamar mandi.
"Aku belum minum obat. Aku siapkan baju untuk kaka kenakan malam ini ya! Kaka pasti ikut menghadiri makan malam mama kan?" tebak Safinta yang melangkah menuju lemari pakaian.
Ting.
Terdengar notifikasi pesan masuk di hape Maulana, Safinta melirik kan ke dua matanya, mengintip lewat layar hape yang menyala, siapa pengirim pesan pasti akan terlihat, pikir Safinta.
..."Tunggu aku sayang, aku pasti akan datang. Dan kamu harus berada di rumah, menemani ku makan malam bersama dengan calon mama mertua ku!"...
Safinta mengerutkan keningnya, mau tidak mau otaknya berfikir keras, siapa sebenarnya yang mengirim chat pada suaminya itu, Maulana tidak menyimpan nomor yang mengiriminya pesan, hingga Safinta tidak tahu siapa pengirim pesan misterius itu.
"Apa yang kamu lakukan dengan hape ku, Safinta?" tanya Maulana yang baru saja ke luar dari dalam kamar mandi, ia hanya mengena kan handuk yang melilit pinggang sampai batas lututnya.
__ADS_1
"Ah tidak ini ada yang mengirim pesan pada kaka!" Safinta menyodorkan hape yang ia pegang pada pemiliknya.
Maulana menatap tajam hapenya, ia mengambilnya dengan kasar.
Sreek.
"Lain kali... jangan pernah sentuh hape ku! Aku tidak mengizinkan mu untuk melihat, apa lagi sampai memeriksa hape ku! Ini area privasi. Mengerti kan apa maksud ku!" cicit Maulana dengan tegas.
Safinta menelan salivanya dengan sulit, hatinya bak terhantam benda tumpul dengan keras, sepasang mata indahnya nampak mengembun.
"Ma- maaf, a- aku tidak akan menyentuhnya lagi ka!" Safinta langsung berlari ke dalam kamar mandi, ia mengunci pintu kamar mandi dan menyalahkan keran air westafel.
Safinta menumpahkan perasaan sedihnya dengan menangis, "Hiks hiks hiks kenapa rumah tangga ku jadi seperti ini, apa yang sebenar nya sedang ka Lana tutupi dari ku? Apa ka Lana sudah tidak mencintai ku lagi? Tuhan berikan aku ke kuatan untuk melewati kerikil dalam rumah tangga ku!"
Tok tok tok.
"Buka pintunya Lana, ini mama!" seru Sri setelah mengetuk pintu kamar sang putra.
Ceklek.
"Ada apa?" tanya Maulana dengan datar, ia sendiri bingung untuk menghadapi mamanya yang terus mendesaknya menikah kembali.
"Kamu masih ingatkan dengan perkataan mama? Jika kamu masih ingin Safinta berada di rumah ini, kamu harus bersedia bertunangan dengan Santi saat ini juga!" cicit Sri dengan senyum liciknya.
Maulana mengerutkan keningnya, "Aku tidak bisa mah! Santi itu jahat, dia bukan wanita baik baik. Apa kurang bukti yang aku perlihatkan pada mama? Sampai membuat mata hati mama tertutup?"
"Lalu, jika bukan dengan Santi... apa kamu sudah memiliki kandidat tersendiri untuk di jadikan istri ke dua mu? Mama ingin kamu menikah lagi, menikah dengan wanita yang sederajat dengan keluarga kita, Maulana!" ucap Sri dengan penuh penekanan.
Maulana membuang nafasnya dengan kasar, "Wanita itu akan datang, sebelum mama meminta ku untuk melingkarkan cincin di jari Santi!"
Puk puk puk.
Sri menepuk lengan putranya dengan bangga.
"Itu baru putra mama! Mama tunggu kamu di bawah! Jangan kau perlihatkan wajah buruk istri miskin mu itu Maulana! Mama tidak ingin wanita sialannn itu mengacaukan acara mama!" Sri melenggang pergi dari kamar putranya.
"Ada apa ka?" tanya Safinta yang baru saja ke luar dari kamar mandi. Mendapati sang suami berada di depan pintu.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
__ADS_1