Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Pesta pernikahan


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


Sri mengerutkan keningnya, "Paman atau om?"


Santi menatap wajah Sri yang tidak lagi percaya padanya, "Pa- paman dan om sama aja tante, ti- tidak ada bedanya!"


"Jika sampai kamu membohongi tante, tante akan buat perhitungan sama kamu, Santi!" Sri melepaskan tangannya dari bahu Santi dengan kasar.


"Akhhh." pekik Santi.


Ceklek.


Sri, Santi serta Safinta, menoleh ke arah pintu yang kini terbuka.


Raya menatap curiga pada sosok Santi dan mamanya, yang berada di dalam kamar itu.


"Kalian tidak sedang membully kaka ipar ku kan?" tanya Raya dengan tatapan penuh selidik.


"Apa yang kamu bicarakan, Raya? Ini mama kamu, lo!" ucap Sri dengan sorot mata tajam.


"Hem, aku belum yakin mama bisa menerima ka Safinta dengan tulus. Aku sangat mengenal mu, mah!" dengan ringan, Raya mengayunkan ke dua kakinya memasuki kamar Maulana, yang kini sudah terhias cantik dengan beberapa bunga yang menghiasi sudut ruang.


Sri membuang nafasnya dengan kasar, anak ini, benar benar sama seperti papanya, tau saja apa yang akan aku lakukan pada Safinta!


"Ayo ka, kita turun ke bawah... semua orang sudah menunggu kaka di bawah!" Raya mengulurkan tangannya, membantu Safinta untuk berjalan, dengan memegangi ekor kebaya yang di kenakan Safinta.


"Apa mama masih mau berada di sini? Kaka dan papa pasti akan menanyakan ke beradaan mu nanti, mah!" ujar Raya.


Dengan malas Sri berujar, "Iya, mama pasti akan ikut dengan kalian! Kalian duluan saja lah!" anak ini benar benar!


Raya dan Safinta ke luar dari kamar itu lebih dulu.


"Pantas saja kaka ku sangat menyukai mu, kamu terlihat begitu sangat cantik ka!" puji Raya dengan tulus.


"Kamu juga Raya, hari ini begitu sangat cantik. " cicit Safinta.


Raya dan Safinta menuruni anak tangga, dengan tatapan para saksi dan tamu undangan yang sudah hadir, kini menatap ke arah mereka.

__ADS_1


Sementara Santi, dengan tidak tahu malunya kini merajuk pada Sri.


"Tante, apa tidak ada ke sempatan untuk ku menikah dengan mas Maulana?" tanya Santi dengan merajuk.


"Ini semua salah mu, Santi! Kamu sendiri yang membuat rencana, tapi kamu sendiri oula yang mengacaukan rencana mu! Dasar kamu ini wanita bodohhh!" sungit Sri yang melangkah meninggalkan Santi.


"Iiihhs nyeselin banget sih itu nenek nenek! Dasar wanita tua! Tua bangka!" sungut Santi dengan menghentakkan ke dua kakinya, menatap kesal Sri yang meninggalkannya.


Maulana dsn Safinta duduk bersebelahan, dengan pak penghulu yang duduk di depan mereka, yang terhalang dengan meja yang terdapat satu set perhiasan emas bermata biru.


Santi menatap ke duanya dari ke jauhan dengan perasaan kesal, ia meremasss jemarinya sendiri, kurang ajarrr Safinta, harusnya aku yang duduk di sana... lihat saja, aku pasti akan merebut tempat ku, apa yang harusnya menjadi milik ku, pasti akan menjadi milik ku!


Sementara Sri menyorot tajam Safinta, keningnya mengkerut, aku pastikan... aku akan membuat hari mu di penuhi dengan air mata ke sedihan. Kamu sendiri yang memilih jalan mu untuk tetap melanjutkan pernikahan ini, maka kamu harus terima... jika memiliki ibu mertua yang akan membuat hari mu bagai di neraka!


"Saaaah."


Seruan kata sah dari para saksi dan tamu undangan, membuat haru Safinta.


"Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi, istri ku!" ucap Maulana di telinga Safinta.


"Terima kasih juga, karena kaka mau menerima ku sebagai istri mu." ucap Safinta.


Pesta pernikahan di gelar secara tertutup di kediaman Maulana. Tidak banyak yang menghadiri acara tersebut, tamu yang hadir merupakan tamu undangan pilihan.


Dari sebagian kecil ada pula tamu undangan dari pihak Safinta, namun ada 2 orang tamu yang menjadi sorotan tajam Sri.


"Selamat ya, akhirnya kamu benar benar mengakhiri masa lajang mu!" ucap Fransisco saat menyalami ke dua mempelai.


"Terima kasih, atas kehadiran bapak!" ucap Maulana.


"Harusnya bapak mendoakan saya, bukannya berkata seperti itu! Itu sama saja bapak, seolah olah tidak mengharapkan saya menikah dengan ka Maulana!" sungut Safinta.


Maulana mengerutkan keningnya, benar juga apa yang di katakan Safinta. Apa jangan jangan orang ini menyukai Safinta?


Fransisco menatap dingin Safinta, gadis ini kenapa aku melihatnya ada sesuatu yang berbeda! Dia hanya gadis biasa, tidak ada ke lebihannya dari yang lain.


"Kenapa bapak melihat saya seperti itu? Apa ada yang salah dengan saya?" tanya Safinta saat mendapati Fransisco menatapnya.

__ADS_1


"Tidak ada, kalo begitu saya langsung pamit ya! Semoga kalian bahagia!" ucap Fransisco yang langsung meninggalkan ke dua mempelai.


Zee menghampiri Safinta dan Maulana, setelah Fransisco pergi meninggalkan ke duanya.


Zee memeluk Safinta, "Aaahhh ya ampun sahabat gwe akhirnya nikah juga!" seru Zee dengan bersemangat.


"Kapan lo nyusul?" tanya Safinta yang kini melerai pelukan sahabatnya itu.


Plak.


Zee menepak lengan Safinta, "Jangan gitu! Lo nyindir gwe! Gwe kan belom punya pacar! Gimana coba buat gwe nikah kan!" Zee mengerucutkan bibirnya.


"Sayang, udah deh... mending kamu tawarin Zee buat nikmatin hidangan!" ujar Maulana.


"Ah iya aku lupa, maaf ya sayang ku! Makasih lo udah dateng ke sini!" ucap Safinta.


Sri menatap Safinta dengan sinis, dasar gadis kampungan... sekali kampungan tetap kampungan. Untung aja aku berhasil membujuk papa, acara resepsi jadinya di rumah, coba kalo di hotel, bisa gak balik modal, sayang kan duitnya ke luar percuma.


🌷🌷🌷


Keesokan paginya.


Matahari bersinar cerah, menyapa pagi dengan sinarnya menyinari langit.


Dalam sekejap, rumah yang kemarin di jadikan tempat pesta pernikahan, kini sudah tampak seperti semula, ruamh hunian.


Sri, Malik dan Raya sudah duduk di meja makan dengan sisa kantuk yang luar biasa.


"Pasti itu anak masih pada tidur! Dasar gak sopan! Belum sehari aja udah bertingkah!" sungut Sri dengan menatap ke arah kamar lantai atas.


"Siapa yang mama bilang masih tidur?" tanya Maulana dari arah dapur.


bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.

__ADS_1


Favoritin kalo suka 😊😊


Abaikan jika gak suka 😉


__ADS_2