Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Sandiwara


__ADS_3

...💖💖🔥🔥🔥...


"Maaf sayang, apa aku datang terlambat?" tanya wanita cantik, yang membuat Sri dan Santi perperangah tidak percaya menatap Maulana.


Aku harus bisa berakting di depan semuanya, aku harus lebih meyakinkan, ini demi sahabat ku. Asal aku tidak terperangkap dalam skenario ini, batin si wanita.


Maulana langsung beranjak dari duduknya, menyambut ke datangan Zee. Wanita yang ia mintai tolong, untuk membebaskan nya dari desakan sang ibu untuk menikahi Santi.


Maulana tampak takjub dengan penampilan Zee yang tampak tampil beda, astaga ada apa dengan ku, kenapa Zee malam ini begitu cantik.


Baik Santi mau pun Sri, tidak ada yang mengenal siapa itu Zee. Hingga memudahkan Maulana untuk menjalankan tipu muslihat nya, bahwa sesungguhnya ini adalah hanya rekayasanya saja, alias sandiwaranya saja.


Maulan mengeratkan tangannya pada punggung Zee, dengan wajah yang sangat dekat di antara ke duanya. Tanpa mereka sadari, terdapat bunga yang tumbuh di dalam hati Zee, ada getar aneh yang ia rasakan saat di sentuh oleh Maulana.


"Terima kasih ya, akhirnya kamu mau datang untuk menolong ku... ke luar dari desakan mama ku!" ucap Maulana pelan di telinga Zee.


Zee menggagu patuh, seakan terhipnotis dengan wangi mint, yang ke luar dari hembusan nafas Maulana.


Astaga perasaan aneh apa ini? Kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini. Sadar Zee, sadar woy! Dia itu suami sahabat lo sendiri! Gak mungkin juga lah... lo bisa naksir sama suami sahabat lo. Come on Zee, eling woy!


Zee meneriaki hatinya sendiri, untuk tersadar dan tidak terbuai dalam perasaannya pada Maulana.


Maulana membatin, astaga harum sekali wangi tubuhnya, seakan aku ingin terus menempel bersamanya.


Namun di mata Sri dan Santi yang melihatnya dari punggung Maulana, pandangan mereka melihat betapa romantisme yang di perlihatkan Maulana terhadap wanita yang belum mereka kenal. Tampak Maulana yang melayang kan ciuman hangat di pipi wanita itu.


Sri menatap tajam apa yang di perlihatkan Maulana padanya, siapa sih wanita itu? Wanita itu tampak berkelas, berbeda dengan penampilan anak kampung itu! Kenapa Maulana tidak pernah memperkenalkan nya pada ku?


Santi menatap kesal apa yang di lihatnya, ia menggenggam erat sendok yang ada dalam genggaman tangannya.


Kurang ajarrr itu cewek, siapa lagi sih yang mau mengusik posisi gwe! Udah cukup ya gwe ngalah buat si cewe sialannn itu. Kali ini gwe gak akan membuang ke sempatan gwe buat jadi bini ke duanya Maulana.


"Ayo biar aku perkenalkan pada mama!" ucap Maulana dengan tersenyum pada Zee.


Sedangkan Zee yang masih terbuai, di tambah pandangannya kini yang terhipnotis dengan rupawan Maulana, astaga kenapa gwe baru nyadar ya. Ini cowok ganteng banget. Salut gwe sama Safinta, bisa dapetin hati ini cowok.


Maulana melirik Zee, aku tidak salah memilihnya untuk bersandiwara di depan mama, tidak salah pula aku mengeluarkan uang cukup besar untuk penampilan nya malam ini.

__ADS_1


Grap.


Tak tak tak.


Karena tidak ada respon dari Zee, Maulana berinisiatif untuk menggenggammm pergelangan tangan Zee, membawanya mendekat ke meja makan.


"Kenalkan mah, ini Zee. Wanita yang akan aku nikahi beberapa bulan lagi." terang Maulana saat Zee sudah berada di hadapan Sri, maaf mah, aku terpaksa berbohong. Aku tidak akan menikahi Zee.


Sri memperhatikan penampilan Zee, dari ujung rambut hingga sampai sepatu tinggi yang di jadikan alas kaki oleh Zee.


Cantik, elegan, pakaiannya cukup branded, bukan pakaian yang di beli di kaki lima.


Zee langsung meraih tangan kanan Sri, dan menciumnya, "Maaf tante, saya datang terlambat, mas Lana mengabari ku mendadak, sedang kan aku masih harus menyelesai kan pekerjaan kantor ku terlebih dahulu." terang Zee dengan tutur kata yang lembut.


"Duduk lah! Langsung saja kita lanjutkan makan malam ini. Baru setelah itu kita bicarakan hal lain." terang Sri dengan nada ketus.


Maulana menarik kursi yang ada di sampingnya untuk di duduki Zee, "Ayo Zee, duduk lah di sini!" titah Maulana.


Tang.


"Astaga tante, apa apaan ini tan. Kenapa tante membiarkan wanita ini, untuk bergabung makan malam bersama dengan kita! Tante tidak menghargai ku sebagai calon menantu di keluarga ini?" tanya Santi dengan nada tinggi, menatap marah pada Sri.


"Aku sudah bilang, kita lanjutkan makan malam. Setelah ini baru kita bicarakan hal lain. Jika kau tidak senang, kau boleh angkat kaki dari sini, SANTI!" ucap Sri dengan tegas.


Santi menelan salivanya lagi dengan menatap jengkel Sri, kurang ajarrr itu tante bau tanah. Awas ya kalo sampe gwe beneran jadi menantu lo, gwe buang lo ke panti jompo!


Zee memakan makan malam yang di hidangkan si mbok ke piring nya, ia juga bersikap ramah sana si mbok.


Sesekali Zee melirikkan ke dua matanya pada Sri dan Maulana, apa akting gwe tadi meyakinkan orang tua mas Maulana ya? Atau jangan jangan akting gwe ini malah gagal total. Terus gwe merusak rencana mas Maulana dong? Mati gwe kalo sampe mas Maulana minta ganti rugi, malah duitnya udah gwe belanjain buat menunjang penampilan gwe malam ini, bukannya untung gwe dapet malah sialll yang gwe terima.


Maulana menoleh ke arah Zee, mengira jika Zee sedang gugup berhadapan dengan Sri yang tamoak gusar dalam duduknya, Maulana mengulurkan tangannya, menggenggammm jemari Zee.


"Santai aja, mama emang gitu kok orangnya!" ucap Maulana seolah memberikan ke tenangan untuk hati Zee, apa lagi melihat senyum Maulana.


Deg.


Zee tersenyum kikuk, astaga jangan seperti ini mas Maulana, nyadar gak sih lo. Perlakuan lo ini malah buat hati gwe gamang buat ngelanjutin sandiwara hubungan kita.

__ADS_1


Setelah makan malam usai, Sri mengajak tamunya serta Maulana untuk mengobrol lebih dulu di ruang keluarga.


"Maaf tante, aku izin ke toilet dulu." ucap Zee saat tatapannya mengarah pada toilet dekat dengan ruang keluarga.


"Mau aku antar, sayang?" tawar Maulana dengan lembut, tangan nya hendak mengerat pada pinggang Zee, namun di tepis dengan cepat oleh Zee.


"Mas, jangan mulai deh. Aku cuma ingin ke toilet. Ini masih di sekitar rumah kamu loh!" cicit Zee.


Sri menatap curiga ke duanya, apa putra ku benar ada hubungan dengan wanita ini? Aku harus bisa meyakinkannya, jangan sampai ini hanya akal akalan Maulana untuk menghindari menikahi Santi, wanita pilihan ku.


Maulana menelan salivanya dengan sulit, kenapa Zee menolak untuk aku sentuh. Apa mama curiga dengan ini?


"Baik lah aku akan menunggu mu di ruang keluarga, setelah itu... cepat lah kembali ya!" Maulana mengecup sekilas kening Zee, saat mendapati tatapan sang ibu yang menaruh curiga.


"Pergilah jika kau ingin ke toilet." ucap Sri.


Zee langsung melenggang ke toilet, dengan tatapan yang sinis dari Santi, Maulana menatap datar ke pergian Zee dengan hembusan nafasnya yang kasar.


"Kalian ngobrol lah dulu di sana. Ada yang harus mama ambil di dalam kamar mama." ucap Sri.


Sri tersenyum menyeringai, awas kalian berdua ya... jangan harap kalian bisa membohongi ku!


Di dalam kamar, Sri langsung menghubungi seseorang.


"Datang segera ke rumah ku, sekalian bawa syarat untuk sahnya mereka menikah, biar lah mereka menikah secara sirih dulu. Kali ini aku tidak ingin gagal, dengan menikahkan Maulana dengan wanita berkelas." titah Sri pada seseorang di telponnya.


Setelah beberapa saat berbincang di ruang keluarga. Zee nampak menaruh curiga pada Sri yang melarangnya untuk pulang.


"Tunggu sebentar lagi ya, Zee!" cicit Sri dengan seringai liciknya.


Bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊

__ADS_1


__ADS_2