
...💖💖💔💔...
"Gwe gak tau, lo bisa tanya langsung sama orangnya kan! Lo punya nomor hape Zee kan!" ucap Safinta tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya, bicaranya pun datar.
Siska membaca apa yang ada di tampilan layar monitor laptop Safinta, "Surat pengunduran diri... Ta, lo serius mau ngundurin diri? I- itu bukan lu kan yang mau ke luar dari ini perusahaan?" tanya Siska dengan tatapan yang sulit di percaya.
"Gwe yakin mau ngundurin diri." ucap Safinta tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
Siska membuang nafasnya dengan kasar, menarik bahu Safinta hingga menatapnya, "Lo lagi ada masalah ya? Cerita sama gwe, kali aja gwe bisa jadi pendengar yang baik buat lo!" ucap Siska dengan sungguh sungguh.
Safinta menatap Siska dengan menyelidik, menimbang nimbang jawaban apa yang akan ia berikan pada Siska, setelah apa yang udah terjadi sama gwe, rasanya sulit buat gwe percaya dengan siapa pun.
"Lo ragu sama gwe?" Siska melepaskan tangannya dari bahu Safinta lalu mendudukkan dirinya di kursi yang ada di hadapan Safinta.
"Jelas gwe ragu, secara gwe tau lo kaya gimana orangnya!" terang Safinta terus terang.
Siska membuang nafasnya dengan kasar, "Emang ya kalo orang udah jelek namanya, pasti mau berbuat baik aja kudu di pertimbangin. Terserah lu aja lah, tapi saran gwe... mending lu pikir pikir dulu sebelum mengambil keputusan. Di sini kan lu kerja udah enak, masa cuma gegara hal sepele lu mau risein gitu aja." Siska beranjak dari duduknya, hendak melangkah meninggalkan Safinta, "Kapan pun lo butuh temen, atau butuh tempat buat lo singgah, lo dateng aja ke rumah gwe!" ucap Siska dengan senyum tulus tersungging di bibirnya.
"Thanks, Siska!" ujar Safinta yang kembali menyibukkan dirinya dengan surat pengunduran dirinya.
"Selamat siang, Nona. Ini ada tugas baru dari Tuan Fransisco, Tuan minta dengan segera di kerjakan laporannya, jika sudah selesai... harap di serahkan langsung ke meja kerja Tuan." Irfan meletakkan setumpuk berkas di meja Safinta.
Safinta mengerutkan keningnya, setelah meraih beberapa berkas dan membolak balikkan lembar demi lembar dari berkas tersebut.
"Kenapa harus saya yang mengerjakan ini semua, pak? Ini semuakan harusnya di kerjakan oleh Zee." protes Safinta.
__ADS_1
"Tapi seperti yang Nona lihat, saat ini Zee sedajg tidak ada di kantor. Maka tugas itu harus di kerjakan oleh Nona Safinta. Kalo ada hal yang ingin Nona tanyakan lagi, Nona bisa tanyakan langsung pada Tuan Fransisco." ujar Irfan yang meninggalkan meja Safinta.
"Safinta, anggap ini jalan Tuhan untuk mencegah mu mengundurkan diri dari perusahaan ini!" terang Siska dari meja kerjanya.
Safinta dengan berat hati mengerjakan tugas yang harusnya di kerjakan oleh Zee. Hingga datang waktu makan siang. Dering telpon menjerit dari hape Safinta.
Berkali kali Safinta mengabaikan saat tahu siapa yang mencoba untuk menghubunginya. Ia juga tidak melihat keberadaan Arifin dan Ariyani di kantor. Fransisco tidak lagi memunculkan batang hidungnya di depan Safinta. Seolah mereka bertiga sedang memberikan waktu untuk Safinta berfikir, dan merenungi bahwa kenyataan Safinta adalah anak kandung dari Arifin dan Ariyani.
"Lo gak di jemput laki lo, biasanya lo makan siang di luar!" tanya Siska dengan tatapan menyelidik.
"Gwe makan di sini aja, kebetulan gwe udah bawa bekel." kilah Safinta dengan mengeluarkan bekal makan siang yang ia bawa dari rumah.
Ting.
Notifikasi pesan dari hape Safinta berbunyi nyaring.
Safinta menyimpan kembali hapenya ke dalam tasnya. Ia melirik sekilah ke arah Siska.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau tanyakan, Ta?" tanya Siska yang mendapat tatapan dari Safinta.
"Emmmm aku rasa kau tidak perlu membeli makan siang, bagaimana jika kau habiskan saja bekal yang aku bawa ini!" ucap Safinta dengan beranjak dari duduknya, mengenakan tas di bahunya, dan tangannya membawa kotak bekal makan siangnya.
Siska mengerdilkan bahunya, "Aku rasa tidak buruk juga!" ujar Siska.
Safinta kenyerahkan bekal makan siangnya pada Siska, "Semoga masakan ku ini cocok dengan selera mu, Siska!"
__ADS_1
"Aku tidak pemilih dalam soal makan, Safinta!" ujar Siska dengan senang hati membuka bekal yang ada di hadapannya kini.
"Aku jalan dulu ya!" pamit Safinta sebelum meninggalkan ruang kerjanya.
"Beres, semoga lu kembali dengan wajah riang!" celetuk Siska, bege napa juga gwe ngomong gitu. Paling itu bocah mau ketemu sama lakinya.
Fransisco yang melihat kepergian Safinta, akhirnya mengikuti Safinta tanpa sepengatahuan wanita itu.
Safinta mengayunkan kakinya dengan berat untuk menghampiri mobil Maulana. Bukan tanpa alasan, ia masih merasa sakit hati dengan tingkah laku yang di perlihatkan Maulana dan Zee padanya semalam.
Apa lagi Maulana terkesan setuju dengan apa yang di lakukan Sri. Menambah sederet luka dalam hati Safinta.
Maulana sudah berdiri di depan mobil, ia menyambut Safinta dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Aku pikir kau akan membiarkan aku menunggu tanpa kepastian, sayang!" ucap Maulana dengan tangan kanannya yang merekat di pinggul Safinta, bibirnya berbicara di telinga Safinta.
"Jujur aku tidak ingin melihat mu, ka! Tapi karena kau sudah datang, apa boleh buat!" ucap Safinta dengan bibir mengerucut.
"Jangan kau merajuk sayang! Kita makan siang ya! Kau pasti sudah lapar kan!" Maulana menjawil hidung Safinta. Menggiring Safinta untuk berjalan memasuki mobil.
Safinta mengerutkan keningnya, melihat siapa yang duduk di kursi depan, samping kemudi.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊