Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Mengalahkan rembulan


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


"Terima kasih ka!" Safinta beranjak dari duduknya, mengayunkan langkah kakinya menuju dapur.


"Dasar jiwa babuuu!" sungut Dewi, melihat ke pergian Safinta yang menghilang di balik dinding karena sudah memasuki dapur.


"Jaga bicara mu, Dewi! Dia istri ku!" sungit Maulana menatap tajam Dewi.


"Sudah lah ka, gak usah perdulikan ka Dewi. Kan kaka tahu sendiri perbedaan antara ka Dewi dan kaka ipar... wanita yang mengerti dapur, pasti tahu caranya melayanii suami dengan baik, memanjakan lidah suami dengan masakannya. Bukan begitu pah?" cicit Raya panjang lebar, mencari pembelaan pada kakanya Maulana dan sang ayah.


Maulana mengerutkan keningnya, lalu tersenyum melihat ucapan adik perempuannya, "Kamu ini... pandai juga kalo bicara... jangan lupa belajar dari Safinta, untuk bisa memasak." ujar Maulana.


"Benar itu apa kata kaka kamu, Raya... belajar memasak lah dari kaka ipar mu. Belajar menyenangkan suami dari mama mu." terang Malik dengan melirikkan matanya pada Sri.


Sri menatap tajam pada Malik, "Terus saja kamu membela menantu kesayangan mu itu, pah! Tidur kamu di sofa... awas ya kalo sampai pindah minta di tempat tidur!" ancam Sri dengan bibirnya yang nyinyir.


"Astagaaa mah, memang benar seperti itu kan." Malik beranjak dari duduknya, ia mendudukkan kembali dirinya di sofa yang sama dengan Sri.

__ADS_1


Sri menggeser duduknya, dengan ke dua tangan yang menyilang di depan dada, kurang ajarrr ini laki, minta di beri pelajaran rupanya! Berani membandingkan aku dengan menantu ke sayangannya. Awas saja, ku balas kamu pah!


Malik yang duduk di belakang Sri, langsung melingkarkan ke dua tangannya di pinggang sang istri, dengan dagu yang menyanggah pada bahu Sri.


Malik berkata dengan suaranya yang berat, dengan memiringkan wajahnya, menatap wajah sang istri yang sedang mengerucut tajammm.


"Jangan ngambek dong, mah! Kamu tetap is the bast di hati papa, biar kata kamu gak bisa masak. Kan sudah ada art, mana senyum manisnya! Papa dari tadi kita berangkat ke villa, belum melihat senyum mama yang manis seindah matahari terbit di pagi hari, sayangnya papa! Ayo dong tersenyum! Senyum mu manis mengalahkan rembulan mah!" rayu Malik pada sang istri, meruntuhkan kerasnya hati sang istri, yang luluh dengan kata kata yang ke luar dari bibir Malik.


Sri memalingkan wajahnya dari Malik, kita lihat, seberapa manis mulut mu itu merayu mama, pah!


Raya geleng geleng kepala melihat ke dua orang tuanya, astagaaa mama dan papa, ada aja mah... ujung ujungnya mama minta barang brended ini mah. Aku tahu akal bulusss mu, mah.


"Bagai mana dengan kabar mama dan papa mu, Dewi?" tanya Malik pada keponakan sang istri.


"Baik paman, mama dan papa malah titip salam buat paman dan tante." ujar Dewi dengan mulut manisnya.


"Ngomong ngomong, ka Dewi tahu kami di sini... pasti karena mama yang undang ka Dewi ke sini kan? Meminta ka Dewi untuk datang ke sini?" tanya Raya dengan sinis, kesel aku tuh kalo ada ka Dewi di sini, pasti akan ada aja masalah yang di timbulkan olehnya.

__ADS_1


Safinta dan mbok datang membawakan teh hangat, kopi hitam, dan kopi susu serta kue kering untuk di hidangkan di atas meja.


"Kopi hitamnya, pah!" Safinta meletakkan secangkir kopi hitam di depan papa Malik.


"Terima kasih ya, nak!" ucap papa Malik.


Dewi menyeringai.


Prang


bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊

__ADS_1


Abaikan jika gak suka 😉


__ADS_2