
...🔥🔥🌹...
Malik mengerutkan keningnya, "Apa mama akan tetap diam saja, jika Raya yang mengalami kecelakan? Mama sudah dengar kan, jika menantu kita itu mengalami kecelakaan!" cicit Malik dengan suaranya yang dingin, dan tatapan memburui sang istri
Sri membuang nafasnya dengan kasar.
Bugh.
Sri meletakkan majalah yang ia pegang di atas meja dengan kasar.
"Mau wanita miskin itu mati sekali pun, mama gak perduli pah! Biar kan saja wanita itu membusukkk di rumah sakit, berkurang satu mulut untuk di beri makan dalam rumah ini!" cicit Sri dengan sadisnya.
"Astaghfirullah mah! Jangan begitu, wanita itu adalah menantu mu! Istri dari putra kita mah!" ucap Malik dengan mata melototi istrinya.
"Di mata mama, wanita itu tetap lah wanita miskin yang ingin menumpang hidup dengan kita, pah! Dia bukan menantu mama! Bukan pula menantu keluarga ini! Camkan itu, pah!" ucap Sri dengan menunjukkan jari telunjuk kanannya pada sang suaminya.
"Mah! Mau ke mana kamu mah! Kita belum selesai bicara!" suara Malik menggema, saat istrinya melenggang begitu saja setelah bicara pedas tentang Safinta.
Wanita paruh baya itu melenggang begitu saja dengan bibir yang menggerutu.
"Sekali miskin, tetap saja miskin. Sudah miskin, menyusahkan saja! Biar ku do'akan, wanita itu langsung mati ke neraka terdalam, biar rumah ini memiliki menantu sesuai dengan pilihan ku!" seringai licik nampak di sudut bibir Sri.
Sri akhirnya bisa menumpahkan apa yang ingin ia katakan selama ini, namun terpendam dalam hatinya. Mengingat Maulana selalu menempel pada Safinta. Bahkan putranya itu seakan memberi jarak pada Sri untuk mendekati Safinta.
Di rumah sakit Maulana mencari cari keberadaan sang istri. Ia bertanya pada petugas administrasi, di mana istrinya di rawat, korban kecelakaan yang baru saja terjadi.
Maulana mengerutkan keningnya, saat ia sudah berdiri di depan pintu ruang rawat VVIP, tampak ragu ia untuk mengayunkan langkah kakinya memaski ruang rawat itu.
"Apa mungkin istri ku ada di dalam sana? Tapi benar apa yang di katakan perawat tadi, Safinta... korban tabrakan beruntun di rawat di ruang ini. Tapi ini kan ruang VVIP, hanya orang orang tertentu yang bisa di rawat di dalam sana. Kenapa korban lainnya di rawat terpisah dengan istri ku?"
Ceklek.
Maulana menatap tajam seorang pria yang tidak asing di matanya, mereka saling menatap tajam satu sama lain.
"Maaf, aku pikir aku salah memasuki ruang rawat!" seru Maulana dengan senyum terpaksa.
Maulana mengayunkan langkah kakinya, memasuki ruang rawat. Saat sepasang mata elangnya, melihat wanita yang di carinya ternyata benar ada di dalam sana. Bersama dengan 2 pasien lain yang menjadi korban kecelakaan, tabrakan beruntun. Sedangkan pria yang ia kenali, duduk di kursi yang ada di dekat ranjang rawat seseorang.
"Sayang! Buka mata mu, ini aku suami mu! Apa kamu bisa mendengar ku!" cicit Maulana, saat ia sudah mendudukkan bobot tubuhnya di kursi yang ada di dekat ranjang rawat Safinta, ia menggenggam jemari Safinta yang dingin, dengan jarum infus menancap di punggung tangan Safinta sebelah kiri.
"Istri mu tidak akan membuka matanya untuk beberapa jam ke depan, dokter sudah memberikan nya obat penenang beberapa menit sebelum kau datang!" ucap Fransisco tanpa di minta dengan nada datar.
__ADS_1
"Apa Tuan tahu apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa istri saya bisa menjadi salah satu korban kecelakaan? Dan kenapa istri saya berada di ruang rawat ini, bersama dengan mereka!" Maulana menatap dengan selidik, 2 orang pasien yang berbaring di atas berangkar.
"Mereka ini orang tua ku, kebetulan istri mu berada dalam mobil orang tua ku!" cicit Fransisco datar, ia menyilangkan ke dua tangannya di depan dada, menatap malas Maulana.
Maulana mengerutkan keningnya, menatap tidak suka pada Fransisco, untuk apa Safinta di dalam mobil bos besarnya? Apa mungkin bos besarnya menyukai Safinta, atau menginginkan Safinta menjadi wanita simpanan nya? Ini sungguh gila! Aku sulit mempercayai ini!
Fransisco menatap sinis Maulana, pasti orang ini berfikir yang tidak tidak tentang aku dan istrinya! Lihat saja caranya menatap ku, cihhh jika wanita yang menjadi istri nya bukan putri kandung mama, sudah ku pasti kan pria ini babak belur di tangan ku!
"Untuk apa Safinta, istri saya berada dalam mobil yang sama dengan orang tua anda, Tuan?" tanya Maulana pada akhirnya, tatapannya menyelidik tajam pada Fransisco.
Arifin mengerjapkan ke dua matanya, saat daun telinganya mendengar samar samar nama Safinta di sebut.
"Papa sudah sadar? Jangan bangun dulu, pah! Papa tidur lah dulu, kalo mau biar bersandar. Jangan di paksakan untuk duduk tegak pah!" ujar Fransisco dengan posesifnya pada sang ayah, yang hendak beranjak dari posisinya berbaring.
"Safinta! Di mana Safinta! Safinta dan mama kalian tidak apa apa kan?" seru Arifin dengan suaranya yang lemah, kepala pria paruh baya itu di balut dengan perban, nampak kaki dan tangannya juga ikut di perban, karena mengalami patah tulang.
Arifin nampak mencari sosok sang istri dan Safinta, menanya kan keadaan ke duanya. Satu sisi adalah istri, dan satu sisi adalah putri yang dulu sempat ia tinggalkan di panti asuhan.
Di saat ia sudah menemukan nya, musibah datang menghampiri mereka bertiga. Tapi Tuhan masih sayang pada ke tiganya, seolah memberikan ke sempatan untuk Arifin dan Ariyani untuk memperbaiki ke salahan mereka di masa silam.
"Safinta ada pah." Fransisco menujuk ke beradaan Safinta dengan tatapan matanya.
Arifin langsung menoleh ke arah Fransisco menatap. Senyum lebar langsung tersungging di bibirnya, tidak berselang lama nampak bulir bening menghiasi ke dua matanya.
Putri ku, kamu harus baik baik saja nak. Papa ingin memeluk mu! Ini papa nak!
"Sabar ya pah! Safinta sedang tidur, dokter memberikannya obat bius, biar dia bisa istirahat." aku kasihan pada mu Safinta, di usia mu saat ini, kamu harus mengalami ke guguran. Pasti kamu sangat menginginkan bayi itu lahir ke dunia kan? Karena bagai mana pun, ke hadiran bayi mu itu pasti yang paling di nanti mertua mu!
"Apa maksud mu, nak? Ada apa dengan Safinta? Kenapa dokter memberikannya obat bius... memang Safinta kenapa? Sampai ia membutuhkan waktu untuk istirahat?" cecar Arifin yang mulai merasa curiga Fransisco.
Ceklek.
Seorang dokter wanita berjubah putih masuk ke dalam ruang rawat. Ia melangkah menghampiri Maulana, "Maaf pak, apa bapak suami dari pasien?"
"Iya dok, saya suaminya. Bagai mana keadaan istri saya ya dok? Kenapa dokter memberikannya obat bius? Memang ada apa dengan istri saya?" cecar Maulana
Ceklek.
Malik dan Raya memasuki ruang rawat, ke duanya tersenyum ramah saat tatapan mereka saling beradu pandang dengan Fransisco dan Arifin.
Raya menelan salivanya dengan sulit, saat sepasang mata indahnya beradu pandang dengan pria dingin yang tidak ia kenal, gila itu cowo apa malaikat turun dari langit ya? Ganteng banget, udah punya kandidat belum ya? Bisa kali gwe daftar buat jadi kandidat bininya!
__ADS_1
"Pah!" Maulana mencium punggung tangan papa Malik, "Di mana mama?" tanya Maulana, saat tidak mendapati sang mama di sana.
"Nanti kita bicarakan itu, bagai mana keadaan menantu papa?" tanya Malik.
"Bapak suaminya bu Safinta? Ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak, bisa bapak ikut ke ruangan saya!" ucap dokter Meta.
"Pah, Raya! Aku titipkan Safinta pada kalian!" Maulana meninggal kan ruang rawat, mengikuti langkah kaki dokter ke ruangannya.
Raya mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat, sesekali matanya mencuri pandang pada pria dewasa yang tidak berada jauh darinya, cowok, godain eneng Raya dong! Neng Raya lagi free nih, belom punya pacar!
Malik mendudukkan dirinya di kursi, yang berada dekat dengan ranjang rawat menantunya itu, "Apa yang terjadi pada menantu ku ya rab, tolong berikan lah ke sembuhan pada menantu ku ini!" ucap Malik dengan tatapan nanar pada Safinta.
"Apa anda menyayangi Safinta? Anda pasti ayah mertuanya!" ujar Arifin yang menoleh ke arah Malik berada.
"Dia menantu ke sayangan di keluarga kami, maaf sebelumnya bapak ini siapa ya? Kenapa hanya ada 3 pasien yang ada di ruang ini. Sedangkan korban kecelakaan yang lainnya berada di ruang berbeda?" Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Arifin ingin mengatakan yang sejujurnya pada Malik, tanpa berfikir dampaknya, namun hal itu di cegah oleh Fransisco yang tau akan pemikiran ayah angkatnya itu.
"Safinta adalah ----"
"Karyawan di perusahaan kami, pak! Jadi aku memindahkan Safinta di ruang yang sama dengan orang tua saya!" terang Fransisco yang memotong perkataan papanya.
"Nak! Apa yang kamu katakan?" tanya Arifin dengan tatapan yang kecewa pada putranya itu.
Fransisco mengatakannya dengan suara yang pelan, meminta Arifin untuk mengerti akan ke putusannya.
"Aku hanya ingin melindungi Safinta, pah! Kita belum tahu apa kah Safinta bahagia bersama dengan keluarga suaminya? Apa yang akan Safinta lakukan setelah mengetahui ke benaran jati dirinya, pah?"
"Kamu benar nak!" Arifin menyunggikan senyumnya pada Fransisco, yang ternyata peduli pada Safinta, andai putri ku belum menikah, ingin aku nikahkan diri mu dengannya nak!
Di ruangan dokter.
"Begini pak, tadi sebenarnya bu Safinta menemui saya sebelum kecelakaan itu menimpanya." terang dokter Meta.
"Langsung pada intinya dok. Bagai mana keadaan istri saya saat ini." tanya Maulana dengan wajah yang tampak cemas.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
__ADS_1
Favoritin kalo suka 😊😊