
...🔥🔥🔥...
"Terima kasih ya, nak!" ucap papa Malik.
Dewi menyeringai.
Prang.
Lo akan lihat, seberapa pintarnya gwe Safinta! "Awhhh panas." jerittt Dewi, dengan mengibaskan tangannya, saat teh hangat menyentuh kulit punggung tangannya.
Semua mata tertuju pada Dewi, tidak terkecuali Safinta yang juga ikut melihat ke arahnya.
Raya menatap malas Dewi, mulai deh, biyanggg onar!
"Ada apa, Dewi?" tanya Sri dengan panik, melihat Dewi yang mengibaskan tangannya.
Dewi mengadu seakan menjadi orang yang di sakiti, "Ini lo, tan! Menantu tante buat tehnya gak bener, teh panas di kasih ke aku!" gerutu Dewi dengan sesekali meniup pada luka di punggung tangan kanannya.
Sri mengerutkan keningnya, menatap bergantian ke arah Dewi dan Safinta yang masih mematung tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Panas dari mana, ini hangat Dewi!" cicit Sri.
"Tapi teh milik ku panas, tante!" rengek Dewi dengan menitikan air mata buayanya, menangis tersedu sedu, ia juga memberikan kode mata pada Sri ke arah Maulana. Sri langsung mengerti tujuan dari Dewi.
"Maaf Nona, tadi mbok pegang gelasnya itu hangat dan bukan panas." cicit si mbok.
"Teh yang aku buat itu beneran hangat ko, mah! Aku tidak menyajikannya dengan suhu yang panas." cicit Safinta berkata apa adanya.
Sri menatap tajam Safinta, "Lalu kamu mau bilang... jika Dewi yang berbohong? Itu maksud kamu?" cicit Sri yang kini membela Dewi.
Malik mengerutkan keningnya, "Mah, sudah jangan berlebihan... mama sendiri yang bilangkan, teh mama hangat, mana mungkin teh milik Dewi panas!"
Raya beranjak dengan membawa cangkir teh miliknya sambil tergelak, "Ahahhaha mama dan ka Dewi ini lucu sekali sih! Kalian kalo mau berbohong itu ya janjian dulu dong! Gak lucu kan kalo seperti ini jadinya!" Raya meninggalkan ruang keluarga, menuju kamarnya yang ada di villa.
Safinta dan si mbok di buat bingung dengan keadaan yang ada, si mbok kembali ke dapur.
"Ka?" Safinta berseru dengan menatap Maulana.
Maulana beranjak dari duduknya, menggenggammm pergelangan tangan Safinta, dengan satu tangannya menggerek kopernya.
"Kami istirahat dulu mah, pah!" pamit Maulana pada ke dua orang tuanya.
__ADS_1
Safinta dapat melihat dengan jelas, tatapan benci yang di perlihatkan Dewi padanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi sih! Tadi bukannya Dewi merasa kepanasannn? Tapi mana mungkin air hangat bisa membuatnya merasa panas, kan aneh!
"Istirahat lah kalian ya! Nanti kita makan malam bersama." ucap Malik pada Maulana.
Sri menghampiri Dewi dan mengajaknya meninggalkan ruang keluarga.
"Apa lagi yang akan di rencanakan mama kali ini!" gumam Malik menatap punggung istrinya.
Di kamar Maulana dan Safinta, Maulana mendudukan dirinya di tepian ranjang dengan membuka jaket yang ia kenakan, menyisakan kaos dan jins yang melekat di tubuhnya.
"Apa kaka bisa jelaskan sesuatu pada ku! Kaka tidak berfikir jika aku berbohong pada mu kan ka!" cecar Safinta, dengan tangannya memindahkan pakaian ke duanya, dari koper ke dalam lemari kayu yang ada di dalam kamar yang mereka tempati.
"Pasti kamu heran ya, dengan ke jadian di bawah tadi?" Maulana menaikan ke dua kakinya ke atas kasur, lalu menyilangkannya.
Safinta menganggukkan kepalanya, membenarkan dengan apa yang di katakan Maulana.
Maulana menepukkan tangannya pada pahanya, dan meminta Safinta untuk duduk di atasnya.
"Aku duduk di sini saja, ka!" Safinta hendak mendudukkan dirinya di tepian ranjang.
Sreek.
"Akkhhh."
Dengan gerakan yang tidak di sangka Safinta, di saat Safinta hendak duduk di tepian ranjang, Maulana mendorong dada Safinta dengan lengannya, hingga Safinta jatuh terhempasss di atas kasur dengan Maulana yang berada di atasnya.
Ke dua mata Safinta dan Maulana saling bertemu, dengan dada ke duanya yang saling naik turun, deru nafas yang memburu.
"Apa kamu lelah, sayang?" tanya Maulana, dengan nafas yang menyapu wajah Safinta.
"A- aku, emm ka." Safinta tampak ragu, untuk mengatakannya pada Maulana.
"Apa? Katakan saja, apa kamu lelah? Apa kamu tidak ke beratan jika aku meminta hak ku heh!" Maulana menyusuri leher jenjang Safinta dengan bibirnya.
"A- aku geli kaaaa! A- apa Dewi menyukai mu, ka?" tanya Safinta dengan menggeliet kegeliannn dengan apa yang di lakukan Maulana padanya.
Maulana memberikan gigitannn gigitannn kecil di setiap inci leher Safinta, lalu menyesapppnya hingga meninggalkan jejak kepemilikannya.
Kenapa Safinta menanyakan hal itu? Apa Safinta curiga pada Dewi? Apa yang akan di lakukan Safinta jika tahu yang sebenarnya. Apa ia akan mengerti aku?
Jemari Maulana mulai bergerak liarrr di tubuh Safinta, "Kamu belum menajawab pertanyaan ku, sayang! Kamu tidak marah kan jika aku memintanya!" ucap Maulana, dengan menyingkap baju yang di kenakan Safinta, menyusurinya dengan kecupannn kecupannn di kulit putihnya.
__ADS_1
Safinta menggeliet, dengan sentuhan yang di berikan Maulana, membuat bulu bulu halunya meremanggg.
Sri menggiring Dewi ke dapur, membiarkan si mbok lewat di depannya, dengan membawa sapu dan pengki plastik.
"Kenapa tante tidak membela ku?" tanya Dewi dengan lirih, bibirnya mengerucut.
"Dasarrr anak bodoh! Kamu terlalu gegabah Dewi!" gerutu Sri.
"Aku pikir tante mengerti dengan kode yang aku berikan pada tante tadi." jelas Dewi.
"Cuci tangan mu!" titah Sri, dengan mendudukan dirinya di kursi yang ada di dapur.
Dewi berjalan ke arah westafel dan mencuci tangannya, tangannya kini terasa lengkettt karena teh hangat manis tadi yang sengaja ia tumpah kan ke punggung tangan kanannya.
Sri memangku ke dua tangannya yang ada di atas meja, "Kamu tidak dengar dengan apa yang di katakan Raya, hah! Belum tante bertindak jauh pada Safinta, yang ada sudah di ketahui duluan oleh suami tante dan juga Maulana!"
Dewi mendudukan dirinya di kursi, menatap tajam sang tante, "Lalu apa yang akan tante rencanakan, untuk menantu sialannn tante itu?"
Sri menyeringai, yang pasti aku akan membuat wanita sialannn itu menyesal, karena telah memilih untuk tetap menikah dengan putra ku! Lihat saja, tidak lama lagi kamu akan merasakan bagai mana hidup dengan mertua seperti ku!
"Tente?" apa sih yang sedang di rencanakan tante Sri?
Sri berada di dapur menemai si mbok yang sedang memasak, membuat hidangan makan malam untuk mereka semua.
Sri berada di dapur bukan untuk membantu si mbok, melainkan menunggu sang menantu turun tangan sendiri ke dapur, lalu menyiapkan hidangan makan malam untuk semuanya.
Tak tak tak.
"Ka Maulana kuattt sekali, aku sampe lelah di buatnya, lihat saja... ia benar benar membuat tubuh ku seakan tidak bertulang." gerutu Safinta sambil melangkah menuju dapur, tangannya merapihkan rambutnya ke belakang dengan jepittt rambutnya.
"Kamu bilang apa barusan, Safinta?"
bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
Abaikan jika gak suka 😉
__ADS_1