
...🔥🔥🔥...
"Itu sih hal yang sangat mudah!" Dewi hendak menyentuh mangkuk itu tanpa cempalan.
"Jangan seper----"
Prang.
"Akhhhh." pekik Safinta, saat mangkuk besar yang di pegang Dewi, jatuh begitu saja ke lantai, kuah sup dan pecahan beling mangkuk terpental ke arah kaki Safinta dan Dewi.
"Panasss, perihhh! Kau ingin melukai ku hah! Kenapa kau melakukan ini pada ku, Safinta!" teriak Dewi dengan tangannya yang mengibasss di kaki jenjangnya.
"A- aku tidak bermaksud seperti itu Dewi! Ka! Ka Maulana! Tolong aku!" teriak Safinta.
Beberapa jam kemudian, Safinta dan Dewi di rawat di rumah sakit dengan luka melepuhhh di ke dua kaki mereka. Luka yang di derita Safinta jauh lebih parah dari yang di alami Dewi. Hingga membutuhkan perawatan dan perhatian ekstra dari para dokter dan suster.
"Baru juga punya menantu yang tidak berguna, sudah menyusahkan saja! Kenapa juga sih harus di rawat di rumah sakit! Kita kan bisa merawatnya di rumah. Mengurangi biaya, biar kan lah Dewi yang di rawat di rumah sakit! Liburan macam apa ini!" gerutu Sri dengan kesal, duduk di salah satu sofa rua g rawat
__ADS_1
"Mah! Harusnya yang di rawat di rumah itu ya ka Dewi. Coba lihat, ka Dewi masih bisa berjalan kan? Sedangkan kaka ipar, mau berjalan saja butuh alat bantu. Mama ini beneran deh gak ada hati!" gumam Raya menatap jengkal sang ibu.
"Kamu ini! Kekacauan ini tidak akan terjadi karena ke cerobohannya! Ingat itu Raya!" Sri menunjuk Safinta yang kini berada di atas ranjang rawat, dengan jari telunjuk kanannya.
"Maafkan aku ka, aku tadi ingin mencegah Dewi untuk memegangnya secara langsung, tapi aku terlambat ka!" ucap Safinta dengan penuh sesal.
Maulana menggenggammm jemari Safinta, menatapnya dengan hangat, sembari duduk di tepian ranjang rawat Safinta, "Ini bukan salah mu, sayang! Dewi saja yang salah, tidak tau apa apa mengenai dapur, tapi sok seolah ia mengerti akan dapur."
"Apa yang di katakan Maulana itu benar, Safinta... kamu istirahat lah. Jangan kamu pikirkan lagi ucapan mama mu ya! Mama mu memang seperti itu kan, mulutnya suka pedas saat bicara!" ledek papa Malik yang menghampiri Maulana.
"Tidak usah membelanya, pah! Papa selalu saja membela menantu mu! Sudah jelas dia salah! Mama mau kembali saja lah ke villa!" Sri beranjak dari duduknya hendak melangkah ke arah suaminya.
Sri menoleh ke arah Dewi, ini semua karena mu, Dewi! Kamu juga ikut andil dalam kekacauan ini! Benar benar aku salah dalam memilih calon untuk Maulana!
Sri menyunggingkan senyum terpaksa pada Dewi, jemari Sri memainkan anak rambut Dewi, dengan tatapan yang sinis, "Jika kamu ingin ikut dengan tante kembali ke villa, ikut lah! Tante juga tidak memaksa mu untuk tetap tinggal di rumah sakit ini!"
Dewi menatap tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia melirikkan matanya pada Maulana, dia benar benar tidak mau melihat ke arah ku, sialannn Safinta! Coba lihat itu! Mereka berdua malah semakin dekat, seakan tidak bisa terpisahkan! Lalu apa gunanya ada aku di sini?
__ADS_1
"Kau mau ikut dengan tante kembali ke villa, atau ingin tetap tinggal di rumah sakit? Bersama dengan mereka, orang orang yang bisanya menyusahkan saja!" Sri menyindir Safinta, dengan sorotan mata yang tidak suka.
"A- aku ...." Dewi tampak berfikir kembali, menimbang mana yang baik untuknya, kalo gwe ikut tante, apa yang bisa gwe dapet? Tapi kalo di sini, gwe juga yang sakit hati ngeliet Maulana dan Safinta, tapi kalo di sini setidaknya gwe bisa manfaatin sakit gwe ini kan!
"Malah melamun lagi! Kamu mau ikut dengan tante, atau mau tetap di sini, Dewi?" tanya Sri dengan ketus.
Ceklek.
"Dewi! Siapa yang melakukan ini pada mu, sayang?"
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
__ADS_1
Abaikan jika gak suka 😉