Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Hasil tes DNA


__ADS_3

...💖💖💔💔...


"Bapak jangan macam macam! Ba- bapak apa yang bapak ingin lakukan! Sa- saya bisa berteriak pak! Bapak!" ucap Safinta dengan gugup, saat Fransisco semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Safinta.


"Jika kau sudah lelah dengan pernikahan mu, maukah kau meninggalkan suami mu? Berada di sisi ku, ku pastikan tidak ada wanita lain di hati ku selain diri mu, Safinta!" ucap Fransisco dengan hembusan nafas yang menyeruak di wajah Safinta.


Safinta mendorong dada Fransisco ke belakang, membuat keduanya kembali menjarak, "A- apa yang bapak bicarakan? Sa- saya tidak mengerti!"


"Jangan kamu pikir aku tidak tahu apa yang sudah ibu mertua mu lakukan pada mu, Safinta." Fransisco menatap teduh Safinta.


Safinta menggeser tubuhnya beberapa langkah dari Fransisco, "Ibu mertua saya tidak melakukan apa apa pada saya, pak... mereka, keluarga ka Lana, semuanya memperlakukan saya dengan sangat baik." cicit Safinta dengan menelan pil pahit, terpancar kebohongan di mata Safinta dari sudut pandang Fransisco.


Ting.


Pintu lift terbuka.


"Kau ikut lah ke ruang kerja ku, ada yang ingin bertemu dengan mu, sayang!" ucap Fransisco saat mengayunkan ke dua kakinya ke luar dari dalam lift.


Safinta mengerutkan keningnya, "Ada yang ingin bertemu dengan saya? Siapa pak?" Safinta mengekori Fransisco.


"Pastinya mereka yang paling kau rindukan selama ini. Bukan begitu, Safinta?" ucap Fransisco seakan memberikan teka teki pada Safinta.


"Saya semakin tidak mengerti dengan maksud perkataan bapak!" ucap Safinta dengan tatapan yang bingung.


Safinta terus mengayunkan langkah kakinya, melewati ruang kerjanya begitu saja Saat Fransisco dan dirinya melewati ruang kerja Safinta. Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka berdua dengan curiga dari dalam ruang kerja.


"Apa yang di lakukan bocah itu? Bukannya masuk ke ruang kerjanya, malah mengekori bos besar... ada hubungan apa ya antara Safinta dengan pak Fransisco, kenapa aku merasa mereka punya hubungan?" cicit Siska dengan rasa penasarannya, jiwa keingin tahuannya membawanya untuk mengikuti Safinta.


"Selamat pagi, pak!" sapa Irfan, yang belum lama ini menjadi sekretaris pribadi Fransisco.


"Hem, apa kau lihat mama dan papa ku sudah datang?" tanya Fransisco yang berhenti di depan meja Irfan.


Meja kerja Irfan berada tepat di depan ruang Fransisco.


"Nyonya dan Tuan besar sudah menunggu di dalam sejak beberapa menit yang lalu, pak!" seru Irfan.


Fransisco menganggukkan kepalanya, "Jangan biarkan ada seorang pun yang masuk ke dalam ruang kerja ku! Kau dengar itu kan, Irfan!"


"Dengar pak." Irfan menatap datar. Safinta yang kini berdiri di samping Fransisco, apa jangan jangan ada hal penting yang mereka berempat bicarakan ya? Ah sebodo lah, yang penting aku bisa menjalankan pekerjaan ku saja!


Fransisco mempersilah Safinta masuk lebih dulu ke dalam ruang kerjanya, setelah pintu ia buka.

__ADS_1


Ceklek.


"Kau masuk lah!" titah Fransisco, membuat Safinta langsung menurut.


Fransisco memberikan beberapa lembaran uang kertas berwarna merah pada Irfan, "Tolong belikan aku makanan cepat saji untuk 4 orang, dan kau sekalian beli lah sarapan untuk mu!"


"Lalu siapa yang akan berjaga di depan pak, kalo saya pergi?" Irfan menatap binging dengan lembaran uang yang kini berpindah ke tangannya.


"Panggil satpam, begitu saja repot!" seru Fransisco yang langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, meninggalkan Irfan.


Ariyani langsung menyambut hangat kehadiran Safinta, "Selamat pagi sayang, bagaimana kabar mu? Apa kamu baik baik saja?" tanya Ariyani setelah cipika cipiki pada Safinta.


"Emmmhh aku baik bu, kabar ibu bagaimana? Aku harap baik baik juga ya!" ucap Safinta dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Duduk nak Safinta. Ada yang ingin bapak dan ibu bicarakan dengan kamu!" titah pak Arifin dengan suaranya yang terdengar tegas.


"Mau bicarakan soal apa ya, pak? Bu? Apa ini ada hubungannya dengan mama Sri? Sa- saya benar benar minta maaf atas perlakuan mama Sri pada kalian semalam, mama Sri sudah berlaku tidak sopan pada ibu dan bapak." ujar Safinta yang mengira jika Arifin akan membahas Sri.


"Bukan soal itu, Safinta. Ini jauh lebih penting dari nenek sihir itu!" celetuk Fransisco yang langsung mendudukkan dirinya di sofa.


Safinta mengerutkan keningnya, menatap Fransisco, Ariyani dan Arifin secara bergantian.


"Benar bu." jawab Safinta dengan singkat.


"Mah, langsung saja pada intinya. Jangan membuat Safinta jadi bingung." ucap Arifin.


"Sebenarnya apa yang ingin kalian bicarakan? Saya jadi bingung dan tidak mengerti." ucap Safinta.


Fransisco menyerahkan selembar amplop putih yang ada di atas meja pada Safinta, "Mungkin setelah kamu melihat isi dari keterangan yang ada di dalam amplop ini, kamu bisa mengerti Safinta."


Safinta membaca tulisan yang terdapat pada amplop putih itu, keningnya mengkerut, "Hasil tes DNA, siapa yang melakukan tes DNA pak?"


"Kamu buka lah, nanti biar saya jelaskan." ucap Fransisco.


Ariyani menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang di katakan putranya itu.


Safinta membuka amplop putih itu dengan perasaan yang bingung, mengeluarkan isinya, ia membacanya perlahan dari atas ke bawah.


"Maaf pak, saya tidak mengerti dengan isi hasil tes ini!" Safinta menyerahkannya pada Fransisco, bukannya ia tidak mengerti, namun takut untuk percaya dengan apa yang ia lihat dari hasil tes yang sudah ia baca.


"Sebelumnya aku minta maaf Safinta. Aku telah melakukan tes ini tanpa sepengetahuan mu, itu aku lakukan untuk memperkuat bukti yang menjurus pada kebenaran. Bukti yang selama ini sudah mengarah pada mu." ujar Fransisco.

__ADS_1


"Kami ini orang tua mu, nak!" ucap Arifin dengan wajah serius.


Safinta menatap datar Ariyani dan Arifin, bukan wajah bahagia yang ia perlihatkan pada ke duanya.


"Apa kamu tidak bahagia, mengetahui yang sebenarnya, nak? Kami orang tua kandung mu, nak!" ucap Ariyani yang ingin memeluk tubuh Safinta.


Safinta mengulang perkataan Ariyani dengan mata yang berbinar, nampak pelupuk matanya yang mengembun, "Orang tua?"


"Benar nak, aku ibu kandung mu! Aku sudah mencari mu, nak! Maafkan ibu yang sudah meninggal mu di panti." ujar Ariyani dengan terisak.


Safinta nampak kecewa dengan apa yang sudah di lakukan ke duanya kini, bulir bening menerobos di pelukan matanya yang indah dengan kantung mata.


"Benarkah? Apa kalian tidak malu mengakui ku sebagai anak? Jika selama ini kalian hidup bahagia tanpa memperdulikan aku? Kemana kalian dulu yang dengan tega meninggalkan aku di panti?"


"Jangan berkata begitu nak, ibu dan ayah selalu gelisah, kami mencari mu nak. Apa yang harus kami lakukan untuk mendapatkan maaf mu, nak?" tanya Arifin dengan tatapan penuh harap, berharap putrinya kini mau menerima kehadirannya.


"Tidak ada yang bisa kalian lakukan, aku hanya ingin hidup tenang seperti sedia kala, saat aku belum memgetahui kebenarannya." Safinta beranjak dari duduknya, menyapu bulir bening dengan kasar dari pipinya.


Grap.


Ariyani memeluk tubuh Safinta dengan erat. Ia mengatakan yang sejujurnya pada Safinta, dengan tangannya yang mengelusss punggung Safinta yang menagis terisak dalam dekapannya.


"Jangan seperti itu, nak! Ibu tahu ibu salah, ibu dan ayah salah sudah menaruh mu di panti. Tapi itu terpaksa nak, kami tidak mampu untuk menghidupi mu. Hingga akhirnya nasib membawa ku dan ayah mu berubah drastis setelah bertemu dengan orang tua Fransisco." ujar Ariyani.


"Fransisco bukan putra kandung papa dan mama, nak! Kami memegang amanat untuk melindungi, dan mengakui Fransisco sebagai putra kandung kami, demi melindungi nyawanya yang terancam. Saat itu usia mu baru beberapa hari kami tinggalkan di panti, sedangkan Fransisco dulu usianya baru 4 tahun." terang Arifin melanjutkan perkataan Ariyani.


"Dan aku ingin kamu meninggalkan suami mu itu, Safinta!" ucap Fransisco dengan tegas, "Aku tidak ingin orang tua suami mu menekan mu terus menerus." ujarnya lagi.


Sementara di luar ruang Fransisco.


Siska geleng geleng kepala, mendengar apa yang baru saja ia dengar, gak nyangka gwe, kalo anak panti itu ternyata anak kandung dari pak Arifin dan bu Ariyani. Kalo gitu yang kaya pak Fransisco, terus buat apa juga pak Fransisco mau Safinta tinggalin suaminya? Ada apa sih dengan hubungan mereka, bikin runyem aja.


"Ehem, sedang apa kamu di depan ruang kerja pak bos?" tanya Irfan dengan suaranya yang dingin.


Bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊

__ADS_1


__ADS_2