Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Memiliki 2 istri


__ADS_3

...💖💖💔💔...


"Kau sedang apa, Zee?" tanya Maulana yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Aku hanya aaaa!" Zee langsung berteriak dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, saat melihat Maulana yang hanya berdiri dengan mengenakan handuk yang melilittt bagian bawahnya, ia juga memalingkan wajahnya dari Maulana, ke dua matanya ia tutup dengan rapat.


Maulana yang tidak mengerti, malah melangkah mendekat ke arah Zee dengan heran, menahan tawa saat melihat tingkah kocak Zee.


"A- apa yang mas Lana sedang lakukan! Cepat kembali masuk ke dalam kamar mandi, kenakan lagi pakaian mu dengan lengkap, baru setelah itu kau boleh ke luar." ucap Zee seakan sedang memerintah Maulana.


"Untuk apa? Aku tidak akan mengenakan baju lengkap itu lagi, aku lelah, aku ingin istirahat. Kau tidur lah!" titah Maulana yang langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Maulana menutup ke dua matanya, lalu ia menindihhh ke dua matanya dengan lengannya sendiri.


"Mas Lana gak akan tidur di sini kan malam ini? Mas, aku bingung untuk menghadapi Safinta. Ini di luar rencana kita kan mas? Coba dari awal aku menolak tawaran mu ini, mas... mungkin kita tidak akan terjebak dalam situasi sulit seperti ini!" ujar Zee dengan lesu.


"Besok kita bicarakan lagi. Sekarang kau tidur lah! Kau juga butuh istirahat kan!" ucap Maulana tanpa menoleh sedikit pun ke arah Zee.


"Aku tidak bisa tidur satu ranjang dengan orang asing, mas!" cicit Zee yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan Maulana.


"Nanti kau akan terbiasa." ucap Maulana dengan acuh.


Namun batin Maulana bertentangan dengan apa yang ia ucapkan pada Zee, aku juga tidak terbiasa, tapi mau bagaimana lagi, jika aku tidur di luar, mama akan semakin curiga dan membenarkan kita ini sedang sandiwara, tapi sandiwara kita sudah tercebur ke dasar jurang, dalam sekejap kita menikah dan menjadi suami istri, aku memiliki 2 istri, sungguh luar biasa. Hal yang tidak pernah aku bayangkan sekali pun dalam hidup ku.


Zee menatap sebal Maulana yang ia pikir sudah tertidur lelap, "Cepat sekali ia tidur! Aku malah tidak dapat tidur! Apa yang bisa aku katakan pada Safinta besok! Apa Safinta masih mau menjadi sahabat ku? Astaga, aku bisa mengakhiri pernikahan ini. Ini kan hanya pernikahan di bawah tangan dan tidak tercatat di negara." gerutu Zee.


Zee mulai mengantuk, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, menoleh dan menatap Maulana, "Mas Lana, kita masih bisa berpisah kan! Pernikahan ini juga termasuk dalam sandiwara kita kan? Aku tidak ingin menjadi istri ke dua, mas!"


Hanya suara dengkuran halus yang Zee dengar. Semakin lama, mata lelahnya membawanya dalam lelap.


Malam semakin larut, membuat Sri yang sudah tertidur lelap terbangun dari tidurnya karena merasa haus.


"Sialll, kenapa aku tidak menyuruh si mbok untuk menyediakan segelas air untuk ku!" dengan terpaksa Sri beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil air minum, menghilangkan rasa dahaganya dengan melangkah ke dapur.


Sri menoleh kamar tamu yang ia lewati, "Aku harap mereka tidak mengunci pintunya!" dengan mengendap endap Sri membuka pintu kamar tamu.


Ceklek.


Sri membuang nafas lega, saat pintu itu berhasil ia buka dengan mudah, ia melangkah perlahan memasuki kamar tamu.


"Aku akan memisahkan jarak di antar ke duanya!" Sri menyeringai, seketika matanya yang mengantuk kembali terbuka lebar.


Ia kembali ke kamarnya, mengambil sesuatu benda kecil dari dalam tasnya, dengan ini... aku harap kalian bisa memberikan aku banyak cucu!

__ADS_1


Sri kembali ke kamar tamu, ia mengoleskan salap itu ke tangan dan leher Maulana dan Zee yang sudah terlelap.


"Jangan pernah kalian bermain main dengan ku, Zee, Maulana dan Safinta! Kebahagiaan kalian ada pada tangan ku!" gumam Sri dengan menyeringai, ia kembali meninggalkan kamar pasangan pengantin baru itu.


Beberapa menit berlalu, Zee dan Maulana sama sama merasa gelisah dalam tidurnya. Tampak Zee yang menggeliat dengan tangan yang bergerak liarrr pada tubuhnya sendiri.


"Panasss, uuhhh eeehhhh, apa pendingin ruangannya mati ya?" racau Zee.


Maulana yang hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian intinya, tampak sesuatu sudah meneganggg di bawah sana, dengan peluh yang membasahi tubuh atletisnya.


Maulana mengerang frustasi, menyangka jika ia tengah bermimpi, melihat ada Zee yang tengah terlelap di atas ranjangnya.


"Bodoh! Kenapa ada Zee di kamar ku? Kemana Safinta! Astaga tubuh ku, ada apa dengan tubuh ku! Aku butuh penyaluran." tanpa ragu lagi, Maulana beranjak dari tidurnya, melempar handuk yang ia kenakan ke sembarang arah.


Tatapan Maulana memburu pada Zee, yang tampak menggoda dengan baju tidur tanpa lengan yang melekat pada tubuhnya, tampak sepasang paha mulus tanpa celah seakan mengajak Maulana untuk menjamahnya.


Maulana menelan salivanya dengan sulit, adik kecilnya semakin meneganggg.


"Maaf Zee, maaf Safinta... ini hanya dalam tidur aku melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan! Aku harap kalian mengerti dengan apa yang aku lakukan!" guman Maulana dengan lidah yang menjilat bibirnya sendiri.


Sreek sreek.


Maulana menarik baju tidur yang Zee kenakan, dengan sekali tarikan. Maulana berhasil melorotkan celana Zee.


"Ini hanya akan sakit sebentar! Maaf Zee, ini hanya lah mimpi! Jadi aku tidak harus untuk menikahi mu sebagai bentuk tanggung jawab ku kan!"


Zee terus memberontak saat Maulana menjelajahi tubuh Zee dengan lidahnya, meninggalkan jejak kepemilikannya pada tubuh mulusss Zee.


"Aaaakkkkkh sa- sakit, jangan mas sa- sakit!" racau Zee dengan bibir yang menolak, namun tubuhnya seakan menikmati permainan yang di lakukan Maulana padanya, Zee terus menggeliattt dan menggelenjinggg saat sesuatu berhasil membuatnya basahhh dan merasakan sensasi yang tidak pernah ia rasakan.


Maulana berkali kali menghujani milik Zee, dengan senjatanya yang masih tampak berdiri tegak meski Maulana sudah melakukannya berkali kali. Hingga waktu mendekati subuh, baru ke duanya terkulai lemas, dengan membalut tubuh polos mereka berdua dengan selimut.


"Maafkan aku Safinta, dalam mimpi aku sudah menghianati mu, menghianati pernikahan kita." gumam Maulana sebelum ia kembali terlelap, menyangka apa yang ia lakukan dengan Zee adalah mimpi.


Sementara Zee, tanpa sadar bulir bening ke luar dari ke dua sudut mata indahnya, apa lagi yang bisa aku jaga, jika satu satunya yang paling berharga dari tubuh ku sudah kau renggut mas! Apa aku masih bisa menuntut perpisahan dari mu, mas Lana? Apa masih ada pria baik hati dan tulus yang bisa mencintai ku, yang bisa menerima ku yang tidak lagi suci!


Safinta sudah bangun lebih dahulu, sebelum semua orang terbangun dari tidurnya. Ia sudah menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah Raharja.


Matahari tampak menyapa setiap insan manusia, kenyinari bumi dengan cahaya terangnya.


"Non Safinta, kenapa tidak bangunkan bibi? Apa ini semua Nona yang mengerjakan seorang diri?" tanya si mbok yang melihat Safinta sedang berkutat dengan alat tempur dapur, dengan beberapa hidangan sarapan yang sudah ia sajikan di atas meja makan.

__ADS_1


"Gak apa mbok, mbok kan lelah, kebetulan aku juga akan berangkat ke kantor pagi pagi sekali. Jadi aku harus menyiapkan sarapan kalian kan!" cicit Safinta.


"Biar si mbok yang lanjutin pekerjaan Non, sekarang Non siap siapa aja dulu buat ke kantor!" ucap si mbok.


"Makasih ya, mboo!" ujar Safinta yang menyerahkan spatula yang ada di tangannya pada si mbok.


"Sama sama Nona. Nona yang sabar ya! Anggap ini ujian dari Allah untuk rumah tangga Nona. Saya yakin ini bukan keinginan Tuan Maulana dan istri baru Tuan Maulana. Ini semua Nyonya Sri yang mengaturnya." terang si mbok dengan mengelusss punggung Safinta dengan penuh kasih sayang, layaknya seorang ibu yang sedang menasehati putrinya.


Safinta tersenyum getir, entah mbok, apa aku bisa melewati ujian yang Allah berikan pada ku saat ini!


"Aku siap siap dulu ya, mbok!" Safinta berlalu menuju kamarnya.


Selang beberapa menit, Safinta ke luar dari kamarnya dengan pakaian kerjanya, dan tas yang ada di bahunya.


"Loh Nona gak sarapan bareng yang lain?" tanya si mbok.


"Aku sarapan di kantor aja mbok." ujar Safinta dengan membawa kotak bekal yang sudah ia siapkan untuk dirinya.


"Oh iya mbok, nanti yang ini tolong berikan pada ka Lana dan Zee ya!" ujar Safinta sebelum meninggalkan rumah mertuanya.


Di depan pagar yang menjulang tinggi, Safinta menunggu mobil taksi online yang sudah ia pesan lewat hape-nya.


Ciiit.


"Atas Nona Safinta?" tanya pak supir, yang menghentikan laju mobilnya di depan Safinta.


"Iya, benar pak!" Safinta tersenyum ramah.


Tin tin tin.


Mobil yang baru saja berhenti di belakang mobil itu, membunyikan klakson berkali kali.


"Itu kan!" Safinta mengerutkan keningnya.


Bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊

__ADS_1


__ADS_2