Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Ariyani mendengar dengan jelas


__ADS_3

...🌹🌹💔💔💔...


"Ada apa ka?" tanya Safinta yang baru saja ke luar dari kamar mandi. Mendapati sang suami berada di depan pintu.


"Tidak ada, aku akan turun untuk makan malam menemani mama menjamu tamunya. Kamu makan malam lah di kamar. Biar nanti aku minta mbok untuk mengantar makan malam mu." tidak ada kata lagi selain Maulana yang bersiap dengan pakaiannya.


Safinta tersenyum pahit, melihat sang suami yang mulai berbohong padanya, "Baik lah, aku juga lelah setelah membantu mbok memasak. Aku bisa makan di dalam kamar, bisa sambil membaca novel ke sukaan ku." ucap Safinta dengan riang.


Safinta mengambil pakaiannya dari dalam lemari, "Aku mandi dulu ya, ka! Jika kaka ingin langsung turun ke bawah, turun saja. Tidak perlu menunggu ku!"


Maulana melihat Safinta yang melangkah memasuki kamar mandi dengan membawa piyamanya, maaf kan aku sayang, aku terpaksa melakukan ini, aku hanya ingin kamu tetap tinggal di rumah ini, bersama dengan ku!


Safinta menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi, sementara Maulana langsung memalingkan wajahnya dari Safinta, "Aku mencintai mu ka! Apa pun yang terjadi, kita bisa melewati ini bersama! Asal ada kaka di sisi ku, apa pun bisa aku hadapi!" Safinta menyunggikan senyumnya, lalu menutup kembali pintu kamar mandi.


Maulana membuang nafasnya dengan kasar, menggaruk kepala nya dengan frustasi, "Apa aku bisa setega ini pada istri ku? Wanita yang belum lama aku nikahi?"


Maulana ke luar menuju dapur, meminta si mbok mengantar makan malam untuk Safinta di kamarnya.


Sementara Safinta berendam di dalam bak mandi, menetralisir pikirannya dengan menghirup aroma terapi yang berasal dari dalam air rendaman tubuhnya.


Pikiran Safinta kembali pada beberapa saat yang lalu, saat ia baru saja ke luar dari dalam kamar mandi setelah menangis puas menumpahkan akan perasaannya.


Apa yang di ucapkan mama Sri dan Maulana, terus terngiang di kepala Safinta.


..."Kamu masih ingatkan dengan perkataan mama? Jika kamu masih ingin Safinta berada di rumah ini, kamu harus bersedia bertunangan dengan Santi saat ini juga!" cicit Sri....


..."Aku tidak bisa mah! Santi itu jahat, dia bukan wanita baik baik. Apa kurang bukti yang aku perlihatkan pada mama? Sampai membuat mata hati mama tertutup?"...


..."Lalu, jika bukan dengan Santi... apa kamu sudah memiliki kandidat tersendiri untuk di jadikan istri ke dua mu? Mama ingin kamu menikah lagi, menikah dengan wanita yang sederajat dengan keluarga kita, Maulana!" ucap Sri....


...Maulana membuang nafasnya dengan kasar, "Wanita itu akan datang, sebelum mama meminta ku untuk melingkarkan cincin di jari Santi!"...


...Puk puk puk....

__ADS_1


...Sri menepuk lengan putranya dengan bangga....


..."Itu baru putra mama! Mama tunggu kamu di bawah! Jangan kau perlihatkan wajah buruk istri miskin mu itu Maulana! Mama tidak ingin wanita sialannn itu mengacaukan acara mama!" Sri melenggang pergi dari kamar putranya....


Safinta menggelengkan kepalanya berkali kali, "Ini terasa mimpi buruk bagi ku! Baru kemarin aku dan ka Lana baik baik saja, dan sekarang ka Lana di minta untuk menikah lagi? Apa ini alasan mama memberikan aku obat pencegah ke hamilan, mama tidak ingin aku mengandung benih ka Lana? Apa ka Lana sudah tahu jika aku keguguran?"


Safinta buru buru menyudahi acara berendamnya, ia bergegas mengenakan piyamanya. Menggulung rambutnya yang basah dengan handuk. Baru Safinta melangkah ke luar dari dalam kamar mandi.


Safinta meraih hapenya yang ada di atas nakas, tatapannya tertuju pada chat yang masuk dengan nomor telepon yang tidak di kenal.


"Selamat malam nak, apa kabar mu, apa kamu sudah makan malam? Maaf ya jika ibu mengganggu waktu istirahat mu, ibu hanya khawatir pada keadaan mu, ini ibu Ariyani. Masih ingat kan dengan ibu?" chat 0896xxxx.


Senyum terukir di sudut bibir Safinta, saat ia mengetahui siapa yang menghubunginya.


Maafkan Safinta ya bu, aku harus menyembunyi kan keadaan rumah tangga ku yang sedang tidak harmonis ini dari mu.


"Selamat malam ibu, Finta dalam keadaan baik ko. Ini Finta lagi makan malam dengan ka Lana, suami Finta. Apa ibu sudah makan malam?"


"Boleh ibu menelpon mu, nak? Ibu rindu dengan suara mu!" chat dari 0896xxxx.


Dreeet dreeet dreeet.


...Calling...


...0896xxxx....


[ "Assalamualaikum nak, Safinta. Kamu sedang apa sayang?" ] tanya Ariyani saat Safinta sudah menjawab sambungan teleponnya.


"Sedang makan malam bersama dengan ka Lana, bu." cicit Safinta yang berbohong.


[ "Bagai mana keadaan mu, nak?" ]


"Sudah membaik ko, bu. Besok juga aku sudah mulai kerja lagi."

__ADS_1


[ "Apa? Kamu baru aja ke luar dari rumah sakit, masa harus langsung kerja? Apa Fransisco yang meminta mu untuk masuk kantor besok? Biar ibu kasih pelajaran anak itu, sudah berani meminta mu langsung masuk kantor!" ] suara omelan Ariyani terdengar nyaring di telinga Safinta.


"Bukan pak Fransisco yang menyuruh saya masuk kantor bu, tapi saya yang sudah kangen dengan suasana kantor. Jadi saya besok akan mulai kerja lagi." cicit Safinta.


[ "Ohhh gitu, kirain ibu... anak nakal itu yang menyuruh mu masuk kantor!" ]


"Bu---"


Tok tok tok.


"Non, ini si mbok bawakan makan malam. Boleh si mbok masuk?" tanya si mbok dari luar pintu kamar Safinta.


Dengan tergagap Safinta menjawab pertanyaan si mbok, ia juga menjauhkan hapenya dari daun telinganya.


"I- iya mbok, tu- tunggu sebentar!" aku harap ibu Ariyani tidak mendengar suara si mbok.


Tapi sayangnya Ariyani mendengar dengan jelas, suara dari sambungan telponnya.


Safinta menarik nafas dalam dalam, baru ia melanjutkan pembicaraan dengan Ariyani.


"Ma- maaf bu, lain kali kita sambung lagi. A- aku ada keperluan, a- aku mau ke toilet, iya aku mau ke toilet."


[ "Iya nak. Ibu mengerti. Salam untuk suami mu ya!" ]


Safinta langsung membuka pintu kamarnya, "Maaf ya mbok, lama!" ucap Safinta dengan meraih nampan yang berisi makanan, untuk ia makan malam di kamar.


"Maafin si mbok ya Non. Gak bisa temenin Non makan malam." ujar si mbok dengan wajah bersalah, membiarkan Nona Muda-nya makan malam sendiri di kamar.


"Mbooooo!" suara lengkingan Sri dari ruang makan, terdengar memanggil si mbok.


Bersambung.....


...💔💔💔💔...

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊


__ADS_2