Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Istri ke dua


__ADS_3

...🌹🌹💔💔...


Dug.


Zee terperanjak kaget saat melihat ada Safinta yang duduk di samping Sri, maafkan aku Safinta, aku juga tidak tahu jika keadaannya jadi seperti ini.


"Apa benar, Nona Safinta memberikan izin untuk Maulana, suami anda... untuk menikahi Zee sebagai istri ke dua?" tanya pak penghulu dengan menatap Safinta.


Semua orang menatap ke arah Safinta, menunggu wanita itu untuk memberikan jawaban.


Safinta menatap ke arah Sri, sementara yang di tatap malah memberikan ancaman dengan memperlihatkan foto panti lewat layar hape-nya.


"Kau berani tidak menuruti ku, akan aku buat warga panti ini kehilangan tempat tinggal! Apa kau bisa sekejam itu, Safinta! Membiarkan adik adik panti mu kehilangan tempat tinggal!" ucap Sri dengan suara pelan.


Santi menatap kesal Safinta, jangan bodoh Safinta, kau tidak tahu siapa yang akan menjadi madu mu! Bisa saja kau akan di perlakukan buruk padanya! Jangan terima pernikahan ini Safinta!


Dalam diam Zee menundukkan kepalanya, kenapa jadi seperti ini Tuhan! Jahat sekali aku sebagai sahabat Safinta, merebut pria yang sudah menjadi suaminya.


Zee menghapus bulir bening yang membasahi pipinya, ia menatap pak penghulu dan Maulana secara bergantian.


"Maaf tante, aku tidak bisa! Pak, tidak akan ada pernikahan malam ini, di rumah ini! Aku tidak bisa menikah dengan mu, mas Maulana!" ucap Zee dengan tegas.


Dug.


Degup jantung Safinta berdetak dengan kencang, astaga bagaimana ini... Zee itu sahabat ku, ia jauh lebih baik jika di bandingkan dengan Santi. Aku yakin kita bisa berbagi suami. Apa lagi mama Sri mengancam ku akan tempat tinggal anak panti.


"Tidak bisa Zee, kamu akan tetap menikah dengan Maulana, atau kamu mau tante mengusir sahabat mu ini dari rumah ini, mengusir anak panti asuhan, panti yang selama ini sudah memberikan mu tempat tinggal dan kehangatan layaknya keluarga untuk mu, Safinta!" ucap Sri dengan menyeringai menatap tajam Zee dan Safinta.


"Mah! Jangan seperti itu mah! Apa yang mama lakukan ini suatu kesalahan! Aku tidak bisa buru buru menikahi Zee, kami baru menjalin hubungan, mana mungkin langsung menikah seperti yang mama harapakan!" Maulana menggenggammm erat jemari Zee, dengan tatapan penuh cinta.


Jeger.


Bak tersambar petir tanpa adanya hujan atau badai terlebih dahulu. Hati Safinta begitu teriris melihat Maulana dengan mudahnya menggenggam dan menautkan jemarinya dengan jemari Zee, bahkan Safinta dapat melihat dan merasakan adanya cinta di pandangan yang di perlihatkan Maulana pada Zee.


"Mama tidak sebodoh yang kamu bayangkan, Maulana! Jangan kamu pikir mama bisa di bohongin oleh mu! Mau tidak mau, suka tidak suka. Malam ini kamu harus menikahi Zee, atau kami mau menikahi Santi!" ultimatum keras ke luar dari bibir Sri.


"Jadi bagaimana ini? Pernikahan tidak boleh di lakukan dengan paksaan. Ini sudah berhubungan dengan hati, ingat nak, kau itu sudah memiliki istri." pak penghulu menatap Maulana.


Kini pak penghulu menatap Sri, "Dan anda Nyonya, anda juga seorang wanita, di mana hati anda sebagai wanita bisa setega itu pada wanita lainnya?" ucap pak penghulu dengan menggelengkan kepalanya, tidak menyangka dengan apa yang terjadi di depan matanya.


"Pak penghulu, tolong jangan ikut campur dalam urusan keluarga kami! Biar kan anak saya menikah dengan wanita pilihannya untuk yang ke dua kalinya, saya yakin wanita ini pasti menerima dengan ikhlas pernikahan ke dua suaminya!" ucap Sri dengan menatap tajam Safinta.


"Bagaimana nak Safinta, apa anda tidak keberatan dengan pernikahan ke dua suami anda?" tanya pak penghulu lagi pada Safinta.

__ADS_1


"Sa- saya memberikan izin untuk suami saya menikah, untuk yang ke dua kalinya pak penghulu." ucap Safinta dengan hati yang teriris.


"Safinta!" Maulana hendak melangkah maju menghampiri Safinta, namun Safinta mencegahnya dengan tangan terulur ke depan, melarang Maulana untuk mendekatinya.


Safinta menghapus bulir bening di pipinya dengan kasar, menahan isak tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya, hati ku hancur ka Lana! Kalian, sejak kapan kalian bisa sedekat itu?


"Safinta! Jangan lakukan itu, aku tahu kamu sangat mencintai mas Lana, tidak seharusnya aku ada di antara kalian!" ujar Zee dengan tatapan iba melihat sahabatnya, aku tahu betapa sulitnya tekanan yang tante Sri berikan pada mu, Safinta.


"Kalian sudah dengar sendiri kan apa yang di katakan Safinta. Jadi kalian tunggu apa lagi!" ujar Sri dengan senyum penuh kemenangan.


Ijab kabul di lakukan tanpa hambatan.


"Sah!" seru anak buah Sri dengan puas, melihat kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil seperti yang di inginkan Tuannya.


Dari arah pintu masuk, suara tepukan tangan terdengar nyaring, membuat semua orang yang berada di ruang tamu kini ikut menoleh ke asal suara.


Prok prok prok.


"Aku tidak menyangka, seorang Nyonya Sri Raharja bisa berbuat selicik ini pada seorang wanita, yang tidak lain adalah menantunya sendiri!" ucap pria paruh baya yang tidak lain adalah Arifin.


Sri mengerutkan keningnya, "Ini bukan urusan mu, kalian tidak berhak ikut campur dengan urusan keluarga ku!" ucap Sri dengan sinis, menatap tamu yang tidak di undangnya.


"Kami memang tidak ingin ikut campur, tapi ini sudah menyangkut kehidupan Safinta, maka aku tidak akan bisa dia saja." ucap Ariyani menatap teduh Safinta.


Fransisco yang ikut bersama dengan pasangan paruh baya itu pun, meminta Safinta untuk menghampiri ke duanya.


"Lebih baik kau urus mereka Safinta. Bawa mereka ke luar dari rumah ku! Mereka bukan lah tamu ku!" ucap Sri dengan ketus dengan tatapan tidak suka pada Ariyani, jika bukan karena mu, mungkin saat ini... aku lah yang mendampingi mas Arifin!


"Aku juga tidak sudi menginjakkan ke dua kaki ku di rumah sialannn ini!" gerutu Ariyani dengan tatapan tidak suka pada Sri.


Arifin dan Ariyani sama sama merangkul Safinta, menggiringnya ke luar dari rumah besar dan megah itu. Dengan Fransisco yang berjalan di belakang ke tiganya.


Arifin, Ariyani dan Safinta mendudukan diri mereka di kursi yang ada di taman rumah itu, sedangkan Fransisco memilih untuk berdiri dengan ke dua tangan menyilang di depan dada. Tatapannya tajam pada Safinta, telinganya ia pasang dengan baik, mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Safinta.


"Apa kamu bisa jelaskan pada tante, apa yang terjadi, nak?" tanya Ariyani dengan mengangkat dagu Safinta, agar Ariyani dapat menatap mata bulat Safinta yang sembab setelah banyak menangis.


"Maaf tante, tidak seharusnya tante dan om melihat yang tidak pantas kalian lihat. Aku sudah tau hal ini pasti akan terjadi!" ucap Safinta bohong.


"Jangan membohongi diri mu sendiri, nak! Jika kamu tidak bahagia di rumah ini, tinggal kan lah rumah ini, pulang lah dengan kami ya! Kamu mau kan tinggal dengan kami?" tanya Ariyani.


Safinta mengerutkan keningnya, menatap dengan heran Ariyani, memang siapa aku, bisa tinggal di rumah ibu Ariyani, ibu Ariyani hanya lah bos ku! Lagi pula tidak enak juga kan aku dengan pak Fransisco.


"Maaf tante, aku akan tinggal di mana pun suami ku berada. Aku tidak akan meninggalkan rumah ini, kecuali mereka memang tidak menginginkan keberadaan ku di rumah ini!" ucap Safinta dengan yakin.

__ADS_1


"Rumah ini tidak bisa memberikan mu kehangatan keluarga nak!" ucapa Arifin dengan mengelusss lengan Safinta.


"Itu sudah biasa untuk ku, pak. Aku sudah tidak merasakan utuhnya kasih sayang layaknya keluarga. Aku tumbuh dan besar di panti asuhan. Aku sendiri bahkan tidak mengenal ke dua orang tua ku. Yang aku tahu, aku hanya memiliki ibu panti, ibu yang selalu ada untuk ku. Ibu untuk semua anak yang tinggal di panti asuhan." terang Safinta dengan tatapan sendu.


Ariyani menatap sedih Safinta, ia langsung memeluk Safinta, maafkan mama nak, ini mama ada di depan mu, sudah lama mama ingin memeluk mu, maaf kan mama yang belum bisa mengakui mu sebagai seorang anak.


Arifin mengelusss punggung ke dua wanita yang kini sangat bearti dalam hidupnya, maafkan papa nak, ini salah papa yang tidak mendengarkan perkataan mama mu. Andai waktu itu mama dan papa menjemput mu, kamu tidak akan merasakan pahitnya hidup tanpa ke dua orang tua.


Fransisco menatap datar ke tiganya, aku akan pastikan, setiap air mata kalian, akan menjadi bumerang untuk keluarga Raharja. Beraninya mereka menyakiti hati putri kalian. Sementara kalian sudah merawat dan membesarkan ku dengan penuh kasih sayang, tapi putri kalian sendiri merasakan hal yang sebaliknya dari ku.


"Sebaiknya kau kemasi barang barang mu, Safinta. Benar apa yang di katakan mama, kau tinggal lah dengan kami!" ucap Fransisco yang kini berdiri di belakangnya.


"Safinta tidak akan pergi ke mana pun!" ucap Maulana dengan lantang, saat ia berdiri di teras taman dengan tatapan tidak suka pada Fransisco.


"Memang kau siapa, bisa melarang Safinta untuk meninggalkan rumah ini!" tanya Fransisco dengan datar.


"Aku suaminya! Aku berhak atas hidup Safinta, dan aku tidak akan membiarkan kalian membawa istri ku pergi dari rumah ini!" ucap Maulana dengan tegas.


Maulana mengayunkan langkah kakinya, menghampiri Safinta.


Maulana menatap tajam sepasang mata bulat Safinta, sampai kapan pun, kau akan tetap menjadi istri ku, Safinta, selamanya!


Sreek.


"Akhh!" pekik Safinta.


Maulana menarik lengan Safinta dengan kasar, memaksanya berdiri di sampingnya.


"Tolong, anda jangan bersikap kasar pada Safinta!" seru Arifin, menyaksikan sendiri putrinya di tarik lengannya oleh Maulana.


"Suami macam apa, yang tega menikahi sahabat istrinya sendiri!" ucap sinis Fransisco.


"Kau tidak tahu apa apa, Tuan!" ucap Maulana dingin.


"Maaf om, tante, pak Fransisco, ini sudah larut. Lebih baik kalian pulang lah. Maaf, bukannya aku ingin mengusir kalian!" ujar Safinta dengan berat hati.


"Tante pikir, kau akan ikut dengan kami, nak!" ucap Ariyani pada Safinta dengan tatapan penuh harap.


"Memang siapa kalian, hingga Safinta akan ikut bersama dengan kalian?" tanya Sri dengan sinis, menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.


Bersambung.....


...💔💔💔💔...

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊


__ADS_2