
...💔💔🔥...
Safinta menatapnya dengan menyelidik, "Aku ----"
Tiiiin.
Brak.
Brak.
Bugh.
"Akkkhhh."
"Astagfirullah hal azin!" ada apa dengan mobil ini, ka Lana! Tolong aku!
Terdengar suara hantaman keras dari arah belakang, yang tidak lain adalah mobil yang di tumpangi Safinta di seruduk dari belakang oleh mobil lain.
Kemudian mobil yang di tumpangi Safinta, menyeruduk mobil yang ada di depannya, hingga terjadi lah tabrakan beruntun yang tidak bisa lagi di hindari.
Sebelum Safinta ke hilangan kesadarannya, ia dapat melihat bu Ariyani dengan wajah penuh luka, dan pak Arifin yang tidak lagi bersuara. Nampak sang supir berseru memanggil Tuannya.
"Tuan? Tuan Arifin! Bangun Tuan! Bu, bu Ariyani, ibu sadar bu! Nona? Kamu harus tetap menjaga ke sadaran mu, tolong! Siapa pun tolong!" teriak sang supir dengan sesekali menoleh ke arah Arifin, Ariyani dan Safinta.
Lokasi ke jadian langsung di amankan setelah polisi sampai di lokasi ke jadian, para korban di larikan ke rumah sakit terdekat dengan ambulans.
Kejadian itu pun langsung masuk berita, tragedi maut di turunan yang memakan korban 20 orang luka dan 11 orang tewas di tempat.
Di gedung pencakar langit.
Fransisco tampak gusar di ruang kerjanya, ia menatap ke luar dinding kaca, "Apa yang akan papa dan mama lakukan pada wanita itu, jika benar dia lah putri mereka yang selama ini mereka cari? Kenapa aku bodoh sekali tidak bisa mengenalinya?"
Flashback.
1 setengah jam sebelum jam istirahat kantor, Fransisco yang tampak sibuk dengan tumpukan beberapa dokumen yang ada di atas meja kerjanya.
Dreet dreet dreet.
Fokusnya terusik saat hapenya berdering, namun sejurus kemudian ia mengerutkan kening nya, pasti mama ingin menanyakan hal yang sama, keberadaan putri kandungnya.
Fransisco membuang nafasnya dengan kasar sebelum menjawab panggilan telpon dari sang mama.
"Iya mah, orang ku masih berusaha mencari keberadaannya, mama sabar ya, semoga kita dapat ----"
__ADS_1
[ "Frans, mama sudah mengetahui keberadaannya, dia tidak berada jauh dari mu Frans." ] cicit Ariyani dari sebrang sana, dengan menggebu, terdengar suaranya yang bersemangat.
Fransisco semakin di buat bingung dengan ucapan sang mama angkat, ia memijat pelipisnya sendiri. Mearsakan pening yang luar biasa, di satu susi ia merasa bahagia, tapi di sisi lain, ia takut akan kehilangan sosok orang yua yang selama ini sudah menyayanginyanya layaknya anak kandung.
Tapi Fransisco juga tidak akan egois, justru ia akan merasa sangat bersalah jika belum bisa menemu kan putri kandung Arifin dan Ariyani.
"Siapa dia mah? Tapi apa maksud mama dia dekat dengan ku?"
[ "Wanita itu salah satu karyawan mu, nak. Kamu ingat kan dengan pesan papa mu, sebelum papa menyerahkan posisinya pada mu? Wanita itu nak, dia putri kandung mama! Wanita yang bisa di percaya, dan di andalkan, wanita itu nak!" ] ucap Ariyani panjang lebar, di saat ia memberikan ke sempatan untuk Fransisco bicara, hapenya langsung di rebut Arifin.
"Mama serius? Mama tau dari mana jika ia putri kandung mama?"
Suara Arifin menggema di indra pendengaran Fransisco, dengan suaranya yang tegas, tanpa memberikan ke sempatan Fransisco untuk bertanya, ia langsung memutuskan sambungan teleponnya begitu selesai dengan apa yang ingin ia katakan pada putra angkatannya itu.
[ "Kamu jangan banyak bertanya dulu nak, pokonya papa minta wanita itu izin tidak kembali ke kantor setelah jam istirahat usai. Papa dan mama sudah membuat janji dengannya, papa akan mengatakannya pada wanita itu nak. Tidak boleh ada kata keberatan." ]
Fransisco terpaku di buatnya, ia menatap layar hapenya, "Astaga pria tua itu, benar benar mengambil ke putusan sendiri!" gumam Fransisco.
Sesekali Fransisco menggelengkan kepalanya, saat pikiran buruk terlintas si kepalanya. Bagai mana jika Safinta tidak menerima kenyataan ini? Tidak tidak, Safinta pasti akan menerima kenyataan ini, ia bisa bersikap bijak dalam mengambil ke putusan. Tapi untuk masalah satu ini, aku sedikit ragu.
Flashback and.
Suara gebrakan meja yang keras, membuyarkan Fransisco dari lamunannya akan orang tuanya.
"Woy ini bukan saat yang tepat buat lo ngelamun, bro!" seru seorang pria dengan suara yang meninggi, namun dari wajahnya tampak rasa kecemasan yang tidak bisa lagi di pungkiri.
Fransisco menatap marah pada sahabatnya, yang merangkap sebagai sekretaris pribadinya, "Sialannn lo, berani lo sama gwe! Lo lupa kalo ----"
"Orang tua lo mengalami takbrakan beruntun, bro!" Ali memotong perkataan bosnya itu dengan sekali tarikan nafas, ia katakan dengan lantang.
Brak.
Fransisco membola, saking terkejut nya, tanpa sadar ia beranjak dari duduknya dengan ke dua tangan menggebrak meja.
Ali mundur beberapa langkah, saking kagetnya dengan respon yang di perlihatkan Fransisco, bak singa yang ngamuk.
"Lo jangan main main Ali! Ini gak lucu buat di jadiin bahan lelucon!" Fransisco mengulurkan tangannya, meraih gelas yang ada di atas meja kerjanya,l.
Ini gak mungkin, mama sama papa dalam keadaan baik, telinga gwe yang salah dengar.
Hati kecilnya berusaha untuk memungkiri apa yang baru saja ia dengar dari Ali, adalah candaan, mengingat Ali yang suka sekali dengan gurauan, candaan, serta lelucon.
"Lo liet muka gwe, bro! Gwe serius ini. Mang Kadir udah berkali kali nyoba hubungin lo, tapi lo gak jawab jawab! Coba lo liet hape lo!" sungut Ali dengan serius.
__ADS_1
Fransisco meraih hapenya yang ada di atas meja kerjanya, ia melihat ada beberapa panggilan telepon tidak terjawab dari mang Kadir, ia juga melihat ada pesan yang di kirimkan supir keluarga ke nomornya.
"Tuan muda, tolong segera ke rumah sakit Prima, Tuan besar, Nyonya dan Nona Safinta di larikan ke rumah sakit, mobil kami menjadi salah satu mobil yang terlibat dalam tabrakan beruntun."
Prang.
Gelas yang berada dalam genggaman Fransisco, seketika terlepas dan jatuh ke lantai.
"Ikut aku!" seru Fransisco.
Fransisco melangkah dengan lebar, meninggalkan ruang ke besarannya dengan perasaan yang tidak karuan. Wajah dinginnya terpancar aura mematikan.
Ali mengekori bosnya dari belakang, semoga tidak terjadi apa apa dengan tante dan om, semoga mereka bertiga baik baik aja. Aku yakin, om dan tante orang baik. Tapi apa hubungan Safinta dengan om dan tante? Kenapa bisa karyawan itu berada di mobil om dan tante? Apa mungkin Frans menjalin hubungan dengan wanita yang sudah bersuami?
Zee yang melihat Fransisco ke luar dari ruang kerjanya, langsung menghentikan nya dengan ke dua tangan yang merentang.
"Pak, izinkan aku ikut dengan bapak. Bapak pasti mau ke rumah sakit kan?" pinta Zee dengan berderai air mata sambil sesegukan.
Sementara di tempat lain, Maulana yang mendapat kabar istrinya menjadi salah satu korban kecelakaan, langsung ke rumah sakit dengan perasaan yang tidak karuan.
"Pah, ini aku Lana. Aku sedang menuju rumah sakit, tadi ada seorang pria yang menghubungi ku, jika Safinta menjadi salah satu korban kecelakaan." ujar Maulana, lewat sambungan telponnya dengan menggunakan hendsed di salah satu telinganya.
[ "Apa nak? Bagai mana dengan keadaan menantu papa? Safinta baik baik saja kan?" ] tanya Malik yang terdengar khawatir.
"Aku belum tahu pah. Do'akan saja agar Safinta baik baik saja, pah!"
[ "Ya sudah, kamu hati hati nak. Jangan lupa kabari papa terus keadaan Safinta, papa dan mama akan menyusul mu ke rumah sakit." ]
"Ma, apa yang sedang mama lakukan?" tanya Malik, saat melihat istrinya dengan santai membolak balikkan lembar demi lembar majalah yang ada di hadapannya.
"Papa gak liet apa, mama tuh lagi liet liet majalah pah, lihat deh... bagus kan tasnya!" Sri memperlihat kan majalah yang sedang ia lihat pada suaminya, tampak tas branded dalam majalah itu dengan harga fantastis.
Malik mengerutkan keningnya, "Apa mama akan tetap diam saja, jika Raya yang mengalami kecelakan? Mama sudah dengar kan, jika menantu kita itu mengalami kecelakaan!" cicit Malik dengan suaranya yang dingin, dan tatapan memburui sang istri
Sri membuang nafasnya dengan kasar.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
__ADS_1