
...🌹🌹🌹💔...
"Langsung pada intinya dok. Bagai mana keadaan istri saya saat ini." tanya Maulana dengan wajah yang tampak cemas.
"Dari hasil pemeriksaan dan setelah melewati serangkaian tes, besarnya guncangan saat terjadi nya kecelakan, membuat kandungan Nona Safinta tidak bisa di selamatkan." ujar dokter Meta.
Maulana membola, "A- apa dok? Kandungan? Jadi selama ini istri saya sedang mengandung, dokter?"
"Iya pak, Nona Safinta tengah mengandung... usia kandungannya sendiri menginjak 3 minggu, dan itu masih sangat rawan. Namun sayangnya guncangan yang terjadi saat kecelakaan beruntun tersebut, membuat kami... tim dokter dengan terpaksa mengeluarkan janinnya. Janin Tuan dan Nona tidak dapat di pertahankan." ujar dokter Meta.
Maulana tampak berfikir, otaknya seketika tidak bisa berfikir. Setelah mendengar penjelasan dokter Meta, bulir bening nampak menerobos dari sudut matanya, kenapa Safinta sembunyikan ini dari ku? Apa salah ku?
"Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan pada Tuan Maulana.
Kami terpaksa harus mengangkat satu sel indung telur yang di miliki Nona, karena kami menemukan terjadinya infeksi radang panggul, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan janin saat Nona mengandung kembali. " ujar dokter Meta, mengatakannya dengan berat hati.
Maulana menyapu pipinya yang basah karena air mata dengan tangannya, "Apa istri saya sudah mengetahuinya dokter?"
"Kami baru memberi tahukan jika Nona Safinta mengalami keguguran, tapi untuk pengangkatan sel indung telur. Kami belum mengataknnya, mengingat Nona Safinta langsung histeris saat mengetahui dirinya keguguran. Dan kami memberikan Nona Safinta suntikan agar membuatnya tenang."
"Baik dokter, terima kasih atas penjelasannya. Saya permisi dokter!" ucap Maulana dengan datar, tatapannya menjadi kosong.
"Mohon di jaga istri anda ya Tuan! Jangan sampai ia kembali histeris. Karena itu tidak baik untuk kesehatan dan mentalnya." pesan dokter Meta.
"Saya mengerti dokter! Saya tahu bagai mana cara mengurus istri saya sendiri!" cicit Maulana.
Maulana berjalan dengan tatapan kosong menuju ruang rawat Safinta.
Apa yang bisa aku katakan pada mama. Jika aku dan Safinta akan sulit untuk memberikan keturunan untuknya? Sekarang saja mama belum bisa menerima Safinta, di tambah jika mama mendengar kabar ini. Aku tidak yakin mama bisa berbaik hati pada Safinta.
Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Harus kah aku sembunyi kan ini dari orang tua ku? Haruskah aku sembunyikan rahasia Safinta darinya? Apa yang akan Safinta lakukan, jika ia tahu hanya memiliki satu indung telur? Bagai mana dengan rumah tangga ku Tuhan?
Ceklek.
Fransisco dapat melihat awan gelap, menyelimuti hati Maulana yang melangkah masuk ke dalam ruang rawat.
__ADS_1
Pria itu pasti tidak bisa menerima ke kurangan Safinta. Kita lihat saja Tuan Maulana, jika sampai kamu menyakiti hati Safinta, akan ku balas berkali kali lipat sakit yang akan kamu terima. Tapi jika kamu bisa menjaga dan menerima ke kurangan Safinta, aku pasti kan perusahaan mu akan tetap berjaya.
Arifin yang melihat Maulana tampak kacau, menaruh curiga meski ia tidak bisa bertanya langsung pada menantunya sendiri. Tapi ia dapat melihat hancurnya hati Maulana.
Apa yang terjadi pada menantu ku itu? Apa ini ada hubungannya dengan putri ku Safinta? Maafkan ayah yang tidak bisa ada di sisi mu, nak! Ayah sangat ingin memeluk mu, memberikan rasa nyaman untuk mu! Ayah ingin kamu merasakan di lindungi orang tua kandung mu nak, tapi ayah masih harus melihat seberapa sayangnya mertua dan suami mu terhadap mu, nak!
Beberapa hari Safinta di rawat di rumah sakit, tidak sekali pun Sri menunjukkan batang hidungnya. Maulana akan mengunjungi Safinta hanya sesekali waktu dalam sehari, entah itu siang, atau sor
Sedangkan Raya, gadis remaja itu akan menemani Safinta dari mulai pulang sekolah hingga sore.
"Apa kaka ipar ingin makan apel? Kaka ipar harus banyak makan loh, biar bisa cepat pulih dan ke luar dari rumah sakit!" bujuk Raya dengan senyum di bibirnya.
"Jangan seperti itu Raya, aku bukan anak kecil lagi. Yang harus di bujuk untuk mau makan buah." kelakar Safinta.
"Memang kaka ipar ini anak kecil, ayo buka mulut mu ka!" dengan telatennya Raya menyuapkan, buah apel yang sudah di potong ke mulut Safinta.
"Kamu juga makan Raya! Kamu kan masih dalam masa pertumbuhan!" ledek Safinta.
Arifin dan Ariyani yang melihatnya merasa tenang dan damai, melihat putri mereka akur dengan saudari iparnya.
"Kalo mama mah, jangan di tanya tante. Mama sibuk, pengangguran yang banyak acara hehehe!" jawab Raya dengan tergelak, tidak menanggapinya dengan serius.
Ceklek.
Pintu ruang rawat di buka dari luar, nampak Fransisco yang muncul dengan membawa tentengan di tangan.
"Aku belikan ini untuk mama dan papa, ayo di makan!" Fransisco menyerahkan paper bag pada orang tuanya.
"Iiihss sayang, tau aja kalo mama lagi pingin makan roti ini!" ucap Ariyani dengan senang.
Arifin melirikkan matanya, melihat paper bag yang ada di tangan Fransisco yang lain, "Itu untuk siapa nak?"
"Nanti juga papa akan tau ini untuk siapa!" Fransisco tidak mengata kan langsung ia membelinya untuk siapa, namun langkah kakinya membawanya pada ranjang rawat Safinta.
"Ini, aku belikan sengaja untuk kalian berdua! Kalian pasti akan suka ini!" Fransisco menyerahkan paper bag yang berisi roti pada Safinta.
__ADS_1
Tanpa Fransisco sadari, Raya terus memperhatikan gerak geriknya setelah menyerahkan paper bag itu pada Safinta.
Apa pikiran ku saja yang sedang kacau dengan pelajaran ya? Kenapa aku merasa pak Fransisco ini menaruh hati pada kaka ipar ku? Wah aku harus memberi tahukan nya sama ka Lana ini! Bisa di rebut kaka ipar ku yang cantik dan polos ini dari tangan ka Lana!
"Ibu pulang duluan ya, nak! Jangan sungkan untuk hubungi ibu. Kapan pun kamu hubungi, pasti ibu akan ada untuk kamu, nak!" ucap Ariyani saat dirinya dan sang suami sudah di perbolehkan untuk meninggal kan rumah sakit.
"Sebenarnya bapak sangat ingin melihat ibu mertua mu, nak. Tapi ya sudah lah. Mungkin masih ada lain waktu. Jaga lah kesehatan mu ya, nak!" ucap Arifin yang lantas memeluk Safinta, memberikan pelukan seorang ayah terhadap putrinya.
Safinta membatin, ada apa dengan ku? Kenapa aku merasa nyaman dalam pelukan pak Arifin? Padahal aku dan dirinya tidak punya hubungan selain big bos dan anak buah.
"Mama juga ingin memberikan pelukan untuk Safinta, pah!" ucap Ariyani pada sang suami.
Jadi lah Ariyani dan Arifin yang saling memeluk Safinta, tanpa mereka sadari. Fransisco mengabadikan momen tersebut lewat hape-nya, ia menyungging kan senyum tipisnya.
"Kalian ini, semoga aku bisa menyatukan kalian kembali." gumam Fransisco.
Arifin membatin, semoga kamu selalu bahagia dengan pria pilihan mu, nak.
Ariyani membatin, semoga kelak keluarga ku bisa utuh. Aku merindukan keluarga kita yang utuh pah, Safinta!
Sementara di kediaman Malik.
Sri sedang menyiapkan makan malam untuk menyambut ke datangan seorang wanita yang akan menjadi menantunya.
"Semoga anak itu suka dengan masakan ku!" gumam Sri dengan mata berbinar, mencicipi masakan yang ia buat.
Si mbok yang melihatnya mengurut dadanya, menatap sebal pada majikannya, dasar mertua laknattt. Bukannya menyambut ke pulangan menantunya, malah menyambut wanita ular. Yang jelas jelas bukan menantunya.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
__ADS_1