Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Memutar balikkan fakta


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


"Kita mau tunggu siapa lagi, mah? Ini sudah larut lo! Ayo kita mulai saja acara makan malamnya." ajak Malik dengan beranjak dari duduknya.


"Tunggu sebentar lagi, pah!" tolak Sri.


"Ya sudah kalo mama masih mau menunggu, papa tidak ke beratan... jika mama makan malam belakangan! Ayo yang lain kita makan saja duluan!" Malik mengajak yang lain untuk makan malam lebih dulu.


"Apa kita gak tunggu sebentar lagi, om! Kali aja orang yang tante tunggu lagi kena macet, atau bisa jadi udah deket sini!" ucap Safinta.


Malik mengerutkan keningnya, saat ia baru menyadari jika Safinta masih memanggilnya dengan kata om, dan Sri tante.


"Safinta, jangan panggil om dan tante lagi! Panggil papa dan mama aja! Ingatkan kamu beberapa hari ke depan, resmi menjadi istri dari Maulana." ucap Malik tegas.


"Iya, maaf om... belum terbiasa." ucap Safinta kikuk.


"Di biasakan ya mulai sekarang!" cicit Malik.


Semuanya makan malam bersama, termasuk Sri.


Sri mencoba menghubungi Santi lewat sambungan telponnya, berkali kali di chat, namun tidak kunjung juga mendapat balasan.


"Mah! Kita sedang makan, bukan sedang ngopi... kenapa mata dan jari mu selalu terfokus dengan hape mu itu?" sindir Malik, saat mendapati Sri mengetikkan pesan di hape nya.


"Apa sih, pah!" bantah Sri.


Dalam diam Maulana tampak acuh melihat sikap ibunya, namun di hatinya ada rasa tenang, aku yakin, orang suruhan ku bekerja dengan baik. Terbuktikan sampai saat ini, Santi belum juga memunculkan batang hidungnya!


Maulana memperhatikan Safinta, yang tampak menikmati makan malamnya, aku tidak akan membiarkan mu seorang diri lagi untuk menghadapi mama dan Santi.


Malam malam berjalan dengan lancar dan tanpa gangguan, membuat Sri gusar sendiri. Karena melewatkan rencana yang sudah di buat Santi, untuk mengacaukan acara Maulana dan Safinta.


🌷🌷🌷


Safinta menemani Fransisco meeting di luar, pada hal sudah jelas ini bukan lah tugas dari Safinta yang hanya bekerja di devisi lain. Namun pak Arifin yang meminta Safinta langsung untuk menemani Fransisco, hingga ia tidak ada pilihan lain untuk menurutnya.


Safinta mengekori Fransisco yang berjalan di depannya, mereka berdua memasuki mobil, sama sama di kursi belakang.


"Apa pembahasan kita kali ini, Safinta! Apa kamu sudah menguasai bahan pembahasan yang akan di bahas?" tanya Fransisco dingin, jika di lihat dari sedekat ini, biasa saja. Tidak ada istimewanya, masih jauh lebih cantik, seksiii teman teman ku di luar negeri.


"Sudah Tuan, aku sudah cukup mengerti dengan apa yang akan di bahas kali ini." ucap Safinta dengan yakin.


"Saya dengar dari papa, dalam waktu dekat ini kamu akan menikah! Apa itu benar?" tanya Fransisco tanpa menoleh sedikit pun.

__ADS_1


"Benar Tuan, jika Tuan berkenan untuk hadir, meluangkan waktu Tuan... itu pasti akan sangat membanggakan untuk saya." ucap Safinta dengan mata yang berbinar.


Dengan sinis Fransisco menjawab undangan Safinta "Aku tidak punya waktu untuk datang ke pesta, mu! Paling hanya akan membosankan, tanpa adanya wanita dan minuman!"


"Maaf kalo begitu, Tuan... sepertinya saya memang sudah salah mengundag orang." balas Safinta.


Dengan gemas Fransisco menatap Safinta, satu tangannya mengepal, melayang ke udara, namun buru buru ia tahan, "Kau! Sudah lah! Tidak ada gunanya bicara dengan mu!"


Mobil memasuki area hotel, berhenti tepat di depan lobby utama.


"Selamat datang, Tuan Fransisco, anda sudah di tunggu di ruang meeting VVIP." ucap salah seorang pria berjas yang menyambut Safinta dan Fransisco di lobby.


Safinta menyipitkan matanya ke arah lorong yang terdapat lift, pandangannya mengarah pada seorang wanita yang ia kenal, hingga tidak memperhatikan jalannya di depan.


Itu bukannya itu Santi, sedang apa dia di sini?


Bugh.


Safinta menubruk punggung Fransisco yang berhenti di depannya.


"Awhhhh, Tuan kenapa berhenti mendadak sih!" gerutu Safinta mengelusss hidungnya yang terasa habis menubruk batu keras.


Fransisco mengerutkan keningnya, "Harusnya aku yang menyalahkan mu! Jalan pakai mata bukan lutut!" cicit Fransisco dengan mendorong kening Safinta dengan jari telunjuk kanannya.


"Maaf Tuan, aku kan tidak sengaja!" cicit Safinta dengan kepala yang tertunduk.


"Dasar ngaur! Tidak usah jadi sok puitis!" gerutu Fransisco.


Dalam ruang meeting, Fransisco membahas serius dengan Bara, proyek kerja sama yang akan mereka lakukan. Dengan sesekali minta pendapat dari Safinta.


"Jadi menurut mu, bagai mana Nona Safinta. Apa kau akan merasa suka, atau bahkan bahagia jika mendapat perlakukan istimewa dari seorang suami, dan mertua mu?" tanya Bara.


"Pasti, siapa yang tidak akan merasa bahagia di perlakukan seperti itu, setidaknya mertuanya bisa menghargai menantunya." ucap Safinta.


"Itu pasti jawaban asal mu! Bukqn dari hati mu!" gerutu Fransisco.


"Terserah Tuan saja mau menilai saya apa. Tapi aku rasa seorang menantu akan sangat beruntung, jika memiliki seorang mertua yang bisa memberikan kasih sayangnya tanpa melihat bebet dan bobotnya, terlebih jika menantunya tidak tahu asal usulnya sendiri." ucap Safinta dengan tersenyum getir, maafkan aku ka Maulana, jujur saja... aku juga sangat ingin tahu siapa orang tua kandung ku, kenapa mereka tega melakukan ini pada ku!


"Kau berkata begitu, seakan itu adalah kisah mu sendiri, Safinta!" ucap Fransisco dengan kening yang mengkerut.


"Aku sangat beruntung, Tuan. Calon suami dan keluarganya tidak mempermasalahkan identitas ku, asal usul ku yang hanya dari panti." maaf kan aku Tuhan, aku berbohong.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Safinta duduk mematung di depan meja rias, saat MUA yang meriasnya baru saja meninggalkan nya seorang diri di dalam kamar.


Ceklek.


Sri dan Santi masuk ke dalam kamar itu, menghampiri Safinta.


Santi berdiri di samping Safinta, dengan ke dua tangan yang menyilang di depan dada.


"Sebaiknya kau mundur dari acara pernikahan mu ini, jika tidak ingin aku buat kamu malu, Safinta!" ancan Santi dengan menatap sinis.


"Memang apa yang akan kamu lakukan, hingga bisa membuat aku malu?" cicit Safinta.


"Kamu masuk kan ke hotel XXX bersama dengan seorang pria, berjas!" ucap Santi, sementara Sri hanya menatapnya jengkel.


"Memang menurut mu, setiap orang yang masuk hotel... pasti akan berbuat serono? Memang tidak ada kegiatan lain yang bisa di lakukan di hotel selain berbuat maksiat?" cecar Safinta dengan berdiri, menantang Santi.


"Kau sudah berani melawan ku!" tanya Santi.


"Lalu apa yang kau lakukan di hotel YYY, bersama dengan pria buncit masuk ke dalam hotel!" tanya Safinta dengan memainkan alisnya naik turun.


"Jangan kau pikir aku tidak ada di sana, aku juga ada di sana bersama dengan Tuan Fransisco dan Tuan Bara, kami sedang membahas proyek baru yang akan di kembangkan Tuan ku. Tapi tatapan ku mengarah pada mu, Nona Santi." ucap Safinta dengan tatapan yang sulit di artikan.


Santi membola, kurang ajarrr... kenapa gwe gak sadar kalo ada wanita ini di sana! Apa mungkin dia hanya mengada ngada.


"Apa kau sedang menuduh ku, Safinta!" seru Santi dengan tatapan tajam mengarah pada Safinta.


"Aku rasa kau tau aku berkata jujur atau sedang menuduh! Bukannya kau sangat ahlinya dalam memutar balikkan fakta!" ucap Safinta tanpa ada rasa takut di hatinya.


Sreek.


Sri menarik baru Santi, hingga tubuh Santi berbalik ke arahnya dan mereka berdua saling berhadapan.


"Santi, apa benar yang di katakan Safinta... kau di hotel bersama dengan pria lain! Apa yang kamu lakukan di sana?" cecar Sri menuntut penjelasan Santi.


"Itu gak benar tante, wanita ini sedang berbohong! Aku tidak mungkin seperti itu! A- aku hanya sedang menemani paman ku, ya tante... aku sedang menemani om ku di sana." kilah Santi dengan tergagap.


Sri mengerutkan keningnya, "Paman atau om?"


bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.

__ADS_1


Favoritin kalo suka 😊😊


Abaikan jika gak suka 😉


__ADS_2