Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Wanita cantik


__ADS_3

...💖💖💔💔💔...


"Mbooooo!" suara lengkingan Sri dari ruang makan, terdengar memanggil si mbok.


"Maaf Nona, si mbok harus turun. Nenek sihir udah manggil mbok!" ledek mbok yang membuat Safinta menahan tawa mendengar panggilan yang di berikan si mbok untuk mama mertuanya.


"Iya mbok, makasih ya!" ucap Safinta dengan senyum merekah.


Safinta masuk ke dalam kamar, menikmati makan malamnya dengan duduk di atas balkon. Menatap indahnya malam, dengan di hiasi bintang yang bertabur di awan yang cerah, namun tidak secerah hatinya.


Sementara suasana makan malam yang di lalui Maulana tampak membosankan untuknya.


"Kamu tuh nganterin makan aja lama banget si mbok! Ngapain dulu sih kamu tuh! Nyeselin aja nih kamu!" gerutu Sri dengan mwtw yang melotot tajam, saat melihat si mbok melangkah masuk ke ruang makan.


"Mah! Jangan bikin suasana makan malam jadi hancur lebur karena suara nyaring mama itu!" gerutu Maulana.


"Stttttt udah tante, yang penting kan sekarang ada Maulana dan tante. Kenapa gak suruh gadis kampung itu aja tante, yang membantu si mbok. Kasian kan si mbok ngerjain segalanya untuk kita seorang diri!" cicit Santi melirik dengan sinis art Maulana, lalu tersenyum manis saat tatapannya mengarah pada Sri dan Maulana.


"Tante tidak akan membiarkan wanita itu menggagu makan malam kita, enak saja... bisa kacau kan rencana tante ini untuk membuat kalian bertunangan." cicit Sri dengan menyajikan makan malam untuk Santi.

__ADS_1


"Tante ada benarnya juga sih! Tapi kan lebih bagus lagi kalo itu anak kampung ngeliet aku tunangan tante. Biar dia malu tuh, kalo aku lah wanita yang paling pantas untuk menjadi istri dari Maulana." terang Santi dengan bangga.


Maulana menatap tajam Santi, siapa juga yang mau bertunangan dengan mu, wanita ular, sangat berbisa, kau tidak akan aku biarkan merebut posisi Safinta, sampai kapan pun kau tidak pantas untuk menjadi istri ke dua ku!


"Kita mau makan malam, atau masih ingin berbicara?" sungut Maulana dengan kesal.


"Ihs kamu ini Maulana, tidak ada basa basi sedikit pun untuk calon istri mu!" ledek Sri.


"Mah ... apa mama lupa dengan perkataan ku tadi!" tanya Maulana dengan datar.


Sri menelan salivanya dengan sulit, menatap Maulana dengan tatapan menyelidik, siapa sih wanita yang ingin di nikahi Maulana ini? Jangan harap kalo itu adalah wanita kampung yang lain. Aku tidak akan membiarkan nya!


Santi melirik ke arah Sri, berbicara dengan setengah berbisik, meski apa yang di lakukan Santi amat lah percuma. Maulana tetap bisa mendengar apa yang di tanyakan Santi pada Sri.


"Sudah, tidak perlu kamu hiraukan anak itu. Lebih baik nikmati dan habiskan makan malam kali ini!"


Santi memakan makanannya dengan lahap, jauh dari kata anggun dan sopan, beberapa kali ia bersendawa. Membuat Sri yang melihat dan mendengarnya jadi menggelengkan kepalanya.


Sri menatap dengan jengah Santi, astaga apa aku tidak salah lihat. Santi kenapa jadi tidak beretika seperti ini? Safinta masih jauh lebih baik darinya kalo seperti ini!

__ADS_1


Maulana menatap Santi dengan datar, astaga mah, apa ini wanita yang mama ingin jadikan menantu? Jelas Safinta jauh lebih baik darinya beribu ribu kali mah!


Makan malam berakhir dengan si mbok yang tersisa merapihkan meja makan, ke tiganya langsung pindah ke ruang keluarga.


"Ayo Maulana, sematkan cincin ini di jari manis Santi!" Sri menyodor kan sebuah kotak kecil berwarna putih bening, nampak di dalamnya terdapat 2 buah cincin dengan bermatakan intan.


Santi nampak berbinar melihat cincin dengan bermatakan intan itu, astaga gak salah gwe desek tante Sri buat jadiin gwe bini ke dua, gak apa deh bini ke 2 Maulana, toh setelah resmi menikah. Gwe akan depakkk itu wanita kampungan, sialannn si Safinta dari rumah ini. Bakal gwe buat Maulana menceraikannya! Hehehe, cuma gwe yang pantes jadi istri lo, Maulana.


Maulana tersenyum sinis, melihat Santi yang tampak terus memperhatikan kotak kecil yang ada di tangannya, jangan mimpi wanita ular.


Tak tak tak.


Suara sepatu tinggi seseorang, tampak terdengar nyaring di telinga ke tiganya dari arah pintu utama. Membuat ke tiganya menoleh ke arah pintu. Nampak seorang wanita cantik dengan setelah elegan, tampak memasuki ruang keluarga dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Maaf sayang, apa aku datang terlambat?" tanya wanita cantik, yang membuat Sri dan Santi perperangah tidak percaya menatap Maulana.


Bersambung.....


...💔💔💔💔...

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊


__ADS_2