Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Sesuatu yang mustahil


__ADS_3

...💔💔🔥🔥...


"Lo Finta, makanan kamu masih banyak itu. Apa gak sebaiknya kamu habiskan dulu makan siang mu, Finta?" pinta Zee, gak biasanya Safinta gak ngabisin makan siangnya.


"Gak deh, aku udah kenyang Zee. Ayo Zee, kita harus ke klinik sekarang juga!" seru Safinta


Di dalam mobil menuju klinik, Safinta mengatakan apa yang di bicarakannya dengan pak Arifin, big bos tempat ia bekerja.


"Kamu serius Finta? Gak biasanya lo itu pak Arifin sampe segitunya sama bawahan, mau ketemu sama kamu aja ampe maksa gitu kan... Fin, jangan jangan, jangan jangan nih!" ledek Zee dengan tatapan yang sulit di artikan.


Safinta memalingkan wajahnya, menatap ke luar jendela mobil, "Apa sih kamu, Zee! Jangan mikir gila deh, pak Arifin itu cocoknya jsi bapak aku, lagi juga pak Arifin kan emang dari dulu baik sama bawahannya." kilah Safinta.


Pikiran Safinta, melayang ke pak Arifin, aku juga bingung sih, kayanya ada yang mau di omongin sama pak Arifin penting banget, ampe gak bisa di tunda gitu, tapi apa ya?


Prak.


Zee menggeprak lengan Safinta.


"Ngelamunin apaan lagi lo, Finta! Hayo turun! Udah nyampe tuh di klinik!" Zee menunjuk papan klinik Bunda yang ada di depannya.


"Eh i- iya maaf, gwe pikir masih jauh. Hehehe ternyata kita udah nyampe ya!" Safinta menggaruk tengkuknya dengan canggung, mikir apa sih ini kepala gwe!


"Untung aja pak Arifin belom nyampe, mending kita langsung masuk aja yuk!" Safinta mengajak Zee, untuk masuk ke ruang praktek dokter Meta yang memang sedang menunggu Safinta.


Setelah di periksa dokter Meta, untuk lebih meyakinkan Safinta melakukan tes peck.


Dengan ke dua tangan yang ada di atas meja saling bertautan, Safinta menatap dokter Meta dengan harap harap cemas, apa benar filing ku ini ya? Aku hamil?


"Jadi gimana, dok? Sohib saya ini beneran hamil kan?" tanya Zee dengan serius, matanya berbinar melihat Safinta.


"Ihs Zee, aku yang nunggu hasilnya, kenapa jadi kamu yang eksaitit gitu sih! Kaya aku dong, tenang gitu Zee!" ejek Safinta.


Grap.


Zee menggenggam jemari Safinta, lalu menepisnya, "Apaan lo? Biasa dari mana? Lo gugup juga, ahahaha dasarrr Safinta ege!" ledek Zee dengan tergelak, melihat Safinta yang tidak bisa lagi membohonginya.


"Ihsss Zee, biasa aja dong! Kan jadi gak enak tuh. Kita di lietin dokter Meta!" Safinta mengerucutkan bibirnya.


"Tidak apa apa ko, wajar saja... tapi ngomong ngomong, kalo bisa untuk bulan berikutnya, suaminya di bawa ya bu, biar tahu perkembangan janin di dalam sana!" ujar dokter Meta, dengan tatapan mengarah pada perut Safinta yang masih rata.


"Ja- jadi, sa- saya, beneran hamil dok? Filing saya, beneran ini?" tanya Safinta dengan tatapan tidak percaya.


Tidak ia pungkiri jika ia sudah menduga sebelumnya, tapi ia tidak menyangka jika ia akan di berikan secepat ini. Apa lagi Maulana tidak tahu akan hal ini.

__ADS_1


"Iya bu, selamat ya! Usianya kini memasuki 3 minggu. Di jaga asupan makanannya, banyak istirahat, jangan melakukan pekerjaan yang berat ya, karena usianya yang masih rawan." terang dokter Meta.


"Bagai mana cara ku menjelaskan pada ka Lana dan ibu mertua ku?" gumam Safinta, yang masih bisa di dengar Zee.


Zee yang semula menunjukkan raut wajah bahagia, kini menyemangati Safinta dengan menggenggam jemari sahabatnya itu.


"Kamu beri tahu suami mu, biar bagai mana pun dia juga berhak tau. Ibu mertua mu pasti akan sangat senang mendengar berita ini! Ini kan cucu kandungnya sendiri! Bukan begitu bu dokter? Hati ibu mertua pasti akan ikut bahagia mengetahui ada calon cucunya di dalam sana!" ujar Zee dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Safinta dan Zee di buat terkejut, saat ke duanya ke luar dari ruang dokter Meta. Melihat pasangan paruh baya yang sudah berdiri di depan pintu, yang ternyata sedang menunggu ke duanya ke luar dari ruang dokter kandungan.


Ceklek.


"Pak Arifin, bu Ariyani? Kalian di sini?" tanya Safinta dengan terkejut.


"Iya nak. Seperti yang bapak tadi ucapkan di telpon. Apa ada masalah dengan mu, nak?" tanya pak Arifin dengan tatapan yang menyelidik.


Kini bu Ariyani ikut bertanya pada ke duanya, meski pun ia sudah tahu jika Safinta lah yang habis di periksa dokter, "Di antara kalian... pasti ada yang habis si periksa dokter kan?"


"A- anu, lebih baik kita bicarakan di tempat lain saja, aku masih punya beberapa menit, sebelum jam istirahat usai." ujar Safinta dengan tatapan memohon pada ke dua big bosnya.


Pak Arifin menatap lekat Safinta, putri kecil ku, jadi selama ini kamu menderita hidup dengan keluarga suami mu?


Bu Ariyani menatap wajah Safinta dengan tatapan tidak percaya, ya Tuhan... dia lah malaikat yang dulu aku sia siakan, malaikat kecil yang aku anggap penghalang dalam karir ku, masa depan ku, kini tumbuh menjadi wanita muda, aku ingin memeluk mu, putri ku!


Pak Arifin menatap Zee, "Kamu kembali lah ke kantor, biar supir pribadi ku yang nengantar mu!"


Pak Arifin menatap supir pribadinya, "Kamu antar Nona Zee ke kantor! Setelah itu kamu kembali lah ke klinik ini!" titah pak Arifin.


"Baik Tuan, akan saya laksanakan!" ucap supir setelah mengangguk patuh.


"Gwe duluan ya, Ta!" pamit Zee pada Safinta.


"Iya, hati hati! Gwe pasti balik lagi ke kantor ko!" seru Safinta.


"Tidak Safinta, aku sudah meminta izin pada Fransisco. Agar kamu tidak kembali lagi ke kantor!" ucap pak Arifin dengan tegas.


Zee meninggalkan Safinta, tidak lagi mendengar apa yang di ucapkan pak Arifin pada sahabat nya itu.


Safinta membola, ingin ia bertanya, namun di cegar oleh bu Ariyani dengan gelengan kepalanya, wanita paruh baya itu tersenyum tulus padanya.


"Ayo, ikut dengan kami nak!" bu Ariyani menggandeng lengan Safinta, mengekori suaminya yang berjalan di depannya.


Safinta menatap heran bu Ariyani, ada perasaan dekat, seakan mereka sudah lama saling mengenal, dan kini di bertemu kembali.

__ADS_1


Kenapa orang asing terasa dekat di hati ku? Seakan aku merasa nyaman saat bu Ariyani menggandeng lengan ku? Perasaan apa ini?


"Kamu pasti bingung dengan keadaan ini, tapi percaya lah pada kami. Kami tidak bermaksud untuk membuang mu, apa lagi membuat mu bingung dengan semua ini, nak! Kamu adalah putri kandung ku, Safinta!" ucap pak Arifin, setelah mereka bertiga berada di dalam mobil yang kini melesat meninggal kan klinik.


Deg.


Hati Safinta terasa terpukul, begitu mendengar perkataan pria paruh baya yang duduk di kursi depan, sementara bu Ariyani yang duduk di sebelahnya, menatap Safinta dengan mata yang mengembun, ia langsung meraih tangan Safinta dan menggenggamnya. Bu Ariyani mengangguk kepalanya, seolah membenarkan perkataan sang suami.


Safinta menggelengkan kepalanya, matanya menajam, seolah tidak mempercayai apa yang di ucapkan pak Arifin, big bosnya di kantor.


Ini pasti gwe salah dengar, mana mungkin gwe anak pak Arifin dan siapa ibu gwe? Safinta menoleh ke arah bu Ariyani, lebih gak mungkin dan gak masuk akal lagi kalo bu Ariyani adalah ibu kandung gwe!


Safinta memungkiri apa yang ia dengar, "Maksud bapak apa ya? Arah pembicaraan kita ini jadi kemana ya, pak? Jujur saya tidak mengerti dengan apa yang bapak katakan barusan!"


Supir yang mengemudikan hanya diam, tidak berani berkata kata, ia hanya sesekali melirik sepintas wajah Tuan-nya lewat kaca spion, namun di hatinya ia menggerutu dengan ke kacauan yang Tuannya berikan, meski tidak ada hubungan sekali pun dengan dirinya.


Astagaaa... dunia orang kaya, begitu rumit, bagai mana bisa ada wanita muda yang di akui Tuan besar sebagai putri nya? Lalu siapa ibu dari wanita muda ini, wanita yang Tuan akui adalah putri kandungnya? Dan Nyonya, nyonya juga bukannya marah mengetahui Tuan punya anak dari wanita lain, tapi Nyonya malah... tatapan apa itu? Apa mungkin Nyony, ibu kandung dari wanita muda ini? Astagaaa, bikin pusing kepala ku saja! Bagai mana dengan Tuan Muda Fransisco? Hah, amsyong pala beby!


Puk puk.


Ariyani menepuk nepuk bahu Safinta menyadarkan wanita muda itu dari lamunannya.


Ariyani mengelusss rambut panjang Safinta yang tergerai indah, "Kamu melamun, nak? Apa yang kamu lamunkan?" tanya Ariyani dengan lembut, tatapan hangat layaknya seorang ibu pada putrinya.


"Eh a- aku anu, emmm tidak ada bu. Jadi apa yang ingin bapak dan ibu bicarakan pada saya?" tanya Safinta dengan menggelengkan kepalanya, astaga jadi aku sedang melamun? Melamunkan sesuatu yang mustahil bagi ku? Jangan mimpi Safinta, mana mungkin mereka memiliki anak seperti ku! Anak mereka ya Tuan Fransisco.


"Begini nak, ada yang ingin saya tanyakan pada mu!" cicit Arifin dengan menatapnya lewat kaca spion mobil.


"Biar mama aja pah, yang menanyakannya!" ucap bu Ariyani.


Safinta menatapnya bergantian, "Kenapa kalian jadi rebutan gitu untuk bertanya, memang apa yang ingin kalian tanyakan pada saya?"


"Apa benar kamu dari panti asuhan? Kalo ibu boleh tau, siapa nama ibu panti yang mengasuh mu, nak?" tanya Ariyani dengan tatapan yang sulit di artikan.


Safinta menatapnya dengan menyelidik, "Aku ----"


Tiiiin.


Brak.


Bersambung.....


...💔💔💔💔...

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊


__ADS_2