Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Mari kita berpisah, ka!


__ADS_3

...💖💖💔💔...


Safinta mengerutkan keningnya, melihat siapa yang duduk di kursi depan, samping kemudi.


"Tidak apa kan jika aku mengajak serta Zee! Kita bisa makan siang bersama!" Maulana membuka pintu belakang mobil, menunggu Safinta untuk masuk ke dalam.


"Ada yang harus kami jelaskan pada mu, sayang!" Maulana mengelusss lengan Safinta, mencoba menjelaskan alasan adanya Zee di dalam mobil.


Dengan berat hati Safinta masuk ke dalam dan duduk, tatapannya menjadi canggung terhadap Zee. Begitu pun dengan Zee, yang menjadi canggung saat ke duanya bertemu.


"Hai, Safinta! A- aku bisa makan siang di rumah jika kau keberatan dengan kehadiran ku!" ucap Zee dengan tergagap.


"Tidak perlu, kita bisa makan siang bersama!" ucap Safinta dingin, dengan mengalihkan perhatiannya pada jendela yang ada di sampingnya.


"Bagaimana jika kita makan ayam bakar bu Darmi?" tanya Maulana dengan melajukan kembali mobilnya dari pelataran parkir kantor Safinta dan Zee.


"Terserah kamu aja, ka!" ucap Safinta tanpa protes, sedangkan Zee diam kembali


Zee memberanikan diri, menatap Safinta lewat kaca spion mobil, "Maaf ya Safinta, karena aku tidak masuk kantor, tugas ku pasti jadi kamu yang mengerjakannya!" cicit Zee.


"Tidak perlu sungkan, kau saja tidak sungkan untuk merebut ka Maulana dari ku. Kau bahkan menikmati peran mu sebagai seorang istrinya kan!" cibir Safinta tanpa mengalihkan perhatiannya dari luar jendela.


Deg.

__ADS_1


Bak di sambit bola besar yang mengenai hatinya, Zee menelan salivanya dengan sulit.


Maulana yang ingin bicara pun di cegah Zee dengan gelengan kepala.


Dengan sulit, Zee membuka mulutnya, mencoba menjelaskan pada Safinta, "Maaf Safinta, aku bisa jelaskan pada mu, aku dan ka Lana ----"


Maulana yang melihat keraguan di mata Zee, tanpa ragu memotong perkataan Zee, "Tidak perlu kamu jelaskan Zee, aku yang akan jelaskan pada Safinta!"


"Kalian berdua tidak perlu jelaskan apa apa pada ku! Aku sudah tau apa yang ingin kalian katakan!" Safinta melipat ke dua tangannya di depan dada.


"Mari kita berpisah, ka. Bagaimana pun aku tidak ingin di madu." ucap Safinta dengan tegas.


Ciiit.


Maulana menginjak pedal rem. Membuat ban mobil berdecit mencium aspal.


Maulana memiringkan tubuhnya, menatap dalam mata indah Safinta yang kini menatapnya dengan tatapan dingin.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan menceraikan mu. Kau lah istri ku!" ucap Maulana dengan tegas.


Safinta menoleh ke arah Zee, "Lalu bagaimana dengan Zee? Zee juga istri mu kan, ka?"


Maulana menghembuskan nafasnya dengan kasar, berkata dengan tegas, "Kau benar sayang, kau dan Zee adalah istri ku! Aku tidak akan menceraikan kalian berdua."

__ADS_1


Zee menatap Maulana dengan tatapan kasian, jika saja aku menolaknya, tidak akan seperti ini kejadiannya. Tapi jika aku berpisah dari mas Lana sekarang, aku sudah tidak suci lagi, mas Lana sudah merenggut segalanya dari ku.


Safinta menatap Maulana dengan tajam, bibir mengerucut, "Aku sudah katakan, aku tidak ingin di madu. Jika kaka tidak ingin menceraikan ku, maka aku yang akan mengajukan perceraian!" ucap Safinta dengan tegas, ia langsung ke luar dari mobil.


Brak.


Safinta menutup pintu mobil dengan kasar.


"Sayang! Kau jangan bertindak bodoh!" Maulana ke luar dari mobil, berniat untuk membawa kembali Safinta masuk ke dalam mobil.


Sebuah mobil yang sudah berhenti di belakang mobil yang di kemudian Maulana, membunyikan klakson saat melihat Safinta turun dari mobil.


Tin tin tin.


Tanpa pikir panjang, Safinta masuk ke dalam mobil itu. Mobil itu melesat melewati Maulana yang menendang angin.


"Sialll, kenapa aku ceroboh membiarkan Safinta di bawanya!"


"Mas! Kau tunggu apa lagi? Ayo susul mobil itu!" titah Zee dari dalam mobil, dengan menyembulkan kepalanya dari jendela mobil


Bersambung.....


...💔💔💔💔...

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊


__ADS_2