
...🔥🔥🔥...
Sri berkata dengan penuh penekanan, "Apa kamu yakin, selama ini sudah meminum obat yang sudah mama berikan pada mu?"
Sri menatap tajam dan menyelidik pada Safinta.
Safinta menyunggingkan senyumnya, berusaha bersikap setenang mungkin menghadapi ibu mertuanya.
"Aku susah melakukan apa yang mama minta pada ku. Apa lagi yang mama pertanyakan? Lagi pula kenapa mama bertanya seperti itu pada ku?" cicit Safinta dengan menepis tangan Sri dari bahunya, ia melanjutkan kembali menjemur pakaian yang tersisa.
"Apa kamu berusaha mencari tahu, vitamin apa yang aku berikan pada mu, Safinta?" tanya Sri.
"Untuk apa aku mencari tahunya mah? Lagi pula, kan mama sendiri yang bilang obat itu tidak di jual bebas, hanya mama dan teman mama yang bisa mendapatkannya. Ngomong ngomong, apa mama membawakannya lagi untuk ku? Ke betulan obatnya sudah habis untuk besok mah, obat yang mama berikan pada ku kan itu hanya untuk satu bulan." terang Safinta, apa mama mulai curiga pada ku ya?
Sri tampak berfikir, dasar bodoh... hampir saja aku membongkar kebohongan ku sendiri. Mana mungkin wanita ular, ini tahu jika itu pil kontrasepsi, bukan penyuklbur kandungan.
"Kenapa baru bilang sekarang, kalo obatnya eh emmm maksud mama vitaminnya habis? Mama harus pesan dulu sama teman mama, satu lagi. Tamu bulanan mu datang tepat pada waktunya kan, Safinta?"
Ternyata ibu mertua ku masih berusaha menyembunyikan ke benaran dari obat itu, "Maaf mah, semalam aku ingin mengatakan nya pada mama, tapi semalam aku sibuk mengemasi pakaian ka Lana. Aku malah sedang datang bulan, mah!" maaf, aku harus membohongi mu mah, tidak mungkin aku katakan aku telat datang bulan.
Sri yang melihat Safinta sudah selesai dengan jemurannya, baru lah menyuruh Safinta untuk berangkat bekerja, "Sudah sana pergi! Jangan katakan aku ini ibu mertua yang kejam, melarang mu untuk berangkat ke kantor."
Safinta meraih tangan kanan Sri lalu menciumnya, "Aku berangkat, mah!" memang mama mertua yang kejam, hanya saja pandai menyembunyikan perilaku kejam mama dari suami ku!
"Apa kau mengatakan sesuatu, Safinta?" tanya Sri.
"Tidak, mah! Aku beruntung memiliki mertua seperti mama. Sangat peduli untuk memberikan aku vitamain penyubur kandungan, pasti mama sudah tidak sabar untuk menantikan ke hamilan ku, buah cinta ku dengan ka Lana!" ucap Safinta dengan tersenyum getir.
"Banyak bicara kau! Pergi sana, sebelum aku berubah pikiran!" sungut Sri, kau tidak akan berkata manis seperti itu pada ku, jika saja kau tahu itu obat pencegah ke hamilan, dasar menantu bodoh!
Safinta pergi meninggalkan rumah dengan menggunakan ojek online yang sudah ia pesan, bukan hal yang tidak mungkin jika Maulana dan Malik memberikannya sebuah mobil.
Namun hal itu di tolaknya secara halus, Safinta belum membutuhkannya. Ia juga tidak bisa mengemudi, Safinta juga menolak untuk menggunakan supir. Ia lebih nyaman dengan naik taksi atau bahkan naik ojek.
Safinta membuang nafasnya dengan kasar, aku tidak bisa pergi ke rumah sakit sekarang. Lebih baik aku tanyakan pada Maya, kali saja ia punya rekomendasi dokter kandungan yang bisa aku skejul dengan jadwal ku.
"Ada apa Nona? Apa ada tujuan lain yang ingin Nona tuju?" tanya kang ojek yang ternyata memperhatikan Safinta yang terus saja menatap jam tangannya.
"Ah tidak, pak... jalan saja ke alamat yang ada di aplikasi." tutur Safinta.
"Maaf Nona, jangan panggil pak. Sepertinya kita seumuran. Nona bisa panggil saya Jono." terang kang ojek.
__ADS_1
"Oh gitu, ya sudah... antar saya ke alamat yang sesuai dengan aplikasi ya kang... bisa lebih cepat sedikit!" ujar Safinta, tanpa memperdulikan wajah kang ojek yang ia tumpangi.
"Baik Nona." Nona ini cantik, punya rumah besar yang megah, tapi kenapa juga masih naek ojek, bukannya ada beberapa mobil yang terparkir di garasinya tadi ya?
"Makasih ya, kang... aku sudah membayarnya lewat aplikasi." ujar Safinta dengan menyerahkan helm pada kang ojek online.
"Itu ke banyakan Nona." ucap kang ojek.
"Gak apa, anggap rejeki akang. Saya duluan ya!" Safinta berlalu meninggalkan kang ojek.
"Udah cantik, baik, gak pelit lagi, apa wanita itu udah punya suami? Atau masih singel? Apa mau cewek cantik itu sama gwe yang cuma tukang ojek online?" gumamnya.
Tin tin tin.
"Siapa sih... beraninya memarkir motor di lobby! Menghambat jalan saja!" gerutu pak supir.
"Ada apa?" tanya Fransisco datar, yang merasa terusik dengan ocehan supir pribadinya.
"Emm itu Tuan, ada karyawan yang menaiki ojek, turun di depan lobby utama."
Kang ojek pun berlalu, setelah berkali kali di bunyikan klakson oleh mobil yang berhenti di belakangnya.
Safinta menaruh tasnya di meja kerjanya, baru setelah itu ia menghampiri Maya yang sedang berada di belakang meja kerjanya.
"Kamu hamil, Finta?" tanya Maya.
"Belum pasti juga si mbak, aku hanya ingin memeriksanya aja. Sekalian mau tes kesuburan aku." cicit Safinta dengan suara yang pelan.
Maya menoleh ke rekannya yang lain, "Ini, coba kamu hubungi aja nomor ini. Lagi aku hamil dulu, aku periksanya ke dokter Meta." Maya memyerahkan kartu nama pada Safinta.
"Makasih ya, mbak." ucap Safinta yang lalu beranjak dari tempat ia duduk.
"Kamu serius amat ngomong sama mbak Maya, bahas apaan sih? Kepo nih gwe!" gumam Zee saat Safinta sudah berada di kursi kerjanya.
"Ada deh, aku ada urusan sedikit dengannya." ujar Safinta.
"Ihs gitu lo sekarang sama gwe, maen rahasia rahasiaan!" ledek Zee.
"Nanti kita gibah lagi, sekarang mending lo kerjain tuh tugas lo! Tugas gwe numpuk nih!" ujar Safinta yang mulai mengerjakan pekerjaannya.
"Dasar gila kerja lo! Udah ketawan punya laki CEO, mending di rumah deh, uncang kaki. Ngabisin duit laki lo!" ledek Zee.
__ADS_1
"Sayangnya gwe gila kerja ya, hahaha gak mau gwe cuma ngandelin duit laki. Kalo gwe sendiri masih bisa menghasilkan uang sendiri." ujar Safinta.
"Tau deh, makin bangga gwe punya sohib kaya lo! Kaga lupa sama kulitnya."
Di sebuah mall ternama di ibu kota, nampak Sri bersama dengan wanita yang sebaya dengannya, tengah makan di sebuah restoran.
"Jadi bagai mana Sri, apa menantu mu itu curiga pada mu?" tanya Sania, sembari menunggu makanan yang sudah mereka pesan.
"Mana mungkin menantu ku curiga, menantu ku kan bodoh. Buktinya aku meminta mu untuk membawakan lagi kan!" ujar Sri dengan tangannya yang memainkan layar hape-nya.
"Apa kamu gak takut Sri, jika Maulana mengetahuinya?" tanya Sania lagi dengan tatapan menyelidik.
"Kalo pun Maulana tahu, pasti aku akan punya alasan lain untuk putra ku menyalahkan istrinya yang bodoh dan tidak berguna itu!" gerutu Sri.
"Memang kamu ini wanita yang pintar dan tidak bisa di anggap remeh ya sebagai ibu mertua!" puji Sania.
"Aku gitu lo! Sri Raharja... siapa suruh Maulana tetap mempertahan kan wanita sialannn itu! Sudah ular, sialannn, tidak jelas asal usulnya, sangat buruk untuk keturunan ku jika sampai wanita itu hamil cucu ku." ucap Sri dengan nada suara yang tidak suka pada Safinta.
"Kita lanjutkan makan dulu, baru setelah ini kita lanjut shopping sambil membicarakan menantu mu itu, Sri!" ujar Sania, saat seorang pelayan menyajikan makanan yang mereka pesan, ke hadapan ke duanya.
Sri dan Sania menyantap makanannya, dengan Sri yang tetap mengoceh, menumpahkan segala unek uneknya pada sahabatnya itu.
"Aku benar benar lelah memiliki menantu seperti Safinta, entah terbuat dari apa itu hatinya. Sudah aku buat susah hidupnya di rumah, masih aja bertahan, tidak pernah mengeluh sekali pun di hadapan ku!" gerutu Sri.
"Namanya juga mental anak panti Sri, mungkin hatinya sudah terlatih, tapi yaaah aku tidak tahu juga sih. Itu kan menantu mu. Kenapa tidak kau terima saja ia sebagai menantu mu? Setidaknya ia tidak melawan mu kan? Justru jika aku dengar dari setiap perkataan mu, Safinta itu selalu berusaha menghormati mu!" ujar Sania.
"Aku menerima wanita ular itu? Tidak akan! Wanita itu tetap buruk di mata ku! Aku sangat membencinya! Jika bukan karena mas Malik dan Maulana, aku sudah usir wanita itu dari rumah!" ucap Sri dengan tatapan penuh amarah.
"Apa kamu tidak mencoba untuk mencari tahu ke beradaan orang tua kandung menantu mu itu? Bisa saja kan orang tua kandungnya justru seorang pengusaha, atau pejabat, atau mungkin orang yang berpengaruh di kota besar ini!" tebak Sania.
Sri tergelak mendengar uucapan Sania, "Ahahahha, mana mungkin anak sialannn itu seorang anak pejabat, pengusaha, apa lagi orang yang berpengaruh di kota ini. Mana mungkin ia akan di telantarkan dan di buang ke panti!"
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata sepasang suami istri yang duduk tidak jauh dari mereka, mau tidak mau terus mendengar obrolan ke duanya, karena suara mereka yang lupa akan tempat umum.
"Aku yakin, pah... yang mereka bicarakan itu pasti Safinta Ayunda, putri yang 20 tahun lalu kita taruh di depan panti asuhan." ucap wanita paruh baya dengan tatapan berbinar.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
__ADS_1
Favoritin kalo suka 😊😊