
...🔥🔥🔥...
"Kamu bilang apa barusan, Safinta?"
Sri menatap tajam Safinta, ayo katakan pada ku, apa yang sudah kalian perbuat? Aku tidak akan membiarkan mu mengandung benihhh putra ku! Lihat saja jika sampai kau mengandung, akan ku buat kau ke hilangannya.
"Ma- mama, a- aku ti- tidak ada... apa mama ingin sesuatu... biar aku masakan untuk makan malam." ujar Safinta yang kini membuka lemari pendingin.
Sri membuang nafasnya dengan kasar, "Biar pun aku katakan pada mu, kau tidak akan mampu untuk membuatkan aku masakan yang aku ingin makan!" Sri beranjak dari duduknya.
Ke dua mata tajam Sri, terus memperhatikan apa yang akan Safinta lakukan, dengan semua bahan masakan yang ada di lemari pendingin.
Si mbok yang sudah selesai dengan mencuci bahan sayuran, langsung menaruhnya di wadah. Lalu dengan sengaja berjalan ke arah Safinta untuk mengambil wadah lainnya, yang ada di gupet bawah, si mbok berjongkok, dengan kepala yang mengadah ke arah Safinta.
"Nyonya suka jengkol balado, Nona... tapi tidak pedas." ujar si mbok dengan suara pelan.
Safinta mengangguk kan kepalanya, mengerti dengan apa yang si mbok katakan padanya, "Terima kasih ya, mbok!" ucap Safinta.
"Heh mbok! Cepat masak sayurannya! Kalian berdua benar benar lelet! Jika kalian lelet seperti ini, kapan semua orang akan makan malamnya!" sungut Sri dengan berkacak pinggang.
"Lebih baik mama tidak usah menggangu mereka, jika mama sendiri hanya bisa marah tanpa berniat membatu mereka memasak di dapur, mah!" tegur Malik yang berdiri di ambang pintu dapur.
"Papa selalu saja membelanya!" Sri melangkah meninggalkan dapur dengan kesal.
Hingga makan malam pun tiba, semua orang duduk di kursinya masing masing, tidak terkecuali Safinta yang duduk bersebelahan dengan Maulana.
Sri menatap dan berkata dengan sinis pada Safinta, "Heh kamu! Apa sopan membiarkan si mbok yang menyajikan kami makan semua hah!"
"Mah!" tegur Malik.
"Maaf mah, biar aku sajikan untuk kalian semua." Safinta beranjak dari duduknya, menyajikan makanan di atas piring Maulana terlebih dahulu.
"Kau layaniii saja suami mu, nak! Tidak ada kewajiban untuk mu melayani kami semua!" titah Malik pada Safinta.
"Pah!" Sri menatap tajam Malik.
"Jangan melototi papa, mah! Lebih baik kita makan!" titah Malik.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Sri menyajikan sendiri makanan ke piring Malik. Raya dan Dewi menyiapkan sendiri makan malam mereka.
"Ini pasti enak, masakan siapa ini mbok?" tanya Raya dengan mata berbinar melihat jengkol balado di antara menu lainnya.
"Nona Safinta, Nona. Hampir semua menu yang ada di meja, Nona Safinta yang memasaknya... mbok hanya sekedar membantu menyiapkannya saja." terang si mbok.
"Waaah kaka ipar, kau sangat hebat. Bisa memasak menu sebanyak ini untuk kita semua." puji Raya yang mulai menikmati makan malamnya.
"Baru segini saja sudah bangga!" gerutu Dewi.
Sri menatap malas Safinta, alah paling jengkol baladonya tidak enak... tampilan boleh sama, tapi soal rasa, terakhir kali lidah ku merasakan sudah sangat lama, tapi aku tidak akan pernah lupa bagai mana rasanya.
__ADS_1
Sesekali Safinta memperhatikan wajah Sri, semoga saja mama suka dengan masakan ku.
Sri mulai menyantap makan malamnya, merasakan jengkol balado yang di masak Safinta, apa tidak salah ingat, rasa ini, kenapa bisa sama rasanya, ini enak sekali!
Semula tangan Sri yang bergerak dengan semangat menyuapi makanannya ke dalam mulutnya, kini bersikap biasa saja dan sewajarnya.
"Kenapa mah? Enak kan masakannya? Jengkol baladonya juga sama seperti masakan almarhumah ibu mu, mah!" terang Malik yang menyadari gelagat sang istri.
"Apa sih pah! Jelas rasanya masih jauh lebih enak masakan ibu ku, pah!" Sri menyangkal perkataan Malik.
"Emmm ini enak sekali... kaka ipar ku lebih baik dari ka Dewi ke mana mana rupanya. Wanita cantik, berpendidikan, tapi tidak bisa masak. Apa yang bisa di banggakan suami mu kelak ka?" lefek Raya.
"Kau bocah! Jangan banyak bicara, kaya diri mu saja bisa memasak. Kau juga tidak bisa berbuat apa apa kan pada pekerjaan dapur!" ledek Dewi dengan senyum kemenangan.
"Uhuk uhuk." Sri terbatuk batuk mendengar ocehan Dewi, kurang ajarrr Dewi... mau mempermalukan aku di depan semua orang! Tidak berfikir apa jika aku juga tidak pandai dalam urusan dapur!
"Apa kaka mau tambah?" tanya Safinta pada Maulana.
"Boleh." ucap Maulana dengan tersenyum, "Masakan mu sangat enak, sayang!" puji Maulana.
"Kamu belajar masak dari siapa Safinta?" tanya Malik di sela sela makan malam mereka.
"Dari ibu panti, ayah. Ibu panti yang mengajari ku pekerjaan dapur." terang Safinta dengan jujur.
"Tolong nanti ajari aku memasak ya, ka!" ujar Raya dengan tatapan penuh harap.
"Boleh." jawab Safinta.
"Jangan kamu dengarkan perkataan mama, sayang! Mama hanya iri pada mu saja." terang Maulana, saat melihat Safinta yang merasa tersinggung dengan perkataan ibunya.
"Aku tidak apa apa ka, apa yang di katakan mama memang benar. Kamu bisa mengikuti les dengan para koki handal Raya. Aku kan hanya anak panti yang tidak mengerti apa apa dengan makanan berkelas." ucap Safinta dengan merendah.
"Dasar baperannn!" gerutu Dewi dengan mendelik ke arah Safinta.
"Aku sudah kenyang. Ayah, aku izin bersama dengan Safinta malam ini, aku akan ke luar sebentar bersama dengannya!" ujar Maulana sebelum meninggalkan ruang makan.
"Untuk apa izin dari papa, nak! Kalian kan pasangan, sudah seharusnya kalian selalu bersama." ujar Malik.
"Ayo sayang!" Maulana membawa Safinta meninggalkan villa.
"Kita mau ke mana, ka?" tanya Safinta yang kini bersama dengan Maulana di dalam mobil, menuju suatu tempat.
"Nanti juga kamu akan tahu sayang, aku akan membawa mu ke tempat yang sangat indah." ujar Maulana yang tengah fokus dengan setir kemudinya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu pada mu, ka!" ujar Safinta.
"Apa, katakan saja."
"Apa kaka ingin aku menunda ke hamilan, atau berjalan apa adanya saja. Tanpa menggunakan kontrasepsiii." terang Safinta dengan kepala yang tertunduk, terasa malu untuknya membicarakan hal ini pada Maulana.
__ADS_1
Maulana menoleh ke arah Safinta, "Jangan bilang kamu hamil, sayang. Kita kan baru melakukan nya 2 kali, mana mungkin cepat juga tanda tanda kamu hamil." ucap Maulana yang terkesan meragukan Safinta.
"Maaf ka, bukan begitu maksud ku... aku tahu kita baru melakukan nya 2 kali. Tapi kita melakukannya tanpa menggunakan kontrasepsiii, apa kaka sengaja melakukannya biar aku cepat hamil?" cicit Safinta
"Jika kamu hamil memang kenapa, sayang? Tidak ada yang salah kan, lagi pula kita ini sudah sah suami istri di mata agama dan hukum. Apa yang sebenarnya yang kamu takutan hem?" Maulana menghentikan laju mobilnya, saat sudah merasa sampai pada tempat tujuannya.
Safinta menoleh sesaat sebelum ia menjawab pertanyaan Maulana, "Aku takut mama tidak menginginkan keturunan dari rahim ku, ka! Sampai saat ini aku belum melihat mama menerima ke hadiran ku sebagai istri mu, ka." cicit Safinta, mencurahkan segala keluh kesahnya pada Maulana.
Maulana ke luar dari dalam mobil, ia membuka pintu mobil untuk Safinta, lalu menarik Safinta dalam pelukannya, "Di bawah langit gelap dengan cahaya bintang, aku berjanji pada mu Safinta... aku akan tetap mencintai mu, aku tidak akan meninggalkan mu meski hanya sedetik. Aku akan selalu mencintaimu, aku tidak akan mengkhianati mu, cinta ku hanya untuk mu! Maulana pria yang akan setia pada istrinya yaitu Safinta!" ucap Maulana dengan yakin.
Safinta menjarak tubuhnya dengan Maulana, ia menatap Maulana dengan tatapan penuh harap, "Setia meski apa pun yang terjadi? Kaka janji tidak akan meninggalkan aku? Selalu bersama dengan ku? Tidak akan meragu kan ku?"
"Aku berjanji pada mu, sayang! Cinta ku hanya untuk mu, Safinta, istri ku!" Maulana berteriak dari atas bukit, tempat ia berada saat ini.
Safinta dan Maulana, menikmati indahnya malam dengan taburan bintang di langit, semilir angin menusukkk kulit. Dengan hangatnya tubuh sang istri dalam pelukannya.
Berkali kali Dewi membuka gorden yang ada di kamarnya, memastikan apa kah Safinta dan Maulana sudah kembali atau belum ke villa. Dengan perasaan yang tidak karuan.
"Ke mana sih mereka berdua pergi! Tidak tau apa ini sudah larut, akan sangat bahaya jika berada di luar saat di puncak seperti ini kan!" gerutu Dewi dengan kesal.
Sementara Sri, duduk di atas tempat tidurnya dengan menatap jengkel Malik yang sudah terlelap, terbuai dengan indahnya mimpi yang menghampirinya.
"Aku harus cari cara, agar wanita itu tidak hamil anak putra ku. Setidaknya aku bisa mencegah ke hamilannya!" gumam Sri dengan seringai licik di bibirnya.
Malik yang pura pura terlelap, dalam diam tidak habis fikir dengan istrinya, ya Allah, buka kan lah pintu hati istri hamba, buat ia bisa menerima pernikahan Maulana dan Safinta.
Hingga pagi menyinsing, matahari menyapa setiap makhluk yang ada di dalam villa itu.
"Tante bilang, jika pagi wanita itu ada di dapur... apa benar ya, aku akan mengacaukan mu, sayang!" gumam Dewi yang melangkah menuju dapur.
"Mama pasti akan menyukai ini!" Safinta menyajikan masakan yang sudah ia masak di atas meja makan.
"Hai, bisa aku membantu mu!" ujar Dewi dengan seringai licik di bibirnya.
"Tentu saja boleh, kamu bisa memindahkan ini ke meja makan!" ujar Safinta, yang baru saja menyajikan sup daging yang ia masak ke mangkuk besar sup.
"Itu sih hal yang sangat mudah!" Dewi hendak menyentuh mangkuk itu tanpa cempalan.
"Jangan seper----"
Prang.
"Akhhhh."
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
__ADS_1
Favoritin kalo suka 😊😊
Abaikan jika gak suka 😉