Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Tidak salah


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


"Mbooooo!" seru Sri, memanggil art yang di tugaskan untuk menjaga villa.


"Astaga mah, ini villa bukan hutan. Mama memanggil mbok dengan berteriak, seakan mbok itu berada jauh dari mama. Yang benar saja, mah!" gerutu Maulana yang kini memasuki ruang keluarga, di mana sudah ada keluarga yang lain duduk di sana.


"Kenyataannya mbok jauh dari mama. Buktinya mbok belum juga ke sini kan! Buat nyamperin mama! Pasti ini orang ke tiduran! Pembantu kerja gak becus!" gerutu Sri dengan kesal.


Dewi menatap genit Maulana, namun tatapannya berubah sinis saat menatap Safinta, "Kamu makin ganteng aja, Lana! Tapi kenapa selera mu dalam memilih istri rendah gitu ya!" cibir Dewi.


Maulana yang duduk di samping Safinta, menautkan jemarinya dengan jemari Safinta, "Bagi ku, Safinta wanita yang sempurna, jika di bandingkan dengan wanita mana pun. Hanya Safinta lah... wanita yang ada dalam hati ku! Bukan begitu, sayang!" ujar Maulana dengan tatapan penuh cinta, beberapa kali mendaratkan ke cupan di punggung tangan Safinta yang ia genggam.


Pok pok pok.


Raya bersorak dengan bertepuk tangan, " Ini baru kaka aku! Puitis banget! Kudu belajar nih buat deketin cowok, ahahhaha." Raya tergelak sendiri dengan perkataannya.


Sri menatap sebal Raya, "Astaga Raya, di mana mana itu cewek yang di kejar kejar cowo. Kenapa kamu malah ke balikannya sih! Di mana harga diri kamu, sayang!" sungut Sri.

__ADS_1


Reaksi Raya seolah meledek sang mama dan Dewi, "Apa? Apa aku tidak salah dengar, mah? Mama bilang di mana harga di cewe yang mengejar laki laki? Lalu di mana harga diri ka Dewi yang terus saja mengejar, kaka ku?"


Seolah tertohok dengan perkataan putrinya sendiri, Sri mengalihkan perhatian pada saat si mbok, art yang di harapkan akhirnya mencul di hadapannya.


"Kamu dari mana saja si, mbok! Aku sudah memanggil mu dari tadi! Telinga mu tuliii?" sungut Sri dengan mata melotot ke arah mbok, wanita paruh baya, yang untuk berjalan pun sudah membungkuk.


Safinta menatap kasihan pada art itu, astaga aku pikir art yang di pekerjaan mama dan papa, masih muda. Ternyata sudah sepuh, ini mah harusnya sudah uncang kaki, kasihan nenek ini. Kemana anak dan menantunya? Kenapa di usianya yang seperti ini masih di biarkan untuk bekerja?


"Ada apa, sayang? Kamu memikirkan apa? Katakan pada ku?" tanya Maulana dengan penuh perhatian.


"Baik Nyonya besar. Apa ada lagi Nyonya?" tanya si mbok dengan sopan.


"Buatkan saja minuman dulu, mbok! Ingat itu, jangan lama! Aku sudah haus!" cibir Dewi.


"Baik Nyonya." ujar mbok yang lantas menuju dapur, untuk membawakan majikannya minuman.


"Aku bantu si mbok, gak apa kan ka?" Safinta meminta izin pada Maulana, dengan tatapan yang memohon.

__ADS_1


Maulana menyunggingkan senyumnya, hati mu memang sangat mulia, sayang! Tidak salah aku meminang mu sebagai istri ku, teman hidup ku, ibu dari anak anak ku!


"Tentu saja boleh, sayang!" Maulana mengelusss kepala Safinta dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih ka!" Safinta beranjak dari duduknya, mengayunkan langkah kakinya menuju dapur.


"Dasar jiwa babuuu!" sungut Dewi.


bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊


Abaikan jika gak suka 😉

__ADS_1


__ADS_2