
...🔥🔥🔥...
Ceklek.
"Dewi! Siapa yang melakukan ini pada mu, sayang?"
Seorang wanita paruh baya dengan tampilan yang hebring, mecing, mulai dari sendal, baju, bawahan, tas, semuanya berwarna hijau. Berjalan masuk dengan tergesa gesa, tatapannya tertuju pada Dewi yang berbaring di ranjang rawat dengan kaki yang di balut perban.
"Mama?" Dewi membola, mau apa sih mama pake ke sini! Siapa lagi yang memberi tahukan mama jika aku ada di sini!
Sri tersenyum simpul, akhirnya yang ku harapkan datang juga, "Akhirnya kamu datang, juga! Kamu urus lah putri mu itu! Aku akan kembali ke villa!" tutur Sri pada wanita paruh baya yang baru datang itu dengan tatapan datar.
"Bertambah lagi ulet keket, astagaaa sempit sekali dunia ini!" gumam Raya pelan, melihat orang tua Dewi datang.
Ratih menatap tajam ke dua kaki Dewi, lalu ke dua matanya tertuju pada Sri, yang tidak lain merupakan kaka kandungnya, pasti ada hubungannya dengan mbak Sri.
"Apa! yang mbak lakukan pada putri ku?" cicit Ratih dengan tatapan yang curiga.
"Kau bisa tanyakan itu pada putri mu sendiri! Aku lelah, aku butuh istirahat!" gumam Sri dengan ke dua matanya tertuju pada Malik, "Papa ikut dengan mama! Mama tidak akan biarkan papa di sini lebih lama lagi!" ucap Sri dengan ketus.
"Papa pulang dulu ya! Kamu Maulana, jaga baik baik istri mu! Jika kau butuh sesuatu, langsung hubungi papa ya!" pesan Malik sebelum meninggalkan ruang rawat sang menantu.
Sri dan Malik, kembali ke villa dengan mobil yang di kendarai Malik.
"Apa yang terjadi pada mu, Dewi? Kenapa dengan ke dua kaki mu?" tanya Ratih, dengan tatapan tajam mengarah pada Dewi.
Raya beranjak dari duduknya, menghampiri Maulana dan Safinta,
"Gak ada apa apa, mah! Hanya ke salahan kecil saja!" celetuk Dewi.
"Itu karena ke cerobohan ka Dewi sendiri budeh, gak ngerti dapur tapi sok mau sibuk di dapur. Malah membuat celaka kaka ipar ku saja!" gerutu Raya.
Ratih berkilah dengan menatap Raya, Maulana serta Safinta, membela ke salahan yang sudah di lakukan Dewi.
"Ehhh bu- bukan begitu Raya, mungkin maksud Dewi hanya ingin mengurangi pekerjaan art di rumah kalian, jadi Dewi ikut turun tangan, dengan niat membantu, bukan begitu Dewi sayang?" ujar Ratih dengan mencubittt lengan putrinya, Dewi.
Dewi meringis ke sakitan, apa apaan sih mama, kenapa pake mencubit ku?
Ratih memberikan kode pada Dewi lewat kerlingan matanya.
"I- iya, apa yang di katakan mama itu benar Raya, Lana, Fita!" ujar Dewi, dengan tatapan penuh harap pada ke tiganya.
__ADS_1
"Sudah lah, tidak ada gunanya di bicarakan lagi. Kau sudah membuat istri ku celaka, Dewi!" gerutu Maulana.
Safinta menggenggammm jemari Maulana, lalu menggelengkan kepalanya, "Jangan seperti itu ka! Ini namanya musibah, tidak ada yang bisa menghindar kalo sudah terjadi kan?"
"Lantas, bagai mana dengan pekerjaan mu besok? Besok kita kan sudah sama sama kembali bekerja. Apa bos mu akan memberikan izin pada mu untuk tidak masuk kantor beberapa hari ke depan?" cicit Maulana.
Aku tidak mingkin meminta mu untuk berhenti dari pekerjaan mu, Safinta... aku tahu kamu sangat menyukai pekerjaan mu saat ini kan?
"Kaka benar, tapi aku akan mencoba meminta izin... siapa tahu pak Fransisco mau mengerti keadaan ku." ucap Safinta, memperlihatkan senyum manisnya, mencoba menenangkan hatinya sendiri.
Dewi terus menggerutu dengan ke hadiran ibunya di rumah sakit, dengan intonasi yang tinggi, "Mama ngapain sih di sini? Mama gak ada kerjaan tau gak!"
"Apa kamu bilang? Mama menemani kamu, sayang! Bagai mana jika kamu membutuhkan sesuatu, siapa yang akan membantu mu?" cucit Ratih dengan intonasi yang tidak kalah tinggi.
Raya mengucek telinganya dengan jemarinya, "Apa kalian tidak bisa diam ya? Kalian pikir ini hutan apa! Ini rumah sakit woy!" gerutu Raya kesal menghadapi Ratih dan Dewi.
"Aku perlu memindahkan mu, sayang! Biar aku urus pemindahan ruang rawat mu ya!" Maulana beranjak dari duduknya, hendak mengurus pada bagian administrasi.
"Tidak perlu ka, aku senang seperti ini, aku jadi tahu bagai mana khawatir seorang ibu pada anaknya yang terluka." ucap Safinta dengan bibir bergetar.
Safinta menatap ke arah Ratih dan Dewi, sejak bibi Ratih datang, ia sekali pun tidak memperdulikan aku, tapi ya sudah lah. Aku bisa melihat kasih sayang yang di berikannya pada Dewi saja, sudah membuat ku senang. Apa orang tua ku juga akan memperlakukan aku seperti itu, jika tau aku sakit? Tapi sepertinya tidak, mereka bahkan dengan tega membuang ku ke panti.
"Kaka ipar jangan seperti itu, ka Maulana benar... lebih baik kaka pindah ruang rawat, di sini tidak cocok untuk kaka. Kaka tidak bisa istirahat dengan baik jika terus mendengarkan ocehan 2 ulet keket!" ujar Raya panjang lebar.
"Apa kaka ipar ingin minum? Biar aku ambil kan!" Raya menatap Safinta dengan hangat.
Safinta menggelengkan kepalanya, "Tidak, nanti jika aku ingin, aku akan mengatakannya pada mu. Terima kasih ya! Sudah mau menemani ku. Aku beruntung memiliki adik ipar seperti mu, Raya!" ucap Safinta dengan tulus.
"Ah kaka ipar jangan membuat ku terbang melayang gitu, kaka ipar itu tau tidak... kaka itu satu satunya wanita yang membuat ka Maulana bisa melawan keinginan mama. Mama dulu sangat berambisi menjodohkan kaka dengan Santi, dan itu yang ada di belakang kita itu!" cicit Raya, dengan ekor mata melirik ke arah Dewi.
Deg.
"Jadi ka Lana ingin di jodohkan dengan Santi dan Dewi? Dua wanita sekaligus?" tanya Safinta dengan membola
"Bukan 2 sekaligus ka, awalnya ingin di jodohkan dengan ka Dewi, tapi ka Maulana menolak, karena sudah memiliki kaka... ka Santi juga sudah di tolaknya, wanita yang mama nilai sangat baik dan perhatian pada mama." tutur Raya.
"Kenapa ka Lana menolak di jodohkan dengan Dewi dan Santi? Dan malah memilih ku?" tanya Safinta.
"Aku tidak tahu, lebih baik kaka tanyakan saja sama ka Maulana sendiri." Raya beranjak dari duduknya, "Aku tinggal dulu ya ka! Kaka jangan ke mana mana!" Raya langsung berjalan cepat, dengan tangan memegangi bawahnya, karena sudah merasa kebelattt.
Safinta menggelengkan kepalanya, dasar anak itu, ada ada saja ke lakuannya. Tapi apa yang membuat ka Lana berani menolak di jodohkan dengan Dewi dan Santi.
__ADS_1
"Dari pada mama di sini, lebih baik Mama katakan pada wanita sialannn itu, agar mau meninggalkan Lana!" gumam Dewi dengan ekor mata mengarah pada Safinta.
"Memang kamu pikir, apa yang akan mama lakukan di sini? Hanya diam saja menani mu? Mama juga punya akal untuk mulai bertindak!" gerutu Ratih.
Ratih melangkah menghampiri ranjang rawat Safinta, bibirnya menyeringai, aku tidak rela jika Maulana, keponakan ku lebih memilih wanita sialannn, anak gak jelas asal usulnya, di bandingkan dengan putri ku, yang sudah jelas masih famili dengannya!
"Ada apa, bi?" tanya Safinta.
Ratih menatap tajam pada tanda tanda kepemilikan yang nampak pada leher putih mulusss Safinta.
Ratih mengatakan pada Safinta dengan penuh penekanan, tatapannya tajam seakan sedang melucutiii Safinta.
"Jangan pernah memanggil ku bibi! Aku bukan bibi mu! Cepat atau lambat, Maulana pasti akan meninggalkan mu. Sebelum itu terjadi, aku peringatkan kau, tinggalkan Maulana saat ini juga! Lebih cepat kau meninggalkan Maulana, maka akan sedikit luka yang akan kau terima di hati mu itu!"
"Ka Lana tidak akan pernah meninggalkan ku, bi. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkan suami ku!" ucap Safinta dengan yakin.
"Kamu akan menyesali perkataan mu, Safinta, anak tidak tahu diri seperti mu, memang pantas di buang orang tua mu!" ucap Ratih yang langsung membalikkan tubuhnya, memunggungi Safinta lalu melangkah dengan penuh kemenangan, karena berhasil menusukkk Safinta dengan perkataan pedasnya.
Deg.
Safinta terenyuh, saat Ratih membawa ke dua orang tuanya dalam pembicaraan mereka.
Safinta mengepalkan tangannya, jantungnya berdegup dengan kencang, matanya memerah menahannn tangis yang akan kenerobos dari pelupuk mata indahnya.
"Aku rasa bibi yang harusnya menyesal, memiliki seorang putri yang cantik, berpendidikan tapi sayangnya tidak memiliki moral yang baik, masih banyak pria lajang di luaran sana. Kenapa bibi mengajarinya menjadi seorang pelakor?"
Ratih menghentikan langkah kakinya, ia mengepalkan tangannya, kurang ajarrr anak ini! Berani mengatakan putri ku seorang pelakor!
Ratih menghentikan langkah kakinya, ia kembali mendekati ranjang rawat Safinta, dengan tatapan tajam Ratih perlihatkan pada Safinta.
"Jaga bicara mu anak harammm!" cicit Ratih, dengan mengayunkan tangan kanannya ke udara, hendak mendarat di pipi mulusss Safinta.
Grap.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
__ADS_1
Abaikan jika gak suka 😉