Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Perdebatan Panjang


__ADS_3

"Apa aku anak haram Bun?" Bunda memandangku dan mengernyitkan dahinya seolah menebak arah pertanyaanku.


"Aktar anakku,predikat sebagai anak haram tidak pantas disematkan kepada seorang anak." Bunda mulai berargumen.


"Setiap anak yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan suci,bersih dari noda dan dosa.Tidak ada seorangpun anak  yang membawa dosa dari rahim ibunya."


"Jadi anak haram hanyalah sebatas istilah.Sebenarnya yang haram itu adalah perbuatan ke dua orang tuanya."jelas Bunda bak seorang guru yang menerangkan pelajaran agama kepada muridnya.


Yah,Bunda memang seorang ASN (Aparatur Sipil Negara).Bunda seorang guru,staf pengajar disalah satu sekolah menengah favorit di kota ini.


"Jadi aku terlahir dari sebuah pernikahan yang sah Bun?"cecarku membuat raut wajah Bunda berubah seketika.


Barangkali Bunda sudah dapat menebak arah dan maksud pembicaraanku.


"Bunda nggak paham ...."


Aku tahu Bunda berpura-pura.


"Bunda paham!" Dengan nada yang sedikit meninggi,aku memotong kalimatnya sebelum Bunda menyelesaikannya.Belakangan ini memang aku dan Bunda sering berdebat dengan topik yang sama,tentang ayah. 


Sejak kecil aku telah diajari Bunda membenci ayah.Kalimat-kalimat provokatif yang sengaja Bunda lontarkan membuat benih-benih kebencian tumbuh subur di hatiku sehingga berbuah dendam.


Tapi dibalik itu,setiap kali melihat anak yang dituntun ayahnya ketika berjalan,ada rasa iri menyeruak di hatiku.Bahkan ketika melihat seorang anak dimarahi ayahnya pun,entah kenapa ada hasrat ingin merasakannya.Karena marahnya seorang ayah terhadap anak,merupakan bentuk kasih sayang yang lain yang sepenuhnya belum dipahami sang anak.


Seiring waktu bergulir,sikap kritis pun tumbuh bersama usiaku.Berbagai macam pertanyaan soal ayah memenuhi pikiranku.Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu menjadi awal perdebatanku dengan Bunda.


"Bunda paham maksudku kan?" Seperti biasa aku memulai perdebatan ini dengan sebuah kalimat tanya.Entah sudah berapa kali aku dan Bunda berdebat mengenai hal ini,aku lupa menghitungnya.Bahkan belakangan ini semakin intens,karena hampir setiap ada waktu dan kesempatan,aku selalu memulainya.


Aku tahu Bunda berusaha menghindarinya,tapi aku tak akan pernah berhenti sebelum tahu siapa ayah yang sebenarnya.


Selain nama,tidak ada satu hal pun yang ku ketahui tentang ayah.Wajah dan kepribadiannya Bunda bungkus menjadi sebuah rahasia yang tidak boleh ku ketahui.


Satu hari aku masuk ke kamar bunda ketika bunda lupa menguncinya.Aku mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai petunjuk untuk mengetahui ayah dan keberadaannya.


Tapi sayang usahaku sia-sia.Aku tidak menemukan apapun selain sebuah album photo kenangan yang tersimpan di lemari.


Aku membuka lembar perlembar album photo itu sembari berharap ada photo ayah yang terselip di sana.

__ADS_1


Hasilnya? Aku kecewa.


Aneh memang,album photo yang tebalnya melebihi ketebalan kitab suci itu hanya diisi dengan photo-photo dua gadis cantik saja.Yang satu bisa ku pastikan photo bunda,dan yang satu lagi barangkali sahabatnya.


Tidak ada satu orangpun di album foto yang tebal itu yang berjenis kelamin laki-laki.Momen-momen pacaran, bahkan momen pernikahan yang begitu sakral pun tak ada yang diabadikan dan tersimpan di album photo itu.Barangkali ada,tapi sengaja dihilangkan.


"Kalau aku terlahir dari hubungan pernikahan yang sah,semestinya ada seseorang yang menjadi pendamping Bunda yang bisa ku panggil ayah."


Bunda diam,tak memberikan respon.


"Kenapa sih Bun,setiap di tanya soal ayah Bunda seperti alergi?"


"Aktar! Bisa nggak kita tidak membahas soal ini lagi?"pinta Bunda.Mungkin Bunda merasa lelah menjawab pertanyaan yang terkadang menyudutkannya.


"Kenapa Bun? Apakah seorang anak salah bila bertanya tentang ayahnya?"


Bunda tertunduk,bulir-bulir bening menggelayut di sudut matanya.


Tak ayal hatiku terenyuh.Karena sejujurnya,jauh di lubuk hati yang paling dalam,aku sangat menyayangi bunda.Bunda adalah wanita yang begitu ku hormati,wanita yang membuatku merasa bersyukur memiliki ibu yang penyayang seperti Bunda.


Kendatipun begitu,aku bangga terlahir dari rahimnya,rahim dari seorang wanita yang tangguh.Bunda rela menghabiskan sisa hidupnya dengan berstatus single parent,demi membesarkan dan membahagiakan aku.


Bunda berpisah dengan ayah dalam usia yang relatif muda.Karirnya sebagai ASN ditopang dengan wajah yang menarik,tentu banyak lelaki yang berharap mendapatkan cintanya.Tapi semua Bunda tolak dengan satu alasan,ingin fokus membesarkan aku.


"Bun please! Tolong kasih tau aku siapa ayah dan dimana beliau sekarang berada?"tanyaku dengan suara pelan sembari memeluk pundaknya.


"Berapa kali Bunda bilang,tidak ada yang perlu kamu ketahui soal ayahmu."jawab bunda dengan emosi sambil melepas tanganku dari pundaknya.


"Ayahmu bukanlah imam dan sosok panutan yang baik buat kamu!"lanjut Bunda dengan diiringi air mata yang tak terbendung lagi.


Ditengah atau diakhir perdebatan,biasanya Bunda  tak kuasa menahan tangisnya,selalu begitu.Tapi aku merasa ada sesuatu yang Bunda sembunyikan dengan tangisannya,sesuatu yang Bunda bungkus dengan air mata.


"Apakah tidak ada setitik pun kebaikan ayah yang bisa Bunda kasih tau sehingga aku bisa merasa bangga sebagai anaknya?"tanyaku.


"Tidak ada!"jawab Bunda singkat dengan air mata yang semakin berderai.


"Lalu kenapa Bunda bisa menikah dengan manusia seperti itu?"tanyaku mencecar Bunda.

__ADS_1


"Kesalahan!"ketus Bunda masih dengan air mata.


"Kesalahan?"ulangku meniru kalimat Bunda."Itu artinya aku dilahirkan dari sebuah kesalahan Bun?" 


Bunda terdiam,merasa tersudut dengan pertanyaanku.Bunda merasa terjebak dengan kata-katanya sendiri.


"Jawab Bun!"lanjutku dengan sengit.


"Cukup ... !"jawab Bunda setengah teriak.


"Tidak Bun!"tandasku.


Bunda berdiri dari tempat duduknya,lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya.


"Bun...?"panggilku.


Bunda terus melangkah dan tak menghiraukannya.


"Bun,aku tak akan pernah berhenti menanyakan soal ini sampai aku tau siapa ayah sebenarnya?" Bunda menghentikan langkah sejenak dan memutar tubuhnya menghadapku.


"Bunda tidak mau lagi membahas soal ini,camkan itu!"tegas Bunda sembari membalikkan badannya.


"Tidak Bun! Aku akan terus mencari ayah.Sejahat apapun dia,dia tetap ayahku.Ayah yang didalam tubuhku mengalir darahnya!"


Bunda menatapku dengan amarah sebelum beliau memasuki kamarnya.


Aku masih sempat melihat Bunda menghapus air mata sebelum wanita yang kuhormati itu menutup pintu kamarnya.


Ma'afkan aku bunda!


***


Setelah menghimpun dan mengumpulkan berbagai informasi,akhirnya aku memutuskan menemui pak Asrul,karena nyaris semua orang yang kutanya,yang kuanggap tau tentang ayah,mengarahkan aku agar menjumpai pemilik nama itu.


Pak Asrul? Siapa sebenarnya pemilik nama ini? Ada hubungan apa Ayah dengannya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2