Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Tidak Seperti Bayanganku


__ADS_3

Kalau memang lelaki ini ayahku,berarti bunda benar.Dia bukan imam dan panutan yang baik buat aku.


"Kenapa Iyan pincang masuk penjara Pak?"tanyaku makin penasaran.


"Oo kalau itu kurang tau Nak.Tau Iyan pincang masuk penjara pun dengar cerita orang aja.Yang kasihan isterinya,isterinya lagi hamil saat itu.'


"Isterinya cantik,seorang guru.Beberapa hari setelah Iyan pincang masuk penjara,bu Arumi pindah dari sini."sambung Pak tua itu.


Degh ... ! Jantungku seolah berhenti berdetak ketika Pak Husein menyebut nama Arumi.


Arumi indriani adalah nama lengkap bundaku.Bunda seorang guru dan banyak orang memang yang bilang bundaku memiliki paras yang cantik.


"Bapak tau nama lengkap bu Arumi?"tanyaku berharap Arumi yang di bilang Pak Husein tadi bukanlah bundaku.


"Arumi Ind-Ind..."jawab Pak Husein terbata-bata sambil mencoba mengingat-ingat.


"Arumi indriani."sambungku agak gugup.


"iya...koq tau?"tanya Pak Husein kaget.


"Karena aku anak yang dikandungnya itu Pak!"jawabku dengan nada yang lemah.Ada rasa nyeri,sakit di ulu hati mengetahui betapa suramnya masa lalu kehidupan kedua orang tuaku.


Kedua Bapak tua itu kaget.Mereka saling berpandangan satu sama lain dan menatapku secara bersamaan.Lalu berpandangan lagi seolah tak percaya apa yang barusan mereka dengar.


"Jadi kau anak bu Arumi dan Iyan pincang?"tanya kedua lelaki tua itu hampir bersamaan.


Aku mengangguk dan memohon kepada mereka agar tidak menyandingkan kata pincang lagi dibelakang nama ayahku.Entah kenapa aku merasa tidak setuju dengan panggilan diskriminatif seperti itu.Panggilan itu terdengar begitu menyakitkan.


Andaikan seorang ayah tertangkap tangan melakukan tindak pidana korupsi sekalipun,anaknya tetap tidak akan rela bila ayahnya di panggil koruptor di depannya.Sang anak tentu bukan membela prilaku korupsinya,tapi anak hanya berharap ayah akan tetap menjadi sosok yang terhormat di matanya.


Akh ... pikiranku koq jadi ngelantur kemana-mana.


Selama ini aku sangat bangga nama ayah tertulis dibelakang namaku.Aku bangga namaku bersanding dengan nama ayah.


Aktar Rifani bin Rayyan Ahmad.Begitu huruf yang tertera di setiap formulir pendaftaran sejak mulai TK,sampai aku saat ini terdaftar sebagai mahasiswa di salah satu universitas di kota ini.


Rayyan Ahmad menurutku nama yang bagus.Rayyan adalah salah satu nama pintu surga,begitu ceramah ustadz yang pernah kudengar.Sedangkan Ahmad artinya terpuji.

__ADS_1


Kenapa nama sebagus itu dipanggil pincang?Aku keberatan andaipun nanti faktanya demikian.


"Ma'afkan kami Nak Aktar! Kami tak bermaksud sepelekan pak Iyan.Kan udah Bapak bilang tadi di awal,sebutan itu hanya sekedar membedakan Iyan yang satu dengan yang lain."jelas Pak Husein merasa bersalah.


Pak Rasyid juga menambahi."Iya Nak Aktar.Bukan kami yang membuat nama itu,kami hanya ngikut apa kata orang dikampung ini ketika memanggil Iyan."


Aku terdiam ...


Mereka benar,aku tak bisa menyalahkannya.


"Allohu Akbar...Allohu Akbar," Tiba-tiba suara Adzan berkumandang.


Tanpa terasa waktu shalat ashar telah tiba.


"Apa ada yang lain yang Pak Husein dan Pak Rasyid ketahui tentang ayahku?"tanyaku sebelum berpisah dengan kedua orang tua yang baik dan ramah itu.


Keduanya serempak menggeleng.


"Nak Aktar! Kalau ingin tau soal pak Iyan, jumpai aja pak Asrul.Beliau pasti banyak tau tentang ayahmu.Dulu semasa lajang keduanya sama-sama ngekost di kampung ini.Mereka kawan akrab,karena sama-sama perantauan merasa senasib barangkali.Tapi belakangan pak Iyan ngekost sendiri."


"Kalau boleh tau kenapa Pak?"


Haa... pak Asrul juga mantan nara pidana? gumamku dalam hati.


Kemudian kami bertiga bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah.


Manusia merupakan makhluk yang dho'if.


Makhluk yang memiliki banyak sisi kelemahan dan kekurangan.Sebagai hamba yang lemah tentu manusia membutuhkan pertolongan dan perlindungan.Sebaik-baik tempat meminta pertolongan,dan sebaik-baik tempat berlindung hanyalah kepada Allah SWT.


Untuk meraih semua itu manusia harus menjadi hamba yang taat.Salah satu cara membuktikan ketaatan itu tentu harus melaksanakan ibadah,termasuk ibadah shalat.Bahkan shalat merupakan ibadah yang utama.


Setelah selesai melaksanakan shalat ashar berjama'ah,aku menengadahkan tangan bermohon kepada Allah SWT agar aku segera dipertemukan dengan ayah.Amin !!!


.


***

__ADS_1


Malam ini aku nggak bisa tidur.Pikiranku tak bisa lepas dari perbincanganku dengan pak Husein dan pak Rasyid tadi siang.Banyak hal yang tak kuduga soal ayah.Ayah seorang disabilitas dan mantan nara pidana, jauh dari bayanganku selama ini.


Lalu kesalahan apa yang ayah lakukan sehingga berurusan dengan hukum?


Pak Asrul juga yang menurut pak Husein dan pak Rasyid merupakan sahabat ayahku,yang kujadwalkan menemuinya hari ini tapi kuurungkan karena mepetnya waktu,juga seorang nara pidana.Apa kedua sahabat ini pelaku kriminal?


Tindakan kejahatan apa yang mereka lakukan sehingga ayah dan pak Asrul mendekam di penjara? Apa keduanya dihukum dengan kasus yang sama? Kalau kasusnya sama kenapa waktu penahanannya berbeda? Mungkin kasusnya lain begitu dugaanku sementara.


Hal ini akan kukonfirmasi kepada pak Asrul bila ada kesempatan berjumpa.Tapi dimana aku harus nenemui pak Asrul?


Akh...kenapa aku lupa menanyakan hal sepenting ini kepada pak Husein dan pak Rasyid?


Iya ...! Pak Asrul memang sangat penting buatku saat ini.Dengannya aku berharap pencariaanku tentang ayah bisa bertepi.Semoga beliau memiliki banyak informasi soal ayah.


***


Jarum jam yang ada di dinding kamarku menunjukkan angka 23.15 WIB,tapi mataku belum juga bisa dipejamkan.Aku keluar kamar menuju ruang depan,ternyata Bunda juga belum tidur.


Bunda nampak sibuk mengoperasikan laptop yang ada dihadapannya,di meja yang terletak di sudut ruangan.


Barangkali Bunda sibuk mempersiapkan tugas ataupun materi pelajaran yang akan diajarkan besok di sekolah tempat Bunda mengajar,hingga Bunda tak menyadari kehadiranku diruangan itu.


Aku memperhatikan Bunda dari sofa tempatku duduk.Ada rasa iba melihat Bunda yang berstatus single parent bekerja keras menggantikan peran ayah untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.


 "Ehemm ... " Aku pura-pura batuk kecil mencoba mengalihkan perhatian Bunda.


"Eh...aktar! Tumben anak Bunda jam segini belum tidur?" Nada memanjakan seperti itu sering Bunda ucapkan.Meskipun udah kuliah,tapi Bunda masih suka memanjakan aku dengan kalimat yang demikian.


Hubunganku dengan Bunda sebenarnya sangat hangat dan harmonis,tapi sejak kehadiran ayah dibenakku dan disetiap tema perdebatan kami,membuat hubunganku dengan Bunda akhir-akhir ini terasa dingin.


Malam ini nampak sekali ucapan Bunda mencoba mengembalikan kembali hubungan yang harmonis itu.


"Bun ...? Bunda boleh kesini?"pintaku sambil mem-pause you tube di android yang kutonton sejak tadi.


"Ada apa Nak?"jawab Bunda menghampiriku.


"Bunda pernah nonton video ini?"tanyaku kepada Bunda setelah duduk tepat disampingku.

__ADS_1


"Video apa?"tanya Bunda nampak penasaran.


Bersambung...


__ADS_2