Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Ketika Cinta Menyapa.


__ADS_3

"Mau marah? Silahkan! Sebagai sahabat aku merasa bersalah bila membiarkan matamu dibutakan cinta,aku ingin kau sadar dari kegilaan yang telah kau lakukan ini!"ucap Asrul dengan nada tinggi.


"Tolong jangan ikut campur masalah ini! Aku merasa belum butuh nasehat dari siapapun! Dan ingat,aku tidak mau lagi mendengar disebut sebagai orang gila! Camkan itu!"balas Rayyan dengan nada yang tidak kalah tinggi sembari menunjuk wajah Asrul.


"Hahaha... " Asrul tertawa mengejek."Kalau tidak mau disebut orang gila,maka bersikaplah sebagaimana sikap orang yang waras.Tidak pernahkah kau berpikir,bahwa tindakan yang kau lakukan ini akan menyakiti hati orang-orang yang menyayangimu?"


"Kalau kau tidak mau Almarhumah ibumu dilibatkan dalam masalah ini,setidaknya kau berpikir,bagaimana hancurnya hati Rodiah,adekmu,bila mengetahui hal ini!"


"Rodiah telah mengorbankan masa remajanya,ia rela menikah dengan lelaki yang usianya jauh lebih tua darinya,meskipun itu paribannya.Bukankah itu semua ia lakukan agar kau bisa melanjutkan kuliah? Barangkali ia juga merasa punya tanggung jawab membantumu untuk mewujudkan keinginan Almarhumah ibu kalian, sehingga ia rela mengorbankan masa mudanya! Lalu kau...apa yang kau lakukan?!"sambung Asrul dengan emosi.


Tiba-tiba Rayyan menangis, kata-kata yang Asrul lontarkan seketika membuat ia teringat Rodiah, adiknya.


Setelah tamat SMA,sebenarnya Rayyan tak pingin lagi melanjutkan sekolahnya,karena ia merasa tak sampai hati bila harus meninggalkan Rodiah sendirian di kampung,selain baru ditinggal Almarhumah ibu,Rodiah masih butuh pengawasan dan kasih sayangnya.


Tapi Rodiah mengambil satu keputusan besar dalam hidupnya,ia rela menikahi paribannya yang usianya terpaut jauh dari usianya, ia rela mengorbankan masa mudanya demi abangnya agar bisa melanjutkan kuliah, sesuai dengan amanah Almarhumah ibu mereka semasa hidup.


Asrul merasa iba dan terenyuh juga ketika melihat Rayyan menangis sesunggukan.


'Yan,maafkan aku! Barangkali kata-kataku telah melukai hatimu?"ucap Asrul sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.


"Hidup ini memang pilihan,dan setiap orang berhak memilih jalan hidupnya. Maafkan aku Yan,mungkin aku sudah terlalu jauh mencampuri kehidupanmu.Aku berharap kelak kau bisa bahagia dengan jalan hidup yang kau pilih.Semoga takdir berpihak padamu." ucap Asrul, tak ingin memperpanjang debat sengit ini.


***


Setiap orang memiliki garis hidup dan masalah yang berbeda-beda,bahkan yang kembar sekalipun akan memiliki cerita yang berbeda,meskipun menjalani hidup yang nyaris selalu bersama.


Rayyan dan Asrul,awalnya kedua sahabat ini dipertemukan karena nasib dan tujuan yang hampir sama, tapi siapa sangka,seiring waktu berlalu,tujuan merekapun mulai berbeda.


Hidup menuntut setiap orang agar memiliki tanggung jawab terhadap pilihannya,sehingga kemudian bisa mencapai tujuan dengan ending yang manis dan bahagia.


Rayyan yang telah memilih jalan hidupnya,meskipun seringkali dicemooh dan dihina, tapi ia tak pernah mengeluh dan tetap setia terhadap pilihannya.


Profesi sebagai driver ojek online ia jalani dengan penuh tanggung jawab,walaupun terkadang harus melewati jalan terjal yang panjang dan berliku.Demi tujuan dan Impiannya, sejuta aral yang melintang ia hadapi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

__ADS_1


Lain Rayyan lain pula dengan Asrul sahabatnya. Asrul tetap konsisten dengan tujuan awalnya datang ke kota ini, yaitu kuliah.Ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya,apalagi ayahnya yang belakangan ini sering sakit-sakitan, rasanya tak sampai hati bila harus mengecewakannya.


Kendatipun bersakit-sakit dan hidup prihatin, Asrul tetap gigih dan semangat menjalani kuliahnya.Tanpa terasa 5 semester sudah ia lalui dengan IP yang cukup baik.


Saat ini Asrul sudah berada dipertengahan semester 6,artinya tidak sampai 3 semester lagi Asrul akan di wisuda,dan akan menyandang gelar sarjana.Tentu hal ini akan membuat ayahanda tercinta bahagia, semoga!!!


***


Pagi itu, tanpa sengaja Asrul menyenggol bahu seorang gadis yang berpapasan dengannya ketika ia buru-buru mau masuk ke ruang kuliahnya.Tak ayal,beberapa buku yang sedang dibawa gadis itu tercampak berserakan.


Tanpa menoleh ke arah si gadis , secara spontan Asrul membungkukkan tubuhnya memungut buku yang berserak itu, sang pemilik buku pun refleks mengikuti gerakan yang sedang Asrul lakukan.Selanjutnya terjadilah sebuah adegan yang nyaris mirip dengan adegan sinetron.


Tatapan kedua mahkluk yang berlainan jenis itu berbenturan disaat posisi keduanya sedang menunduk, ada percikan-percikan api yang terasa merembes kedalam sukma keduanya, nyalanya begitu menghangatkan, begitu damai, begitu menggairahkan. Beginikah rasanya ketika api asmara mulai menyala?


"Maaf... !"ucap Asrul setelah keduanya selesai memungut buku yang berserak barusan.


Gadis itu cuma tersenyum.


Seperti tadi, gadis itu tidak menanggapi pernyataan Asrul.Gadis itu malah ketawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya,tersipu malu.


"Boleh pinjam bukunya?"


"Buat apa?"tanya gadis itu bingung.


"Dicampak lagi... "


"Haa...! Biar ngapain... ?"tanya gadis itu kaget.


"Kan ada iklannya, pengalaman pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda!"jawab Asrul terkesan asal-asalan sambil ketawa.


"Bisa aja!"ujar gadis itu terkekeh, teringat iklan yang Asrul sebutkan.


"Jadi selanjutnya gimana?"tanya Asrul

__ADS_1


"Selanjutnya terserah anda!"jawab gadis itu sambil beranjak meninggalkan Asrul.


Kini malah Asrul yang bengong,ia terkesima memperhatikan keindahan body gadis itu ketika mulai menjauh dari tempatnya berdiri.


***


"Rul,seharusnya kau berkaca dari pengalaman aku..."nasehat Rayyan ketika Asrul menceritakan pertemuannya dengan gadis itu tadi pagi di kampus.


"Maksudnya... ?"tanya Asrul.


"Kau lihat sendiri aku kan? Aku nggak jadi kuliah cuma gara-gara memperjuangkan cinta.Aku takut hal itu terjadi sama kau!"


"Hei...! Apa omonganmu barusan pertanda kau telah menyesali pengorbananmu selama ini terhadap Enny?"


"Nggak!"jawab Rayyan geleng kepala, "Aku nggak pernah menyesalinya,aku cuma berharap kau tidak melakukannya!"


"Entahlah Yan! Rasanya kali ini aku benar-benar jatuh cinta."ujar Asrul sambil teringat kejadian manis yang singkat dengan gadis kampus itu.


"Rul,menurutku lupakan saja gadis itu sebelum kau betul-betul jatuh cinta padanya!"


"Tapi aku keingat terus Yan!"


"Setahun lagi kau akan wisuda,takutnya cinta itu hadir mengacaukan apa yang telah kau perjuangankan selama ini."


Meskipun Rayyan sudah tertidur lelap, tapi kalimat yang ia ucapkan tadi masih terngiang jelas di benak Asrul.


Asrul tak bisa memejamkan matanya,pikirannya terbagi antara pertemuannya dengan gadis itu dan ucapan Rayyan barusan.


Asrul bingung apa yang harus ia lakukan saat ini, apa ia harus menghampiri cinta yang telah menyapanya atau mengabaikannya? Ini butuh waktu dan perlu perhitungan, tak bisa terburu-buru kalau tidak ingin menjadi penyesalan di kemudian.


Asrul mumet, beginikah rasanya ketika cinta telah menyapa?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2