
Pantasan bunda melarangku bertemu dengan orang ini,gumamku dalam hati.
Sekilas memang Pak Asrul nampak temperamental.Nada bicaranya jauh dari kata lembut dam santun.Ditambah penampilannya yang sangar,membuatku merasa bersalah membantah nasehat bunda untuk tidak menemui makhluk ini.
Kalau bukan karena urusan yang menurutku saat ini sangat penting,rasanya memang tidak perlu menjumpai orang ini apalagi di tempat seperti ini,gumamku dalam hati.
Tapi saat ini aku tidak memiliki pilihan lain selain harus bertemu dengannya.Cuma pak Asrul satu-satunya orang yang kuharapkan mampu memberikan informasi yang kubutuhkan saat ini.
Andai bunda bersedia mengasih tahu tentang ayah yang bunda rahasiakan selama ini,tentu aku takkan pernah berada di tempat seperti ini.Tapi bunda terlalu keukeh membungkus rahasia itu, sehingga sulit buatku mengetahui ayah itu sebenarnya sosok yang seperti apa?
Meskipun bunda melarangku menemui lelaki ini,tapi demi informasi yang belakangan ini mengusik keingin-tahuanku tentang ayah,mau tidak mau aku harus mendatangi pak tua ini.Kendatipun ada rasa penyesalan yang timbul karena melanggar perintah bunda.
Pak Asrul sore itu cuma memakai kaos singlet yang nampak sedikit kumal,kemejanya disandang dibahu kanan,entah karena gerah atau penyebab yang lain,aku nggak tahu dan juga tak mau tahu alasannya.
Sementara bahu kirinya dihiasi tatto yang bergambar pistol dan mawar.Tatto itu di dominasi warna merah dan hitam.Lalu dibawah gambar itu tertera sebuah kalimat singkat yang ditulis dengan hurup kapital,GUNS N ROSES,nama sebuah band legendaris yang populer di abad 20-an.
Hemm ... aku menduga pak tua ini fans berat dari band manca negara tersebut.Kalau nggak ngapain sampai bikin tatto seperti itu,gumamku dalam hati.Atau bisa jadi karena beliau mungkin mantan narapidana? Entahlah... ?
Dulu memang di indonesia ini tatto sangat identik dengan preman dan pelaku tindak kriminal.
Ketika itu tatto umumnya hanya dimiliki oleh mereka yang keluar dari penjara. Tapi belakangan tatto berkembang menjadi sebuah seni.Tatto dianggap sebagai salah satu seni yang bisa mengekspresikan diri.
Bila ditinjau dari perspektif islam,tatto merupakan perbuatan yang di larang.Tapi sayangnya trend ini banyak di gemari kaum muda-mudi muslim dengan alasan seni.
Sebagai negara yang menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai HAM,tentu setiap orang bebas memilih dan melakukan apa saja selama tak melanggar undang-undang.Tapi satu hal yang mesti di ingat,setiap perilaku dan tindakan yang dilakukan,kelak akan di mintai pertanggung jawaban.
"Ngapain kau kesini?" Pak Asrul bertanya kembali dengan membentak sembari membanting kemejanya ke atas meja.
Aku terkejut dan tersadar dari lamunanku.
"Aku kesini cuma pingin ngobrol-ngobrol aja sama Pak Asrul."jawabku berusaha tenang.
"Soal apa?"
"Banyak hal!"jawabku singkat sesingkat pertanyaannya.
Pak Asrul menenggak tuaknya,lalu memungut kemejanya dan menyandangnya kembali di bahunya.
"Apakah kita.pernah bertemu sebelumnya?" Pak Asrul memandangku sejenak dan mengernyitkan dahinya.
Barangkali pak Asrul mengingat kembali apakah pernah berjumpa denganku sebelumnya.
"Nggak."jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Kau mengenalku?"
__ADS_1
"Cuma sebatas nama aja!"
"Tau dari mana?"
"Hmm...siapa sih yang tidak kenal Pak Asrul?"jawabku sedikit memuji.
"Hahaha ..." Pak Asrul tertawa ngakak.Mungkin beliau tersanjung dengan kata-kataku barusan.
Praakk...!!!
Tiba- tiba Pak Asrul menggebrak meja,lalu tawanya pecah memenuhi ruangan itu.
"Aku mencium bau mulut penjilat didalam kalimatmu!" Pak Asrul kemudian tertawa lagi.
Semua pengunjung lapo tuak terkejut mendengar gebrakan meja itu,tak terkecuali aku yang duduknya berhadapan dengan Pak Asrul.Rasanya jantungku mau copot.
Seseorang yang duduk paling pojok bergurau."Aku kira rudal perang Rusia-Ukraina nyasar ke lapo tuak ini,ee...taunya Pak Asrul sedang belajar main gendang."
"Hahaha..." Semua pemabuk itu tertawa berjama'ah.Pak Asrul juga tak ketinggalan.
Setelah keadaan kembali seperti semula,aku mencoba memulai misi-ku.Aku ingin perbincangan ini masuk ke tema yang kuharapkan.
"Pak Asrul! Apa Bapak kenal dengan Pak Rayyan?"
"Apa...?" Pak Asrul nampak terkejut mendengar pertanyaanku barusan.
"Rayyan apa?" Pak Asrul balik bertanya.
"Rayyan Ahmad."
Pak Asrul nampak makin kaget
"Siapa kau sebenarnya? Selain aku dan istrinya tak banyak orang yang tau nama itu."
"Aku Aktar Pak!"
"Aktar siapa?"
"Aktar Rifani bin Rayyan Ahmad."
"Jadi kau anaknya?"
Aku mengangguk.
Tiba- tiba Pak Asrul terdiam,matanya jauh menerawang...
__ADS_1
Aku memperhatikan Pak Asrul,aku merasa ada perubahan sikap yang drastis setelah mengetahui aku anak Pak Rayyan.
Awalnya Pak Asrul nampak arogan, tapi kini gestur tubuh dan tatapannya begitu bersahabat.
Aku melihat ada air bening menggelayut di sudut matanya.Pak Asrul menunduk menyembunyikan kelemahannya.Laki-laki memang selalu merahasiakan air matanya karena takut dianggap lemah.Serapuh dan sehancur apapun hati mereka,mereka selalu berusaha kuat agar nampak sebagai pejantan tangguh.Agak munafik memang,tapi itulah laki-laki.
"Bapak tau Ayahku?"tanyaku berusaha mencairkan suasana.
Pak Asrul tidak langsung menjawab,beliau diam.Barangkali mencari kata yang pas disampaikan.
"Lebih dari separuh kisah hidup Ayahmu Bapak ketahui." Akhirnya Pak Asrul buka suara juga.
"Apa Pak Asrul bersedia membagikan kisahnya kepadaku?"
"Tentu! Tapi tidak disini! Disini terlalu banyak setan yang akan mengganggu konsentrasi kita." Aku bingung maksud kata-kata Pak Asrul.
"Pernah nampak setan?"tanya Pak Asrul setengah bercanda.
"Nggak."jawabku polos dan bingung.
"Pingin nengok...?"tanya Pak Asrul sambil melirik lelaki yang ada disebelahnya.
Aku tersenyum karena udah tau maksud candaan Pak Asrul.
Lelaki yang dimaksud setan oleh Pak Asrul cuma senyam-senyum cengengesan.
"Udah nampak setannya kan? Nah,kalau pingin nengok mbahnya...?"canda lelaki itu melakukan serangan balik sambil jemari telunjuknya mengarahkan ke hidung Pak Asrul.
Kami bertiga tertawa bersama,yang lain sibuk dengan tuak dan kegiatannya masing-masing.
Pak Asrul meraih tanganku dan mengajakku keluar.
Selangkah sebelum keluar dari pintu,tiba-tiba seseorang setengah teriak menghentikan langkah Pak Asrul."Hei Pak Asrul! Jangan main cabut aja!Nasib tuak ini gimana nih?"
"Ngapain pula kau pikirin nasib tuak,nasib kau aja belum kelar kau pikirin..."kelakar Pak Asrul.
"Hahaha..." Ketawa para peminum tuak itu berjama'ah kedua kalinya.
"Maksudku bayarannya?"kata lelaki tadi menjelaskan.
"Soal bayaran tenang! Aku yang traktir semua,tapi dengan catatan..." Pak Asrul berhenti sejenak karena ada yang memotong kalimatnya."Catatan? Catatan apa Pak Asrul.Kita ini lagi minum tuak bukan sekolah." Tertawa berjama'ah lagi.
"Pokoknya jangan menambah catatan utanglah." Yang empunya lapo tuak juga ikut nimbrung dalam acara canda sore itu.
Suara ketawapun makin riuh di lapo tuak itu.
__ADS_1
Pak Asrul kembali menarik tanganku,mengajakku keluar meninggalkan suara ketawa rekan-rekan sehabitatnya.
Bersambung...