Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Ratapan Ayah


__ADS_3

Arumi sudah bisa menebak alasan Enny memintanya untuk menjumpainya,ditambah suara isak tangis sahabatnya itu ketika menelepon semalam,semakin memperkuat keyakinan Arumi bahwa pertemuannya dengan Enny akan menghabiskan tisu kecil yang selalu tersedia di tasnya.


Terkadang Arumi merasa perihatin atas nasib yang dialami sahabatnya itu, kehidupannya tak seindah parasnya.


Beberapa kali Enny curhat tentang getirnya hidup yang dia alami.Sabagai sahabat Arumi selalu setia menjadi pendengar yang baik, meskipun ia tidak selalu bisa memberikan solusi.


Tidak jarang Arumi cuma bisa memeluk sahabatnya itu,mengelus punggungnya sembari ikut meneteskan air mata.Ia sangat menyayangi sahabatnya itu seperti saudaranya sendiri, sebab Arumi memang anak semata wayang yang tidak punya kakak ataupun adik.


Sejak bersahabat, Arumi selalu mencoba menjadi pribadi yang sederhana agar Enny tidak merasa minder bergaul dengannya.


Arumi bisa saja bergaya seperti mahasiswi yang lain. Ia juga bisa setiap hari pakai kenderaan sendiri pergi pulang kuliah,karena Arumi memang terlahir dari keluarga yang cukup mapan.Tapi Arumi selalu menghindari hal-hal yang membuat sahabatnya itu berkecil hati, ia takut Enny menjauh.


Seminggu lebih Enny tidak masuk kuliah,Arumi rindu seperti seorang kekasih yang telah lama tak bersua pasangannya.


Selepas kuliah Enny tak buang-buang waktu, ia langsung tancap gas menuju tempat yang telah dijanjikan untuk berjumpa.


***


Arumi hampir enggan mengedipkan matanya ketika bertatap muka dengan pria tampan yang hadir di pertemuan yang Enny janjikan.


"Arumi,kenalkan ini Rayyan!"ucap Enny menjelaskan ketika Arumi tiba di taman itu.


"Rayyan,kenalkan ini Arumi sahabat aku."sambung Enny sembari memberi isyarat untuk keduanya agar bersalaman.


" Arumi...!"ucap Arumi memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.


"Rayyan...!"ucap Rayyan juga memperkenalkan diri sambil menyambut uluran tangan Arumi


Rayyan dan Arumi pun bersalaman.


Entah kenapa? Arumi merasa gemetar tidak menentu ketika lelaki itu menjabat tangannya.Jantungnya berdetak keras,dag... dig... dug... seperti baru habis lari dari bukit safa ke bukit marwa.


Masya Allah! Apa lelaki ini pangeran yang nyungsep dari langit? Gumam Arumi mengagumi ketampanan lelaki itu.


Andai Enny tidak menjadi yang pertama dihatinya, Rayyan pun sebenarnya merasakan hal yang sama seperti Arumi.Sorot matanya tak bisa membohongi bahwa ia juga mengagumi kecantikan Arumi yang tidak kalah cantiknya dari Enny.


Rayyan berusaha keras menetralisir perasaannya,ia tidak ingin hatinya bercabang dua.


"Ehemm... !" Enny pura-pura batuk kecil agar kedua mahkluk yang berada di depannya itu menyudahi salamannya.


Spontan Arumi kaget dan salah tingkah.


Rayyan pura-pura bersikap wajar.


Enny juga pura-pura tak memperhatikan sikap keduanya.


"Siapa lelaki itu?"bisik Arumi ketika mereka sudah duduk di taman.

__ADS_1


Posisi duduk Enny berada di tengah Rayyan dan Arumi, Enny diapit keduanya.


"Tadi kan udah kubilang Rayyan."jawab Enny


"Aku tau! maksudku hubungan kalian apa? Pacaran nggak?"tanya Arumi sewot.


Enny diam,pura-pura tidak dengar.


"Dia kan lelaki yang tempo hari ada di video itu?"tanya Arumi seperti kepada dirinya sendiri.


"Udah lama kalian jadian?"sambungnya.


Enny sebenarnya pingin senyum mendengar pertanyaan Arumi yang nampak penasaran itu, tapi ia berusaha menahannya.


"Hei... ! Beberapa hari nggak kuliah,koq jadi tuli kau."hardik Arumi.


Enny tak kuasa lagi menahan tawanya,tapi ia tetap menyembunyikannya dengan tawa tanpa suara,sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Ini yang Enny sukai dari Arumi, sahabatnya itu selalu bisa membuatnya melupakan kepahitan hidupnya.


" Siapa sih yang tuli?"tanya Enny cemberut.


"Makanya kalau ditanya orang di jawab!" gerutu Arumi.


"Siapa yang nggak mau jawab? Aku lagi mengakumulasi pertanyaan kau,biar nanti sekalian aja dijawab semuanya!"


"Ooo... bisa kayak gitu ya?" ucap Enny manggut-manggut dengan akting wajah judes.


"Makanya kalau nanya pake spasi! Pertanyaan koq kayak rentetan peluru."


Arumi ketawa.


"Nggak usah ketawa! Jelek!"


"Biarin... !" sahut Arumi makin ketawa.


Setelah puas bersenda gurau, keduanya baru teringat keberadaan Rayyan.


"Udah puas...!"ujar Rayyan yang merasa sejak tadi diabaikan.


"Puas apaan?"tanya keduanya hampir serempak.


"Membiarkan aku kayak kambing congek!"


Enny dan Arumi ketawa.Rayyan pun juga.


Selanjutnya Rayyan menjelaskan tujuan memanggil Arumi datang ke tempat ini.

__ADS_1


Rayyan berharap Arumi mau membantu apa yang disepakatinya dengan Enny.


Arumi kaget.


Arumi kaget bukan karena tugas yang akan diembannya untuk membantu kesepakatan orang itu,tapi Arumi kaget dengan ketulusan dan kebaikan lelaki itu.


Arumi tidak mampu mendefinisikan perasaannya terhadap tindakan lelaki itu, mengagumi atau menganggapnya bodoh?


"Apa kalian Pacaran?" tanya Arumi tanpa bisa menyembunyikan kebingungannya,meskipun di awal Rayyan telah menjelaskan hubungan keduanya cuma sekedar sahabat.


Arumi jelas bingung,orang yang pacaran aja belum tentu mau melakukan pengorbanan seperti itu,konon pula yang tidak ada hubungan spesial? Aneh! otak Arumi benar-benar tidak bisa mencerna apa tujuan lelaki ini melakukan hal bodoh itu.


"Kalau Arumi mau membantu,aku harap sih kalian berangkat sekarang!"pinta Rayyan sambil melirik Enny yang sejak tadi menundukkan kepalanya.Barangkali ia sedang menangis, karena sesekali pundaknya terlihat naik turun.


***


"Kalau boleh sih Pak,biar ajalah Enny tetap kuliah!"pinta Arumi hati-hati.Arumi takut kalimat yang akan disampaikannya membuat Ayah sahabatnya itu tersinggung.


Pak Soleh,Ayahnya Enny yang terbaring lemah di tempat tidurnya menatap Arumi sejenak.Pak Soleh kenal sahabat anaknya itu karena memang sejak SMA Arumi sering berkunjung dan main ke rumah ini.Pak Soleh tau Arumi adalah anak yang baik.


Pak Soleh berusaha duduk dari pembaringannya.Dengan sigap Arumi pun berusaha membantunya.Sementara Enny yang sejak tadi menunduk meneteskan air mata,mengupas buah apel yang sengaja Arumi belikan untuk membezuuk sekaligus menjalankan misi yang di tugaskan Rayyan.


Pak soleh batuk-batuk beberapa saat.


Arumi menuang air putih yang tersedia disamping tempat tidur Pak Soleh ke dalam gelas.


"Diminum dulu Pak!"ujar Arumi sambil menyodorkan segelas air putih yang barusan ia tuang.


"Nak Arumi! Sebenarnya Bapak juga berpikiran yang sama.... " jawab Pak Soleh setelah meminum air putih pemberian Arumi.


"Tapi Bapak tidak punya uang untuk biaya Enny melanjutkan kuliahnya.... " Pak Soleh batuk-batuk kembali.


Enny makin tak kuasa lagi menahan air matanya.


Arumi merasa miris dengan situasi yang dialami sahabatnya itu.


"Setelah sakit Bapak sudah tidak bekerja lagi.Bapak tidak memiliki uang ataupun tabungan.Bapak juga sedih melihat Enny tak bisa melanjutkan kuliah." ujar Pak Soleh sambil meneteskan air mata.Pak tua itu tak kuasa menahan kesedihannya.


"Enny anakku! Maafkan Ayah Nak!"ucap Pak tua itu menangis sambil meraih bahu putrinya.


Enny pun memeluk Ayahnya dan menangis pilu.


"Maafkan Ayah Nak...!"ratap lelaki lemah itu kembali menyayat hati.


Arumi meneteskan air mata melihat adegan yang menyesakkan itu.


Tanpa Arumi sadari,secara spontan ia pun memeluk Enny dan Pak tua yang telah ia anggap seperti ayahnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2