Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Mengajak Rileks


__ADS_3

"Enny ...?" Lelaki itu memanggil Enny ketiga kalinya sembari mengulurkan tangan memberikan Hp milik gadis itu.


"Terima kasih telah menolongku.Tapi ma'af,apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"tanya Enny seperti orang bingung,kenapa lelaki ini tau namaku,pikir Enny sambil memasukkan kembali Hp android miliknya kedalam tas kecil yang ia sandang.


"Iya,aku Rayyan!"jawab lelaki itu.


"Rayyan ....?" Sambil mengulang nama itu Enny mengernyitkan keningnya.Enny mencoba mengingat siapa lelaki tampan yang ada dihadapannya saat ini,dan pernah jumpa dimana sebelumnya?


"Ooo ... Rayyan?" Tiba-tiba Enny mengingat laki-laki yang berprofesi sebagai pengemudi ojek on line itu ... lelaki yang membuat ia merasa nyaman di dekatnya.


Enny hampir tak percaya, Rayyan yang Arumi bilang sebagai yayang barunya ternyata seorang lelaki yang sangat tampan.Bahkan menurut Enny lelaki itu terlalu tampan untuk ukuran seorang driver ojol,semestinya lelaki itu lebih cocok menjadi artis sinetron.


***


Rayyan mengajak Enny ke sebuah cafe yang tidak jauh dari lokasi kejadian untuk rileks dan melepaskan segala ketegangan yang barusan mereka lalui.


"Mau pesan apa?"tawar Rayyan setelah mereka duduk di salah satu meja yang tersedia di cafe muda-mudi itu.


"Terserah Bang Rayyan aja."jawab Enny agak sungkan.


Pengunjung cafe sore itu tidak terlalu ramai.Karena kebanyakan cafe di Medan ini memang akan ramai di kunjungi ketika malam hari,apalagi malam minggu ...


Cafe dijadikan sebagai tempat tongkrongan,melepas lelah dari kesibukan aktivitas seharian,tempat bersosialisasi bahkan tempat pacaran bagi sebagian muda-mudi yang memiliki pasangan.Dan tidak sedikit diantara anak muda yang menjadikan cafe sebagai tempat ber-internet ria karena rata-rata cafe di Medan ini memang di lengkapi fasilitas wi-fi.


"Koq bengong sih?"tanya Rayyan disela menunggu jus alpukat dan makanan cepat saji yang mereka pesan.


"Sebenarnya aku merasa nggak enak ... Abang telah menolong aku,semestinya aku yang traktir Abang ..."


"Udah nggak apa-apa,biasa aja ...."


"iya tetap aja aku merasa nggak enak ...."


"Enny ... aku melakukannya bukan untuk pamrih atau imbalan.Aku hanya spontan aja,aku paling nggak suka kalau ada orang yang merampas milik orang lain."jawab Rayyan merendah.


"Sekali lagi -makasih Bang ya ...-makasih telah membantu aku,Abang sangat baik ..."


"Enny ... kalau kau memang niat ngasih imbalan,aku cuma minta satu aja,bisa nggak kau tidak memanggilku dengan sebutan abang?"


"Kenapa?"


"Sebenarnya nggak apa-apa sih.Cuma kalau panggil nama rasanya lebih akrab aja!"


"Terus aku panggil apa?"

__ADS_1


"Panggil Iyan aja!"


Selang beberapa saat kemudian pesanan keduanya telah terhidang di atas meja.


Rayyan dengan sopan mempersilahkan gadis cantik yang disampingnya itu agar bersantap bersama-sama.


Bagi banyak orang mungkin itu hanya menu biasa,tapi bagi Enny yang jarang jajan atau makan selain di rumah,hidangan seperti ini terasa seperti jamuan.Maklum di rumah Enny lebih sering makan sayur serta ikan asin ketimbang lauk.


Orang tuanya betul-betul berhemat.Karena keduanya lebih fokus pendidikan anaknya ketimbang sesuatu hal yang mewah,bahkan untuk makanan yang mewah sekalipun.


Kehidupan Enny memang memperihatinkan,tidak seindah kecantikannya.


Diluar uang kuliah,setiap hari Enny hanya dikasih ongkos pergi-pulang ke kampus,sisa sedikit tapi tak cukup walau hanya sekedar beli semangkok bakso.Sisa ongkos tersebut Enny kumpulin sampai ...


Dikantong tas kecil miliknya ada uang 50-an satu lembar,tapi itu hanya untuk jaga-jaga bila ada keperluan yang tiba-tiba mendadak.


Di kampus Enny lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan ketika jam istirahat ketimbang duduk di kantin.


Sesekali memang Enny nampak di kantin,itupun karena dipaksa dan di traktir Arumi.


Terlalu sering di traktir Arumi sejak SMA Enny merasa tak enak hati.Ia selalu mencari alasan dan cara agar Arumi pergi ke kantin sendirian.


Tapi dasar Arumi si cantik yang keras kepala dan baik hati itu,selalu aja punya cara agar Enny bersedia di traktirnya.


"Dari tadi ku perhatikan kamu banyak melamun,lagi mikirin apaan sih ...?"tanya Rayyan setelah keduanya selesai makan.


"Nggak ... nggak ada!Perasaan biasa aja ..."


"Yah siapa tau ada masalah? Kalau ada masalah,sebagai sahabat aku akan mencoba membantu sebatas kemampuanku.Eh ... omong-omong mau nggak sih menerima aku jadi sahabatmu?"


"Tergantung ..."


"Tergantung apaan?"


"Tergantung niatnya."


"Maksudnya ...?"


"Banyak orang yang mengatasnamakan persahabatan demi kepentingan,manakala kepentingan telah tercapai persahabatan dianggap hanya barang murahan yang tidak memiliki harga,dan tidak memiliki nilai ...."


"Eh ... omong-omong kenapa tadi ada di tempat itu?"sambung Enny mengalihkan pembicaraan.


"Justru aku mau nanya kamu kenapa berada disitu?"

__ADS_1


"Ooh tadi pulang dari kampus di ajak kawan jalan sambil nungguin angkot yang lewat ...."


"Terus kawannya mana?"


"Udah pulang duluan. jurusan angkot ke rumah kami memang beda.Kebetulan tadi angkot yang menuju rumahnya duluan tiba makanya dia pulang duluan ...."


"Oooh ...."


"Bang Iyan kenapa ada disitu?"


"Cukup Iyan aja!" Rayyan mengingatkan kembali.


"oh iya ...Iyan kenapa ada disitu" Enny mengulangi kalimatnya tanpa ada kata abang.Terasa janggal memang,tapi itu karena masih permulaan,tentu lama-lama akan terbiasa.


"Aku kebetulan lewat.Dan berada di tengah keramaian itu hanya sekedar pingin tau penyebab kemacetan.Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan,dan pencopet yang diteriaki itu lari tepat di sampingku,secara spontan aku menendang punggungnya ...."


"Sempat polisi nggak datang nasib Iyan gimana?"tanya Enny mengingat kejadian yang menegangkan barusan.


"Don't hunt what you can't kill.Meski spontan,dalam sepersekian detik aku telah menghitung segala kemungkinan.Aku tak mau menjadi pahlawan kesiangan.Aku tak bisa lari seperti orang yang berhamburan ketika pencopet itu menghunus belatinya,aku lelaki yang berani memulai tentu harus berani mengakhiri ...."


Wauuww ... pria tampan ini betul-betul pejantan tangguh.Enny merasa kagum kepada Rayyan.Dan bukan cuma sekedar itu,Enny juga semakin nyaman berada di samping lelaki ini.


Perlahan waktu terus beranjak,kedua makhluk itu tak menyadari satu jam telah berlalu ...


"Iyan ... aku pamit pulang ya?"kata Enny setelah satu jam lebih mereka di cafe itu.


"Boleh di antar?"tawar Rayyan.


"Mmmh ... boleh! Tapi tidak sampai rumah." Enny teringat pesan ayah agar tidak pernah membawa laki-laki ke rumah.


"Kenapa ...?"


"Tidak menerima tamu ..."jawab Enny setengah bercanda.


"Aku bukan tamu!"


"Jadi siapa ...?"


"Orang yang akan menjadi salah satu keluarga di rumah itu ..."jawab Rayyan sambil ketawa.


Enny tersenyum manis.senyum yang tak bisa Rayyan artikan ...


Setelah membayar tagihan pesanannya,Rayyan mengajak bidadari itu bergegas ...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2