
"Gimana sih! Katanya nggak cemburu?"tanya Enny masih ketawa.
"Rasanya sih seorang sahabat takkan mau melakukan hal seperti itu!"
"Andai hal itu terjadi?"
"Itu artinya dia telah menabuh genderang perang! Tapi Asrul anaknya baik,dia takkan melakukan hal sebejat itu.Aku yakin itu!"
"Apa Asrul sudah punya pacar?"tanya Enny pindah ke topik yang lain.
"Pertanyaan itu sudah masuk wilayah pripacy dia,aku tak pernah menanyakannya.Tapi setahuku dia belum punya cewek."
"Ketepatan! Sahabatku Arumi juga masih jomblo."
"Maksudnya mau comblangin mereka,gitu?"
"Iya! Siapa tahu mereka jodoh?"
"Aku nggak suka proyek seperti itu!"
"Emang itu proyek?"
Rayyan tertawa kecil,"Hahaha ... Apapun sebutannya,aku tak suka melakukannya!"
"Apa salahnya?"tanya Enny.
"Menjadi mak comblang itu butuh mental yang kuat.Siap menjadi kulit kacang dan bersedia menjadi kambing hitam."
"Maksudnya?"
"Ketika bahagia,banyak pasangan yang melupakan andil mak comblang seperti kacang melupakan kulitnya.Tapi manakala kecewa,mak comblang jadi sasaran dan dijadikan sebagai kambing hitam."
"Lalu dimana letak keuntungannya?"sambung Rayyan.
"Apakah setiap melakukan sesuatu harus melihat untung ruginya?"
"Tentu! Tuhan memberikan manusia akal salah satu fungsinya untuk itu.Apapun tindakan yang akan dilakukan harus mempertimbangkan kedua aspek itu."
"Enny,kalaupun Asrul dan Arumi berjodoh,aku berharap itu bukan karena dicombalangi.Biarkan keduanya menemukan cinta dengan cara mereka sendiri."sambung Rayyan.
Mau tak mau Enny harus menyetujui apa yang dibilang Rayyan,karena ia merasa tak punya celah untuk menyengkal.
Selain tampan dan baik Rayyan juga memiliki mindset yang brilian,tapi kenapa cinta itu enggan untuk datang? jerit hati Enny kembali.
__ADS_1
***
Seperti semalam,hari ini juga Rayyan mengajak Enny ke taman kota setelah menjemputnya dari kampus.Belakangan ini kebersamaan keduanya semakin intens.
Hampir sebulan sudah Rayyan merutinkan diri mengantar jemput Enny.Terkadang langsung mengantarnya pulang,tapi kadang Rayyan mengajak Enny menghabiskan waktu di taman,seperti hari ini.
"Yan! Dengan mengantar jemput aku setiap hari,apa nggak mengganggu aktifitasmu yang lain?"tanya Enny setelah keduanya duduk di taman.
"Justru gairahku dalam melakukan aktifitas yang lain akan terganggu bila tak jumpa dengan kamu."
Enny tersenyum sambil menikmati dimsum yang Rayyan sempatkan beli dua porsi dan dua botol air mineral sebelum mereka ke taman.
"Koq nanya kayak gitu? Jangan-jangan kamu yang merasa terganggu."sambung Rayyan.
"Yan! Selama kamu nggak merasa disusahin,aku senang dijemput dan diantar sama kamu,jujur aku merasa nyaman di sampingmu.Tapi kamu juga mesti ingat dalam beberapa bulan ke depan kamu akan masuk kuliah,jadi seperti yang pernah kamu bilang sebelumnya,tentu kamu harus mempersiapkan banyak hal termasuk biaya."
"Kalau setiap hari kamu menghabiskan waktu denganku,aku takut kamu tak bisa memenuhinya semua!"sambung Enny.
"Enny,aku punya tabungan sedikit.Insya Allah cukup untuk biaya masuk kuliah dan biaya untuk empat semester ke depan,sisanya nanti aku akan kuliah sambil bekerja."
"Apa sih cita-cita kamu Yan?"tanya Enny.
Rayyan tidak langsung menjawab.Rayyan memandangi Enny terlebih dahulu.
Enny tersenyum.
"Terus ...?"tanya Enny rada bercanda.
"Aku ingin punya anak darimu!"jawab Rayyan tetap dengan serius.Ia tak perduli dengan gestur Enny yang kelihatan sedang bercanda.
"Terus ...?"tanya Enny lagi dengan tetap setengah bercanda.Ia juga tidak perduli dengan tatapan mata Rayyan yang seolah menuntutnya untuk serius.
"Aku ingin bahagia denganmu!"jawab Rayyan tetap dengan wajah yang serius,tak mau kalah.
"Terus ...?"tanya Enny tetap dengan bercanda.Ia juga tak mau kalah.
"Aku ingin hidup dan mati bersamamu!"
"Terus ...?"
Rayyan diam,tidak berupaya menjawabnya lagi.Tapi matanya tetap memandangi Enny dengan tajam.
Dipandangi seperti itu,Enny merasa kikuk dan salah tingkah.
__ADS_1
"Yan! Mata kamu Yan!"ujar Enny sambil melambai-lambaikan tangannya dekat dengan mata Rayyan.
Rayyan tak perduli.Ia tetap menatap Enny dengan tajam.
Enny tak sanggup menantang mata itu,ia menunduk menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.Rambut hitamnya yang panjang yang selalu nampak seperti direbonding itu jatuh bergerai membantu persembunyiannya.
"Yan! Aku nggak sanggup dipandangi seperti itu."ujar Enny dengan tetap mempertahankan posisinya,menunduk.
Rayyan tidak menggubris,iapun tetap dengan posisinya,memandangi Enny meskipun yang dipandangi telah membenamkan wajah ke lututnya.
"Apa aku salah Yan?"tanya Enny mengiba.
"Menurutmu?"jawab Rayyan datar.
"Ya! Mungkin aku salah karena tak merespon ucapanmu dengan serius."
"Nggak Enny! Aku memandangimu bukan karena kesalahan itu,aku melakukannya karena aku takut kehilangan kamu!"
"Meskipun kita bukan sebagai kekasih,entah kenapa setiap bersama denganmu perasaan takut kehilangan itu selalu menghantui pikiranku."sambung Rayyan.
Enny mengangkat wajahnya dan menatap Rayyan yang tak lagi memandanginya seperti tadi.Iapun merasakan hal yang sama,meskipun benih cinta itu belum tumbuh untuk Rayyan,tapi ia juga takut kehilangan pria itu.
"Yan! Antar aku pulang!"pinta Enny dengan mata yang sepertinya telah diselimuti mendung.
Enny tak mau menangis di depan Rayyan.Enny tak mau terlihat rapuh di matanya.Ia ingin terlihat kuat dengan segala keputusan yang ia ambil tentang hubungan mereka.
***
Tiga hari sudah setelah pertemuan terakhir mereka,Rayyan tak pernah sekalipun bertemu lagi dengan gadis itu.Enny tak pernah ada ditempat biasa ia menunggu ketika Rayyan menjemputnya.
Pagi ini Rayyan berusaha datang lebih cepat agar tidak ketinggalan seperti hari sebelumnya.Tapi usaha yang ia lakukan tetap sia-sia,Enny tidak ada nampak sedang menunggu seperti harapannya.
Apa aku keduluan angkot?pikir Rayyan.Tapi tidak mungkin,ia tiba bahkan sebelum satupun angkot yang lewat di tempat itu
Kemana Enny? Apakah ia berusaha menghindari aku? Apa kesalahan yang telah kulakukan sehingga ia melakukan semua ini? Berbagai macam pertanyaan mengganggu pikiran Rayyan yang tak bisa ia pecahkan.
Dengan perasaan kecewa yang teramat dalam,Rayyan meninggalkan tempat itu setelah menduga Enny tak akan datang lagi.
Kereta matic yang ia kemudikan melaju ke arah yang tak beralamat.Dengan pikiran yang tidak menentu,ia tak menyadari telah menelusuri jalan yang tidak berujung.
Setelah teringat rencananya yang akan menemui Enny di kampus saat ini,baru ia tersadar telah jauh jalan yang sudah dilewatinya.Rayyan memutar balikkan keretanya ke arah semula ia datang.
Dengan sengaja Rayyan mengambil posisi agak jauh dari pintu gerbang kampus itu.Ia tidak ingin kehadirannya membuat Enny terkejut bila terlalu dekat dengan pintu gerbang.Kendatipun begitu Rayyan tetap mengatur jarak yang ideal agar tetap bisa mengenali Enny saat keluar dari kampusnya.
__ADS_1
Bersambung ...