
"Kami telah membicarakan ini sebelumnya, jadi aku tidak akan membahasnya lagi disini."jawab Rayyan berharap membicarakan topik yang lain.
"Kau telah melibatkan aku ke dalam masalah ini,jadi aku merasa perlu juga tahu alasannya kenapa kau melakukan ini?"desak Arumi tak mau ganti tema.
Rayyan terdiam kembali.Ia menatap Arumi, seolah mencari jawaban dari mata gadis itu,apa sih sebenarnya yang ia cari?
"Aku mencintainya! "jawab Rayyan.
Kini Arumi yang terdiam.Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa sunyi,ia merasa ada sesuatu yang hilang, tapi entah apa?
"Apakah dia mencintaimu?" tanya Arumi dengan sorot mata menyelidiki.
Rayyan tersenyum sambil garuk-garuk kepala.
'Sebelum kesini,aku minta nomor HP sekaligus bertanya banyak hal tentang kamu ke Enny.Menurut pengakuannya,dia tidak mencintaimu!"sambung Arumi sambil memperhatikan reaksi cowok itu.
Tiba-tiba senyum yang terselip di bibir Rayyan seketika berubah menjadi senyum kegetiran.Rayyan sebenarnya tidak merasa kaget dengan berita yang Arumi sampaikan,karena jauh sebelumnya ia sudah tahu soal itu, soal berita yang tak terbantahkan itu. Tapi yang membuat reaksinya seketika berubah,ia merasa sedih bila mengingat nasib cintanya yang cuma bertepuk sebelah tangan.
"Enny terlebih dahulu memberitahu hal itu kepadaku sebelum menyampaikannya ke kamu."jawab Rayyan datar.
"Jadi hal apa yang memotivasi kamu melakukan semua ini?"
"Apa jawabanku tadi tidak cukup jelas buatmu?"
"Karena Cinta? Yah... cinta memang mampu membuat seseorang bisa melakukan hal-hal yang besar.Cuma persoalannya,dia tidak mencintaimu!"
"Tapi bagi aku itu bukan persoalan!"jawab Rayyan tegas dengan penuh penekanan.
Arumi tersenyum sambil membuang pandangannya ke samping,ia seolah-olah tidak yakin apa yang barusan Rayyan ucapkan.
"Ada satu hal lagi yang Enny sampaikan,dia merasa bersalah telah memberikan kamu sebuah harapan yang belum tentu bisa kalian wujudkan."
Rayyan terdiam.Ada rasa nyeri menusuk ulu hatinya mendengar berita yang Arumi sampaikan.
"Apa Enny memberitahu alasannya?"tanya Rayyan seperti orang yang kehilangan harapan.
"Iya! Enny menyesal karena harapan yang ia berikan kau jadikan sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang bodoh!"
"Yan,bila nanti kalian tidak berjodoh,apa yang akan kau lakukan?"sambung Arumi.
"Aku tidak akan berpikir untuk hal yang belum tentu terjadi!"
"Tapi menurutku kau harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang akan terjadi.Jangan cuma tahu manisnya gula, tapi kau juga harus ingat,empedu itu pahit rasanya.'
"Terima kasih atas sarannya."
"Menurutmu apakah Enny bisa dipercaya?"sambung Rayyan.
__ADS_1
"Hmm... !" Arumi tersenyum tipis.
"Kenapa? Apa kau mulai ragu dengan keputusan yang kau ambil?"sambungnya.
Rayyan. menggelengkan kepalanya.
" Aku mengenal Enny dan menganggapnya lebih dari sekedar sahabat,setahuku Enny bukanlah orang yang suka berbohong, apalagi membohongi dirinya sendiri.Dia jujur mengakui,ia berharap kalian bisa berjodoh kelak meskipun saat ini Enny tak bisa menjadikan kau sebagai pacarnya."
"Apa kau tahu alasannya?"
Arumi menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak nanya, aku cuma menggodanya, Enny, gimana kalau pacarannya ama aku, nikahnya ama kamu?"ujar Arumi bercerita.
"Terus apa katanya?"tanya Rayyan sambil ketawa.
"Aku nggak terbiasa mengambil sisa orang lain, katanya sambil mencubit lenganku."cerita Arumi sambil ketawa.Rayyan pun ikut ketawa.
"Aku senang menggodanya, karena itu caraku agar ia bisa melupakan derita hidupnya meskipun sejenak."ucap Arumi mengakhiri ceritanya.
***
Arumi merasa senang hari ini,soalnya Enny sudah masuk kuliah kembali,dan Enny pun juga turut merasakan hal yang sama.
Selanjutnya hari-hari yang akan mereka lalui so' pasti akan seru dan penuh warna.Hidup akan berjalan seperti semula,seperti yang mereka inginkan, selalu dalam kebersamaan.
Arumi terkadang prihatin dan merasa kasihan melihat Rayyan. Semakin hari lelaki tampan yang berhati emas itu semakin kurus dan sedikit dekil, barangkali tak ada waktu lagi baginya untuk merawat diri demi tanggung jawab yang dia emban.
Arumi pernah menyampaikan keprihatinannya itu kepada Enny, tapi Enny bisa apa? Gadis itu cuma bisa menangis,merasa ini semua merupakan kesalahannya.
Satu ketika Enny pernah meminta agar semua kesepakatan gila ini dihentikan,tapi Rayyan marah menanggapi usulannya.
"Aku telah berjuang mati-matian dengan segenap kemampuan yang kumiliki,tiba-tiba kau meminta agar ini dihentikan, apakah kau tidak bisa menghargai pengorbanan yang kulakukan?"jawab Rayyan ketika itu.
Enny menangis,hatinya terenyuh melihat kebaikan dan ketulusan lelaki yang mulai nampak lusuh itu.
Jam terus berputar,haripun silih berganti.Setiap orang menjalani perannya masing-masing,sedih atau bahagia,tangis atau ketawa, berduka atau bersuka, semua lakon sudah tertulis dan tertera di dalam skenario yang Tuhan tentukan.Manusia hanya bisa menjalani peran yang ia terima, tak bisa ingkar,karena semuanya merupakan perjanjian dengan sang Khalik,ketika seorang hamba berada di alam kandungan.
"Jadi nge-daftar tahun ini Yan?"tanya Asrul ketika penerimaan mahasiswa baru di beberapa universitas telah dibuka.
Rayyan diam.
"Jadi kuliah tahun ini kan?"ulang Asrul dengan kalimat yang berbeda.
Rayyan tetap diam,tak memberikan respon.
Asrul menatap Rayyan sejenak.
__ADS_1
"Yan! Kamu kenapa,ada masalah?"
Rayyan menggelengkan kepalanya.
"Nggak Yan! Kamu pasti ada masalah!"
"Aku nggak jadi kuliah Rul!" Akhirnya Rayyan buka suara.
"Kenapa...?"desak Asrul merasa heran.
"Aku nggak ada duit!"
"Tapi kau punya tabungan?"tanya Asrul menyelidiki.
"Udah nggak ada lagi."
"Ngomong apa sih kau Yan?"tanya Asrul heran.
"Duitnya udah habis!"
"Koq bisa?"
"Aku memberikannya kepada seseorang!"
"Kepada siapa?"
Rayyan menghela napas sejenak,kemudian ia menceritakan kisahnya dengan Enny mulai dari A sampai Z, secara detail.
"Yan! Kau udah gila ya?"ujar Asrul setelah mendengar kisah yang Rayyan tuturkan.
Rayyan diam.
"Bukankah duit itu juga kau butuhkan untuk masuk kuliah tahun ini?"
Rayyan menundukkan kepalanya.
"Bukankah kau datang ke kota ini untuk kuliah?"sambung Asrul seperti orang yang sedang jengkel dan marah.
"Dulu! Sekarang nggak!"jawab Rayyan seperti kurang suka dengan pertanyaan Asrul.
"Apa? Kurasa kau memang sudah betul-betul gila! Kau rela menghancurkan harapan almarhumah ibumu hanya untuk seorang gadis yang tidak mencintaimu?"ucap Asrul dengan nada yang mengandung emosi.
"Cukup... !!!"teriak Rayyan, "Jangan kau bawa-bawa almarhumah ibuku dalam persoalan ini!"
"Kenapa... ?!"tantang Asrul tidak gentar.
Bersambung...
__ADS_1