Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Misi Yang Sukses.


__ADS_3

Arumi menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya setelah keadaan kembali seperti semula, begitupun Enny dan Ayahnya.


"Sebelumnya Arumi mohon maaf Pak... !"ucap Arumi memcairkan suasana setelah mereka hanyut dengan situasi yang memilukan.


"Arumi berharap apa yang Arumi sampaikan ini tidak menyinggung perasaan Bapak."lanjut Arumi sambil melirik Enny sejenak,seolah-olah ia meminta izin kepada Enny untuk melanjutkan misi ini.


"Buat Arumi,Enny bukan hanya sekedar sahabat,tapi Enny sudah Arumi anggap seperti saudara Pak!"sambung Arumi Hati-hati.


"Arumi memiliki sedikit tabungan Pak, insya Allah cukup untuk biaya Enny melanjutkan kuliah. Jadi selain membezuuk,maksud kedatangan Arumi kesini sekalian minta restu sama Bapak agar Enny dikasih izin kembali untuk melanjutkan kuliahnya."pinta Arumi sambil menundukkan kepalanya.Ia takut apa yang barusan ia sampaikan membuat Pak Soleh merasa tersinggung dan disepelekan.


Pak Soleh batuk-batuk kembali sambil menatap erat Arumi yang sedang tertunduk.


Pak Soleh diam sejenak, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.


"Nak Arumi! Andai saja Bapak masih kuat,Bapak tak sudi dikasihani meskipun menjalani hidup dalam kesusahan.Tapi dengan kondisi Bapak yang seperti saat ini,untuk Enny dan kedua adiknya,Bapak rela menggadaikan harga diri demi cita-cita mereka." ucap Pak Soleh dengan suara yang lemah.


"Bapak tak perlu berperasaan seperti itu.Sebelum kesini Arumi terlebih dahulu minta pendapat orang tua Arumi,mereka setuju bahkan mendukung,karena orang tua Arumi juga menganggap Enny seperti anak sendiri.Jadi ini tidak ada sangkut pautnya dengan yang Bapak sebutkan barusan."jelas Arumi panjang lebar.


"Pak Soleh juga tak perlu merasa terbebani untuk menggantinya.Arumi tak menganggap Bapak telah menggadaikan harga diri, karena ini Arumi lakukan dengan tulus."ucap Arumi meyakinkan Pak Soleh.


Arumi memandang Enny,ia pingin meminta maaf atas kebohongan yang talah ia lakukan,tapi sedari tadi Enny tak mau mengangkat kepalanya.Gadis itu hanya tertunduk tanpa mampu membendung air matanya.


Arumi sebenarnya merasa bersalah melakukan hal ini. Dirinya tampil seolah-olah malaikat penolong, padahal ia tidak melakukan apa- apa,ia hanya diutus sebagai perpanjangan lidah Rayyan.


Selain rasa bersalah, Arumi juga merasa kasihan kepada Rayyan.Lelaki itu ikhlas tak dikenang dan tak disebutkan namanya, padahal ini semua berkat pengorbanan yang dia lakukan.Ibarat pepatah,"Kambing punya susu,lembu punya nama".


"Boleh kan Pak,Enny kuliah lagi?"tanya Arumi hat-hati.


Tiba-tiba Pak Soleh meraih pundak Arumi, Pak tua itu memeluk Arumi yang sudah sejak lama ia anggap seperti anaknya sendiri.


"Makasih Nak! Kau terlalu baik untuk keluarga ini,Bapak tidak tau seperti apa Bapak harus membalas kebaikan Nak Arumi?"ucap Pak Soleh sambil meneteskan air mata.


Arumi diam.


Arumi malu terhadap dirinya sendiri atas apa yang ia lakukan.ia merasa berdosa telah membohongi Pak Soleh yang lemah itu.


"Enny, maafkan aku... "bisik Arumi sambil memeluk Enny setelah Pak Soleh melepas pelukannya.


"Nggak apa-apa!"jawab Enny membalas pelukan Arumi.


Kedua sahabat itu begitu erat, begitu dekat seolah tak ingin lagi terpisah.Pelukan hangat keduanya menggugurkan benih-benih rindu yang mulai tumbuh mengganggu.Hati keduanya merasa plong, terlebih misi yang diemban Arumi berjalan sesuai dengan harapan, harapan keduanya.

__ADS_1


Besok Enny kuliah kembali,Hari-hari yang mereka lalui akan penuh warna,cerah dan ceria lagi.


Akhirnya pelukan itu mereka sudahi dengan senyuman,senyum yang teramat manis.


***


"Halo... ini siapa?"tanya Rayyan ketika melihat nomor pemanggil yang tertera di HP-nya.Sederet angka yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Aku Arumi... !"jawab penelepon itu menjelaskan.


"Arumi?"tanya Rayyan kaget.


"Iya! Aku Arumi, sahabat Enny! Baru tadi ketemu, masak udah lupa sih?"


"Nggak! Aku nggak lupa! Aku cuma heran, dapat nomor ini dari siapa? perasaan aku nggak pernah ngasih nomor ke kamu?"


"Itu nggak penting! Bisa nggak kau jumpain aku sekarang."


"Ngapain?"


"Bisa nggak?"tanya si penelepon itu rada memaksa.


"Di Kejora Cafe!"


"Oke...!"


Rayyan segera memutar balik arah keretanya menuju cafe yang Arumi sebutkan,karena sebelumnya Rayyan lagi on the road,hendak pulang ke rumah kost-nya.


Sesampainya di Kejora Cafe, Rayyan tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan posisi bidadari itu.


Arumi duduk di meja paling pojok, penampilan dan pakaian yang ia gunakan masih sama seperti tadi ketika mereka bertemu di taman.Meskipun penampilannya sederhana, tapi gadis itu tetap nampak elegan dan bersahaja. Bahkan kecantikannya sangat menonjol dibanding gadis lain yang jadi pengunjung cafe malam itu.


"Udah lama nunggu?"tanya Rayyan setelah mengambil posisi duduk berhadapan dengan Arumi.


"Lumayan!"jawab Arumi setelah terlebih dahulu memesan minuman dan makanan kepada pelayan cafe.


Arumi memandang lelaki tampan yang saat ini berada di hadapannya.Duh... betapa gantengnya pria ini, gumam arumi dalam hati.


Ketika tatapan mereka berbenturan,nampak sekali keduanya salah tingkah.Rayyan pura-pura mengalihkan pandangannya ke tempat yang lain, sementara Arumi tersipu dan tertunduk malu.Jantungnya berdetak kencang laksana kuda yang sedang berpacu.Tiba-tiba ia merasa hatinya berbunga-bunga...


"Ada keperluan apa memintaku datang kesini?"tanya Rayyan agak kaku.

__ADS_1


"Apakah kau lupa telah memberikan aku tugas?"jawab Arumi berusaha setenang mungkin.


"Hahaha..." Lelaki itu tertawa kecil.


"Nona... !"


"Bukan! Arumi."potong Arumi.


"Hahaha... oke, Arumi! aku pingin meralat ucapanmu,aku tidak memberimu tugas,tapi aku hanya minta tolong sama kau!"


"Apapun sebutannya,apakah kau tidak pingin mendengar hasilnya? Bukankah kau yang akan menjadi donatur dari proyek ini?"


"Baik! Aku pingin mendengar Laporannya!"ucap Rayyan berlagak seperti seorang CEO yang lagi menunggu data dari asistennya.


Arumi kali ini ketawa.


"Besok Enny sudah mulai kuliah."


"Alhamdulillah... "ucap Rayyan sembari menengadahkan tangannya seperti orang yang sedang berdoa.


"Udah lama kalian kenal?"tanya Arumi mengalihkan pembicaraan sambil meminum jus yang ia pesan.


Rayyan juga seolah mengikuti Enny,meminum jus yang di pesan gadis itu.


"menurutku lumayan!"


"Jadi apa status hubungan kalian?"tanya Arumi, meskipun jawabannya sudah Rayyan jelaskan ketika mereka bertiga di taman.


Arumi masih penasaran dengan lelaki ini,kenapa dia melakukan pengorbanan yang begitu besar kepada gadis yang bukan kekasihnya?


"Apakah itu terlalu penting? Dan bukankah tadi siang sudah di jelaskan ketika kita berada di taman?"


"Iya, aku masih ingat! Cuma aku heran,kenapa kau mau melakukan hal bodoh semacam itu?"


"Apakah kau tidak suka bila aku membantu Enny? Bukankah dia sahabatmu,seharusnya kau berpihak kepadanya?"


"Justru aku menanyakan ini karena aku berpihak kepadanya.Dia sahabatku,aku tidak mau kelak dia merasa bersalah atas pengorbanan yang telah kau lakukan!"


Rayyan diam sejenak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2