
"Ma'afkan aku Yan! Aku telah membuatmu kecewa."ucap Enny lirih,tangannya yang tengah salaman dengan Rayyan bergetar ...
Kendatipun situasi yang mereka hadapi saat ini bukan salahnya,tapi Enny tetap merasa bersalah ketika melihat Rayyan begitu kecewa.
Rayyan tersenyum ... senyum yang nampak sekali dipaksakan.
"Nggak apa-apa! Aku telah terbiasa kecewa dalam hidup ini.Mungkin kali ini akan terasa berat,tapi aku akan mecoba belajar melewatinya."ucap Rayyan berusaha tegar sambil melepaskan salaman Enny.
Beberapa saat hening mencekam,aneka bunga yang tumbuh indah di seantero taman beserta rerumputan yang menghijau tak satupun yang bergoyang.Sang bayu pun sepertinya enggan tuk berhembus,takut di tuding sebagai biang kerok perusak keheningan.
Rayyan diam ..
Enny diam ....
Yang terdengar hanya deru mesin kendaraan yang berlalu-lalang.
Kedua insan yang memiliki hubungan status tak jelas itu larut ke dunia khayal masing-masing.
Rayyan menganggap ini terlalu cepat.Rayyan merasa Enny telah memaksanya masuk ke satu tema yang ia sendiri belum siap untuk mengutarakannya.
Sebenarnya Rayyan ingin benih cinta yang ada dihatinya tumbuh secara normal dan wajar,tak ingin cepat mekar apalagi layu sebelum berkembang.
Tapi perbincangannya dengan Enny barusan membuat ia berkesimpulan bahwa benih cinta yang mulai tumbuh dihatinya harus segera di singkirkan,kalau tidak hal ini akan menjadi duka yang berkepanjangan.
"Yan! kamu nggak apa-apa?" Akhirnya Enny kembali memecah keheningan setelah keduanya agak lama terdiam.
Rayyan tak menjawab,ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau membenciku ...?"
Rayyan kembali menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kau marah ...?"tanya Enny kembali sambil menundukkan kepalanya.
"Marah ...? Apa aku punya hak untuk itu?"jawab Rayyan sambil menoleh Enny yang sedang menunduk.
"Sekali lagi ma'afkan aku Yan!"ulang Enny kembali.
"Enny! Kau tak perlu berulang kali mengucap kalimat itu.Kau nggak salah,yang salah itu justru aku,aku salah karena tidak belajar tahu diri."
Enny terdiam kembali dengan tetap menundukkan kepalanya.Kata-kata Rayyan barusan seolah kidung sendu yang menyayat kalbu,menusuk sampai ke relung hati yang teramat dalam.
Meskipun kecewa,tapi Rayyan tak berusaha menyalahkan dan mencari kambing hitam.Ia pasrah menerima nasibnya yang tidak beruntung.
Di satu sisi Enny merasa kasihan terhadap Rayyan,tapi disisi yang lain ia juga tak bisa menerima Rayyan sebagai pacarnya karena berbagai alasan.
Alasan yang pertama tentu orang tuanya.Sejak lama Enny telah komitmen untuk tidak pacaran sebelum bisa membahagiakan keduanya.
Tapi alasan itu bisa saja Enny langgar kalau tidak memiliki alasan yang kedua.Dan alasan yang ke dua ini sebenarnya faktor dominan sehingga ia untuk sementara tak bersedia menjadi pacar Rayyan.
__ADS_1
Sampai detik ini Enny merasa tak memiliki getaran hati yang kuat terhadap Rayyan.Telah berulangkali ia mencoba menghadirkan rasa itu,tapi tak bisa.
Enny memang tak bisa memungkiri kehadiran Rayyan disisinya telah membuatnya merasa nyaman.Bahkan secara fisik dan perilaku,Rayyan juga termasuk kriterianya.
Tapi entah kenapa perasaanya terhadap Rayyan tidak sama dengan rasa yang dirasakannya ketika bertemu dengan pria yang di angkot dulu? Sangat beda dan entah kenapa?
Selain itu ada satu hal yang membuat Enny bingung,meskipun tak bisa menerima Rayyan sebagai pacarnya,tapi ia tak mau lelaki itu pergi meninggalkannya.Aneh kan?
Dan satu lagi,andai Rayyan ditakdirkan sebagai jodohnya,ia tidak akan menyesal menjadikan Rayyan sebagai imamnya.Aneh lagi kan?
'Yan,apakah kau masih mau ngantar aku pulang?"tanya Enny setelah tak mampu menjawab pertanyaan dari kebingungannya sendiri.
"Iya,tentu!Aku tidak akan meninggalkanmu disini.Aku akan mengantarmu pulang!"jawab Rayyan sedikit kaget dengan pertanyaan Enny,karena ia pun sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
***
"Enny! Ada apa Nak? Koq pulangnya hari ini agak lama?"tanya Ayah ketika keluarga kecil itu selesai makan malam
"Apa ada masalah?"sambung Ibu seperti khawatir.
"Nggak koq Bu! Nggak ada masalah.Cuma tadi ada sedikit tugas di kampus,makanya pulangnya agak telat."jawab Enny berbohong sembari menyibukkan diri mengumpulkan piring bekas mereka makan sekeluarga sambil dibantu si kembar.
"Syukurlah kalau begitu!"kata Ibu merasa tenang.
"Yah! Bu! Enny ke kamar dulu."pamit Enny setelah membereskan kerjaannya.
"Kak! Boleh ikut?"tanya si kembar berbarengan ketika Enny baru mau melangkah.
"Kalau nanya?"
"Nggak boleh!"
"Kalau maksa?"tanya si kembar lagi.
"Kalau maksa yah,mau bilang apa lagi? Orang kamarnya juga milik bersama."jawab Enny tersenyum.
"Kalau gitu kami maksa Kak!" Ana dan Ani ketawa.
"Kalian kemana kakak pasti ngekor!"ucap Enny setelah mereka berada di kamar.
"Makanya jangan punya ekor,kalau tidak mau di ekori."canda ana dan ani.
"Ada PR?"tanya Enny setelah ketiganya usai bercanda.
"Ya jelas adalah! Kalau nggak ngapain juga cepat-cepat masuk kamar."
"Kalau gitu ambillah bukunya,Biar cepat di kerjain!"perintah Enny.
"Buru-buru amat! Emang mau kemana sih,penganten lelakinya aja belum datang?"canda Ana.
__ADS_1
"Iya! Tuan Kadinya juga belum!"tambah Ani menimpali.
Enny ketawa ...
"Yang mau nikah siapa? gundul kalian itu?"
"Habis buru-buru amat, kayak mau akad nikah aja!"celetuk Ana.
"Bukan mau akad nikah,tapi malam pertama!"timpal Ani lagi.
"Hus! Masih anak kecil udah ngomong malam pertama.Tau apa kalian malam pertama?" Enny pura-pura marah dengan memelototkan matanya.
"Emang kakak tahu?"tanya Ana tanpa memperdulikan mata kakaknya yang lagi melotot.
"Iih ... heran! Anak jaman sekarang koq nggak ada takutnya?"gumam Enny.
"Kakak tahu nggak?"desak Ani lagi.
"Iya Kakak jelas tahulah!"
"Kayak mana?"tanya si kembar hampir bersamaan.
"Habis malam pertama malam kedua,setelah itu malam ketiga,malam ke empat teruuus sampai kiamat."jawab Enny asal.
"Pernah nengok bidadari ngawur?"tanya Ana kepada kembarannya.
"Emang ada?" Ani pura-pura bodoh.
"Yang ngomong malam pertama barusan!" Ana dan Ani terkekeh seolah meledek kakaknya.
"Kakak hitung sampai 3,kalau kalian belum mau ngambil bukunya Kakak nggak mau bantu lagi!"ancam Enny sewot.
"Hahaha ...." Si kembar bukannya takut,malah tawa keduanya makin menjadi.
***
Enny menyuruh si kembar tidur duluan setelah ia selesai membantu mengerjakan PR keduanya.
Selang beberapa saat kemudian si kembar sudah tertidur pulas.Enny mencium kening kedua adik kembarnya itu sebelum ia meleburkan diri ke alam lamunannya.
Rayyan merupakan sosok pertama yang hadir dalam lamunannya.Enny teringat kejadian sore tadi,saat lelaki itu kecewa dengan segala ungkapannya.
Tapi kendatipun begitu Rayyan tak membenci dan mendendam.
Sikap gentleman itu terlihat ketika Rayyan mengantarnya pulang.
Enny merasa simpatik dengan sikap yang Rayyan tunjukkan.
Enny mencoba menelusuri hatinya kembali,apa benar tidak ada setitik cinta dihatinya buat lelaki itu?
__ADS_1
Bersambung ...