Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Bukan Sekedar Harapan.


__ADS_3

Pagi inI Rayyan berangkat dari rumah kost lebih cepat dari biasanya.Rayyan tahu terlalu cepat,tapi ia merasa ini lebih baik ketimbang Enny yang lebih dulu sampai dan harus menunggunya.


"Tumben Yan? Nggak biasanya... !"tanya Asrul ketika Rayyan memanaskan keretanya.Sudah menjadi kebiasaan Rayyan setiap pagi memanaskan kereta sebelum ia berangkat.


"Ada proyek besar!"jawab Rayyan seloroh.


"Kalau Kira-kira membutuhkan tenaga ahli kita siap membantu Yan?"kelakar Asrul sambil ikut memanaskan keretanya juga.


"Kali ini tidak membutuhkan tenaga ahli Rul!"jawab Rayyan senyum.


"Jadi tenaga apa yang dibutuhkan?"


"Tenaga dalam sama tenaga medis!"ujar Rayyan sambil tertawa."Tapi yang lebih urgen sih tenaga medis,karena proyek ini berkaitan dengan luka hati."sambungnya tetap ketawa.


Tak ayal Asrul pun ikut tertawa,tapi kalimat yang terakhir Rayyan sampaikan membuat pikirannya langsung dicekoki berbagai pertanyaan.


Apa sih maksud Rayyan dengan kalimat yang barusan ia ucapkan? Apa dia lagi patah hati? Koq nggak pernah cerita kalau udah pacaran? Ah! Barangkali cuma bercanda,gumam Asrul positif thinking.


"Soal konsumsi gimana?"tanya Asrul dengan nada bercanda.


"Nah,itu dia yang mesti kau rembukkan sama uni Salamah,bisa nggak uni Salamah menyediakan nasi kotak 5000 Pcs?"


"Kotak besar apa kotak kecil?"tanya Asrul ketawa.


"Ya kotak besarlah! Masak proyek besar konsumsinya kotak kecil? Cuma usahakan kotaknya sebesar kotak korek api."jawab Rayyan sambil ketawa.


"Hahaha... Itu yang makan manusia apa jenglot?"tanya Asrul masih terbahak-bahak.


"Iya! yang mau ngabisin memang dua saudaramu itu, jenglot sama jin ifrid!"


Kedua sahabat akrab itu tertawa terbahak-bahak sampai air mata keduanya keluar seperti orang yang habis menangis.


"Rul... Rul! Namanya juga proyek halusinasi!"ujar Rayyan menutup candaannya.


"Duluan aku Yan!"ucap Asrul sambil menstarter kereta yang sebelumnya sempat ia matikan setelah usai bercanda, "Gara-gara kau aku bisa terlambat nanti!"sambungnya.


"Justru gara-gara kau aku yang terlambat!"jawab Rayyan nggak mau kalah.


Setelah itu keduanya sepakat untuk berangkat.Yang satu ke timur dan satu lagi ke barat,karena memang tujuan mereka tidak sama dan tak searah.Asrul kuliah,sementara Rayyan ingin menjumpai gadis yang telah berjanji dengannya dini hari tadi untuk ketemuan pagi ini.


Jam 8.30 WIB Rayyan sampai ke tempat biasa ia menjemput Enny, setengah jam lebih cepat dari waktu yang mereka tentukan.

__ADS_1


Rayyan mencari kedai kopi di sekitar lokasi.Barangkali dengan menyeruput secangkir kopi pagi ini,kejenuhan menunggu akan dapat teratasi.


Lima menit sudah berlalu dari waktu yg dijadwalkan,tapi gadis yang di tunggunya belum juga datang.Kendatipun begitu Rayyan tetap optimis dan yakin Enny tak akan mengingkari janji.


Rasa optimisme Rayyan terbuktii.Dua menit kemudian,dari kejauhan nampak gadis itu sedang melangkah terburu-buru, rambutnya yang panjang ia biarkan terurai dibelai angin sepoi-sepoi pagi itu.Meskipun dari jauh,tapi kecantikan gadis itu nampak bak mutiara yang sedang berkilau.


Setelah sampai ditempat yang dijanjikan, bidadari itu celingak-celinguk seperti orang yang sedang mencari sesuatu.


Rayyan yang melihat adegan itu langsung membayar kopi yang ia pesan,Rayyan takut gadis itu balik kembali setelah tidak menemukan apa yang ia cari.


"Udah lama menunggu?"tanya Enny setelah Rayyan berada didepannya.Karena sebelumnya Enny sempat melihat Rayyan keluar dari kedai kopi.


"Lumayan untuk menghabiskan secangkir kopi."jawab Rayyan datar.


"Ma'af terlambat!"ucap Enny seolah merasa bersalah.


"Tak perlu.Indonesia sudah terkenal jam karetnya koq."ujar Rayyan seperti menyindir.


"Aku tak pernah memiliki jam seperti itu!"sanggah Enny.


"Tak pernah memiliki, tapi sering menggunakannya."


"Udah bisa berangkat?"tanya Rayyan mengalihkan pembicaraan.


Tanpa menjawab Enny langsung duduk manis di boncengan.


Selama perjalanan keduanya diam membisu.Mulut mereka seolah terkunci dan tak punya keinginan untuk membukanya.


"Nggak usah Yan! Aku nggak bisa lama" Enny baru membuka mulut katika Rayyan membelokkan Keretanya ke sebuah mini market.Enny sudah hapal betul kebiasaan Rayyan yang selalu membelikan cemilan ataupun minuman setiap mereka menghabiskan waktu berduaan.


"Oke!"jawab Rayyan mengurungkan niatnya sambil melanjutkan perjalanan kembali.


***


Kali ini Rayyan membawa Enny ke sebuah taman yang berada disamping stadion teladan.Taman yang cukup luas, tapi sayang sepertinya masih perlu perhatian dan perawatan.


"Yan,kalau memang tidak ada yang perlu mau kau sampaikan,tolong antar aku pulang!"pinta Enny membuka perbincangan setelah hampir sepuluh menit keduanya berada di taman tanpa kata.Rayyan yang mengajaknya ketemuan cuma diam dan sesekali memandanginya,lalu kemudian mengalihkan tatapannya kembali ke tempat yang lain.


"Keperluan apa kau mengajak aku kemari Yan?"tanya Enny kembali setelah merasa ucapannya tadi tidak di gubris Rayyan.


"Ada yang ingin ku tanyakan padamu." Akhirnya Rayyan buka suara.

__ADS_1


"Tentang apa?"


"Banyak hal!" Rayyan diam sejenak.


"Kenapa akhir-akhir ini kau menghindariku?"sambung Rayyan.


"Ooo... jadi dengan alasan itu kau menelepon aku semalam?' Enny menatap Rayyan dengan tajam.


"Bukankah sejak awal sudah ku ingatkan agar jangan menghubungiku ketika dirumah? Aku benci kamu Yan!"sambung Enny ketus, tapi matanya yang sembab karena semalam terlalu banyak menangis mulai diselimuti awan.


"Aku tahu kau membenci aku karena tindakan itu,tapi itu semua kulakukan hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja,tak lebih dari itu!"


"Apapun alasannya,aku tetap tidak suka tindakan bodoh seperti itu."


"Maafkan aku Enny! Mungkin aku terlalu takut kehilangan kamu."


"Takut kehilangan?" Enny tertawa meski nampak sekali dipaksakan. "Bukankah diantara kita tidak ada ikatan apa-apa? Jadi kenapa kamu harus takut kehilangan?"sambungnya.


"Aku sadar diantara kita memang tidak ada ikatan apa-apa,tapi kamu juga harus ingat bahwa kau telah meng-imingi aku harapan yang besar.Dan perlu kamu tahu,sampai kapanpun harapan itu akan tetap kuperjuangkan!"


"Harapan yang mana? Apa kau ingin mengungkit tentang calon imam yang pernah kusebutkan?"


"Iya! Boleh saja ucapanmu itu kau anggap bak angin berlalu,tapi bagiku ucapan itu bukan sekadar harapan,buatku ucapanmu tersebut adalah tujuan."


"Dan semua yang kulakukan ini merupakan bagian dari upaya untuk menggapai tujuan itu!"sambung Rayyan dengan nada yang tegas.


"Termasuk mengajari aku untuk membencimu?"tanya Enny yang tak kuasa lagi menahan air matanya.


"Termasuk bila aku takut kehilangan kamu!"jawab Rayyan seolah tak dengar pertanyaan Enny barusan.


Setelah itu keduanya kembali membisu.Rayyan menatap ke kejauhan sambil memain-mainkan kunci keretanya, sementara Enny tertunduk dan menangis.


"Enny, kenapa kamu menangis?"tanya Rayyan setelah agak lama Enny terisak.


"Nggak apa-apa!"jawab Enny menggelengkan kepala.


"Apa kamu ada masalah?"


Enny kembali menggelengkan kepalanya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2