
Pak Asrul batuk-batuk kecil terlebih dahulu sebelum menyambung ceritanya kembali.
"Waktu berlalu,hidup pun terus berjalan.Ketika Rayyan duduk di kelas tiga SMA,Rodiah adiknya duduk di kelas satu SMK,Ibunda tersayang berpulang ke rahmatullah."
"Ibunya pergi tepat sebulan sebelum Rayyan mengikuti ujian lulus-lulusan.Ditengah hati yang masih berselimut duka,Rayyan pun menghadapi UAN (Ujian Akhir Nasional) dengan konsentrasi yang terpecah karena ditinggal Ibu tersayang yang selama ini menjadi motivasi terbesar buat Rayyan dan Rodiah agar tekun belajar dan berprestasi."
"Sejak SD kakak beradek itu memang selalu menjadi juara satu di kelasnya dan mendapat Bea Siswa dari pemerintah atas prestasi yang diraih keduanya."
"Tapi meskipun masih dalam suasana berkabung Rayyan si anak jenius itu tetap lulus dengan predikat sebagai siswa dengan nilai tertinggi se-Kabupaten Tapanuli Selatan."
"Rayyan mendapat jalur undangan dan Bea Siswa dari beberapa universitas yang ada di ibukota propinsi,Medan.Tapi Rayyan tak mengambil satupun peluang dan kesempatan itu,dengan alasan tak sanggup hati meninggalkan adeknya yang beranjak gadis yang masih butuh pengawasan dan perhatian agar tidak terjerumus ke lembah pergaulan bebas yang membuat anak-anak muda sekarang kehilangan daya kreatifitasnya."
"Setahun kemudian ketika Rodiah duduk di bangku kelas dua SMK,paribannya yang usianya 5 tahun lebih tua dari Rodiah datang meminangnya."
"Rodiah menerima pinangan paribannya tersebut tanpa berpikir panjang.Rodiah rela menikah muda dan putus sekolah agar tak menjadi penghalang bagi abangnya untuk meneruskan pesan dan keinginan Ibunda."
"Awalnya Rayyan menentang dan tidak menyetujui keputusan adiknya,tapi gadis yang berhati tulus itu dengan berbagai alasan akhirnya sanggup memberikan pengertian terhadap abangnya."
"Dua minggu setelah pernikahan adiknya,dengan sedih hati Rayyan pamit dan pergi meninggalkan kampung halaman,tanah tempat kelahiran tercinta.Meninggalkan berjuta kenangan demi sebuah cita-cita,demi janji terhadap almarhumah Ibunda."
"Rayyan tak lupa menziarahi makam Ibunya.Rayyan membacakan Surah Al-Fatihah,Al-Ikhlas dan Al-Mau'zatain serta menengadahkan tangan,berdo'a kepada Allah SWT semoga almarhumah Ibunda ditempatkan ditempat yang sebaik-baiknya ,juga berharap pahala dari ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan tadi dilimpahkan kepada almarhumah Ibunda."
"Setelah selesai berdo'a,Rayyan memeluk pusara ibunya ,dan air mata itupun tumpah tak terbendung lagi.Terkenang kembali semua kenangan yang dilalui bersama Ibu,dari yang bahagia sampai kenangan pilu.Rayyan menumpahkan selaksa rindu yang tertumpuk di dasar kalbu dengan memeluk erat pusara Ibu."
Pak Asrul berhenti sejenak,matanya memerah tergenang air bening yang dibendung kelopak matanya.
Sama seperti Pak Asrul,aku juga tak kuasa menahan air mata.Dadaku terasa sesak mendengar kisah pilu ayah.
__ADS_1
Kemudian Pak Asrul melajutkan kisahnya kembali ...
"Kisahku dan kisah Ayahmu setali tiga uang,nyaris mirip.Cuma aku sedikit lebih beruntung,aku masih memiliki kedua orang tua saat datang ke Medan ini."
"Seperti Rayyan aku juga anak sulung,punya adek satu-satunya yang bernama Kayla.Aku dan Kayla adalah anak yang berprestasi.Sering memenangi lomba cerdas-cermat tingkat SD se- kota Pematang Siantar."
"Tapi sayang setelah tamat SD Kayla tak mau melanjutkan lagi karena kererbatasan ekonomi.Kayla memilih membantu ibu jual gorengan."
"Aku dan Kayla terlahir dari keluarga yang miskin.Ayahku cuma seorang buruh perkebunan.Sementara Ibu hanya seorang ibu rumah tangga yang nyambi jual gorengan ketika pekan."
"Setelah tamat SMK,melihat ekonomi orang tua yang makin terpuruk karena Ayah sering sakit-sakitan,aku tak pernah berkhayal dan berpikir untuk kuliah lagi."
"Tapi Ayah dengan segala support dan harapannya menginginkan aku agar tetap melanjutkan sekolah."
"Kau anak laki-laki satu-satunya yang Ayah harapkan mampu mengangkat martabat keluarga ini.Meskipun Ayah sakit- sakitan,selama Ayah masih diberi kesempatan hidup Ayah akan terus berjuang agar kamu tidak merasakan seperti apa yang Ayah rasakan."
"Sampai detik ini aku tak mampu menahan tangis setiap mengingat nasehat Ayah waktu itu." Pak Asrul menundukkan kepalanya agak lama.sesekali bahunya terangkat karena sesunggukan.
Dua atau mungkin tiga menit kemudian baru Pak Asrul mengangkat kepalanya kembali setelah mengusap matanya yang mulai nampak sembab.
"Dengan kisah hidup yang hampir mirip,aku dan ayahmu merasa senasib dan sependeritaan.Ditambah chemistry yang terjalin diantara kami kala pertama bertemu di terminal Amplas waktu itu,membuat kami sepakat untuk nge-kost bareng,karena memang sama-sama tidak punya keluarga yang mau dituju di kota ini."kata Pak Asrul.
Tiba-tiba Pak Asrul berdiri dari tempatnya.
"Ke kamar mandi sebentar..."kata Pak Asrul sambil melangkah.
Mataku mengikuti Pak Asrul yang melangkah menuju halaman belakang lapo tuak itu.Aku melihat beliau memasuki sebuah ruang persegi empat yang berdinding tepas,tapi tidak memiliki atap.
__ADS_1
Aku menduga tempat itu WC,tempat bagi pelanggan lapo tuak itu buang hajat.
Selama Pak Asrul berada di kamar mandi,aku banyak merenung dan berpikir.
Berbagai pertanyaan menumpuk di benakku tanpa terjawab.
Sampai saat ini,sebatas kisah yang dituturkan Pak Asrul aku merasa belum bisa mengambil kesimpulan ayah itu sosok seperti Apa?
Kenapa persepsi yang bunda tanam selama ini di otakku tentang ayah begitu kontradiksi dengan kisah yang dituturkan pak Asrul?
Siapa diantara kedua orang ini yang benar?
Bunda atau pak Asrul?
Sebatas kisah yang disampaikan pak Asrul barusan,aku merasa ayah bukanlah orang jahat seperti yang sering bunda sebut.
Tapi pak Asrul si pemabuk itu tentu membela sahabatnya,jangan-jangan cerita yang disampaikannya tadi hanya sebuah settingan belaka.
Koq bisa kisah hidup keduanya mirip sekali? Kalau ayah dan pak Asrul orang baik,kenapa keduanya mesti masuk penjara?
Tapi memang fakta tak bisa dipungkiri bahwa tidak semua orang yang berada di penjara itu orang jahat.Ada beberapa kasus orang baik yang dijebloskan ke dalam penjara karena berbagai alasan,alasan kepentingan atau barangkali alasan politik.
Ah ...! Entahlah? Suka bingung kalau sudah nyerempet ke politik.
Tapi Bunda juga selama ini cuma bilang,Ayahmu jahat,Ayahmu bukanlah orang yang layak dan pantas dijadikan sebagai imam atau panutan,tapi Bunda tidak pernah merinci kejahatan yang seperti apa yang pernah ayah perbuat selama ini.
Bunda juga tidak pernah memberikan alasan kenapa Ayah tak bisa dijadikan imam dan juga sebagai panutan?
__ADS_1
Apakah sebuah pernyataan tanpa di dukung dengan alasan yang kuat bisa diterima? Bukankah itu yang disebut hoaks? Mumet...
Bersambung...