Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Lelaki Setengah Dewa


__ADS_3

"Solusi apa?"tanya Enny tidak begitu tertarik.


"Aku berharap kau tetap kuliah Enny!"


"Dengan cara apa?"


"Kemaren aku sempat bilang memiliki sedikit tabungan,kau boleh memakainya untuk melanjutkan kuliahmu."


"Apa... !" Enny kaget,tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kau bisa memakai tabunganku itu untuk melanjutkan kuliahmu."ulang Rayyan mencoba menjelaskan.


"Yan, apa kau sudah gila? Bukankah kau juga membutuhkannya untuk masuk kuliah tahun depan?"


"Aku sudah memutuskan nggak kuliah lagi. Jadi kau bisa memakainya."


"Aku nggak bisa! Kau memang betul-betul gila Yan!"


"Iya! Aku memang sudah gila! Sejak jumpa pertama kali aku memang sudah gila padamu, dan aku bisa gila benaran kalau kau tak mau menghargai solusi yang kutawarkan."


"Aku tetap nggak bisa Yan.... "jawab Enny menangis pilu, ia terenyuh dengan apa yang dilakukan Rayyan.Kenapa lelaki ini terlalu baik?


"Yan, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?"tanya Enny masih terisak.


"Apakah menurutmu aku sedang mabuk?"


"Tapi apa alasanmu melakukan semua ini?"


"Apakah untuk melakukan sesuatu hal yang baik harus memiliki alasan?"jawab Rayyan bertanya balik.


"Yan, aku masih ingat apa yang dulu pernah kau bilang,apapun yang dilakukan harus tetap memperhitungkan untung dan ruginya.Jadi keuntungan apa yang akan kau dapatkan dengan melakukan tindakan bodoh ini?"


"Enny, keuntungan tidak selamanya harus berbentuk materi. Kalau materi yang menjadi tolak ukur dari keuntungan, apakah menurutmu masih ada orang yang mau bersedekah, berinfaq, menderma dan berbuat baik?"


"Mereka semua melakukan itu tetep berharap mendapat keuntungan, tapi bukan keuntungan yang bersifat materi.Meraka percaya ada Tuhan yang akan membalasnya dengan keuntungan yang lebih Haqiqi."sambung Rayyan.


Enny terdiam.


Enny merasa tidak memiliki kata sanggahan untuk kalimat yang barusan Rayyan ucapkan.Tapi meskipun begitu Enny tetap tidak bisa menerima kebaikan pria itu.


"Yan,Bukan aku nggak menghargai solusi yang kau tawarkan,hanya saja aku takut ini akan jadi masalah di belakang hari."


"Enny,masalah apa yang kau takutkan?"


"Apakah kau bisa memprediksi takdir? Bukankah kita sebagai hamba yang dhaif hanya mampu berusaha menggapainya, sementara ada Sang penentu yang menetapkan segalanya?"


"Aku takut takdir yang akan kita jalani nanti tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan saat ini.Ketika itu terjadi, bukankah yang kau lakukan ini akan menjadi sia-sia? Aku takut menjadi wanita yang paling kau benci di dunia ini Yan!."sambung Enny memegang jemari Rayyan dan menumpahkan tangis pilunya di bahu lelaki yang setengah dewa itu.


Rayyan lama terdiam mencerna makna kalimat yang Enny ucapkan.


"Apakah kau mau berjuang untuk takdir yang kita harapkan terwujud?"tanya Rayyan.


"Apakah kau ragu bahwa aku juga meratap dan berdoa agara takdir itu berpihak kepada kita?"tanya Enny balik.

__ADS_1


"Enny, buatku itu sudah cukup sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang kau anggap bodoh ini.Andai kelak kita tidak berjodoh, aku janji tidak akan menjadikanmu sebagai wanita yang paling kubenci di dunia ini.Justru kalau kau menolak solusi yang kutawarkan, aku akan membencimu selama hidupku!"


Enny makin terenyuh makin terisak pilu...


"Yan, aku tetap tidak bisa... Huk... Huk... Huk... Tolong jangan paksa aku Yan! Huk … Huk … Huk …."ratap gadis itu mengiba sambil memukul-mukul pundak kokoh lelaki setengah dewa itu.


Rayyan tetap pada pendiriannya, ingin membantu gadis itu agar tetap bisa kuliah. Sementara Enny juga bersikeras tak bisa menerima kebaikan lelaki itu, karena takut kemudian hari akan menjadi masalah.


Perdebatan sengit pun terjadi diantara dua insan yang mendambakan takdir yang sama itu.


Dengan sebuah janji yang di sepakati bersama akhirnya Rayyan memenangkan debat itu.


Manakala takdir tidak berpihak kepada mereka,maka tidak ada satupun diantara keduanya yang boleh menyalahkan dan membenci yang lain, begitu janji yang mereka sepakati.


Rayyan tau sebenarnya janji yang mereka sepakati tersebut hanya menyudutkan posisinya, tapi demi kebahagian gadis yang di cintainya, Rayyan telah merelakan diri seperti lilin yang rela luluh demi menerangi.


Ia tidak perduli andai dunia dan penghuninya menghujatnya telah melakukan tindakan yang paling bodoh.Baginya kebaikan itu akan tetap ada nilainya meskipun dilakukan dengan cara yang bodoh.


Setelah keduanya deal, mereka terbentur kembali dengan masalah yang lain.Enny yang masih setengah hati dengan rencana itu,tidak mau kalau orang tuanya tau hal ini.Karena ini bakal tidak akan mendapat restu orang-tuanya.


"Yan, kurasa kita harus membatalkan rencana ini!"


"Kenapa? Bukankah kita telah menyepakatinya?"tanya Rayyan tidak mengerti dengan sikap gadis itu.


"Ini bakal tak direstui orang tuaku."


Rayyan memutar otak dan mencari cara agar rencana ini berjalan seperti yang mereka inginkan.


"Ide apaan?"tanya Enny.


"Bagaimana kalau kita meminta bantuan sahabatmu?"


"Maksudmu Arumi?"


"Iya."jawab Rayyan menganggukkan kepalanya.


"Untuk apa?"


"Aku ingin kau bisa mengatur pertemuan dengan Arumi.Nanti kita akan bahas langkah berikutnya."


"kapan?"


"Lebih cepat lebih baik.kalau besok gimana?"


"Aku akan menghubunginya nanti!"


Setelah itu mereka bergegas pulang.


***


Sebenarnya Arumi lebih senang naik angkutan umum ketimbang membawa kendaraan sendiri, tapi karena udah janji dengan Enny ketemuan selepas kuliah di taman kota, terpaksa Enny bawa kereta sendiri karena nggak mau repot bolak-balik naik angkot.


Arumi sudah kangen banget pingin ketemu sahabat akrabnya itu,karena sudah seminggu lebih Enny nggak masuk kuliah.

__ADS_1


Setiap dihubungi yang jawab selalu operator,"Maaf! Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi bla-bla-bla.... " Kalau udah gitu Arumi merasa jengkel sampe ke ubun-ubun.Pingin rasanya membanting HP-nya, tapi karena HP mahal, hehehe....Arumi mikir dua kali melakukannya.


Semalam ba'da shalat isya Enny menghubunginya.


"Tumben... !"sindir Arumi setelah Enny say to halo.


"Nggak boleh?"tanya Enny.


"Boleh aja sih! Aku cuma heran, koq nggak biasanya?"


"Aku ada perlu!"


"Perlu apaan?"


"Mau nggak jumpain aku besok?"


"Ada apa?"


"Mau nggak?!"


"Iih... sok ngancam! Ada apa sih?"


"Jawab dulu! Mau nggak jumpain aku besok?"


"Siap tuan putri! Dimana gerangan hamba besok bisa menjumpai tuan putri?"jawab Arumi seloroh.


"Arumi, aku lagi serius... !"ucap Enny memelas.


"Oke! Jumpa dimana?"


"Di taman kota!"


"Jam berapa?"


"Pulang kuliah!"


"Enny, aku udah kangen banget ama kamu, koq nggak kulah-kuliah sih? Ada apa?"tanya Arumi mengalihkan pembicaraan.


Tiba-tiba HP yang ada dalam genggaman Arumi dalam beberapa saat terasa sunyi.Enny diam tak menyahut. Tapi samar-samar isak tangis terdengar jauh ditelinga Arumi.


"Halo... !"ucap Arumi.


Tak ada jawaban.


"Halo... !"ulang Arumi.


Tetap tak ada jawaban.


"Halo... !"ucap Arumi sambil meninggikan nadanya.


"Besok setelah jumpa kita bahas semuanya!"jawab Enny setelah Arumi menjerit-jerit mengulang kata Halo sambil mematikan HP-nya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2