
Rasa kecewa yang Rayyan rasakan tidak lantas membuat dirinya larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.Kekecewaan itu malah Rayyan jadikan sebagai motivasi agar lebih giat lagi mengais rezeki untuk bekal masuk kuliah tahun depan.
Cara itu merupakan langkah positif menurut Rayyan untuk menghilangkan kekecewaan terkait cintanya yang layu sebelum berkembang.
Tanpa terasa kejadian itu sudah sebulan berlalu.Move on secara total? Tak mungkin! Sesekali kejadian itu masih terkenang juga,seperti malam ini.
Perenungan demi perenungan yang ia lakukan ketika teringat momen itu,membuat Rayyan merasa perlu untuk berdamai dengan masa lalu.Toh,dibalik semua peristiwa pasti ada hikmah yang tersirat di dalamnya.Jadi tak bijak rasanya bila harus memendam kekecewaan yang berkepanjangan.
"Duluan aku Yan!"ujar Asrul ketika melihat Rayyan melakukan aktivitas barunya,berkhayal sebelum tidur.
"Kemana?"tanya Rayyan.
"Tidurlah! Emang mau kemana?"
"Aku kirain mau ngajak ke tempat uni Salamah!"
"Mau ngapain?"tanya Asrul.
"Mana tahu kamu kangen boncengannya?"
"Hahaha ..." Asrul ketawa.
"Lama-lama aku curiga sama kamu Yan!"sambung asrul seusai ketawa.
"Kenapa?"
"Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba kau teringat uni Salamah.Jangan-jangan kau lempar batu sembunyi tangan?"
"Lempar batu kena dengkul mu itu ...."
"Hahaha ...." Asrul ketawa,Rayyan juga.
"Udah Yan! Aku tidur duluan!"sambung Asrul.
"Ya udah.Tapi jangan ngorok! Ngeri aku dengarnya!"
"Ngeri apanya?"
"Dengar suaranya! Suaranya kayak astuti (Astrea Tahun Tinggi) tanpa knalpot!"
"Hahaha ...." Asrul ketawa lagi.
"Udahlah Yan! Becanda terus kapan tidurnya?"sambung Asrul sambil memejamkan matanya.
Tidak sampai seperempat jam,Asrul benar-benar ngorok seperti semalam.Meskipun suara dengkurannya lebih halus ketimbang sebelumnya,tapi tetap suara itu membuat Rayyan merasa terganggu.
Kendatipun begitu Rayyan memilih membiarkan sahabatnya merasa nyaman ketimbang harus mengusiknya.
Rayyan menganggap suara dengkuran sahabatnya itu sebagai soundtrack untuk lamunannya.
__ADS_1
"Kalau takdir kita ditentukan berjodoh,dengan ikhlas dan tangan terbuka aku akan menyambutmu sebagai imamku." Kalimat yang Enny ucapkan kala itu sering terngiang dibenak Rayyan,seperti malam ini.
Suara dengkuran Asrul tak mampu mengaburkan makna kalimat itu di pikirannya.
Dibalik kekecewaan yang Rayyan rasakan,kalimat itu mampu menghadirkan secercah harapan.
Keinginan untuk menjadikan Enny sebagai ibu dari anak-anaknya kelak masih terbuka dan tak menutup kemungkinan,meskipun tanpa harus menjalani proses pacaran.
Bila mengedepankan ego,Rayyan merasa apa yang telah Enny lakukan sangat mengusik harga dirinya sebagai lelaki,ia di tolak sebelum mengutarakan cintanya.
Tapi bila mau mencermatinya dengan hati,apa yang dilakukan Enny ada juga baiknya.Lebih baik kecewa itu datang lebih awal ketimbang ia datang disaat cinta sudah mengakar.Sakit memang,tapi akan lebih sakit bila itu terjadi disaat kenangan sudah menumpuk.
Tepat jam 2.00 WIB dini hari,alarm ponsel yang Rayyan atur berdering pertanda ia harus menyudahi aktivitas begadangnya,karena aktivitas yang lain sebagai driver ojek on line harus tetap ia jalani besok demi cita-cita dan tujuannya datang ke ibu kota ini.
Satu hal yang bisa Rayyan simpulkan dari perenungannya malam ini,ia harus menemui Enny kembali.
Di balik itu ada juga rindu.Tapi bolehkah merindukan orang yang tak berharap di rindukan? Pertanyaan yang menggelitik hati Rayyan.
***
Apakah rindu pertanda cinta? Entah kenapa Enny merasa dirasuki perasaan itu,setelah hampir sebulan tak bertemu lagi dengan Rayyan.
Enny mencoba mengidentifikasi hatinya,apakah cinta itu telah mulai tumbuh?
Enny berharap rindu ini bukan rindu biasa.Ia ingin rindu ini satu pertanda bahwa cinta telah hadir di hatinya yang lama tak terisi.
Tapi memang cinta tak bisa dipaksakan.Sekeras apapun Enny mencoba menghadirkannya,cinta tetap enggan untuk datang.
Lalu ada apa dengan rindu ini? Setelah menelusuri hatinya secara seksama,ternyata rindu itu tidak beda ketika ia merindukan sahabatnya Arumi apabila tak jumpa dua hari saja.Rindu yang tidak berdasarkan cinta.
Enny menangis ... menangisi nasib pria malang itu.Apa yang salah dengan Rayyan? Selain tampan Rayyan juga pria yang baik,tapi kenapa cinta itu tak mau hadir? Kenapa ...?
Enny membenamkan wajahnya ke bantal sambil sesekali menepuk kasur yang memiliki nilai historis itu.
Enny menjerit ... apa salah Rayyan? Apa yang salah dengan pria malang itu? Enny berteriak ... berteriak sekencang-kencangnya untuk menghempaskan selaksa galau hatinya,tapi takkan satupun orang yang bisa mendengar,karena teriakannya tertahan di rongga dada.
Tak ayal,apa yang enny lakukan telah membuat Ana terbangun dari tidurnya.
Ana duduk tanpa disadari Enny.
Ana memperhatikan kakaknya yang tengah telungkup sambil meremas ujung sprei,sebelah tangannya lagi memukuli kasur yang membuatnya terbangun.
Sesekali tubuh kakaknya juga berguncang seperti orang yang sesenggukan.
Ana tidak tahu pasti,kakaknya sedang mengalami mimpi buruk atau memang menangis sungguhan?
"Kak! Kakak kenapa ...?" Ana membangunkan Enny.
Enny kaget.Enny membalikkan badannya sembari berpura-pura tak ada yang terjadi.
__ADS_1
"Eh ... kamu udah bangun?"tanya Enny sambil mengusap matanya agar tak ketahuan sedang menangis.
"Kakak kenapa ...?"tanya Ana kembali.
"Emang kakak kenapa?" Enny balik nanya.
"Kakak nangis ya!"
"Nggak! Kakak nggak nangis koq!"jawab Enny berbohong.
"Kakak bohong! Ana melihat kakak tadi menangis."
Enny salah tingkah karena ketahuan membohongi Ana.
Sebelum Enny bisa menguasai keadaan,tiba-tiba Ana memeluknya.
"Ana kenapa ...?"tanya Enny bingung.
"Ma'afin Ana kak!"ujar bidadari kecil itu.
"Ana emang salah apa?"tanya Enny masih bingung.
"Ana dan Ani telah banyak nyusahin kakak!"
"Kata siapa?"jawab Enny sambil membelai rambut ikal adiknya itu.
"Iya,kami sering ngeledekin kakak,sering godain kakak,sering membuat kakak marah ..."
Enny menutup mulut Ana dengan telapaknya sebelum gadis kecil itu menyelesaikan kalimatnya.
"Ssst ... Ana jangan ngomong kayak gitu! Kakak nggak pernah merasa di susahin.Kakak malah senang punya adik yang lucu dan cantik kayak kalian.Kalian itu bidadari kecil kakak!"ujar Enny mencoba menyenangkan hati adiknya.
Usai mendengar ucapan kakaknya,gadis kecil itu malah menangis ...
"Kenapa? Ana kenapa lagi dek?"tanya Enny tambah bingung.Apa aku salah ngomong? gumam Enny.
"Kakak nangis barusan gara-gara kenakalan kami kan?"
Enny memeluk adiknya sambil mencium keningnya.
"Kakak akan jujur! Tapi janji,Ana jangan nangis lagi! Kalau nangis terus,ntar Ani juga terbangun."bujuk Enny sambil mengusap air mata adiknya.
Bidadari kecil itu mengangguk.
"Kakak tadi mimpi buruk,tubuh kakak diikat sama penjahat.Kakak minta tolong tapi tak satupun yang mendengar.Kakak menangis dan ingin memukuli penjahat itu,tapi tangan kakak juga terikat ..."jelas Enny berbohong.
Kata ustadz,berbohong demi kebaikan itu di perbolehkan,begitu seingat Enny.
Bersambung ...
__ADS_1