Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Flash Back


__ADS_3

"Bun ... siapa Enny Bun?" Seketika bunda kaget mendengar pertanyaanku.


Kendatipun bunda menyembunyikannya,tapi aku tetap dapat merasakannya.


Bunda diam,tak menggubris pertanyaanku.Bunda malah pura-pura sibuk dengan memainkan dan menekan keyboard yang ada di laptop-nya.


"Siapa Enny Bun?"tanyaku kembali mengulang kalimat yang tadi.


Reaksi Bunda tidak sama seperti saat pertama kali kutanya.Barangkali Bunda sudah menduga pertanyaannya akan ku ulangi lagi,sehingga Bunda dapat menguasai emosinya.


Melihat Bunda yang tak bergeming,aku mencoba menaikkan volume suaraku."Siapa Enny Bun?" Nadanya naik satu oktaf.


"Enny? Enny yang mana? Enny yang jual lontong?"jawab Bunda antara seloroh dengan pura-pura bodoh.


Agak lucu juga sih! Tapi aku berusaha menahan tawaku.


"Aku serius Bun!"


"Bunda juga serius"jawab Bunda dengan senyuman khas-nya.Senyuman manis yang sering membuat laki-laki mengaguminya.


"Bunda nggak tahu yang Aktar maksud Enny yang mana? Kalau Enny yang jual lontong katupek gule pakis itu orang padang,orang sini biasa memanggilnya uni Enny.'


'Kalau Enny yang jual lontong rasanya agak manis itu orang jawa,orang sini biasa memanggilnya Mbak Enny.Udah?!"jawab Bunda sembari menutup laptop-nya bergegas menuju kamarnya.


"Bun ...?!" Aku berusaha menahannya.


Bunda duduk kembali,mengurungkan niatnya semula.Dan sepertinya telah siap meladeni pertanyaanku.


"Bun ... aku nggak peduli soal lontong ...," Tiba-tiba Bunda tertawa sebelum aku menyelesaikan kalimatku.


"Yang aku pingin tahu,Bunda kenal enggak sama Enny ... Enny Wahyuni?" Bunda kaget dan terdiam seketika.


Bunda menundukkan kepalanya.


Aku terus bersabar menunggu jawaban Bunda.


Lalu Bunda memandangku agak lama.Aku nggak tahu apa yang ada di benak Bunda saat ini.


Kemudian Bunda mengalihkan pandangannya ke sudut yang lain dengan tatapan hampa.Barangkali imajinasi Bunda mundur ke beberapa puluh tahun yang lalu ...


***


Flash Back ...


Meskipun tidak sedang melenggang di atas red carpet atau catwalk ,tapi langkah gadis itu begitu anggun dan elegan bak model papan atas.


Hidungnya yang mancung,kulitnya yang putih mulus serta tingginya yang semampai membuat gadis itu bagaikan bidadari yang menampakkan wujudnya pagi itu.


Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan berderai ditiup angin sepoi-sepoi.


Sesekali gadis itu menengok jam yang ada ditangan kirinya,yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang seolah tersusun rapi.


Sesekali gadis itu juga memandang ke kejauhan,berharap transportasi on line yang di pesannya lewat sebuah aplikasi segera tiba.


Tak jarang mata-mata nakal para lelaki pengguna jalan yang lain melirik dan mengagumi kecantikan gadis itu.


Dua pemuda tanggung yang bau kencur juga tak ketinggalan berdecak kagum ketika melewati gadis itu.

__ADS_1


"Bro,gimana kalau aku punya cewek kayak gitu."kata salah satu pemuda tanggung itu kepada kawannya, berkhayal...


"Nggak usah halu Bro! Kencing aja belum lurus udah mimpi ngegaet cewek cantik kau.Hahaha ..."ledek kawan si pemuda tanggung itu sambil ngakak.


"Kan berkhayal nggak bayar Bro?"


"Bayar sih nggak bayar Bro.Cuma khayalan kau kahayalan Te Te,tau nggak kau khayalan Te Te,khayalan tingkat tinggi! Si Mirna yang kutilan aja belum bisa kau rontokkan,udah mimpi ke langit kau.Hahaha ...."


"Rontok?! Emangnya gigi rontok!"kata si pemuda tanggung ngedumel sambil ngakak juga.


Setelah kedua pemuda tanggung yang masih bau kencur itu berlalu bersama kisahnya yang tidak terlalu penting itu ...


Sang gadis kembali melirik jamnya,dan nampak wajah gadis cantik itu mulai was-was.


Biasanya gadis itu memilih naik angkot ke kampusnya dengan alasan ongkosnya lebih murah.


Tapi karena hari ini ada kegiatan kampus yang mengharuskannya hadir lebih cepat dari biasanya,terpaksa gadis itu memesan ojek on line.


Selang beberapa menit kemudian,sebuah kereta matic berhenti tepat di depan gadis itu.


Sang driver ojek on line itu terkesima melihat kecantikan calon penumpangnya,tapi karena masih mengenakan helm serta sebagian wajahnya tertutup masker membuat gadis itu tak menyadari kalau lelaki pengemudi ojol itu sedang memperhatikan dan mengaguminya.


"Ma'af kalau sedikit terlambat,soalnya tadi macet..."kata si pengemudi ojol itu sambil mempersilahkan sang gadis menaiki kereta dengan sopan.


"Sempat lama nunggunya tadi?"tanya sang driver memecah keheningan ketika keduanya sedang OTW (On The Way).


"Lumayan sih Bang."jawab gadis itu sedikit cemberut sambil sesekali melirik jam tangannya.


"Kenapa? Kayaknya gelisah amat?"tanya tukang ojek itu melihat gadis yang diboncengnya nampak was-was dan tidak nyaman.


"Lima belas menit?"


"Iya Bang!"


"Kalau jalanan nggak macet,biasanya sepuluh menit juga udah nyampe." Mendengar penjelasan tukang ojek barusan,sang gadis pun merasa tenang dan mulai menikmati perjalanan itu.


"Mmm ... boleh panggil adek?"tanya lelaki pengemudi ojol itu.


"Boleh aja Bang!"jawab gadis cantik itu karena melihat lelaki driver ojol ini sangat sopan.


"Kalau adek pingin lebih cepat,lima menit juga nyampe...."kata lelaki itu mulai berseloroh."Cuma nyampenya nggak ke kampus ...."


"Jadi kemana Bang?"


"Ke Rumah Sakit." Sang bidadari tersenyum mendengar banyolan lelaki itu.


Sepanjang perjalanan menuju kampus keduanya asyik mengobrol tentang berbagai hal,sesekali sang gadis tersenyum mendengar candaan lelaki itu.


Tapi terkadang mereka tertawa bersama bila sesuatu hal menggelitik hati keduanya.


Pertemuan singkat itu membuat mereka merasa akrab dan merasa waktu terlalu cepat berlalu.


"eh,omong-omong kalau boleh tau namanya siapa dek?"tanya lelaki itu,ketika tujuan gadis itu hampir sampai.


"Emang perlu Bang?"canda gadis itu.


"Sangat!"

__ADS_1


"Buat apa?"


"Obat!"


"Obat apa?"


"Obat kudisan!"jawab lelaki itu asal ceplos.


gadis itu ketawa ...


"Aku nggak rela namaku dibuat obat kudis, emangnya salep?" Gadis itu cemberut manja.


"Maksudku obat rindu ...."jawab lelaki itu meralat


"Iih ... gombal!!!"


"Suka?"


"Apanya?"


"Gombalannya?"


"-Pala lo bau menyan!" keduanya tertawa serempak.


"Serius! nama adek sebenarnya siapa?"tanya lelaki itu mulai serius.


"Nggak ah! Nanti di candain lagi."


"Nggak! Aku serius."


"Nama Abang dulu?" Malah gadis itu balik nanya.


"Nama aku Rayyan ... Rayyan Ahmad!"


"Nama yang bagus."puji gadis itu.


"Kalau Adek namanya siapa?"


"Enny Wahyuni"


"Siapa? Nggak dengar?" Rayyan pura-pura budek.


Gadis itu mendekatkan bibirnya ke telinga Rayyan.


"E-N-N-Y W-A-H-Y-U-N-I" Setengah teriak.


"Enny Wahyuni ..." Rayyan mengeja huruf-huruf yang di teriakkan gadis itu.


Padahal tanpa diteriakkan pun Rayyan mendengar jelas apa yang di sebut gadis cantik itu.


Rayyan hanya akting agar gadis itu mendekat padanya.


Akting Rayyan cukup berhasil.


Hasilnya Rayyan bisa merasakan desah napas bidadari itu,desah napas yang bak melody indah di telinga Rayyan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2