
Menemani Ana dan Ani belajar atau membantu keduanya mengerjakan PR,serta me-nina bobokan mereka dengan dongeng tentang bidadari ataupun tentang peri yang menjadi dongeng favorit keduanya sebelum tidur,merupakan bagian dari rutinitas yang Enny lakukan hampir setiap malam,kecuali malam minggu.
Selepas makan malam ataupun selepas mendengar wejangan dari ayah,Enny mengajak kedua adiknya mengerjakan PR.
"Ini kan malam minggu kak!"protes si kembar.
"Oh iya ... kakak lupa."sahut Enny sambil bergegas menuju kamar.
Enny tak habis pikir,koq bisa lupa sih kalau malam ini malam minggu? Apa pikiranku lagi kacau atau mungkin karena kecapekan? gumam Enny.
Ana dan Ani mengekor dari belakang.
"Tumben jam segini pada masuk kamar ..." Biasa kalau malam minggu atau hari libur Ana dan Ani begadang,menghabiskan waktu menonton tv di ruang tengah.Terkadang di marahin dulu baru keduanya beranjak tidur.
"Biasanya nonton tv dulu ...."sambung Enny.
"Bosan!"jawab keduanya.
"Jadi ke kamar mau ngapain?"
"Kakak juga mau ngapain?" Malah nanya balik.
"Kakak capek,Kakak mau istirahat!"
"Sama!"jawab keduanya kompak.
"Capek apa? Paling juga capek main,iya kan?"
"Pokoknya capek!" Ana dan ani merebahkan tubuhnya ke tilam yang usianya seusia dengan usia mereka,hampir sepuluh tahun.Karena memang tilam itu ayah beli bertepatan dengan saat si kembar lahir.
Enny waktu itu berumur sembilan tahun,baru kelas tiga SD.
Enny juga merebahkan tubuhnya di samping kedua adiknya diatas tilam yang empuknya tidak seperti tilam lagi.
'Koq kakak bisa lupa sih kalau malam ini malam minggu?" Ani yang posisinya tepat di sebelah Enny memulai perbincangan setelah ketiganya rebahan di sepasang kasur yang sudah banyak tambalannya cuma tak terlihat karena ditutupi kain sprei.
"Namanya manusia pasti ada lupanya,kalau nggak pernah lupa itu namanya malaikat."jawab Enny membela diri.
"Mungkin Kakak lagi jatuh cinta kali?" Ana membalikkan badannya dari posisi terlentang ke posisi telungkup ikut nimbrung dalam obrolan yang baru dimulai kembarannya itu.
Enny sontak tertegun mendengar kalimat yang diucapkan adiknya barusan.Anak kemaren sore udah ngomong cinta ... jaman edan!
"Tau apa Ana soal cinta?"tanya Enny.
"Orang kalau udah mulai berprilaku aneh kemungkinannya ada dua kak,kalau nggak sedang jatuh cinta mungkin mau gila!"
__ADS_1
Mata Enny terbelalak ... bukan karena dua kemungkinan yang dibilang adiknya tadi,tapi Enny heran dari mana adiknya mengcopas atau mengutip kalimat seperti itu.
"Tahu dari mana?"tanya Enny menyelidiki.
"Dari kawan!"
"Kawan kau tahu dari mana?"
"Katanya sih dia membaca postingan seseorang di facebook!"
Enny geleng-geleng kepala,mungkin mewakili banyak orang tua yang merasa miris melihat kondisi kebanyakan anak-anak sekarang ini.
Mereka tumbuh menjadi dewasa sebelum usia mereka belum layak di sebut sebagai orang dewasa.Cara pikir mereka melampaui usianya.
Di era digital ini memang,informasi begitu gampang dan mudah di akses tanpa terbatas,informasi seperti apapun bisa di akses oleh siapapun.
Bisa dibayangkan ketika konten-konten dewasa yang semestinya hanya di konsumsi oleh orang-orang dewasa lalu kemudian di akses oleh anak-anak dibawah usia,maka resiko paling terkecil ialah mereka akan tumbuh menjadi dewasa sebelum tiba waktunya.
Gadget atau lebih spesifiknya smartphone yang saat ini dimiliki oleh hampir semua usia dan semua kalangan tak ubahnya bagaikan sebuah belati yang sangat tajam.
Ketika benda tersebut berada di tangan orang yang baik,benda itu akan bermanfaat bukan hanya sekedar untuknya,tapi bisa bermanfaat untuk lingkungan dan berguna untuk banyak orang.
Tapi manakala benda itu berada dalam genggaman orang yang jahat,maka benda itu akan berfungsi sebagai sarana untuk mendukung kejahatannya.
"Emang cinta itu kayak apa sih kak?"tanya Ani membuat lamunan Enny yang belum tuntas buyar seketika.
Bahkan para ahli dan pakar sekalipun memiliki pandangan yang berbeda dan juga definisi yang berbeda tentang cinta.
"Bentuknya apa rasanya?" Enny balik bertanya mencoba menggiring adik dan pertanyaannya kedalam guyonan.
"Semuanya …."pinta Ani.
"Bentuknya seperti adonan yang dibuat bulat dan gepeng ...."
"Ada wortelnya …?"sela Ana yang cuma mendengar dari tadi.
"Iya … terus … terus!"jawab Enny seperti orang yang sedang memandu kuis.
"Pake kol …?"
"Iya … iya … terus!"
"Kemudian di goreng …?"
"Iya … terus … dikit lagi!"
__ADS_1
Ani bingung dan bahkan bengong melihat tingkah kembaran dan kakaknya yang cantik itu,ia merasa sedang berada ditengah-tengah pasien Rumah Sakit Jiwa.
"Setelah matang,enaknya dimakan pake cabe rawit atau saus …?"
"Iya …."
"Itu mah bala-bala kak!"jawab Ana.
Buukkk …!!!
Ani memukul kasur dengan telapak tangannya.Ia kesal karena merasa pertanyaannya soal cinta dibuat lelucon sama kedua pasien Rumah Sakit Jiwa ini.
"Aku nggak nanya bala-bala …!!!"pekik Ani merajuk.
"Jadi adikku tersayang nanya apa?"bujuk Enny.
"Nanya bakwan … puas!!!"jawab Ani masih merajuk.Tapi jawabannya membuat Ana dan Enny spontan ngakak.Tak ayal Ani juga ketawa belakangan.
***
Beberapa kali si kembar nampak sudah menguap.Mata indah milik kedua bidadari kecil itu bak lampu pijar yang makin lama makin meredup pertanda keduanya sudah mengantuk.
"Selamat bobo bidadari kecil …"bisik Enny sambil mencium kening dan membelai rambut adiknya bergantian.
Beberapa saat kemudian bidadari kecil itu tertidur lelap menyatu dengan mimpinya masing-masing.
Enny yang tadi sore sempat tertidur tak mudah memejamkan matanya.
Pikirannya laksana proyektor yang memutar semua gambar adegan per adegan yang terekam dan tersimpan di memory otaknya dari pagi hingga ia merebahkan diri bersama dua bidadari kecil di kamar yang sederhana ini.
Bagaimana tadi pagi ia menggunakan jasa transportasi on line,lalu berkenalan dengan Rayyan sang driver yang membuatnya merasa nyaman dengan laki-laki padahal selama ini tidak merasakannya dengan lelaki yang lain.
Peristiwa itu seolah adegan dan satu episode.
Selesai adegan itu,lalu berpindah ke adegan yang lain,saat ia menjadi MC berdua dengan sahabatnya yang banyak menuai pujian dari audiens,senior bahkan beberapa dosen yang hadir di acara itu.
Kemudian adegan berpindah ketika ia dan Arumi keluar dari aula berjalan menuju halte.
Lalu adegan melompat ke waktu yang lain,ketika ayah dan ibu memberikan nasehat atau wejangan seusai makan malam bersama keluarga kecilnya malam ini.
Lalu berpindah ke adegan barusan ketika ia bercanda ria dengan adik kembarnya sebelum keduanya tertidur.
Semua rangkaian adegan itu berputar bergantian seolah nyata di otaknya.
Manakala gambar gambar Arumi beserta kelucuan dan keseruannya tampil,Enny tersenyum sendiri ...
__ADS_1
Bersambung ...