Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Partner Sharing


__ADS_3

"Nggak buang air kecil dulu?"tawar Pak Asrul setelah duduk di sebelahku.


Nampak rona wajahnya jauh lebih cerah dibanding sebelum tadi ke kamar mandi.Barangkali beliau menyempatkan diri mencuci muka sebelum balik lagi kesini.


Aku memperhatikan Pak Asrul sejak keluar dari WC itu sampai beliau duduk kembali di sampingku.Wajahnya mulai menua dimakan usia.Garis-garis ketampanan ketika muda yang tersirat di wajahnya mulai memudar.Tapi langkahnya masih nampak kokoh dan luwes bila dibandingkan dengan orang yang seusia dengannya.


Meskipun gaya bahasanya terkadang meledak-ledak,tapi sebenarnya pak Asrul adalah lelaki yang tenang.Itu nampak dari gerak-gerik,langkah dan pembawaannya.


"Nggak!"jawabku sambil menggelengkan kepala.


"Hem...ternyata dunia ini terang sekali,hahaha..." Efek dari cuci muka atau mabuknya kumat lagi nih? Gumamku dalam hati ketika mendengar suara tawa Pak Asrul yang begitu lepas.


"Ganteng juga rupanya kau,hahaha...."sambungnya diiringi tawa.


Aku tersanjung mendengar pujiannya.Geer ...


"Tapi kalau dibanding dengan aku dan Ayahmu ketika masih muda,kau masih tertinggal jauh ibarat yamaha dengan kereta bututlah.Hahaha..." Aku juga ikut tertawa mendengar celoteh Pak Asrul yang mengingatkan aku pada sebuah iklan motor di media televisi.


"Sebentar..."tiba-tiba Pak Asrul memperhatikan aku."separo saja kau keluarkan gombalanmu aku yakin cewek-cewek akan klepak-klepek.Hahaha..."


Hem... ternyata pak Asrul juga memiliki jiwa humoris.


"Tapi aku dan Ayahmu dulu tak perlu mengeluarkan gombalan.Tinggal batuk aja dikit cewek-cewek udah pada menggelepar.Hahaha...." Tawa Pak Asrul makin kencang kayak kesetanan. Aku juga tak mau ketinggalan biarpun tidak kayak kesetanan tapi setidaknya kayak kesurupanlah.Hahaha...


Andai ada orang yang menyaksikan momen ini barangkali akan sulit baginya membedakan mana yang sadar dan mana yang mabuk.


Hahaha...


Awalnya memang aku menduga pak Asrul ini hanya seorang bajingan yang kebetulan bersahabat dengan ayahku.Tapi makin kesini ternyata pak Asrul makin kesana. Eee... ma'af! Maksudnya ternyata pak Asrul adalah partner yang enak di ajak sharing dan tukar pikiran.

__ADS_1


Setelah perasaan lucu yang menggelitik itu usai,Pak Asrul mulai pasang wajah serius.


"Memang benar Ayahmu dulu orangnya tampan dan kharismatik,sama aku sebelas dua belas lah. Gantengan aku dikit,tapi sayang banyakan Ayahmu.Hahaha..."


Kampret! Aku kira udah serius,ee...taunya masih becanda juga.Tak ayal akupun ikut tertawa.


"Memiliki wajah good looking itu terkadang menjadi nilai plus dalam hal dan situasi tertentu dan mereka sangat gampang disukai orang."


"Selain otak yang encer,aku dan Ayahmu juga memiliki itu.Kami banyak disukai orang ketika pertama nge-kost disini.Beberapa kali pernah di"tembak"cewek di kampung ini.Ada yang melalui pesan di HP, lewat WA,nitip salam lewat temannya bahkan ada juga cewek yang berani nembak secara langsung."


"Aku dan Ayahmu dengan bahasa yang tidak menyinggung dan melukai hati mereka,memberikan pengertian bahwa kami kesini untuk melanjutkan sekolah."


"Di tahun pertama datang ke Medan ini,aku langsung kuliah.Sementara Ayahmu memilih kerja dulu.Setelah mengumpulkan duit,baru merencanakan kuliah di tahun berikutnya."


"Tapi manusia memang cuma memiliki kemampuan menata rencana.Takdir dan ketentuannya telah ditetapkan Tuhan jauh sebelum kita menyusunnya." Pak Asrul rehat sejenak.


"Apakah gadis itu menghianati Pak Asrul?"tanyaku yang mulai penasaran dengan cerita Pak Asrul.


"Kisahnya tidak sesimpel itu.Jauh lebih rumit dari apa yang kau bayangkan."jawabnya dengan suara yang terkesan menyimpan dendam masa lalu.


Aku makin penasaran.


"Aku mengenal gadis itu disaat seseorang mendekatinya,seorang mahasiswa yang populer dikalangan mahasiswi dan dikenal sebagai casanova-nya kampus itu."


"Lelaki itu seorang play boy yang nyaris memiliki segalanya.Anak tunggal dari seorang pengusaha tajir di kota ini.Belum ada satupun mahasiswi yang mampu menolak ketika sang casanova menyatakan cintanya,begitu info yang kudengar.Tapi untungnya aku mengenal kembang kampus itu disaat dia belum menerima cinta si Noval,sang play boy itu."


"Persaingan cinta pun di mulai...Aku tak pernah minder apalagi mundur untuk menaklukkan hati sang bidadari itu,meskipun persaingannya tidak seimbang.Ibarat sebuah pertempuran,ini hanya pertempuran pelanduk dan gajah yang secara logika akan dimenangkan gajah dengan mudah."


" Ketika cinta gadis itu hampir berada dalam genggamanku,Noval sang play boy itu menunjukkan kelihaiannya dalam menundukkan hati wanita."

__ADS_1


"Dengan cara dan segala intrik,pesona serta ditopang fasilitas kemewahan yang dia miliki,akhirnya bidadari itu bertekuk lutut dan pasrah dalam pelukannya."


"Meski dengan hati yang remuk aku tetap gentle mengakui kekalahan itu."


"Aku mulai mencoba dan berusaha melupakan senyum manisnya,melupakan hidung bangirnya,melupakan bulu-bulu halus yang seolah ditata rapi tumbuh subur di kedua tangan dan sepasang kakinya yang jenjang,melupakan semua...semua yang kukagumi tentang gadis itu.Meski memang  bukan tugas yang mudah." Pak Asrul rehat beberapa detik.


"Tiga bulan pacaran akhirnya merekapun bubaran.Noval ketahuan mencumbu wanita lain.Inta nama sang bidadari itu,tak terima di duakan,karena sebelum jadian Noval telah berikrar untuk setia kepada satu hati,hati Inta."


"Mendengar berita yang sempat menjadi gosip hangat di kampus itu,benih-benih cinta yang hampir mati mulai tumbuh kembali.Anganku pun melambung tinggi ingin membawa Inta jatuh kepelukanku." Pak Asrul nampak tersenyum tipis disaat dia rehat sejenak.


"Apa Pak Asrul berhasil merebut hati gadis itu?"tanyaku penasaran.


"Hahaha...tentu! Aku berhasil memeluk cintanya. Dan itu merupakan momen terindah dalam hidupku."


Tiba-tiba Pak Asrul nampak murung setelah selesai mengucapkan kalimat itu.


"Setelah momen itu sampai saat ini aku tak pernah merasakan kebahagian lagi."


"Seminggu jadian dengan gadis itu,beritanya jauh lebih heboh ketimbang saat Inta dan Noval bubaran"


"Noval yang merasa mempunyai segalanya tidak terima dipecundangi oleh saingannya.Satu hari Noval mengajak aku ketemuan di taman kota.Firasatku tidak enak,tapi sebagai lelaki aku tidak mau di cap pengecut bila menolak ajakannya."


"Aku telah siap bila persaingan cinta ini harus diselesaikan secara jantan.Rayyan ketika itu menawarkan diri untuk menemaniku,tapi aku tidak mau melibatkan orang lain.Ini masalahku,dan harus kuselesaikan sendiri."


"Ketika sampai di taman kota,aku melihat Noval beserta kedua kawannya telah menungguku.Rasa was-was mulai timbul dihatiku,feeling-ku tidak enak...." Pak Asrul jeda sejenak.


Bersambung...


.

__ADS_1


__ADS_2