
Belum genap lima menit setelah Arumi naik angkot,tiba-tiba sebuah kereta matic berwarna hitam berhenti di depan halte.
Kereta itu sudah sangat familiar dimata Enny,bahkan dengan tutup mata sekalipun Enny tahu nomor polisinya.
Tapi walaupun begitu,Enny tetap tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika sang pengemudi membuka helm dan jaketnya.
"Boleh aku antar pulang?"tanya lelaki itu dengan ramah,tapi seperti Enny,laki-laki itu juga nampak sedikit canggung.
Enny hanya mengangguk sebelum ia duduk manis dibelakang sang pengemudi.
Sepanjang perjalanan dua makhluk yang dianugerahi Tuhan dengan masing-masing wajah yang rupawan itu cuma diam membisu,tak tahu harus memulainya dari mana.
Selain fokus mengemudi,Rayyan juga kehabisan kata untuk memecah keheningan.Pun Enny yang sedari awal belum sekalipun mengeluarkan suara,cuma diam bahkan setelah tahu jalan yang ditempuh Rayyan bukan jalan menuju pulang.
Setelah menerima nomor parkir dari juru parkir di depan taman kota,Rayyan membeli dua botol soft drink dan pop corn sebagai cemilan,dengan harapan benda itu bisa mencairkan suasana.
"Ngapain kau datang lagi?" Akhirnya Enny buka suara duluan setelah hampir seperempat jam mereka duduk mematung di taman itu.
"Apakah salah bila seseorang bersilaturrahmi kepada sahabatnya?"jawab Rayyan sambil menyodorkan satu botol soft drink beserta pop corn yang barusan ia beli,satu botol lagi ia cicipi.
"Terima kasih!"ucap Enny sambil menikmati minuman itu lewat pipet yang telah di sediakan.
"Aku kira kau nggak mau datang lagi."sambung enny setelah menyedot hampir seperempat isi minuman botol itu.
"Aku merasa belum punya alasan untuk itu."
"Oh ya! Jadi selama sebulan ini kemana aja?"
"Aku sibuk!"
"Sibuk apaan?"
"Tahun depan aku mau kuliah,jadi aku harus mempersiapkan banyak hal termasuk biaya."
"Kamu serius mau kuliah?"
Rayyan tersenyum getir.
Rayyan menceritakan seluruh kisah hidupnya mulai sejak SD sampai akhirnya berada di kota ini.
Enny terharu mendengar kisah yang dituturkan Rayyan.Tanpa ia sadari air matanya bergulir perlahan di pipinya.
"Jadi di kota ini hanya sendirian?"tanya Enny merasa simpatik.
"Di kota ini aku cuma sebatang kara.Selain adikku Rodiah yang tinggal di kampung,aku tak memiliki siapapun di dunia ini."
Enny merasa empati dengan nasib yang dialami Rayyan.Meskipun menjalani derita hidup yang hampir sama,Enny tetap bersyukur karena setidaknya ia masih memilki kedua orang tua di tambah lagi si kembar yang cantik dan lucu.
"Terus tinggalnya dimana?"
Rayyan menceritakan pertemuannya dengan Asrul sampai ia memutuskan kost bareng dengan sahabatnya itu.
"Aku dan Asrul mungkin sengaja di pertemukan Tuhan.Kami memiliki kisah hidup yang hampir sama.Buatku dia bukan cuma sekedar sahabat,tapi lebih dari itu.Hanya dia satu-satunya yang kumiliki di kota ini."
"Aku juga memiliki hidup yang jauh dari kebahagiaan,tapi aku masih bersyukur karena aku masih memiliki kedua orang tua.Aku juga punya seorang sahabat,namanya Arumi."
Setelah itu keduanya kembali terdiam,agak lama seperti pertama mereka datang.
__ADS_1
Seperti Rayyan,Enny juga menatap ke kejauhan.Entah apa yang sedang mereka pikirkan?
"Asrul orangnya ganteng nggak?"tanya Enny iseng sekedar memecah keheningan.Ketimbang diam kayak patung selamat datang,pikir Enny.
"Menurutku ganteng itu relatif,tergantung siapa yang menilai."jawab Rayyan.
"Menurut kamu?"
"Kurang objektif rasanya bila aku harus menilai sahabatku sendiri."
"Nggak apa-apa! Aku cuma pingin tahu pendapat kamu aja!"
"Untuk apa?"tanya Rayyan.
"Pingin tahu aja!"jawab Enny enteng.
"Oke ...! Selain smart menurutku Asrul innocent face.Tipikal wajahnya sangat di gilai kaum hawa.Siapapun perempuan yang jadi pendampingnya,aku yakin perempuan itu akan bahagia."
Enny tersenyum.Ia teringat sahabatnya Arumi,"Siapa tahu mau dijodohin?"gumam Enny.
"Kenapa? Naksir?"tanya Rayyan.
"Yang naksir siapa?" Enny cemberut.
"Tadi koq senyum!"
"Jadi kalau senyum,naksir gitu?"
"Siapa tahu ...?"jawab Rayyan sambil tertawa ringan.
"Yan ...! Aku memang belum punya pacar,tapi aku udah punya calon imam!"jawab Enny.
"Tentu ...! Justru aku merasa kamu harus tahu!"
"Siapa ...?"tanya Rayyan dengan suara yang melemah seperti orang yang kehilangan harapan.
"Lelaki yang berada di sampingku saat ini!"jawab Enny mantap.
Rayyan kaget dan tak percaya apa yang barusan ia dengar.Mulutnya sedikit menganga,jari telunjuknya menunjuk dirinya seperti orang yang kebingungan.
Enny tersenyum melihat tingkah Rayyan yang mirip akting Rowan Sebastian Atkinson dalam perannya sebagai Mr.Bean.
Rayyan tertawa,"Hahaha ... Kau bercanda!"ujar Rayyan masih tak percaya.
"Aku serius!"jawab Enny.
"Sejak awal sudah kubilang aku mungkin tak bisa pacaran dengan kamu,tapi kalau Tuhan menentukan kita berjodoh,aku akan senang menjadi ibu dari anak-anakmu kelak!"sambung Enny meyakinkan Rayyan.
Saking bahagianya Rayyan tidak tahu lagi harus berbuat apa.Ingin rasanya melompat-lompat kegirangan seperti anak-anak yang sedang mendapat lotere atau ibarat pemain sepak bola yang melakukan selebrasi ketika membobol gawang lawan,tapi ia takut dikira sedang bermasalah dengan kejiwaan.Takut dikira gila.
"Rayyan! Apakah kau mau berdo'a untuk itu?"
"Tentu! Aku sudah melakukannya jauh sebelum kau sarankan."
Enny tersenyum,Rayyan pun tersenyum.
"Yan! Pernah dengar pacaran setelah menikah?"
__ADS_1
"Pernah!"
"Menurutku itu lebih menantang!"
"Mudah-mudahan Tuhan memberikan kita kesempatan untuk membuktikannya!"
"Amin ...!"
"Amin ...!"
***
Enny dan Rayyan tersenyum dan tertawa bersama sepanjang perjalanan.Tak ada lagi rasa canggung seperti pertemuan di halte tadi.Keduanya bercanda dan saling menggoda satu sama lain.
"Lain kali aku nggak mau di jemput lagi Yan!"
"Kenapa?"tanya Rayyan tetap fokus mengemudi sambil sesekali melirik gadis cantik yang diboncengnya itu lewat kaca spion.
"Habis setiap di jemput pasti dibawa raun-raun dulu,tak pernah langsung di antar pulang."
Rayyan tertawa mendengar komplain Enny.
"Orang kamu juga suka!"goda Rayyan.
"Iih ... sok tahu!"protes Enny dengan nada yang sedikit manja.
"Buktinya komplainnya belakangan.Kalau memang nggak suka semestinya dari awal udah komplain!"
"Berdebat sama kau lama-lama kayak berdebat dengan Arumi!"
"Emang kenapa?"tanya Rayyan tersenyum.
"Boro-boro mau menang,mengharap imbang aja susah!"
Rayyan ketawa,tapi cuma sebentar karena pinggangnya diserang dengan cubitan yang berulang.Tidak terasa sakit memang,karena Enny melakukannya dengan bercanda dan setengah hati.Tapi andaipun sakit,orang yang lagi kasmaran mana perduli!
"Enny! Aku pingin nanya ama kamu!"ujar Rayyan setelah beberapa saat keduanya usai bercanda.
"Masalah serius nggak nih?"tanya Enny.
"Nggak sih! Pertanyaan iseng aja!"
"Soal apa?"
"Waktu ngomongin Asrul, kamu koq senyam-senyum?"
"Cemburu ya?"goda Enny.
Rayyan ketawa.
"Aku nggak pernah cemburu sama sahabatku."
"Bahkan ketika ia menggandeng pasanganmu?"tanya Enny.
"Itu lain hal!"jawab Rayyan.
Kali ini Enny yang ketawa.
__ADS_1
Bersambung ...