
"Kenalin ...!" Arumi mengulurkan tangannya.
"Apaan sih?" Enny menepis tangan Arumi sambil senyum.
"Katanya pingin tau bidadari itu,makanya kenalin!" Arumi mengulurkan tangannya lagi.
Enny ketawa sambil menepis tangan Arumi kembali.
"Sumpah! Kalau aku tau bidadari potongannya kayak gini ..." Sambil menunjuk Arumi," Aku nggak bakal mau dengar cerita ini.Buang-buang waktu ...."
"Iiih ... ngiri ya?"
"Nggak sempat!"
"koq protes?"
"Nggak protes. Cuma kau telah merusak persepsi orang lain selama ini tentang bidadari."
"Bodoh amat ...!!!"
Enny senyum-senyum sendiri sambil menutup senyuman itu dengan tangan kanannya karena takut penumpang yang lain yang ada di dalam angkot itu memperhatikannya.
Arumi memang sahabat yang hebat.Bukan cuma ketika disampingnya, bahkan ketika jauh darinya tingkahnya mampu membuat aku senyum-senyum sendirian,batin Enny.
Apalagi ketika jalanan macet kayak gini,mengingat candaan dan kekonyolan Arumi membuat Enny merasa bete-nya terkurangi.
"Aku masih penasaran kisah bidadari yang kau ceritakan semalam ...." Enny memulai obrolan ketika ia dan Arumi duduk di kantin yang ada di lingkungan kampus itu keesokan harinya.
"Penasaran apanya?"tanya Arumi sambil menyantap gado-gado pesanannya.
"Yang pasti bukan soal bidadari nya ...."
"Maksud lo?"tanya Arumi dengan menirukan logat betawi sambil memonyongkan bibirnya.
"Ih ... jangan tensi gitu dong! Seram tau?!"
"Abis kau menyebut-nyebut bidadari.Sebagai bidadari ya jelas aku tersinggung dong!"
"Bodoh amat!"jawab Enny menirukan gaya Arumi semalam ketika menyebut kalimat yang sama.
Arumi tertawa kecil ...
"Aku penasaran siapa sih lelaki yang menyembunyikan selendang bidadari itu?"
"Cowok kau ...!"jawab Arumi asal.
"Cowokku yang mana ...?"tanya Enny yang merasa belum punya cowok sembari melototkan kedua bola matanya yang indah.
"Pak Sahala ...!"jawab Arumi asal ceplos sambil menyantap gado-gado nya dengan santai.
"Pak Sahala mana?"tanya Enny penasaran masih tetap dengan mata melotot.
__ADS_1
"Pak Anwar Sahala ...Guru fisika itu!" Arumi tertawa.
"Guru killer itu?"tanya Enny mau tak mau ikutan ketawa.
Enny tersenyum,teringat pak Anwar Sahala guru fisika mereka ketika SMA dulu.
Di kalangan siswa pak Anwar Sahala di kenal sebagai guru killer yang sangat di takuti.
Pak Anwar Sahala orangnya disiplin,tegas dan rada galak.
Ketika beliau sedang menerangkan pelajaran fisika,tidak satupun murid yang boleh batuk apalagi ketawa.Kalau itu terjadi kau akan merasakan dunia ini seperti mau kiamat.
Meskipun pak Anwar Sahala ditakuti banyak murid,tapi bagi Enny pak Anwar Sahala merupakan guru favoritnya.
Enny suka cara pak Anwar sahala menerangkan pelajaran,jelas dan gampang di pahami.
Arumi sering menggoda Enny menyebut pak Anwar Sahala sebagai cowoknya.
"Seluruh dunia menakutinya,cuma kau doang yang mengaguminya"alasan Arumi satu hari ketika Enny menanyakan kenapa menyebut pak Anwar Sahala sebagai cowoknya.
Awalnya Enny memang menyukai gaya dan cara pak Anwar Sahala mengajar,tapi itu sebelum insiden itu terjadi ...
Ceritanya satu hari pak Anwar Sahala lagi serius menerangkan pelajaran fisika dikelasnya.
Ketika pak Anwar Sahala lagi sibuk menulis soal fisika di papan tulis,dengan berbisik-bisik Arumi pun sibuk menggoda Enny dengan leluconnya.Enny tak sanggup menahan tawa,maka ...
"Siapa yang ketawa?"tanya Pak Anwar Sahala sambil membalikkan badannya menghadap murid-murid yang sudah ketar-ketir.
"Siapa yang ketawa ...?!!"ulang Pak Anwar Sahala dengan logat batak yang kental dan nada yang makin meninggi.
Murid-murid makin keder ...
Pak Anwar Sahala mengulangi pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya sambil mengarahkan pandangannya kepada kedua bidadari itu ... Arumi dan Enny.
"Siapa yang ketawa...?!!"
Saking takutnya secara spontan Arumi menunjuk Enny,begitu juga sebaliknya.
"Pernah nengok kapur terbang ...?"tanya Pak Anwar Sahala melotot,biji matanya seolah mau melompat dari kelopaknya.
Sebelum kedua bidadari itu sempat menjawab,kapur yang berada di tangan kanan pak Anwar Sahala sudah melesat cepat mengenai jidat Enny.
Murid-murid yang lain pada menahan tawa menyaksikan adegan itu.
"Kejam kali cowok kau itu ..."goda Arumi dengan logat batak yang medok menirukan gayanya pak Anwar Sahala,setelah guru killer itu keluar kelas karena bel tanda istirahat telah berbunyi.
"Cowok gundulmu itu ....!!!"jawab Enny dongkol.
Enny tak kuasa menahan senyumnya kalau mengingat kejadian itu.
***
__ADS_1
Enny melepaskan lelah sejenak setelah sampai ke rumahnya.Enny menutup pintu kamar supaya adeknya si kembar,Ana dan Ani tidak mengganggunya.
Si kembar Ana dan Ani suka bermanja dengan Enny,karena usia keduanya memang terpaut 9 tahun dengan kakaknya.
Sejak kecil Ana dan Ani lebih banyak menghabiskan waktu bersama Enny ketimbang dengan ibunya.
Kadang Enny merasa terenyuh melihat kedua adeknya yang barangkali kekurangan kasih sayang dari orang tua sehingga sering bermanja dengannya.
Tapi Enny juga kasihan kalau orangtuanya yang telah berjuang segenap tenaganya di salahkan.
Selain keadaan memang tak ada yang bisa dijadikan sebagai kambing hitam.
Ayah hanya seorang buruh pabrik,penghasilannya jauh dari cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga.
Dengan situasi seperti itu ibu rela dan tak malu mencuci pakaian di rumah tetangga atau di rumah orang yang membutuhkan jasa ibu untuk menopang ekonomi keluarga.
Ayah dan ibu berjuang cukup lelah sehingga tak memiliki cukup waktu untuk memanjakan Enny dan adik kembarnya.
Enny dan kedua adiknya sangat memahami kondisi itu,karena sejak kecil mereka telah di ajarkan orangtuanya untuk mengerti keadaan.
***
"Enny ... gimana kegiatan kuliahnya hari ini nak?"tanya ayah selepas makan malam.
"Alhamdulillah lancar yah."jawab Enny santun sambil menyusun piring bekas mereka makan yang dibantu kedua adiknya.
"Ana dan Ani nggak ditanya kegiatan sekolahnya yah?"celetuk si kembar membuat ibu tersenyum sambil memasukkan nasi yang sisa kembali ke rice cooker.
Untuk menjaga kebersamaan keluarga kecil ini selalu berusaha makan malam bersama,meskipun duduk dilantai beralaskan tikar dengan lauk yang seadanya.
Disaat seperti inilah ayah selalu menggunakannya untuk memberikan nasihat dan wejangan kepada ketiga putrinya.
Terkadang sesekali ibu juga menimpalinya.
"Enny! Ayah tak bosan mengingatkanmu agar tau dan pintar menempatkan diri."
"Kau telah tumbuh menjadi remaja yang masih butuh banyak bimbingan,tapi Ayah dan Ibu harus berjuang demi kalian sehingga tidak punya cukup waktu untuk selalu memperhatikanmu."
"Jadi Ayah berharap pandai-pandailah dalam bergaul." Ayah batuk-batuk beberapa saat.
"Tolong jangan kecewakan kami nak.Adik-adikmu masih kecil,kau harus sukses agar bisa membantu mereka nanti.
Semakin hari tenaga kami makin berkurang,kalau bukan kau siapa lagi yang akan menolong adikmu ini."timpal ibu.
Setiap mendapat wejangan Enny menunduk dan sesekali mengangguk karena ia begitu menghormati kedua orangtuanya.
Pernah satu ketika ayah memberikan pesan atau tepatnya sebuah ultimatum,agar jangan pacaran dulu dan jangan pernah membawa laki-laki ke rumah ini sebelum cita-citanya tergapai,ketika itu Enny masih SMA.
Tapi sampai detik ini Enny selalu mengingat pesan ayah yang begitu di hormatinya itu.
Bersambung ...
__ADS_1