Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Dibalik Angka 69


__ADS_3

Lega rasanya setelah berada di luar lapo tuak itu.Untung saja Pak Asrul mengajakku keluar dari tempat itu,kalau nggak bisa-bisa aku juga ikut mabuk mencium bau tuak yang menyengat hidung itu.Aromanya membuat pusing kepalaku,ditambah lagi ocehan-ocehan pengunjungnya yang suka ngawur dan ngelantur,membuatku merasa tak betah berlama-lama di tempat itu.


Aku mengikuti langkah Pak Asrul yang menuju halaman samping lapo tuak.Di samping lapo tuak itu ada pohon mangga yang daunnya rimbun,lalu ada balai bambu tempat berteduh dibawahnya.


Pak Asrul mempersilahkan aku duduk setelah beliau duduk duluan di balai bambu yang nampak mulai usang itu.


"Apa yang ingin kamu ketahui tentang ayahmu?"tanya Pak Asrul membuka perbincangan sambil memakai kemeja yang tergantung di bahunya sejak tadi.


"Semua! Aku ingin tau semua apa yang Bapak ketahui tentang ayahku."


Pak Asrul menghela napas panjang,lalu diam.


Sesaat kemudian ...


"Baiklah! Sebelum bercerita,aku juga pingin tau menurut kamu ayahmu itu seperti apa?"


"Jujur aku nggak tau.Sejak kecil bunda telah mengajariku membenci ayah.Tak ada satupun sisi positif beliau yang aku ketahui dari bunda.Ayah cuma sisi negatif."


"Namun ketika usiaku beranjak dewasa,aku merasa ada yang aneh atas semua penuturan bunda tentang ayah.Masa iya ada manusia yang tidak memiliki catatan kebaikan meskipun secuil? Bagiku itu sesuatu yang aneh."


"Tapi aku tau tak akan pernah menemukan jawabannya dari bunda.Akhirnya aku memutuskan mencari jawabannya sendiri,tapi sampai saat ini aku merasa sepertinya bunda benar."


Pak Asrul tertawa kecil,entah menertawakan apa atau siapa?


"Menurut Pak Asrul apakah ayahku orang yang baik?" Pak Asrul tidak menjawab,malah suara ketawanya makin kencang.


"Menurutmu apakah aku orang baik?" Pak Asrul malah balik bertanya.


Aku diam.Tak menjawab pertanyaannya.


Pak Asrul mengulangi pertanyaannya kembali."Apakah menurutmu aku orang yang baik?"


"Aku nggak tau. Aku nggak bisa menilai orang lain hanya dengan sekali pertemuaan."


"Masalahmu bukan itu,tapi masalahmu tidak memiliki keberanian menyampaikan pendapatmu."sindir Pak Asrul.


yah ... aku memang tidak memiliki keberanian menyampaikan jawabanku yang sebenarnya.Aku memilih menjaga perasaannya ketimbang melukainya.

__ADS_1


"Baik dan buruknya sesuatu itu tergantung dari sudut mana kita memandangnya."kata Pak Asrul sembari berdiri,lalu mengambil posisi tepat di depanku.


Dia membungkuk memungut sebuah batu kecil,kemudian menulis sebuah angka dihadapan kami.


"Angka berapa ini?"tanya Pak Asrul sambil menunjuk angka yang barusan ditulisnya.


"6"jawabku 


"Berapa?"ulang Pak Asrul lagi.


"6"jawabku yang masih bingung dengan maksud Pak Asrul menulis angka enam ini.


"Berapa kalipun aku bertanya jawabanmu akan tetap sama.Kau akan berusaha keukeuh mempertahankan pendapatmu.Andaikan aku dan seluruh penduduk bumi inipun  mengatakan ini bukan angka 6,kau akan tetap bersikeras bahwa pendapatmu yang benar dan pendapat yang lain salah."


"Tapi andai kau mau berdiri ditempatku berpijak saat ini,pasti penilaianmu akan berubah,merekalah yang benar,justru kau yang salah." Pak Asrul memintaku agar berdiri disampingnya.


"Sekarang angka berapa ini?"tanya Pak Asrul setelah aku berdiri sejajar dengannya.


"9"jawabku.


"9"jawabku kembali.


"Hahaha...." Pak Asrul ketawa kencang sambil mengajakku duduk kembali.


"Andai ayahmu diibaratkan sebuah angka,dia bisa saja angka 6 tapi bisa juga angka 9 tergantung dari sudut mana kau memandangnya."jelas Pak Asrul beranalogi.


"Bundamu dengan segala dalil menilai ayahmu angka 6,tapi aku juga punya alasan yang kuat menilai ayahmu sebagai angka 9."lanjut Pak Asrul.


"Paham maksudku kan?"tanya Pak Asrul.


Aku mengangguk.Aku bukan cuma sekedar paham tapi aku merasa mulai kagum dengan lelaki ini.


Awalnya aku mengira pak tua ini cuma kaleng-kaleng,tapi ternyata beliau sepertinya memiliki pengalaman dan wawasan hidup yang luas.


"Nah...bila kau ingin menjadi orang arif,maka jangan pernah menilai sesuatu dari satu aspek atau sudut pandang saja.Akan tetapi jauh lebih bijak dan objektif bila menilai dan memutuskan sesuatu masalah dari berbagai macam angle dan sudut pandang."lanjut Pak Asrul menutup nasehatnya.


Sungguh nasehat Pak Asrul buatku merupakan sebuah untaian kata yang mengandung makna yang sangat dalam.

__ADS_1


"Nak ak-ak...siapa namamu tadi?"tanya Pak Asrul sambil mengingat-ingat kembali.


Huh...! Baru hitungan jam udah lupa! Dasar pemabuk! Aku ngedumel dalam hati.


"Aktar Pak!'jawabku,"Aktar Rifani Bin Rayyan Ahmad." Biar lengkap sekalian.      


"Oo...iya! Nama yang kurang familiar pantasan aku cepat lupa.Hahaha...." Pak Asrul tertawa lepas.


Alah...sakarepmu deweklah,bisikku dalam hati.


"Nak Aktar,aku dan ayahmu memiliki banyak persamaan dan perbedaan yang juga tidak sedikit.Tapi perbedaan hanya sekedar bumbu dalam persahabatan kami."kata Pak Asrul memulai sesi yang kutunggu dalam pertemuan ini.


"Aku dan ayahmu sama-sama datang dari desa,meski desanya berbeda tapi tujuan kami ke kota ini sama.Sama-sama pingin melanjutkan study dan merubah nasib,meski belakangan nasib tak berpihak kepada kami.bahkan nasib telah menyeret kami ke titik terrendah dalam kehidupan ini." Pak Asrul berhenti sejenak.


Raut wajahnya nampak serius kali ini.Nadanya setiap mengungkap kata perkata menyiratkan kesedihan,memberikan kesan behwa ada luka di masa lalu yang teramat dalam.


Matanya berkaca-kaca ... nampak sekali beliau berusaha menahan mendung itu agar tak menetes menjadi hujan.


"Ayahmu datang dari sebuah desa kecil di pinggiran kota Padang Sidempuan,namanya desa panompuan. Sementara aku dari desa kecil di pinggiran kota Siantar."


"Kami bertemu di terminal Amplas dan berkenalan.Dia menceritakan sejak kecil sudah yatim.Umur 9 tahun tepat kelas empat SD ayahnya meninggal.Sementara adiknya yang bernama Rodiah,dipanggil Diah merupakan adik satu-satunya yang masih berumur 7 tahun,kelas dua SD saat ditinggal ayahnya."


"Mereka cuma dua bersaudara.Ibunya berjuang dengan gigih menyekolahkan mereka.Setelah tamat SD,Rayyan memutuskan tidak melanjutkan ke SMP, dengan alasan ingin membantu Ibunya bekerja karena kasihan melihat ibu yang semakin kurus memperjuangkan kedua anaknya."


"Tapi ibu tidak mengizinkan Rayyan putus sekolah.Ibu malah meminta Rayyan berjanji untuk tidak pernah putus sekolah apapun alasannya,"


"Bahkan sampai Ibu matipun Rayyan tak boleh putus sekolah Nak,pinta Ibu waktu itu.Nasehat yang tak pernah Rayyan lupakan." Pak Asrul berhenti sejenak,menarik napas.


Aku larut dalam kisah pilu Ayahku,aku membiarkan butir-butir air mata jatuh berderai.Aku tak peduli.


Pak Asrul mengusap wajahnya yang juga tak mampu membendung air bening itu.


Hem...ternyata pemabuk itu juga memiliki perasaan yang sentimentil.


Bersambung...


                         

__ADS_1


__ADS_2