
"Video viral Bun,seorang tuna netra menikahi seorang gadis cantik."jawabku sambil memberikan HP dan memutar ulang video yang sempat ku pause tadi.
"Apa tanggapan Bunda dengan video ini?"tanyaku setelah Bunda menonton selesai videonya.
"Bagus!"jawab Bunda seadanya.
"Maksud aku bukan gitu Bun?"
"Jadi apa?"tanya Bunda bingung.
"Tanggapan Bunda kepada kedua mempelai yang ada dalam video ini?"jelasku.
"Oo...gitu! Tentu keduanya bahagia. Apalagi pengantin prianya,dengan keterbatasan yang dimilikinya dia dapat menikahi gadis secantik bidadari."
"Menurut Bunda.mempelai wanitanya juga bahagia?"
"Iya...! Nampak dari sikap dan senyumnya yang tulus."
"Secara Bun wanitanya cantik bak artis korea,sementara prianya memiliki keterbatasan.Apa alasan mempelai wanita menerima pernikahan ini?"tanyaku kembali karena belum puas dengan jawaban Bunda.
"Aktar,setiap orang pasti punya alasan menikahi pasangannya.Mempelai wanita yang di video juga pasti memiliki alasan ketika memutuskan menikah dengan pria penyandang disabilitas.'
"Banyak orang menerima pasangannya bukan karena memandang kesempurnaan fisiknya,tapi bisa saja ada sesuatu yang lain yang menjadi alasan seseorang menerima pasangannya."jawab Bunda.
"Lalu apa alasan Bunda ketika menikah dengan lelaki disabilitas?" Bunda nampak kaget mendengar pertanyaanku.
Bunda memandangku dengan menyipitkan matanya.
"Apa alasan Bunda?"tanyaku kembali mengulang pertanyaan yang tadi.
"Aktar,kan udah Bunda bilang,Bunda tak mau lagi berdebat soal ini!"jawab bunda yang sejak awal mencoba menghangatkan hubungan kami yang terasa hambar belakangan ini,tapi tiba-tiba dirusak dengan pertanyaanku barusan.
"Dan perlu Aktar tau,Bunda tidak pernah menikah dengan seorang disabilitas!"jawab Bunda rada kesal.
"Jadi kenapa orang memanggilnya Iyan pincang?"cecarku.
Bunda tambah kaget.
"Tanyakan saja sama orang yang memanggilnya begitu.Bunda tidak pernah memanggil ayahmu seperti itu!"jawab Bunda membuatku bingung.
Kalimat yang barusan Bunda ucapkan terkesan memberikan pembelaan terhadap ayah.Apa mungkin Bunda juga tidak setuju dengan sebutan itu?
Tapi kenapa? Bukankah selama ini Bunda membenci ayah? Kalau memang benci kenapa membelanya?Apa Bunda masih cinta sama ayah?
Akh...! Aku bingung.
Yang paling membuatku bingung,pengakuan Bunda bertolak belakang dengan informasi yang kudapat dari kedua pak tua siang tadi.
Siapa yang betul...?
"Bunda kenal dengan pak Asrul?"tanyaku membuat Bunda menatapku sejenak,lalu mengalihkan pandangannya ke sudut yang lain.
__ADS_1
"Apa kamu menemuinya...?"tanya Bunda dengan intonasi yang datar.
"Sekarang belum,tapi aku berharap suatu saat bisa bertemu dengannya."
"Buat apa?" Nadanya masih sama seperti yang tadi,datar.
"Mencari tau soal ayah!"
"Bunda tidak setuju kau menjumpainya!" Nadanya naik setengah oktav.
"Kenapa...?"
"Pokoknya Bunda tidak setuju!"jawab Bunda tanpa mengemukakan alasan.
"Bun...?"
"Ssst...!" Bunda menempelkan jari telunjuknya tepat di tengah bibirnya.
"Udah malam! Kita tidur aja! Besok sekolah,Aktar juga kuliah kan?"
Aku mengangguk
"Ingat!Jangan pernah menjumpainya."kata Bunda memberi peringatan.
Bunda berdiri dan melangkah menuju kamarnya sebelum aku sempat menanyakan alasannya.
Sepertinya bunda sangat kenal sama pak Asrul,tapi kenapa bunda melarangku menemuinya?Apa semua hal yang berhubungan dengan ayah Bunda benci?
***
"Nompang tanya Pak?"
"Iya ada apa?"jawab lelaki itu.
" Kenal sama pak Asrul?"
"Semua orang di kampung ini kenal pak Asrul. Emang kenapa?"
" Kira-kira dimana bisa menjumpainya Pak?"
"Nah itu masalahnya.Pak Asrul orangnya kayak kunang-kunang,kadang nampak kadang menghilang."jawab lelaki itu setengah berseloroh.
"Tapi Pak Asrul sering nongkrong di lapo tuak!"sambungnya.
Lapo tuak?
Lapo tuak sejenis warung yang menyediakan minuman tradisional yang memabukkan.Lapo tuak ini memang banyak dijumpai di sudut kota Medan ini.
"Lapo tuak yang mana Pak?"
"Kau lurus aja,diujung perkampungan ini ada perempatan.Nah,sebelum perempatan itu nanti ada lapo tuak sebelah kiri,Biasanya Pak Asrul sering nongkrong disitu."kata lelaki itu menjelaskan.
__ADS_1
"Makasih Pak." Ku starter kembali kereta matic-ku dan meluncur ke lokasi yang disebutkan.
Aku berharap bisa bertemu pak asrul sore ini.
***
Setelah sampai di lokasi lapo tuak yang dikasih tahu lelaki barusan,aku memarkirkan keretaku di tempat parkiran yang berada di halaman depan lapo tuak itu.Aku mensejajarkan keretaku dengan beberapa kereta yang terparkir disana.
Meski agak ragu,aku tetap memberanikan diri memasuki lapo tuak itu.Jujur,aku belum pernah masuk ke tempat seperti ini.
Hampir semua orang yang menjadi pelanggan lapo tuak sore itu heran melihat kehadiranku di tempat itu.Semua mata tertuju kepadaku,sepertinya mereka mencurigai kehadiranku.
Samar-samar aku mendengar seseorang membisikkan sesuatu kepada kawan yang di sebelahnya,"Jangan-jangan intel?"
Kawan yang disebelahnya menimpali,"Aku juga curiga,jangan- jangan dia mau nangkap kau!" Aku hampir saja tertawa mendengar celoteh kedua lelaki yang yang sedang berbisik itu.
Di antara semua pengunjung lapo tuak itu,ada seorang lelaki yang menarik perhatianku.Dia seolah-olah tak perduli kehadiranku.Disaat yang lain merasa curiga,pak tua ini duduk santai sambil sesekali menenggak tuaknya.
Seorang lelaki yang nampak paling muda diantara mereka menghampiri dan menyapaku.
"Dari mana Bro?"sapa lelaki itu dengan bahasa gaul.
"Sebenarnya aku kesini pingin menjumpai seseorang Bang."jawabku berusaha membuat semua pelanggan lapo tuak itu tidak menaruh curiga dengan kehadiranku.
"Siapa? Namanya siapa?"tanya lelaki itu.
"Pak Asrul!"jawabku.
"Ooo ... Pak Asrul!"jawab lelaki itu sambil menunjuk seseorang yang menarik perhatianku dari tadi.
"Terima kasih Bang!"ucapku sambil melangkah perlahan mendekati lelaki yang menarik perhatianku tersebut.
***
Saat ini aku duduk tepat di depan Pak Asrul,lelaki yang belakangan ini kucari.Aku memperhatikan Pak Asrul yang setengah mabuk,orang Medan bilang tenggen manis.
Kemudian mataku mengitari seluruh tempat itu.Kira-kira ada enam atau tujuh orang lelaki paruh baya,yang kondisinya tidak jauh beda dengan Pak Asrul yang jadi pelanggan lapo tuak sore itu.
Ada tiga meja di lapo tuak itu.Setiap meja ada satu teko yang berisi tuak penuh.Didepan setiap orang ada bejana yang terbuat dari batok yang dikikis bersih lalu dibentuk seperti piala,dari situlah mereka mencicipi tuaknya.Ada ikan panggang dan cemilan berupa kacang goreng yang mereka sebut tambul.
Seumur-umur baru kali ini aku duduk di tempat seperti ini.Ada perasaan tak nyaman sebenarnya,karena tempat ini buatku sangat asing.
Mencium aroma tuak yang menyengat dan mendengar ocehan mereka yang terkadang ngawur,membuatku semakin tak kerasan berlama-lama duduk di tempat ini.
"Minum...?"tanya Pak Asrul sambil menyodorkan bejana batok berisi tuak penuh kehadapanku.
"Nggak!"jawabku sembari menggelengkan kepala.
"Lalu ngapain kau kesini?"tanya Pak Asrul kembali dengan suara yang rada serak dan berat.
Bersambung...
__ADS_1