
Angka jam digital yang tertera di layar HP ku,12.05. itu artinya sebentar lagi waktu shalat dzuhur tiba.Aku memutuskan shalat dzuhur dulu sebelum menemui pak Asrul yang sejujurnya belum tau harus menjumpainya dimana.
Aku mengarahkan keretaku menuju mesjid terdekat yang ada di perkampungan ini.Sejenak aku membuang nama pak Asrul dari pikiranku agar ketika berinteraksi dengan sang pencipta bisa khusyuk tanpa terganggu dengan nama itu.
Bunda selau mendidik dan mengingatkan aku agar tidak meninggalkan shalat yang lima waktu.
"Kita harus selalu melibatkan Allah dalam setiap urusan dan masalah kita,dengan demikian Insya Allah,Allah akan memberikan jalan dan solusi terbaik atas apa yang kita hadapi." Nasehat bunda itu telah terpatri dihati,dan kujadikan sebagai motivasi agar tidak lalai beribadah.
***
Setelah selesai menunaikan shalat,aku bangkit,melangkah menuju pintu keluar mesjid.Tapi ketika melihat dua lelaki tua bercengkerama di teras mesjid,aku mengurungkan langkahku yang hendak menuju parkiran.
Lalu aku menghampiri keduanya.
"Assalamu alaikum Pak!"
"Wa alaikum salam...,"jawab kedua lelaki tua itu serempak.
"Boleh duduk Pak?"
"Silahkan Nak!"jawab salah satu Pak tua itu dengan ramah.
Setelah memperkenalkan diri,kemudian kami larut dalam pembicaraan yang topiknya bersifat random.Terkadang topiknya seputar agama,tiba-tiba lompat ke soal politik,ekonomi,pertanian,hingga soal langkanya minyak goreng di negeri yang salah satu penghasil sawit terbesar di dunia ini.
Seru ... dan tanpa terasa satu jam telah berlalu.
"Kalau boleh flash back..." Aku memulai misi-ku tuk mencari tau siapa ayah saat obrolan jeda sejenak.
"Kira- kira 20 tahun yang lalu ada seorang yang bernama pak Rayyan tinggal di perkampungan ini,apa Pak Husein atau mungkin Pak Rasyid ingat?"tanyaku kepada kedua Bapak yang namanya aku tau dari hasil obrolan kami tadi.
Pak Husein memakai lobe putih,jenggotnya yang ubanan juga nyaris putih semua.Lalu disampingnya ada Pak Rasyid,memakai baju koko abu-abu dan berpeci hitam.Keduanya lahir dan dibesarkan disini."Mungkin matipun disini...!" kelakar Pak Husein ketika kutanya sudah lama tinggal di kampung ini.
Kedua lelaki tua itu mengernyitkan dahi membuka memory ingatannya ke 20 tahun yang lalu.
"Rayyan Ahmad Pak." Dengan menyebut nama lengkap,aku berharap dapat membantu ingatan mereka tentang sosok ini.
"Setahu Bapak tidak ada yang bernama Rayyan di kampung ini."kata Pak Husein masih mencoba mengingat-ingat.
"Pak Rasyid pernah dengar nama itu?"tanya Pak Husein kepada lelaki tua yang di sampingnya.
Pak Rasyid menggeleng.
__ADS_1
"Yang nama Rayyan tidak ada,tapi kalau Iyan banyak!"kata Pak Rasyid sambil membetulkan letak pecinya.
"Iya,kalau yang nama Iyan banyak Nak."timpal Pak Husein seolah menguatkan pernyataan Pak Rasyid.
Aku terdiam lesu dan merasa mulai putus asa.
"Nak Aktar! Siapa tau salah satu dari Iyan itu merupakan orang yang Nak Aktar cari,karena banyak orang dipanggil dengan menyingkat namanya kan? Bisa saja Rayyan dipanggil Iyan, kan masih nyambung?"kata Pak Husein membuka secercah harapan buatku tuk mengetahui sosok ayah.
"Jadi yang bernama Iyan di kampung ini ada berapa Pak?"tanyaku penasaran.
"5 orang.Ada Iyan sayur,Iyan bengkel,Iyan guru,Iyan keling dan Iyan pincang." Menurut Pak Husein,menyandingkan profesi serta keadaan pemilik nama dibelakang nama Iyan hanya sekedar membedakan Iyan yang satu dengan yang lainnya.
"Boleh nggak Pak,Bapak jelaskan ke 5 orang itu satu persatu?"
Pak husein mengangguk setuju.
"Iyan sayur nama sebenarnya Sahertian.Kerjanya jualan sayur dari pekan ke pekan,makanya orang sini memanggilnya Iyan sayur."jelas Pak Husein.
"Iyan bengkel nama aslinya Balyan.Profesinya montir.Beliau buka bengkel di kampung ini,makanya dipanggil Iyan bengkel.Bengkelnya kira kira 200 meter dari mesjid ini sebelah kanan."
"Kalau Nak Aktar mau mampir kesana,nanti ada plakat yang bertuliskan BALYAN BENGKEL,nah ... itulah dia."lanjut Pak Husein sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih.
"Muhammad Afif Ahmad Sabyan."jawab Pak Rasyid.
"Ma'af Nak Aktar,Bapak kalau panjang gitu suka lupa.Bapak cuma ingat Sabyan aja."kata Pak Husein sambil terkekeh.
"Beliau adalah seorang guru."sambung Pak Husein sembari rehat sejenak.
Kemudian Pak Husein melanjutkan kembali.
"Iyan keling nama sebenarnya Alpian.Kulitnya gelap,hitam.Makanya orang-orang kampung sini memanggilnya Iyan keling."
"Dua tahun yang lalu Pak Iyan keling dipanggil ke rahmatullah.Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT ... Amin!"sambungnya kembali.Lalu kami bertiga meng-Amin-kannya.
Sampai disini aku bisa memastikan bahwa semua Iyan yang disebutkan bukanlah orang yang kucari,bukan ayahku.
Tinggal satu Iyan lagi,Iyan pincang.Tiba -tiba darahku berdesir.Kalau memang Iyan yang terakhir ini ayahku,ah... apakah Ayah seorang disabilitas? Penyandang cacat? Nggak! Nggak mungkin ayahku seorang penyandang cacat.Aku berharap Iyan pincang bukanlah ayahku.Rasanya mustahil bunda menikah dengan orang ini.
Secara bundaku seorang ASN.Banyak yang bilang bunda sangat cantik dan menarik,masak iya punya suami seorang lelaki cacat?
"Kalau memang cacat kenapa?" bisik hati kecilku menohok kesombonganku.
__ADS_1
Batinku berguncang,dua perasaan yang kontradiktif bergumul dihatiku.Bisikan jahat dan bisikan yang baik berperang saling mengalahkan.Siapa yang keluar sebagai pemenang dia yang akan menguasai pikiran dan keputusanku.
"Mustahil kamu punya ayah seperti itu."Bisikan jahat mulai mempengaruhi egoku.
Tapi seketika bisikan baik menimpali."Aktar! Kalau memang Iyan pincang ayahmu,kamu mau apa? Lari dari kenyataan? Bukankah selama ini kau telah berupaya mencarinya? Setelah kamu tau dia cacat lalu kamu meninggalkannya,anak macam apa kamu?" Dadaku sesak menahan pergolakan bhatin ini.
Aku mengatur napas dan merenungi setiap kata dari bisikan itu.
Perlahan kesombonganku mulai luluh.
Aku beristighfar ...
Ya ... Allah! Kenapa aku menjadi diskriminatif seperti ini?
Mereka menerima dan hanya menjalani takdirnya.
Andaikan mereka dikasih pilihan barangkali mereka juga tak mau lahir sebagai penyandang cacat.Mereka juga berhak hidup, dicinta dan mencinta.
Andai nanti Iyan pincang betul ayahku,lalu kenapa? Apa yang salah? Jangankan menikah dengan wanita seperti bunda,menikahi bidadari sekalipun tak ada hukum yang melarangnya.
Ayah...ma'afkan aku!
" Nak Aktar koq bengong?" Pak Husein menepuk lututku,seketika lamunanku buyar.
"A-a-anu Pak..." Aku tergagap."kalau iyan pincang nama aslinya siapa pak?"lanjutku menutupi kegagapanku.
"Kalau Iyan pincang Bapak kurang tau.Pak Rasyid tau?"tanya Pak Husein kepada Pak Rasyid.
"Saya juga kurang tau Nak Aktar.Soalnya Iyan yang lain memang lahir disini,waktu muda dulu sering satu tongkorongan sama kita,makanya tau nama asli mereka.Kalau iyan pincang bukan orang sini.Beliau pendatang di kampung ini.Sejak lajang memang udah di kampung ini,tapi jarang ngumpul sama kita."jelas Pak Rasyid.
"Apa Iyan pincang nggak bergaul di kampung ini Pak?"tanyaku.
"Nggak gitu juga kali Nak Aktar,jangan su'ud dzon dulu.Iyan pincang seorang perantauan,tentu beda tanggung jawabnya dengan kita-kita yang memang rumah dan orang tuanya disini.Kita kalaupun nggak kerja,pulang ke rumah tinggal makan.Paling di omelin,tutup telinga aja yang penting kenyang.Kalau Iyan pincang nggak kerja mau makan dimana? Bayar kontrakan rumah pake apa? Makanya orang sini maklum kalau dia jarang nongkrong sama kita,dia sibuk nyari duit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya."jelas Pak Husein beranalogi.
"Sekarang Iyan pincang masih di kampung ini Pak?"tanyaku yang merasa berdosa karena berburuk sangka kepada Iyan pincang.
"Nggak pernah nampak lagi.Dulu sebulan atau dua bulan setelah keluar dari penjara masih disini,tapi setelah itu tak pernah nampak lagi batang hidungnya."kata Pak Husein.
Keluar dari penjara? Berarti Iyan pincang seorang mantan nara pidana? Apakah ini Ayahku?
Bersambung...
__ADS_1