Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Mission Failed


__ADS_3

Entah sudah berapa orang mahasiswa yang berlalu lalang melewati pintu gerbang kampus itu,tapi sampai detik ini Rayyan belum menemukan orang yang ia cari.


Kemana Enny? Apa dia nggak masuk kuliah? gumam Rayyan setelah cukup lama ia menunggu.


Ibarat bermain game,misi kali ini failed.Rayyan kecewa,tapi tak membuatnya sampai putus asa.Ia ingin mengulanginya lagi.


Keesokan harinya Rayyan kembali melakukan aktifitas yang sama.Tapi hasilnya juga sama,mission failed.


Hari ini sudah memasuki hari yang ke -3 Rayyan melakukan kegiatan seperti seorang spionase.Tapi sayang,apa yang ia lakukan selama tiga hari ini tak membuahkan hasil yang memuaskan.Semua berakhir dengan zonk.


Kemana lagi aku harus mencari? jerit hati Rayyan.


Apa aku harus menyambangi rumahnya? Tapi itu sangat riskan!Bukankah Enny telah mengultimatum agar jangan mendatangi rumahnya karena ayahnya melarang Enny membawa laki-laki ke rumah selama ia masih pingin kuliah?


Aku tak boleh gegabah! Aku tak mau tindakanku membuat Enny berada dalam masalah,tekad Rayyan sambil mencoret rencana itu dari otaknya.


Next ...apa yang harus di lakukan?


Rayyan teringat nomor Hp Enny yang masih ia simpan.Tapi bukankah menghubungi Enny ketika di rumah juga termasuk ultimatum yang tidak boleh ia langgar?


Ah! Persetan dengan semua aturan! Bukankah aturan dibuat untuk kemaslahatan dan kebaikan? Kalau peraturan telah mengekang hak asasi,buat apa tunduk dan mematuhi,gumam Rayyan laksana seorang pembangkang.


Tepat jam 12.00 WIB tengah malam,Rayyan merasa sudah waktunya untuk menjalankan rencananya.Ketepatan Asrul pun sudah tidur dan tumben malam ini tidak ngorok pula.


Rayyan mengambil Hp dan mengirimkan pesan lewat WhatsApp.Rayyan merasa cara itu lebih aman ketimbang meneleponnya.


Nun jauh di sana,Enny yang tidak bisa memejamkan mata,tiba-tiba mendengar suara pesan masuk dari Hp-nya.


"Ngapain dia nge-chat tengah malam kayak gini."gumam Enny setelah melihat nama si pengirim.


Enny mengabaikan dan tidak membalas chat-nya.


Selang beberapa saat kemudian,pesan kedua masuk.Seperti tadi Enny juga mengabaikannya.


Belum genap satu menit pesan ketiga masuk lagi.


Sebenarnya Enny nggak tega dan pingin juga membalas chating-an Rayyan,tapi ia takut hal ini akan menjadi rutinitas.Enny takut bila satu ketika kegiatan ini terendus oleh ayahnya.


Setelah tiga kali mengirim pesan tanpa balasan,Rayyan mulai merasa mission failed.


Rayyan tetap tak putus asa.Bila rencana A gagal,rencana B sebagai alternatif kedua harus dicoba.Rayyan pun akhirnya nekat menelepon Enny.Ia telah siap menerima segala konsekuensi atas pelanggaran yang ia lakukan.


Enny kaget mendengar suara Hp-nya berdering setelah Hp tersebut sempat ia letakkan.


Enny buru-buru mengangkatnya,Enny takut suara deringan itu membangunkan penghuni yang lain di rumah itu.


"Halo ...!" Suara penelepon itu agak ragu.


"Ada keperluan apa sih Yan sampai menghubungi aku tengah malam kayak gini? Apa kamu udah lupa janji yang dulu pernah kita sepakati?"tanya Enny memotong ucapan Rayyan sebelum lelaki itu sempat mengucapkan kalimat yang lain.

__ADS_1


"Bukan begitu ..."jawab Rayyan mencoba membela diri.


"Yan! Apa kamu nggak sadar tindakanmu ini telah mengajari aku untuk membencimu!" Enny memotong kembali penjelasan Rayyan.


"Enny ...!"


"Rayyan ...!" Enny memotong lagi.


"Enny! Tolong kasih aku kesempatan untuk menjelaskan ..." Kali ini Rayyan yang mencoba memotong.


"Tidak ada yang perlu kau jelaskan Yan!" Lagi-lagi Enny memotongnya.


Rayyan akhirnya terdiam.


"Ada satu rahasia yang perlu kamu tahu,selama ini aku tidak pernah mencintaimu Yan." Enny menangis setelah mengucapkan kalimat itu.


"Iya,aku tahu! Sebelumnya kau telah memberi tahu tentang itu."jawab Rayyan dengan hati yang tidak menentu.


"Tahu alasannya kenapa?"


"Selain fokus untuk kuliah,kamu juga tak dapat restu orang tua untuk pacaran.Itu yang pernah kudengar darimu."


Enny makin menangis dan terenyuh mendengar ketegaran lelaki itu.


"Jawaban itu tidak sepenuhnya benar.Ada alasan lain yang ku sembunyikan darimu."jawab Enny masih terdengar menangis.


"Aku tidak pernah merasakan sedikitpun getaran cinta untuk kamu Yan!"jawab Enny dengan tetap terisak.


Rayyan terhenyak seketika.


"Lalu bagaimana dengan calon imam yang kau sebutkan?"tanya Rayyan seolah menagih.


"Tindakan yang kau lakukan ini sepertinya membuatku harus merubah pikiran itu!"


"Karena kesalahan sekecil ini aku harus menebusnya dengan melupakan impian terbesarku? Enny,ini tidak fair buat aku!"jawab Rayyan mulai menyesali kecerobohannya.


Enny terdiam dengan isak tangis yang masih terdengar jelas di telinga Rayyan meskipun lewat Hp.


"Tapi okelah! Aku memang harus jujur mengakui yang telah kulakukan ini salah,bahkan sebelumnya aku telah berjanji terhadap diriku sendiri agar menerima segala konsekuensinya.Hanya saja aku tak menduga akan seperti ini."


"Tapi apapun itu,aku akan mencoba belajar memahami dan menerimanya."sambung Rayyan membuat Enny semakin tak mampu membendung air matanya.


"Cukup Yan! Aku ..."


"Enny! Boleh nggak meminta sesuatu sebelum kau menutup Hp-nya!"potong Rayyan.


"Apa lagi Yan?"


"Maukah kau memberikan aku kesempatan untuk bertemu terakhir kali?

__ADS_1


"Aku nggak bisa."jawab Enny setengah hati.


"Kalau kau nggak bisa aku yang datang ke rumahmu!"


"Jangan! Aku nggak mau kau senekat itu."


"Kenapa?"tanya Rayyan sedikit mengancam.


"Pokoknya aku nggak mau! Tolong jangan menjumpaiku."pinta Enny memelas.


"Nggak! Kalau kau nggak mau menjumpaiku,aku akan tetap nekat mendatangi rumahmu!"


"Yan! Kau bandel ya?"


"Ya! Barangkali itu salah satu sisi burukku yang perlu kau ketahui!"


"Baiklah! Dimana aku harus menjumpaimu?"tanya Enny terpaksa mengalah.Ia takut lelaki itu benar-benar nekat menyambangi rumahnya.


"Di tempat biasa aku menjemputmu."


"Jam berapa?"tanya Enny singkat


"Terserah jam berapa kau bisa!"


"Baik! Jemput aku jam 9.00 WIB.Tapi kau harus janji mengantar aku cepat pulang,aku nggak bisa lama."


"Aku nggak bisa janji.Tergantung nanti ...!"


"Kalau begitu aku nggak mau!"jawab Enny tegas.


"Oke,Aku janji ...!"ujar Rayyan mengalah.


Setelah itu keduanya sepakat untuk menutup perbincangan.


***


Hampir setengah jam setelah menelepon Enny,Rayyan belum juga bisa memejamkan matanya.


Pikirannya kalut karena terlalu banyak hal yang membebaninya.Banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban,tapi tak bisa ia selesaikan.


Perbincangannya dengan Enny via telepon barusan,juga tak luput menjadi salah satu faktor penyebab kekalutan pikirannya.


Semula ia berharap dengan menelepon Enny kegalauan hatinya bisa ia singkirkan.Meskipun Rayyan memprediksi Enny akan marah,tapi dengan menelepon Enny setidaknya ia tahu bahwa gadis yang dirindukannya itu sedang baik-baik saja.Ternyata tindakannya salah.


Setali tiga uang,Enny juga mengalami hal yang sama.Sudah mencoba memaksakan,namun matanya tak terpejam juga.


Perbincangannya via telepon barusan,seperti Rayyan hal itu juga menjadi pikiran buat Enny.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2