
"Buruan dikit!"desak Asrul yang sudah menunggu sejak tadi di luar kost-an.
"Ntar ...!"jawab Rayyan sambil buru- buru memakai baju kokonya.
"Udah mau adzan nih!"
"Iya ... iya! Cerewet amat sih kayak emak-emak"jawab Rayyan bersungut-sungut sambil keluar dari rumah kost-an.
"Habis kau juga gerakannya kayak cewek lagi datang bulan!"balas Asrul.
Hari ini Rayyan memang pulang agak sore.Biasanya satu jam paling lambat sebelum adzan maghrib Rayyan udah nyampe ke rumah kost-an.
Rayyan dan Asrul biasanya shalat maghrib berjamaah di mesjid,karena memang letak rumah kost-an mereka tidak terlalu jauh dari mesjid.
Selepas maghrib,kalau nggak bercengkerama di teras mesjid kedua sahabat itu tadarus Al-Qur'an bersama sembari menunggu waktu isya tiba.
Ba'da shalat isya kedua sahabat itu pulang ke rumah kost-an.
Kalau lagi mood masak sendiri,tapi kalau lagi malas Rayyan dan Asrul keluar cari makan.
Biasanya kedua sahabat itu senang makan di Rumah Makan Padang Minang Sakato.
Alasannya simpel,karena selain masakannya yang enak, pelayan sekaligus yang empunya Rumah Makan itu seorang janda muda yang bahenol.
Uni Salamah nama pelayan sekaligus pemilik Rumah Makan itu.
Konon baru sebulan menikah suaminya kabur karena kepincut janda kembang.Makanya kalau uni Salamah ditanya kenapa menjanda? Jawaban uni Salamah Asyik,aku menjanda karena janda.Ce'ilah ...!!! Kayak judul sinetron.
Rayyan dan Asrul senang makan di Rumah Makan itu bukan karena salah satu di antara keduanya naksir uni Salamah,justru uni Salamah-lah yang naksir salah satu di antara keduanya.
Sebagai anak kost,Rayyan dan Asrul jeli memanfaatkan situasi itu.Jadi kalau cuma nambah sayur atau nambah kuah dikit,uni Salamah tak menambah bayarannya.
Bahkan kalau mau gratis sekalipun uni Salamah tak keberatan,asalkan salah satu diantara keduanya bersedia jadi pacarnya.
"Rul ... kau pacari aja uni Salamah,ntar kita bakal makan gratis tiap hari."usul Rayyan bercanda.
"Iya,yang enak kau makan gratis tiap hari,aku tiap detik makan hati.Hahaha ..." Kedua sahabat itu tertawa ngakak.
"Kenapa? Uni Salamah nggak jelek-jelek amat koq! Bahenol lagi!"sambung Rayyan di sela tawanya.
"Justru bahenol nya itu ...!" jawab Asrul memberi alasan.
"Kenapa?"
"Aku takut uni Salamah sekali goyang pinggangku langsung patah." Keduanya ngakak lagi.
"Takutnya bukan cuma pinggang yang patah ...." Rayyan menimpali.
"Terus ...?"tanya Asrul.
"Asrul junior pun ikut patah!" Ketawa keduanya makin tak terkendali.
Beruntung pembeli lagi sepi,kalau nggak ...?
__ADS_1
"Ada apa sih,koq rame amat?" Kedua sahabat itu tak menyadari uni Salamah telah berada di samping mereka.
"Ini ...."kata Asrul berbohong sambil menunjuk Rayyan.
"Kalau sempat jodoh ama Uni Salamah katanya bukan cuma di meja makan aja yang tambuah ciek ...."
"Terus ...?"tanya Uni Salamah sengaja memancing.
"Bisa-bisa di tempat tidurpun tambuah ciek juo ..." Ketiganya pun ketawa bersama.
"Kalau itu sih bukan tambuah ciek lagi ...." Uni Salamah menimpali.
"jadi ...?"tanya Asrul.
"Di jamin bakal tambuah taruih (tambah terus) ...."kata Uni Salamah membuat Asrul dan Rayyan ketawa terpingkal-pingkal.
Selang beberapa saat kemudian uni Salamah meninggalkan kedua pemuda itu karena ingin melayani pembeli yang memesan nasi beberapa bungkus.
Rayyan mendekatkan bibirnya ke telinga Asrul sembari membisikkan."Tengok tuh bokong udah kayak punuk onta.Apa kau nggak kepikiran mendekapnya?"
"Mendekap dengkulmu locot!"kata Asrul ketawa.
Asrul tidak berhenti disitu saja.Asrul juga membisikkan sesuatu ke kuping Rayyan."Tau nggak!Didalamnya ada kompresor ...."
"Berarti angin semua dong."
Hahaha ... keduanya terbahak-bahak.
***
Padahal jam digital yang ada di hand phone android-nya menunjukkan angka 23.27 hampir tengah dua belas malam.
Rayyan menengok Asrul yang berada di sampingnya telah tertidur pulas.Barangkali sudah mimpi terbang ke bulan bersama uni Salamah yang bahenol itu,pikir Rayyan.
Biasanya setelah lima belas menit atau paling lama setengah jam setelah makan malam,Rayyan dan Asrul rebahan sambil ngobrol ngalor-ngidul sebagai penghantar tidur.
Tapi malam ini,meskipun memaksa memicingkan mata,tetap Rayyan tak bisa tidur juga.
Resah dan gelisah menyelimuti raganya.
Rayyan tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Tiba-tiba ada setitik rindu berkelebat dalam hati,lalu teringat senyum manis milik sang bidadari yang berjumpa dengannya tadi pagi.
Semua tentang gadis itu terbayang jelas di benak Rayyan.Hidungnya yang mancung,rambutnya yang hitam panjang terurai begitu kontras dengan kulitnya yang putih mulus.
Desah napasnya bak orkestra indah yang di mainkan sang maestro.
Akh ... begitu sempurnanya.
Enny Wahyuni ... Sungguh nama yang indah,nama yang menggambarkan keindahan sang pemiliknya.
Rayyan bingung kenapa hatinya tiba-tiba galau, hatinya tak menentu.
__ADS_1
Kenapa menjadi begini? Apakah ini yang disebut cinta?
Selama ini Rayyan tak pernah jatuh cinta.Kalaupun rasa itu terkadang hadir,dengan berbagai macam alasan serta pertimbangan akhirnya Rayyan selalu dapat menepisnya.
Tapi kali ini ada sesuatu yang beda.Rasa itu terlalu kuat untuk di singkirkan.Tiba-tiba ia mengakar dalam hati ... ingin tumbuh ... ingin bersemi.
Jarum jam dinding yang menempel di kamar kost-an itu sudah menunjukkan angka jam dua dini hari,tapi Rayyan belum bisa memejamkan matanya barang semenit pun.
Bayangan gadis itu seolah menari-nari di pelupuk matanya.
Lalu Rayyan juga teringat gadis cantik yang bernama Arumi,sahabat Enny.
Meskipun baru melihatnya dari jauh,tapi kecantikan gadis itu juga tak kalah di banding dengan sahabatnya.
Akh ... betapa beruntungnya lelaki yang mendapatkan cinta salah satu dari kedua bidadari itu.
Tapi aku akan berjuang menjadi salah satu lelaki yang merasakan kebahagiaan itu,bhatin Rayyan.
"Belum tidur ...?"tanya Asrul yang tiba-tiba terbangun pingin ke kamar mandi.
"Belum!"
"Dari tadi?"tanya Asrul sambil Mengucak-ucak matanya.
"Iya!"
"Kenapa?"
"Nggak ada apa-apa!"
"Ada masalah?"tanya Asrul yang sudah kebelet ke kamar mandi.
"Nggak! Nggak ada!"jawab Rayyan sambil memperhatikan sahabatnya beranjak ke kamar mandi.
Setelah selesai buang hajat,Asrul masuk ke kamar kembali.
Asrul memperhatikan Rayyan yang tengah rebahan memandang kosong langit-langit kamar itu.
"Iyan! hampir setengah tahun kita menjalin persahabatan,sedikit banyak aku udah tahu pribadi kamu,begitu juga sebaliknya."
"Kamu nggak biasanya seperti ini.Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu."
"Kalau memang ada masalah,sebagai sahabat aku akan berusaha membantu sebatas kemampuanku,atau barangkali bisa memberikan solusi."
Rayyan merasa tersentuh dengan perhatian sahabatnya itu.
Asrul memang betul,hampir setengah tahun mereka bersahabat sejak pertama bertemu di terminal Amplas waktu itu.
Dengan rentang waktu yang relatif singkat,mereka mencoba saling memahami sifat dan karakter antara yang satu dengan yang lain,agar persahabatan itu bisa indah dan langgeng selamanya.
Karena selain persahabatan itu mereka tak punya apa-apa dan siapa-siapa di kota ini.
Rayyan telah menganggap Asrul sebagai saudara,begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
Dari awal mereka sudah komit untuk selalu terbuka demi menjaga hati dari perasaan curiga.Pun kalau ada masalah keduanya berharap masalah itu di selesaikan secara bersama.Tapi ini masalah cinta ... apakah cinta mesti di umbar?
Bersambung ...