Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Ilustrasi Cinta.


__ADS_3

"Mau kemana sih Yan?"tanya Enny ketika memperhatikan jalan yang dilalui Rayyan bukan jalan yang biasa ia lewati.


''Mau pulang kan?"jawab Rayyan sambil fokus mengendarai keretanya.


"Iya.Tapi nggak pernah lewat sini."


"Memang bukan lewat sini."


"Jadi ini mau kemana?"


"Kita makan dulu! Diujung jalan ini nanti ada warung nasi.Menunya enak!"


"Nggak usah Yan! Aku makan di rumah aja."


"Udah nggak apa-apa!"


"Yan ... makan sendiri aja ya! Tapi antar aku pulang dulu!"


Rayyan tidak menggubris omongan gadis yang berada di boncengannya itu,ia malah memacu laju kendaraannya.


Tidak sampai sepuluh menit keduanya telah berada diparkiran yang terletak dihalaman depan Rumah Makan yang Rayyan sebutkan.


"Ayo ...!"ajak Rayyan setelah ia memarkirkan keretanya.


"Yan! Lama-lama aku takut sama kamu."ucap Enny ketika ia dan Rayyan duduk disalah satu meja yang tersedia di Rumah Makan itu sembari menunggu pesanannya tiba.


"oh ya! Apa lama-lama aku seperti monster di matamu?"


"Bukan begitu,tapi...!"


"Ssst ... !" Rayyan menempelkan jari telunjuknya persis di tengah bibirnya.


"Kita makan dulu!"lanjut Rayyan setelah pesanan mereka terhidang di meja.


Dua gelas jus timun plus dua gelas air putih,dua piring kecil acar,dan dua porsi sup tunjang plus dua piring nasi putih telah siap untuk mereka santap.


Rayyan mempersilahkan Enny ...


"Gimana cara menghabiskannya?"tanya Enny ketika melihat sup-nya satu porsi cukup untuk makan dia sekeluarga di rumah.


"Cara menghabiskannya jangan minta nasi tambah."


"Kalau tetap tak habis?"


"Minta plastik,bungkus! Tapi belum pernah ada yang melakukannya."


"Jadi cara yang kedua ngajari aku biar malu,gitu?"


Rayyan ketawa ...


***


"Mau ngomong apa tadi?"tanya Rayyan ketika ia dan Enny duduk di taman kota setelah selesai makan.


"Aku takut Yan,kamu terlalu baik ...."

__ADS_1


"Jadi kamu lebih suka pria yang jahat?"


"Bukan begitu ..."


"Jadi ...?"


"Biasanya laki-laki kalau udah baik pasti ada maunya."


"Pengalaman ya?"tanya Rayyan sedikit menggoda


"Iya! Selama ini aku merasakan seperti itu."jawab Enny dengan serius.


"Apa menurutmu semua lelaki seperti itu?" Rayyan pun merespon pernyataan Enny dengan serius.


"Aku tidak berani menggeneralisir,karena aku percaya masih banyak laki-laki yang tulus melakukan sesuatu tanpa pamrih."


"Apakah kau membenci lelaki seperti itu?"


"Tidak! Aku selalu belajar untuk tidak membenci orang lain."


"Jadi masalahnya apa?"tanya Rayyan.


"Masalahnya aku tak bisa memberikan apa yang mereka minta."


"Kemudian apa yang terjadi?"


"Mereka menjauh bahkan ada yang membenci."


"Aku takut kau akan melakukan hal yang sama."sambungnya.


"Enny,mungkin apa yg kau bilang betul.Tapi tak bisa disalahkan juga ketika seseorang menanam lalu satu saat ia berharap dapat memetik."


"Yan,apakah kau yakin setiap bunga akan tumbuh mekar dengan sempurna? Bukankah tidak mustahil bunga akan layu sebelum berkembang? Ketika ingin memetik ternyata bunga yang kau tanam tak lagi ditangkainya,apakah saat itu kau akan kecewa?"tanya Enny tanpa menunggu jawaban dari pertanyaannya.


"Apakah menurutmu setiap menanam endingnya pasti menuai? Lalu bagaimana dengan kisah pilu para petani yang kerap gagal panen? Apakah mereka menuai dari apa yang mereka tanam?"sambung Enny kembali.


Rayyan mengerti maksud rangkaian kata yang disampaikan gadis itu.


Rayyan kembali terdiam.Ia merasa ungkapan Enny bukan lagi sekedar ilustrasi,tapi ungkapan Enny merupakan satu petunjuk agar ia tak terlalu berharap mendapatkan cintanya.


Sebenarnya Rayyan merasa apa yang dilakukannya selama ini hal yang biasa saja,tidak ada yang istimewa.


Kalaupun Enny menganggapnya itu suatu kebaikan,tapi Rayyan merasa tak mengharap pamrih saat melakukannya.


"Enny,andai aku meminta sesuatu darimu bukan berarti aku mengharap pamrih atas apa yang kulakukan.Justru aku akan menolak pemberian orang yang merasa terpaksa memberi demi balas budi."


"Bila aku berharap mendapatkan cinta dari perempuan manapun,aku tak mau itu dikaitkan dengan kebaikan yang kulakukan."


"Menurutku itu dua hal yang berbeda.Berbuat baik terhadap sesama merupakan keniscayaan,sementara cinta itu urusan dua hati yang saling harap dan membutuhkan tanpa ada keterpaksaan."jawab Rayyan panjang lebar.


"Apakah kau tetap tulus berbuat baik bila aku menolak mu?"tanya Enny.


Rayyan tersenyum getir.


"Apakah kau nggak kecewa bila aku tidak menerimamu?"ulang Enny dengan kalimat yang beda tapi tujuannya hampir sama.

__ADS_1


Rayyan menghela napas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Enny.


"Iya! Aku tak bisa menampiknya kalau aku memang kecewa.Tapi menurutku itu hal yang wajar,setiap orang pasti akan merasakan rasa yang sama ketika harapannya tak terwujud menjadi sebuah kenyataan."


Beberapa saat kemudian keduanya diam membisu.Barangkali sibuk dengan jalan pikirannya masing-masing.


"Yan,apakah kau percaya jodoh?"tanya Enny memecah keheningan setelah keduanya terdiam beberapa saat.


"Iya! Saya percaya!"jawab Rayyan.


"Apa kamu juga percaya bahwa jodoh seseorang telah ditentukan?"


"Sebagai seorang muslim tentu saya mempercayainya!"jawab Rayyan.


"Yan! Menurut kamu pacaran itu perlu nggak sih?"tanya Enny membuat Rayyan sedikit bingung karena merasa pertanyaan Enny tidak memiliki korelasi dengan pertanyaan sebelumnya.


Rayyan tersenyum.


"Menurut aku sih relatif!Tergantung orangnya aja."


"Buat kamu sendiri?"tanya Enny.


"Gimana yah? Kalau ceweknya kayak kamu mungkin pacaran itu perlu!"jawab Rayyan bercanda.


"Yan! Aku lagi tidak ingin di gombal,aku lagi serius!" Enny merajuk manja.


"Oke ... oke! Jujur aku nggak bisa menjawabnya,karena aku memang belum pernah pacaran."


"Oke ...! Andai kamu pacaran,apa tujuan kamu dengan hubungan itu?"tanya Enny


"Tentu akan membawa hubungan itu ke jenjang yang lebih ...."


"Pernikahan kan?"potong Enny."Kalau jodoh udah ditentukan lalu buat apa lagi pacaran?"sambungnya berusaha membuat kalimat yang satu dengan kalimat yang lain ada korelasinya.


"Bukankah itu akan terasa lebih sakit ketika pacar yang kita harap menjadi pasangan ternyata bukan jodoh yang telah Tuhan tentukan?"


"Enny! Aku yakin setiap orang telah Tuhan tentukan jodohnya,tapi jodoh tidak akan datang sendiri tanpa ada usaha untuk mendapatkannya."


"Barangkali pacaran bagi sebagian orang merupakan cara atau bagian dari upaya untuk menemukan jodoh yang telah Tuhan tentukan."


"Apa ada jaminan setiap yang pacaran akan berakhir ke pelaminan?"tanya Enny.


"Tidak ada! Tidak seorangpun yang bisa menjamin sebuah usaha akan membuahkan hasil seperti yang diinginkan.Tapi apapun hasilnya,setidaknya dia telah melakukan usaha."jawab Rayyan.


"Kalau tidak ada jaminan,apa yang kita jalani saat ini menurutku lebih baik ketimbang harus pacaran."


"Yan! Aku ingin kita tetap bersahabat.Kalau takdir kita ditentukan berjodoh,dengan ikhlas dan tangan terbuka aku akan menyambutmu untuk menjadi imamku."


Enny mengulurkan tangan mengajak Rayyan salaman.


Awalnya Rayyan hanya memandangi gadis itu,tapi kemudian ia mengulurkan tangannya juga untuk salaman dengan Enny.Rayyan merasa tidak tega bila harus menolaknya.


"Yan! Ma'afkan aku ...."


"Untuk apa?"tanya Rayyan tanpa bisa menyembunyikan kekecewaannya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2