Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya

Tentang Ayah,Cinta,Dan Sahabatnya
Siapa Enny?


__ADS_3

"Pak hakim mengetuk palu setelah vonis dijatuhkan.Tiga tahun masa tahanan yang harus kujalani.Aku pasrah,tertunduk lesu menerima putusan itu.Tak terasa air mata menetes meruntuhkan ketegaranku. Aku tak berdaya,aku tak punya kuasa melawan kezhaliman ini."


" Aku merasa berada di titik terrendah dalam kehidupan ini.Aku tak punya kesempatan menjelaskan kepada semua orang bahwa aku tidak bersalah.Kalaupun kesempatan itu ada,argumen yang kusampaikan akan dianggap lemah karena pikiran mereka telah menghakimi duluan,karena pikiran mereka cuma tahu satu fakta,aku tertangkap tangan."


"Tidak ada orang yang percaya bahwa aku tidak bersalah.Pun tidak ada orang yang percaya bahwa aku di jebak oleh pengecut yang ingin menghancurkan impian dan hidupku."


"Hanya ada satu nama yang meyakini bahwa aku korban dalam kasus ini." Pak Asrul diam.


"Inta? Gadis itu?"tebakku penasaran.


"Hmm ... ." Pak Asrul tersenyum getir. "Dia malah membuat lukaku makin dalam.Dia berpaling,kembali ke pelukan Noval." 


"Apa Pak Asrul menyimpan dendam untuk gadis itu?"


Pak Asrul menggeleng.


"Kenapa? Bukankah gadis itu telah berhianat?"tanyaku yang heran dengan sikap Pak Asrul.


Apakah orang yang tulus mencintai akan menjadi senewen kayak Pak Asrul? Atau mabuknya belum hilang juga nih? Pikirku kebingungan.


"Aku tidak memposisikan nya sebagai penghianat,tapi dia merupakan gadis yang mencoba berpikir secara realistis."kata Pak Asrul bak seorang pujangga.


"Akh ... Aku ra mudeng!"jawabku menirukan kalimat yang sering bunda ucapkan ketika dia gagal paham.


"Kau akan paham ketika kau jatuh cinta,mencintai seseorang dengan tulus."


Duh ... ! Aku tambah bingung. Cinta memang sangat rumit tuk dipahami.


"Lalu siapa yang percaya Pak Asrul tidak bersalah?"tanyaku mengalihkan pembicaraan dari cinta ke topik yang lain.


Cinta membuatku jadi senewen kayak Pak Asrul.


"Orang tua?"sambungku.


Tiba-tiba Pak Asrul menangis sesunggukan. Berulang kali bahunya turun naik menahan gemuruh duka di hatinya.


Aku memegang bahu Pak Asrul,bahu yang mulai rapuh itu."Pak Asrul tidak apa-apa?"tanyaku sambil mengelus bahu sahabat ayahku ini,berusaha menenangkannya.


"Tidak apa-apa."jawab Pak Asrul singkat dengan nada yang sedikit melemah.


"Aku takut pertanyaanku tadi mengusik Pak Asrul."

__ADS_1


"Tidak apa-apa."jawab Pak Asrul mengulang kembali kalimatnya yang tadi.


"Aku selalu sedih bila mengenang mereka.Aku telah banyak melukai hati keduanya.Aku adalah anak yang tidak tahu di untung,anak yang tidak tahu balas budi."


"Ingin rasanya bersimpuh dan berlutut dihadapan mereka,memohon ampunan atas segala perilaku yang membuat keduanya terluka."jeritnya.


"Selagi ada kesempatan,kenapa tidak melakukannya?"tanyaku.


"Terlambat!"jawab Pak Asrul.


"Ayah dan ibuku sangat shock dan terpukul mendengar aku ditangkap polisi karena tertangkap tangan menyimpan narkoba.Ayah tidak terima kejadian ini.Beliau murka dan marah kepadaku."


"Ayah bersumpah tidak akan pernah mengizinkan aku balik ke kampung halamanku,ayah tidak mengizinkan aku pulang ke rumah.Ayah tidak menganggap ku anaknya lagi ...huk...huk...huk..." Pak Asrul nangis sesenggukan seperti anak kecil.


Aku memahaminya.


Siapapun orangnya ketika berada di posisi pak Asrul saat ini,barangkali akan melakukan hal yang sama.


"Ayah malu punya anak seperti aku.Ayah malu kepada semua orang dikampung yang menganggap ayah termasuk berhasil mendidik anak- anaknya agar berprilaku baik dan taat beragama selama ini.Aku dianggap anak yang tidak berguna,anak yang tidak tahu diri tidak tahu diuntung.Anak yang tak pandai balas budi."lanjut pak Asrul masih dengan tangisan yang pilu.


"Ayah yang selama ini sakit-sakitan,kesehatannya makin drop setelah mendengar kejadian itu.Semakin hari kondisinya makin memprihatinkan.Sebulan setelah kejadian itu,ayah berpulang ke rahmatullah ...." Tangis pak Asrul makin tak terbendung.


"Setelah habis tahlilan yang diadakan selama tiga malam berturut- turut,ibu masuk ke dalam kamarnya.Biasanya satu jam atau lima belas menit paling lama sebelum adzan subuh,ibu sudah bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud.Setelah itu ibu menjerang air terlebih dahulu baru melaksanakan shalat subuh.Itu sudah menjadi rutinitas yang selalu ibu kerjakan setiap hari.Tapi pagi itu ibu tidak keluar dari kamarnya."


"Setelah habis shalat subuh,ibu belum keluar juga,jam 6.00,jam 7.00,jam 8.00 WIB ibu tetap belum keluar."


"Kayla mulai merasa was-was dan khawatir,kayla mendekati kamar ibu dan perlahan mendorong pintu kamarnya yang tidak di kunci dari dalam,lalu..." Pak Asrul berhenti sejenak.


"Terus apa yang terjadi Pak?"


"Kayla terkejut mendapati ibu duduk mematung,matanya memandang ke depan dengan tatapan yang kosong.Apapun yang Kayla katakan dan Kayla tanyakan,ibu tetap diam tak berreaksi,"


"Kayla menangis mengguncang- guncang tubuh ibu sambil menanyakan kenapa ibu seperti ini? Tapi ibu tetap diam tak bergeming."


"Dua minggu kemudian ibupun menyusul ayah ...." Pak Asrul kembali menangis sejadi-jadinya.


Sungguh kisah yang sangat memilukan.Tragedi hidup yang menyayat hati.


"Aku ingin mengakhiri hidup setelah mendengar khabar itu.Aku merasa tak sanggup lagi menanggung semua penderitaan ini.Aku merasa tak ada lagi artinya hidup ini.Saat itu buatku mati merupakan solusi terbaik untuk mengakhiri semua duka ini." Pak Asrul diam sesaat.


"Setelah itu apa yang terjadi Pak?"

__ADS_1


"Untung ada ayahmu,Rayyan." Pak Asrul menatapku.


"Cuma Rayyan Satu-satunya yang percaya bahwa aku tidak bersalah dalam kasus ini.Rayyan yakin aku hanyalah korban, korban ketidak adilan."


"Dia banyak berkorban untuk aku,baik moril ataupun materil.Dia sering meluangkan waktunya untuk membesuk aku ketika berada di penjara.Dia memberikan support dan motivasi buatku agar terus bertahan dan semangat menjalani kehidupan ini,tanpa dia mungkin aku tak lagi berpijak di atas bumi ini." Rehat sejenak


"Ayahmu tidak hanya sekedar sahabat buat aku,tapi lebih ... lebih dari itu.Rayyan telah kuanggap sebagai saudara kandungku sendiri.Aku banyak berutang budi padanya.Dia orang yang sangat baik,bahkan teramat baik menurut aku."


"Tapi sayang,baik saja tidak cukup untuk bertarung di kota yang keras ini.Aku dan ayahmu terlalu polos menghadapi tipu daya metropolitan ini.Karena kami mungkin dari desa, jadi kami terlalu lugu."


"Aku dan ayahmu mengalami nasib yang hampir sama.Meski alurnya sedikit berbeda tapi endingnya sama ... sama-sama berakhir derita."


Dengan berulang kali menyebut nama ayah,aku mulai fokus mendengar cerita pak Asrul.Karena sebelumnya aku sempat merenung betapa tragisnya hidup yang dialami pak Asrul.


"Seperti aku,ayahmu juga kehilangan tujuan setelah mengenal seorang gadis cantik."kata pak Asrul memulai ceritanya tentang ayah.


Tapi kalimat terakhir yang di sebut pak Asrul membuat pikiranku langsung disesaki berbagai pertanyaan.


Seorang gadis cantik? Apakah gadis cantik yang di maksud pak Asrul itu bundaku? Apakah bunda telah menghancurkan kehidupan ayah sehingga ayah menderita?


"Apakah gadis cantik yang di maksud Pak Asrul itu bundaku?"tanyaku penasaran.


"Siapa nama bundamu?"


"Arumi Ind- ...."


"Arumi Indriani!"kata pak asrul menyambung kalimatku.


"Iya ...."jawabku.


"Bukan ... bukan dia!"


"lalu siapa?"desakku penasaran.


"Enny ... Enny Wahyuni."jawab pak Asrul datar.


Siapa Enny Wahyuni? Baru kali ini aku mendengar nama itu.Apa dia seorang pelakor? Atau mungkin selingkuhan ayah?


"Siapa Enny,Pak?"


" Tanyakan sama bundamu!"jawab pak Asrul.

__ADS_1


Siapa gadis cantik misterius ini? apa dia yang membuat kedua orang tuaku berpisah?


Bersambung ...


__ADS_2