
"Kalau memang ada masalah,barangkali sharing dengan orang yang dipercaya tentu akan dapat mengurangi beban."ujar Rayyan seolah menawarkan diri sebagai tempat curhat.
"Dengan kesalahan yang kau lakukan, apakah aku masih bisa mempercayaimu?"tanya Enny dengan tetap terisak.
"Aku bisa meyakinkan dirimu bahwa aku tidak akan terperosok dua kali ke dalam lubang yang sama."
"Apakah aku bisa memegang janjimu?"tanya Enny seperti meragukan kesungguhan Rayyan.
"Tentu bila kau masih mempercayaiku."jawab Rayyan meyakinkan gadis itu.
Enny diam sejenak seperti orang yang sedang menimbang,apakah problema hidup yang dirasakannya harus ia bagi kepada Rayyan?
"Rayyan, kenapa aku harus membagi masalahku kepadamu?"
"Karena aku akan membantumu menemukan solusinya."
Enny terdiam.
Enny menatap mata lelaki tampan yang duduk disampingnya itu,seolah-olah ia sedang berupaya menyelami hati lelaki itu melalui pancaran matanya.Sangat tulus,begitu kesimpulan Enny menilai sorot mata lelaki yang berhati baik itu.
Enny mencoba mengurai kisah duka yang menderanya, tapi setiap ia mencoba,selalu saja kalimat yang ia himpun tertahan di rongga dada.Sementara air matanya semakin deras seolah membentuk sungai kecil di kedua belah pipinya.
Rayyan merasakan itu, merasakan bahwa gadis itu ingin menyampaikan sesuatu.Tapi ia tidak bisa menebak apa gerangan alasan Enny mengurungkannya.Dan air mata bidadari yang terluka itu membuat Rayyan berempati terhadap nasib yang sedang menimpa gadis itu.
"Enny! Kalaupun aku tidak pantas dijadikan sebagai imam,tapi barangkali kau masih bisa menjadikan aku sebagai sahabatmu.Apapun uneg-unegmu,aku akan menjadi pendengar yang baik buatmu."ujar Rayyan membesarkan hati gadis itu agar memiliki nyali membeberkan kisah dukanya.
"Yan! Kumohon kau hapus nomor Hp yang tempo hari ku berikan padamu!"pinta Enny dengan tetap meneteskan air mata."Karena aku tak sampai hati bila harus memblokirmu."sambungnya.
Seketika Rayyan terhenyak,ia tidak menduga kalimat seperti itu yang harus ia dengar.Ini tidak masuk akal! Tidak mungkin masalah sepele itu harus membuat matanya sembab karena menangis dari semalam bahkan sampai saat ini.Benar-benar ucapan Enny tersebut diluar dugaan Rayyan.
Enny tahu dan bisa menebak apa yang dipikirkan Rayyan saat ini.Enny juga merasa bersalah,tapi ia tidak mau melibatkan lelaki sebaik Rayyan kedalam masalahnya.Enny tidak ingin lelaki yang berhati emas itu ikut merasakan dukanya.
"Kenapa?"tanya Rayyan seperti orang bodoh yg kebingungan.
__ADS_1
"Karena setelah ini aku tidak ingin kau memaksaku untuk menjumpaimu.Aku harap ini pertemuan terakhir diantara kita!"
"Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu!"tolak Rayyan tegas.
"Berarti aku harus memblokirmu!"ancam Enny lebih tegas.
"Aku tak perduli! Aku bisa mendatangi rumahmu."
"Dan aku bisa mengusirmu!"ancam Enny sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Rayyan meskipun dengan tetap meneteskan air mata.
Rayyan diam.
Rayyan menundukkan kepala.Dadanya bergemuruh menahan gejolak emosi yang seakan-akan mau meledak. Ia merasa butuh waktu sejenak untuk memulihkan ketegangan urat sarafnya.
"Enny... !"panggil Rayyan dengan nada yang berubah seratus delapan puluh derajat dari nada saat keduanya bersitegang.
" Aku merasa kau tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang pembohong yang ulung.Seberapa baguspun akting yang kau tampilkan untuk menutupi masalahmu, tapi aku tetap bisa merasakan ada sesuatu yang kau sembunyikan."
Enny diam dan seolah-olah tak mendengar apa yang barusan Rayyan ucapkan.
Perlahan Enny memandangi Rayyan beberapa saat.
"Yan! kau tampan, kau baik bahkan terlalu baik berada dalam kehidupan aku, jadi kumohon carilah wanita yang lain, wanita yang bisa menjadi masa depanmu.Dengan segala yang kau miliki, aku yakin tidak terlalu sulit buatmu untuk mendapatkan wanita manapun yang kau inginkan."
"Enny! Aku butuh alasan,bukan pencerahan!"desak Rayyan.
Enny diam.
"Apa alasan itu penting buatmu?"tanya Enny kemudian.
"Sangat! Sangat penting!"
"Baik! Aku akan cerita tentang masalah yang tengah kuhadapi saat ini, tapi setelah itu kumohon kau pergi dari kehidupanku."
__ADS_1
"Persyaratan yang kau ajukan terlalu berat menurutku, tapi kalau itu bisa membuatmu bahagia, aku akan pergi sejauh mungkin dari kehidupanmu."jawab Rayyan pasrah.
Sebelum menuturkan duka yang dihadapinya, Enny menarik napas terlebih dahulu untuk mengatur kestabilan emosinya. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi, dan sekaligus membetulkan posisi rambutnya yang sebagian luruh di ujung dagu ketika ia tertunduk.
"Yan, aku sudah nggak kuliah lagi... " Dengan suara yang agak parau, akhirnya Enny mengabarkan duka yang dialaminya, duka yang telah membuat matanya sembab.
Selama ini statusnya sebagai mahasiswa membuat ia mampu menatap hari dengan optimis. Enny yakin dengan pendidikan ia akan mampu menggapai mimpi dan meraih cita-citanya.
Sudah sejak lama Enny setuju dengan sebuah ungkapan yang selalu memotivasinya, "SEKOLAH DAN PENDIDIKAN MERUPAKAN SALAH SATU CARA UNTUK MEMUTUS MATA RANTAI KEMISKINAN."
Kini semua yang ia impikan harus ia kubur dalam-dalam, termasuk ingin menjadi ibu dari anak-anaknya Rayyan, karena ia tidak ingin lelaki tampan yang berhati emas itu menikahi gadis miskin seperti dirinya.
Dalam tempo yang singkat Rayyan dua kali terhenyak mendengar penuturan Enny.Rayyan paham betul bagaimana rasanya putus sekolah.
Putus cinta bisa mencari ganti, putus sekolah?
Penuturan Enny juga menjadi jawaban bagi Rayyan kenapa tidak bisa menjumpai gadis itu ketika ia mencarinya.Jadi terlalu naif bila menuduh gadis itu sengaja menghindarinya.
"Kenapa?"tanya Rayyan seolah tidak percaya dengan yang barusan ia dengar.
"Ayah berhenti kerja... !"jawab Enny dengan tangisan pilu yang tidak bisa dibendungnya lagi.
"kenapa?"tanya Rayyan dengan kalimat yang sama seperti sebelumnya, laksana orang bodoh.
"Belakangan ini Ayah sering sakit-sakitan.Karena dianggap tidak lagi produktif, barangkali untuk menghindari pesangon pihak perusahaan meminta Ayah mengundurkan diri."
Ini tidak adil! Tapi keadilan memang sering menjadi barang langka bagi si miskin.
"Enny! Kau harus tetap kuliah."
"Rayyan, aku sudah cukup dewasa menerima kenyataan hidup ini.Aku telah memutuskan cari kerjaan untuk membantu ekonomi keluarga.Aku tidak mau kedua adik kembarku juga putus sekolah. Kasihan, mereka terlalu kecil untuk di paksa memahami kerasnya kehidupan ini."
Kalau tidak dianggap cengeng,Rayyan sebenarnya ingin meneteskan air mata ketika mendengar penuturan Enny, ia merasa terenyuh dan berempati dengan nasib yang dialami bidadari itu.
__ADS_1
"Enny, aku turut sedih dengan nasib yang menimpamu.Mau nggak menerima kalau aku memberikan solusi?"tanya Rayyan dengan Hati-hati, ia takut Enny tersinggung dengan solusi yang akan ia sampaikan.
Bersambung...